
"Assalamuallaikum ...."
sang pemilik rumah segera keluar untuk membukakan pintu, dan melihat siapa tamu yang datang. Wanita bernama Aurel itu tersenyum.
"Waalaikumsallam, Ayo masuk Liyu!" seru Aurel antusias mengajak Liyu agar masuk ke dalam rumah.
Liyu tersenyum sambil masuk ke dalam rumah milik tantenya. Mama dari Dimas, dan juga istrinya Keno.
"Kamu dateng pasti lagi nyari Dimas ya?"
Liyu mengangguk kemudian duduk sofa.
"Tapi Dimasnya lagi gak ada dirumah, baru aja keluar tadi katanya mau latihan bola Voli," ujar Aurel merasa sedih.
"Gimana kalau tante Telpon Dimas, biar pulang?"
Liyu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
maksud kedatangannya kesini hanya untuk bersembunyi agar tidak ditanyai oleh papanya yang pasti sedang menunggu dirinya dirumah.
Liyu sangat takut. Karena papanya itu paling gak suka sama yang namanya kebohongan.
Membanyangkan papanya yang marah karena dulu dirinya pernah berbohong, itu membuat Liyu merasa ngeri.
marahnya orang pendiam itu memang paling menyeramkan.
"Gak usah tante, Liyu cuma mau main-main disini ... gak usah hubungi Dimas kalau Liyu disini."
Aurel menghela napas, kemudian menyentuh kepala Liyuna dan mengelusnya.
"Anggap rumah sendiri ya, tante masih ada urusan didapur!" seru Aurel beralasan.
firasatnya mendadak mengatakan kalau ada yang salah.
karena itu ia akan menghubungi kakak iparnya dan bertanya langsung.
"Oke tante," balas Liyu sambil tersenyum lebar.
wanita itu juga ikut tersenyum, setelah itu pergi ke arah dapur dan segera menelpon kakak iparnya.
"Halo kak, ini Aurel ...."
"..."
Sambil melirik Liyu, Aurel menjawab.
"Iya Liyu ada disini,"
"..."
"Oh begitu, jadi Liyu ketahuan nyari kak Bara?"
"..."
"Baiklah, aku akan menjaga Liyu."
Dari kejauhan Liyu melirik tantenya yang sedang menelpon seseorang.
Menggulum bibir bawahnya, Liyu merasa cemas. Memikirkan siapa orang yang ada didalam ponsel.
Mungkinkah itu papanya?
Liyu segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin!" katanya meyakinkan dirinya kalau tantenya itu bukan orang yang seperti ia pikirkan.
__ADS_1
mungkin ia terlalu takut hingga berpikiran yang macam-macam.
tau gini mending tadi ajak Roby. Biar ada alasan yang lebih masuk akal, untuk meyakinkan papanya.
lagian ia tidak tahu kalau papanya itu akan datang untuk menemui suaminya, eh maksudnya Bara.
Menekan bagian kepalanya dengan kedua tangannya. Liyu mengerang seperti kucing betina yang sedang marah.
kenapa?
Ia bisa salah orang dan membuat dirinya terkena masalah. Hampir saja ia bisa melihat wajah Bara. Tapi kenapa, sebelum melihatnya ia harus sadar kalau papanya disana.
jadinya kan Liyu gak ada waktu buat lihat Bara.
ia langsung kabur karena ketakutan.
papanya itu sangat mengerikan kalau sedang marah.
"Liyu kamu kenapa?" tanya Aurel sambil memberikan jus mangga kepada Liyu.
mendengar suara tantenya, Liyu segera duduk dengan tegak. Dengan senyum yang dipaksakan, Liyu menerima jus pemberian Aurel.
tersenyum, kemudian duduk disamping Liyu. Aurel menyentuh pundak keponakannya itu dengan lembut.
"Cerita ke tante, hem ..."
Liyu bergeming, apakah tantenya ini bisa dipercaya?
bagaimana jika seperti papanya tantenya juga akan menentang dirinya yang menginginkan Bara untuk menjadi suaminya?
Liyu masih belum bisa mempercayai seseorang.
kecuali Dimas. Itu beda lagi ceritanya.
walaupun Dimas kadang sikapnya suka bikin darah tinggi Liyu naik.
"Liyu gak ada masalah yang harus diceritain kok tante," ujar Liyu yang secara halus menolak untuk bercerita.
"Benar kah?"
Liyu mengangguk.
"Baiklah, tapi kalau kamu mau cerita. Tante siap dengerin itu, sampai kamu mau cerita, gak masalah kapan pun itu waktunya!" kata Aurel tulus dari dalam hati.
Liyu tersenyum dengan berat ia mengganggukan kepalanya.
...****...
Setelah pulang dari pertemuan itu, Bara menjadi pemurung.
pria itu menjadi sosok yang pendiam tidak biasanya.
bahkan saat bertugas juga, membuat teman-temanya kebingungan.
apa ini efek dari setelah pertunangan?
Pangkat Bara naik menjadi seorang jendral.
yang dihormati oleh banyak orang.
dengan posisinya sekarang, Bara sering berpergian untuk bertugas.
Pria itu berterima kasih karena tugasnya itu ia bisa menghindari Nana.
Tapi beberapa hari ini, setelah kembali.
__ADS_1
Bara selalu gelisah.
Pikirannya dipenuhi dengan perkataan Ayan membuatnya marah dan kesal.
Dor ... dor ...
dengan cepat Bara menembakan peluru ke arah target yang berada jauh didepannya.
setelah melampiaskan kemarahannya. Bara melepaskan Earphone yang ada ditelinganya.
kemudian menatap Radi yang sedang memperhatikannya, selama latihan menembak.
"Wah Jedral Bara sangat hebat," puji Radi yang memiliki pangkat masih rendah.
Bara tersenyum miris ketika dirinya dipuji.
"Lakukan yang terbaik," ujar Bara yang diberi hormat oleh Radi.
"Siap Jendral!"
Tersenyum, Bara menepuk pundak Radi kemudian izin mengundurkan diri.
Bara ingin istirahat diruangannya, rasanya kepalanya terus berdenyut nyeri.
ada apa dengan perasaannya beberapa hari ini.
jantungnya juga kerab berdebar saat mengingat wajah Liyuna saat itu.
duduk dikursinya.
Bara menutup matanya dengan lengan.
"Gue beneran kenak karma kayaknya. Seharusnya dulu gue gak pernah bikin Ayan marah, sekarang gimana mau bikin dia percaya kalau gue ini bisa jaga Liyuna?"
"Lo kenapa Bar?"
Terkejut, Bara langsung menjauhkan lengannya dari mata. Kemudian menatap Haris yang sedang duduk disofa.
"Haris lo?"
Haris nyengir kuda.
"Gue denger lo udah balik, makanya gue dateng kesini. Btw selamat atas kenaikan pangkat lo jadi Jendral ...."
"Lo kapan?" tanya Bara.
"Jadi letnan aja udah bersyukur kok gue, gak mau punya pangkat lebih tinggi dari itu ... gue gak mau punya tanggung jawab terlalu tinggi, entar gak ada waktu buat istirahat sama keluarga."
Bara menggelengkan kepalanya.
"Lo kenapa tadi ngomong-ngomong sendiri?"
"Bukan urusan lo!"
"Tapi gue dengar lo nyebut kata Pak Ayan?"
"Yoi, dia sekarang jadi Ceo."
"Wah, padahal waktu bareng sama kita. gue kira pak Ayan bakal netap ngapdi selamanya jadi tentara ...."
"Ya gimana? Takdir berkata lain kan."
"Kalau lo gimana?" tanya Haris menggoda Bara.
"Gue suka kerjaan gue, dan berada diposisi sekarang itu gak muda Ris."
__ADS_1
Mendengar itu Haris mengangguk setuju.
setelah itu mereka kembali berbincang-bincang setelah sekian lama tidak bertemu dan bercanda bersama.