Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 30


__ADS_3

Hani meyeringai di balik helmnya, mencodongkan wajahnya untuk melirik Ayan yang saat ini tengah menutup matanya sambil memasang wajah ketakutan.


"Ayan, sudah sampai." ujar Hani sambil terkekeh, gadis itu memukul helm yang ada di kepala Ayan. Membuat sang pemilik kepala tersentak kemudian membuka matanya.


"Dimana ini?" tanya Ayan, netranya meyapu pemandangan di sekililingnya begitu ramai sampai rasanya sesak.


"Taman hiburan," sahut Hani santai, gadis itu beranjak turun dengan kedua tangan sibuk melepaskan helm di kepalanya,"Ayo turun!" titah Hani.


Ayan terdiam sejenak, menatap Hani dengan helaan napasnya yang terlihat lemah. Pria itu ikut beranjak turun. Kemudian melepaskan helmnya lalu ia berikan kepada gadis yang saat ini tengah mengulurkan tangannya.


Tersenyum saat melihat ekspresi Ayan, gadis itu langsung meraih tangan suaminya. Kemudian menggenggamnya erat. Melirik Ayan sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang menggenggam tangan Ayan.


Melihat itu Ayan langsung tersenyum senang. Wajahnya terlihat lebih segar dari pada ketika pria itu baru turun dari motor milik istrinya.


"Boby...Bella!" Hani malambai-lambaikan tangannya, kedua sudut bibirnya terangkat sangat lebar saat melihat kedua temannya saat ini sedang menunggunya di dekat salah satu wahana permainan.


Berlari gadis itu melepaskan genggaman tangan Ayan.


"Lama amat si lo!" sembur Bella mendorong kening Hani dengan telunjuknya.


"Maaf...maaf," balas Hani merasa bersalah.


Bella melirik Ayan yang baru saja datang menghampirinya, pria berjas hitam itu tersenyum kecil saat Bella menatapnya.


Deg...


Seketika wajah Bella memerah, gadis itu menangkup wajahnya agar tidak terlihat saat ini dirinya tengah malu.


"Yauda yok!" ajak Boby seraya menarik tangan Hani. yang di tarik dengan senang Hati membiarkan tangannya di pegang oleh Boby.


"Tunggu!" tegur Ayan, membuat langkah Boby dan Hani terhenti. Keduanya berbalik untuk menatap orang yang memanggil mereka. Berjalan mendekati Hani dan Boby Ayan tersenyum miring kemudian menepis pelan tangan Boby dari tangan Hani. Sekarang pria itu mengambil alih untuk menggenggam tangan Hani.


"Ayo," ujar Ayan.


Boby, Hani dan Bella sama-sama melongo saat melihat aksi Ayan barusan. Mereka bertiga menggeleng pelan.


Senyum Hani melebar ketika memandangi permainan yang nantinya ingin ia mainkan bersama dengan Ayan. Matanya berbinar ketika menatap orang-orang yang bersemangat untuk menaiki Wahana yang katanya sangat menantang nyali.


Melirik Ayan yang tengah memasang wajah datar, gadis itu mencoba berdehem.


"Ehem...ehem.." dehem Hani, Ayan menoleh kemudian bertanya.


"Kenapa? Haus?" tanyanya.


Hani menggeleng gadis itu menunjuk wahana roller coaster dengan bibirnya. Membuat Ayan bingung tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh istrinya itu.


"Kenapa bibir kamu sakit?" tanya Ayan yang berhasil membuat Hani menepuk jidatnya sendiri.


"Kepala kamu sakit?" tanya Ayan lagi, pria itu khawatir kemudian menyentuh kepala Hani lembut.


Hani menundukkan kepalanya, wajahnya murung menandakan hari ini ia sedang kesal. Menepis tangan Ayan dari kepalanya gadis itu langsung pergi menuju wahana yang ingin ia naiki.


Melihat itu Ayan langsung berjalan cepat untuk mengejar Hani, sesampainya di sana. Saat Hani sudah ingin naik ke dalam Wahana tiba-tiba tangannya di tarik oleh Ayan. Membuat Hani terkejut bukan main wajahnya terlihat kesal ketika Ayan orang yang menarik tangannya itu.


"Kamu?!" sentak Hani.


"Falia, wahana ini tidak baik untuk jantung. Lebih baik kita main wahana yang lebih seru seperti bianglala," kata Ayan mencegah Hani untuk naik.


Hani memutar bola matanya jengah, gadis itu mendorong tubuh Ayan agar menjauh darinya.

__ADS_1


"Falia," Ayan kembali menarik tangan Hani, menggeleng memberi tanda kalau dirinya tidak memberi izin untuk Hani naik ke wahana itu.


Menepis tangan Ayan lagi, gadis itu memberontak perintah suaminya.


"Falia!"


Hani menghentikan langkahnya, berbalik gadis itu membulatkan matanya ketika tubuhnya sudah melayang ke udara. Teryata Ayan mengangkatnya dengan pundak.


Menjerit gadis itu memukul-mukul punggung suaminya, merontah agar dirinya di turunkan.


Ayan tetap menggedong Hani, pria itu tidak perduli jika dirinya saat ini sedang jadi tontonan.


Sesampainya di wahana bianglala, pria itu perlahan menurunkan tubuh istrinya.


Kemudian membiarkan Hani memukuli dada bidangnya, pria itu tersenyum kemudian berkata.


"Bukannya saya tidak mau menuruti permintaan kamu untuk naik ke wahana itu. Hanya saja  saya ingin menikmati indahnya ciptaan Allah dari atas wahana itu," Ayan menunjuk wahana yang sangat tinggi itu dengan jarinya,"Bersama dengan kamu, kita berdua." Kata Ayan. Blus membuat pipi Hani langsung merona.


"Jika kamu tidak mau, saya tidak akan memaksa," sambung Ayan.


Hani menggeleng, gadis itu meraih tangan kanan Ayan kemudian menggenggamnya. Berjalan bersama untuk menaiki bianglala.


Ketika sudah menaiki bianglala, Ayan dan Hani saling tatap. Pria itu lebih menikmati ciptaan allah yang ada di depannya. Sangat indah sampai matanya ingin keluar saat memandangi gadis di depannya.


Hani berdehem, untuk mengurangi rasa canggung saat bersama dengan Ayan. Suasana hening seperti ini benar-benar membuat Hatinya merasa tentram.


Tersenyum gadis itu bangkit, berdiri untuk menikmati pemandangan dari atas, senyumnya mengembang saat melihat pegunungan yang hijau sangat indah menyegarkan mata untuk di lihat.


"Ayan coba kemari!" seru Hani antusias, yang di panggil langsung beranjak. Pria itu berdiri di samping Hani.


"Lihat indah bukan?" tunjuk Hani. Ayan tersenyum matanya menatap gadis di sampingnya.


"Sangat ... sangat ... Indah, subhanallah," kata Ayan lagi.


Hani terdiam, bibirnya mengatup rapat sementara matanya menatap Ayan yang juga menatapnya.


"Hek.." cegukan lagi, Hani langsung menutup mulutnya, gadis itu kembali duduk ke tempat semula.


Hani memukul dadanya pelan, guna untuk menghentikan debaran yang semakin menguat.


Hani meyelipkan rambutnya ke daun telinga, wajah yang tadinya menunduk kini gadis itu angkat. Menatap Ayan yang saat ini sedang tersenyum manis ke arahnya.


Gadis itu kembali gugup, mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu tentang perasaannya terhadap Ayan. Yang sudah lama ia sembunyikan.


"Ayan ada yang ingin aku katakan kepada kamu," kata Hani gugup. Keringat dingin menyelimuti gadis itu.


"Katakan," ujar Ayan mempersilahkan.


"Sebenarnya aku-"


"Oh sudah berhenti," potong Ayan saat wahana yang mereka naiki itu berhenti.


"Ayo turun," Ayan mengulurkan tangannya. Hani terdiam detik setelahnya gadis itu menyambut uluran tangan Ayan.


"Gimana perasaan kamu setelah menaiki bianglala?" tanya Ayan.


Hani tersenyum kecil, gadis itu cukup kecewa karena hari ini tidak berhasil untuk menyatakan cintanya.


"Cukup bagus," balas Hani.

__ADS_1


Ayan mengangkat kedua sudut bibirnya kemudian menyungging senyuman hangat, detik setelahnya pria itu mendaratkan telapak tangannya ke kepala Hani, mengelusnya dua kali kemudian berkata,"Mau ice cream?" tanya Ayan.


Hani menghela napas, gadis itu menelan ludahnya susah payah karena cuaca yang sedikit panas membuat gadis itu haus.


Mengangguk kecil gadis itu menjawab,"Boleh," katanya.


Ayan kembali tersenyum,"Kamu tunggu sebentar disini," Ayan menunjuk ke tempat jual ice cream di depannya,"Saya mau ke sana dulu," jelas Ayan yang diangguki oleh Hani.


Ayan meringis kemudian kembali berlari ke arah Hani,"Saya lupa kamu mau rasa apa?" tanya Ayan sambil mengatur napasnya.


"Strawberry," ujar Hani.


"Ok," balas Ayan. Pria itu kembali berlari, membuat Hani yang melihatnya sedikit terkekeh.


5 menit setelah Hani menunggu akhirnya Ayan pun datang dengan dua ice criem di tangan kanan dan kiri pria itu.


"Strawberry," kata Ayan sembari memberikan ice cream rasa strawberry ke arah Hani.


"Terima kasih," ucap Hani sambil merai ice criem di tangan Ayan.


Menjilat ice cream-nya gadis itu tersenyum bahagia, cairan dingin  itu membuat suasananya hatinya kembali membaik.


"Ehmm ini sangat enak," kata Hani sambil memejamkan matanya, seolah menikmati setiap cairan lembut itu memasuki mulutnya.


Hani membuka matanya, kemudian menatap Ayan,"Kamu mau coba?" tawar Hani.


Mengangguk ragu Ayan mengiyakannya kalau pria itu ingin mencoba ice cream yang baru saja di makan oleh Hani.


"Enak kan?" kata Hani sambil menarik kembali ice cream dari bibir Ayan.


"Enak," balas Ayan sambil mengangguk.


Pria itu melirik ice cream-nya, kemudian bertanya,"Kamu mau coba ice cream saya?" ujar Ayan dengan cepat Hani mengangguk.


Menggigit pelan ice cream di tangan Ayan gadis itu membulatkan matanya,"Punya kamu lebih enak," kata Hani.


Ayan tersenyum lebar kemudian memberikan ice cream-nya untuk Hani.


"Yaudah punya saya untuk kamu," ujar Ayan mengalah.


"Kamu?" tanya Hani.


"Nanti saya beli lagi," ujar Ayan.


mendengar itu Hani buru-buru melahap kedua ice cream di tangannya.


"Woy!" panggil Boby sambil bertriak.


"Gue cariin teryata disini!" kilah Boby merasa kesal. Bella dan Hani sama-sama membiarkan dirinya sendirian.


"Bella dimana?" tanya Hani.


"Sama pacarnya," balas Boby melemah.


"Terus lo kok disini? Cari pacar juga sana!" usir Hani sambil mengibaskan ice criem di tangan kirinya membuat ice crem itu terbang tepat mengenai jas hitam yang di kenakan oleh Ayan.


"Maaf," lirih Hani sambil memasang wajah sedih.


Selesai.

__ADS_1


__ADS_2