Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 49


__ADS_3

...❦︎❦︎❦︎❦︎***...


Seorang gadis menangis, mengamuk. Salah satu tangan yang tadinya terpasang impus, kini sibuk menghempas barang-barang yang berada dekat dengannya.


Sempat meringis, ketika merasakan darah segar mengalir dari dadanya. Bekas tembakan itu membuat uluh hatinya terasa sakit.


"Lepaskan aku! Dan katakan dimana kalian menyembunyikan Ayanku?!" teriak gadis itu mengamuk. Dengan tubuh lemah gadis itu mendorong-dorong para suster yang menjaganya.


Mendengar suara keributan dari dalam ruangan membuat Herman serta keluarganya masuk untuk mengechek keadaan putri mereka.


"Ada apa ini sus?" tanya Herman cemas, disusul Sabrina mencoba merangkul putrinya.


"Mama katakan dimana suamiku?" tanya Hani. Menangis gadis itu memohon agar mamanya mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Tampak bingung. Sabrina melirik Herman yang sama bingung dengannya.


"Mama!" kata gadis itu memanggil.


"Maafkan mama," hanya itu yang bisa Sabrina sampaikan untuk putrinya, permohonan maaf atas kebisuannya tidak bisa menceritakan apapun.


Memeluk tubuh putrinya erat, dengan napas berat wanita itu memberikan kode agar suster di belakang Hani segera menyuntikan obat bius untuk Hani. Agar putrinya itu tenang.


"Ah!" pekik Hani, ketika jarum berbentuk tajam menusuk pundaknya.


Melihat itu Sabrina hanya bisa menangis, wanita itu menangisi keadaan putrinya yang semakin buruk lepas kepergian Ayan.


"Mama k-kenapa?" tanya Hani dengan suaranya yang melemah. Dan dalam hitungan detik mata gadis itu mulai terpejam. Kini dunianya kembali gelap.


"Maafkan mama Hani," kata Sabrina membisik.


Setelah mengingat kejadian itu kini aku sadar, jika Ayan mungkin telah melupakanku untuk selamanya. Kejadian itu aku rasa sudah lebih dari dua tahun yang lalu. Saat Ayan tiba-tiba meninggalkan ku tanpa penjelasan sedikitpun. Mengapa dan kenapa dia pergi meninggalkan ku sendirian disini.


Di tempat pertama kali dia memberikanku sebuah kalung berbentuk kunci, sebelum itu aku lupa untuk menanyainya tentang dimana gemboknya? Bukankah sebuah kunci juga membutuhkan gembok untuk dibuka?


Ah sudahlah... itu sebuah masalalu bukan? Dan anehnya sampai detik ini perasaanku terhadapnya tidak pernah berubah.


Perasaanku masih sama... seperti dulu, bedanya kini ada sedikit keraguan di dalam hatiku.


Luka itu membekas, meninggalkan bekas luka yang sulit ku artikan.


Setiap kali mengingat hal tentangnya, hatiku sakit. Dan setiap kali aku ingin mengobatinya entah kenapa rasanya hanya menambah rasa sakit itu.


"Hani, apa yang kamu lakukan di atas gedung rumah! Ayo turun ada Keno dibawah!"

__ADS_1


Ah Keno, aku lupa dengan cowok itu. Cowok yang pernah melukaiku dengan senjata... yang sama sekali tidak pernah sekalipun terpikir olehku.


Cowok itu mampu melukaiku? Awalnya aku memang tidak ingin memaafkan cowok itu!


Hanya saja karenanya aku selamat. Kini aku berhutang nyawa dengannya.


Walau sebelumnya dia mempunyai hubungan yang tidak baik dengan Ayan. Tapi setelah kejadian itu semuanya kembali normal, hubungan mereka juga ikut membaik.


Hanya hubungan ku dan Ayan yang tidak baik.


"Iya ma Hani turun!" balasku sambil teriak.


Sebelum pergi, perlahan tanganku terangkat untuk menyentuh mainan pada kalungku. Menghela napas penuh beban. Aku berkata lirih.


"Ayan..."


Setelah mengatakan itu aku bergegas turun ke bawah untuk menemui Keno yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan papaku.


Tersenyum kecil aku menghampirinya, menyapa lalu melambaikan tangan.


"Maaf lama," kataku sambil menggaruk pelepis kananku.


Ku lihat Keno tersenyum lebar, setelah dua tahun lebih cowok itu kini berubah menjadi pria baik dan bertanggung jawab.


Keno menjelaskan semuanya kenapa dia membenci Ayan... mulai dari pernikahan ibunya dengan Ayahnya yang memburuk karena papa Ayan yang dulunya adalah suami mama Ayan yang sebenarnya. Gilang papa Ayan yang berusaha untuk memisahkan rumah tangga mantan istrinya. Walau pria itu juga sudah menikah dengan Rosita mama tiri Ayan.


Bahkan pertemuan antara Ayan dan Keno tidak pernah terpikirkan oleh mereka berdua.


Kedua anak kecil itu saling menyayangi satu sama lain.


Hingga perselingkuhan Maya dengan mantan suaminya pertama di ketahui oleh papa Keno, Veno.


Dan setelah mengetahui anaknya dekat dengan anak dari dua orang yang mengkhiatinya.


Membuat Veno murkah, segalah cara ia lakukan untuk memisahkan keduanya. Termasuk menanamkan api kebencian ke dalam hati putranya. Yang dari kecil jauh dari kasih sayang mamanya.


Itu lah yang Keno ceritakan kepadaku, awalnya aku tidak percaya jika keduanya adalah saudara. Karena keduanya terlihat tidak sama.


"Sudah selesai?" tanyanya sontak membuatku terbangun dari lamunanku.


Mengulas senyuman tipis aku mengangguk. Pertanda aku sudah selesai untuk pergi kerja ke perusahan milik keluarga Ayan.


Kini kedua orangtua Ayan menganggapku sebagai putrinya.

__ADS_1


Karena insiden itu, semuanya ikut hancur. Bisnis perusahaan Ayan yang dengan teganya di hancurkan oleh Putri yang cemburu karena melihat Ayan kembali membawaku dengan selamat.


Membahas tentang wanita itu, sekarang dia berada di Amerika. Setelah bebas dari penjara beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang apa yang sedang wanita itu rencanakan untuk membalasku?


Entahlah, lagi pula tentangnya aku tidak perduli.


"Ayo berangkat!" seru Keno semangat.


Melihat pria itu begitu semangat membuatku merasa senang. Dan ketika melihat seragam lorong-lorengnya, kemudian terlintas di pikiranku kalau dia sedikit mirip dengan Ayan.


"Ma, pa Hani berangkat kerja dulu," kataku sambil mencium punggung tangan keduanya.


Beberapa detik setelahnya aku berpamitan dengan mereka. Lalu pergi dengan motor Keno yang selalu mengantar jemputku.


Sekarang banyak orang yang mengirah jika kami adalah pasangan. Mempunyai hubungan lebih dari sahabat. Tapi itu semua tidak benar, hubunganku dengan Keno sekarang memang dekat. Tapi kami tidak mempunyai hubungan seperti itu.


2 jam setelahnya, motor Keno akhirnya berhenti di depan halaman perusahaan Garyan Company. Perlahan aku mulai turun lantas memberikan helmnya kembali. Ku lambaikan tanganku sekali aku tersenyum. Bangga karena sekarang pria itu menjadi seorang tentara.


"Hani doakan aku, semoga hari ini aku lulus tes ujian menjadi tentara..." ujarnya dengan wajah yang di tekuk. Apa saat ini dia sedang gugup? Tidak percaya dengan kemampuannya saat ini?


"Keno seperti dia...aku yakin kamu pasti bisa," ujarku menyemangati. Dan seketika mata Keno terbelalak lebar. Saat aku mengatakan kata dia. Wajahnya kini menjadi murung, dan aku tau setiap aku melihat wajah itu. Aku merasa dia tau sesuatu tentang Ayan.


"Hani... Maafkan aku,"


Percayalah aku sudah muak ketika dia dan keluargaku selalu meminta maaf karena tanpa sengaja aku mengenangnya. Aku merasa seolah-olah mereka lah penyebab kenapa Ayan pergi meninggalkanku.


"Keno berhentilah meminta maaf sekarang, karena yang ingin ku dengar bukan kata maaf. Melainkan tentang dia," ucapku dengan nada kecewa. Dengan gerakan cepat aku memutar tubuhku.


Berlari aku masuk ke dalam perusahaan. Seperti biasa dia tetap diam, memilih duduk di atas motornya lalu memasang wajah sedih.


Kalian kenapa tidak dari satupun dari kalian yang mengerti penderitaan yang selama ini berusaha aku tutupi...


Kenapa kalian selalu diam, setelah mengetahui alasan Ayan pergi meninggalkan diriku.


"Pagi bu Ha-"


Menangis aku berlari melintasi para staf yang memberikanku sambutan.


Dan saat aku berlari aku mengingat akan tentang Ayan. Selama dua tahun ini bayangan tentang dia selalu berputar-putar di sekeliling otakku.


"Kamu tau? Setelah bunda kamu adalah orang yang sangat berharga untukku... karena itu mulai saat ini aku berjanji akan selalu bersamamu, sebagai perisaimu..."


Mengingat Ayan pernah mengatakan itu membuat hatiku menjerit penuh kesedihan.

__ADS_1


"Kenapa sekarang kamu lupa dengan janji itu Ayan? Bukannya aku juga orang berharga untukmu, lalu kenapa kamu pergi? Ayan!" tanyaku dalam tangis.


TbC


__ADS_2