
"Bosen," gumam Hani sambil menendang-nendang udara di depannya. Gadis itu mengguling-gulingkan tubuhnya ke ranjang.
Ayan yang baru saja selesai sholat itu pun hanya bisa tersenyum. Menikmati kebosanan yang melanda istrinya.
"Mau jalan-jalan?" tawar Ayan.
Mendengar kata jalan-jalan membuat Hani langsung bersemangat berlari mendekati Ayan.
"Mau!" sahutnya dengan wajah sumringah.
"Sholat dulu sana," ujar Ayan memerintah. Hani menggeleng.
"Gak mau," tolaknya.
"Sholat itu wajib loh. Emang kamu mau masuk neraka gak sholat?"
"Sholatnya nanti pas tua kan bisa!" sela Hani membalas ucapan suaminya.
"Kamu yakin umur segitu masih hidup?"
"Om doain saya mati?!"
Ayan menghela napas. Butuh waktu lama untuk menceramahi istrinya ini biar paham tentang agama. Tapi Hani walau sudah tau pun tetap menolak untuk melaksanakannya.
"Terserah kamu, syarat saya kalau mau jalan-jalan kamu harus sholat dulu." akhir Ayan membuat keputusan yang sangat susah untuk di laksanakan Hani.
Karena bosan. Mau tidak mau Hani menyetujuhi syarat Ayan. Gadis itu pergi untuk sembayang. Menghadap ke sang pencipta setelah sekian lamanya.
Selesai Hani sembayang. Mata Ayan berbinar melihat wajah Hani selesai sholat seperti bersinar. Di balut oleh mukenah berwarna putih.
"Gak mau salam sama suami?" sindir Ayan saat Hani sudah ingin melepaskan mukenahnya.
"Gak mau!" balas Hani.
Ayan tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalnya.
"Oh, kalau gitu gak usah pergi sekalian," candanya. Membuat Hani berdecak sebal.
Menarik tangan Ayan kasar kemudian mencium punggung tangannya.
"Udah kan. Puas?" tekan Hani. Gadis itu ingin berbalik lantas pergi.
Namun, sebelum itu Ayan menahan tangannya untuk tidak pergi. Menggenggamnya erat.
Sang pemilik tangan. Mengeraskan rahangnya. Menatap Ayan dengan tatapan kesal.
Yang di tatap menyungging seringaian manis. Mengangkat tangan kanan istrinya itu ke atas, perlahan pria itu mendekatkan bibirnya ke dekat tangan dengan kedua netra menatap mata Hani, kini pria itu mencium punggung tangan istrinya lembut.
"Kamu cantik. Apalagi kalau berhijab," lirihnya.
Membuat pipi gadis yang dia goda seketika langsung memerah.
"A-apaan sih?" sentak Hani sambil menarik tangannya kembali, gadis itu berlari cepat hingga hampir terjatuh karena rok mukenahnya.
Ayan sempat ingin membantu. Tapi Hani melarangnya. Gadis itu kembali berlari dengan kedua tangan mencincing rok mukenahnya.
"Apa ini?" tanya Hani sambil memegang dadanya yang berdetak sangat cepat.
Kedua pipinya masih saja memanas. Walau Ayan sudah tidak berada di dekatnya.
Memukul pelan kepalanya. Gadis itu meringis kemudian mengelus kepalanya.
__ADS_1
"Kamu cantik, apalagi kalau berhijab."
Hani menggelengkan cepat kepalanya saat mengingat kembali perkataan Ayan tentangnya.
"Hijab?" Hani berdecih. Gadis itu membuka kasar mukenah yang sedari tadi ia pakai. Melemparkannya ke lantai, gadis itu kembali berkata,"Gak akan pernah!" tandasnya.
...****...
"Jalan-jalan kemana? Awas aja kalau di tempat yang membosankan!" ancam Hani saat mendudukan dirinya di samping pengemudi Ayan.
"Liat saja nanti," balas Ayan. Mengulas senyuman hangat pria itu mendaratkan tangannya ke puncak kepala Hani. Mengelusnya dua kali lalu kembali menatap lurus jalan di depannya.
Hani terdiam saat Ayan mengelus rambutnya. Entah kenapa rasa nyaman itu ada saat Ayan menyentuh dirinya.
"Tidak! Tidak!" gumam Hani sambil menggeleng.
"Ada apa?" tanya Ayan. Hani menggeleng.
"Gak papa!" sahutnya.
1 jam kemudian. Akhirnya mereka berdua sampai juga ke tempat tujuan. Memakirkan mobilnya ke tempat parkiran, pria itu berjalan keluar. Membukakan pintu mobilnya untuk Hani.
"Dimana ini om?" tanya Hani bingung.
Ayan tersenyum, mengulurkan tangannya ke arah Hani.
"Ayo," ujar Ayan mengajak.
Hani memicingkan matanya dengan perasaan yang masih ragu gadis itu mengulurkan tangan kanannya. Membiarkan Ayan untuk menggenggamnya.
"Panti asuhan?" sentak Hani terkejut saat membaca papan nama besar di depannya.
"Om kenapa bawa saya ke panti asuhan?" tanya Hani. Menatap Ayan dengan kesal. Tanpa sadar tangannya menepis kasar tangan Ayan.
"Awas aja nanti kalau saya bosan!" tandas Hani sambil mengembungkan kedua pipinya.
Saat pertama kali Hani menginjakan kakinya ke dalam panti asuhan. Tiba-tiba hatinya seperti teriris melihat anak-anak kecil di hadapannya tinggal tanpa adanya orangtua.
Hani menggenggam kuat tangan Ayan. Menggeleng pelan gadis itu mengajak Ayan untuk pergi.
"Tidak apa-apa," ujar Ayan.
"Kakak-kakak!" panggil seorang anak kecil yang baru saja menghampiri Hani dengan kedua tongkat di tangannya.
Yang di panggil langsung menunduk untuk melihat anak perempuan yang tingginya hanya sebatas pinggangnya.
"Apa kakak bidadarinya pak tentara?" tanya Anak kecil itu. Namanya Laura.
"Laura, bagaimana kabar kamu?" tanya Ayan antusias. Pria itu tersenyum lebar sambil mengangkat Laura lalu menggendongnya.
"Pak tentara apa kah dia bidadari yang pernah pak tentara bilang?" tunjuk Laura.
Ayan mengangguk. Tersenyum sambil menatap Laura,"Iya, gimana cantik kan?"
Laura mengangguk cepat, gadis kecil itu menatap Hani sambil tersenyum.
"Kayak bidadari," ucap Laura.
Hani tersenyum, kemudian menyapa Laura,"Hello," sapanya.
"Assalamuallaikum kak, perkenalkan nama aku Laura. Salam kenal." balas Laura. Membuat Ayan tertawa lumayan keras.
__ADS_1
"Lihat? Anak kecil saja pandai mengucapkan salam. Masak kamu tidak bisa?" sindir Ayan. Membuat Hani langsung malu hingga menutup wajahnya.
"Laura dimana bu Maya?" tanya Ayan. Mencari keberadaan Maya penjaga panti asuhan.
"Di dapur," balas Laura.
Ayan mengangguk kemudian menurunkan Laura ke lantai.
"Laura kamu temani dulu kakak bidadari, pak tentara mau ke dapur bentar untuk menemui buk Maya," ujar Ayan yang di angguki Laura.
"Suami om mau kemana?" sentak Hani bertanya.
"Kakak ikut Laura yuk," ajak Laura sambil menarik tangan Hani.
"kamu dengan Laura dulu. Saya ada keperluan dengan buk Maya," jelas Ayan.
Hani menghela napas berat. Gadis itu dengan malas mengikuti Laura yang mengajaknya ke taman bermain dengan yang lainnya.
Ayan tersenyum melihat Maya sedang sibuk memasak di dapur.
"Ada yang bisa Ayan bantu buk?" tawar Ayan.
Maya langsung tersentak kemudian menatap ke arah sumber suara.
"Nak Ayan!" pekik Maya. Kedua maniknya berbinar saat mendapati Ayan sudah berada di depannya.
"Bagaimana kabar bu Maya?" tanya Ayan sambil membantu memotong sayuran di dapur.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sekarang," sahut Maya.
"Kabar kamu gimana?" tanya Maya balik.
Ayan terdiam sejenak. Kembali tersenyum pria itu berkata,"Baik bu," ucapnya.
"Papa kamu gimana?" tanya Maya.
"Baik juga. Kenapa Bu Maya tidak lihat sendiri kondisi Papa? Toh bu Maya juga istri pertamanya," ujar Ayan.
Membuat Maya langsung menghentikan aksinya.
Wanita itu menerjapkan maniknya. Saat merasakan air matanya ingin terjatuh.
"Oh ya? Katanya kamu bawa Hani? Dimana dia?" tanya Maya sekaligus mengubah topik pembicaraan.
"Dia dengan Laura," balas Ayan. Maya langsung meletakan alat penggorengannya. Kemudian membasuh tangannya.
"Ayo," ajak Maya.
"Kemana?" tanya Ayan.
"Berjumpa dengan istri kamu," ujarnya.
Ayan tersenyum. Detik setelahnya pria itu membunti Maya dari belakang.
"Hahahaa ...."
Tawa anak kecil dimana-mana saat melihat tarian Hani yang seperti orang kesetanan.
"F-Falia?" gumam Ayan.
Detik setelahnya pria itu juga ikut tertawa bersama dengan Maya di sampingnya.
__ADS_1
Menyaksikan Hani yang sedang berjoget-joget di depannya.