Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 24


__ADS_3

...Pembukaan...


Terima kasih untuk yang sudah baca cerita ini :)


Sejauh ini saya belum buat kalian nangis :')


Bukan berarti saya mau buat sad end😂


ada kemungkinan...


#selamat membaca...


Ayan menyatuhkan kedua alisnya, saat netranya menangkap Putri tengah berjalan sambil menyeret kopernya. Dengan cepat pria itu langsung menghampiri Putri untuk bertanya.


"Mau kemana kamu Put?" tanyanya. Yang sengaja di abaikan Putri.


Wanita itu terus menarik kopernya tanpa memperdulikan Ayan yang sedang bertanya.


"Put soal kemarin aku minta ma--"


Mendapatkan tatapan tajam dari Putri membuat Ayan langsung terdiam.


"Kamu gak mau bantu aku?" ujar Putri dengan nada kesal.


Ayan tersentak kemudian segera membantu Putri utuk membawakan kopernya.


"Aku sudah pamit sama Om dan Tante, maaf ngerepoti kalian." kata Putri melemah.


"Gak ngerepoti sama sekali kok Put, justru kami senang dengan kehadiran kamu." balas Ayan menjelaskan.


Putri mengulas senyuman kecil, berjalan melalui Ayan wanita itu masuk ke dalam taksi yang sedari tadi menunggunya.


"Aku masih di sini Yan, jangan lupa mampir ke rumah aku nanti. Sekalian ajak istri kamu," tutur Putri di dalam mobil. Menatap wajah Ayan lama selang beberapa detik setelahnya wanita itu kembali meluruskan pandangnnya.


"Hati-hati Put," ujar Ayan, sebelum akhirnya taksi yang di tumpangi Putri melaju dengan cepat.


"Eh Putri sudah pergi?" tanya Rosita menepuk pundak putranya sekali.


Ayan tersentak lantas membalik tubuhnya, "Sudah Bun," jawab Ayan.


"Gadis malang," kata Rosita geleng kepala.


"Maksud bunda?" tanya Ayan tidak mengerti.


Rosita tersenyum miris, sudah lama ia mengetahui Putri mempunyai perasaan kepada Ayan. Bukan tidak suka jika Putri yang menjadi menantunya. Namun, Rosita bukan tipe ibu yang memaksa pernikahan putranya dengan wanita pilihannya. Biarlah kisah cinta Ayan yang menentukan. Gimana nanti untuk kedepannya.


"Sudah-lah, cukup gadis itu saja yang terluka. Jangan ada lagi yang nantinya akan kamu lukai," tutur Rosita.


"Bunda,"


"Ayo masuk! Ada yang mau papa kamu bicarain soal perusahaan sama kamu," seru Rosita mengajak masuk putranya ke dalam rumah.


Ayan mengangguk kecil, mengekori bundanya dari belakang.


Melihat kedatangan putra semata wayangnya itu. Gilang hanya tersenyum miring. Menatap Ayan dengan ekspresi datar.


"Sudah satu minggu Ayan," ujar Gilang.


"Gimana keputusan kamu?" tanyanya lagi.


"Masih ada 12 jam lagi Pa sebelum pas satu minggu," kilah Ayan.

__ADS_1


Membuat pria beruban itu marah, sudah membuatnya menunggu begitu lama.


"Apa susahnya tinggal pilih?!" tanyanya murkah.


"Ayan janji Pa selepas isya nanti Ayan akan memberikan jawabannya," janji Ayan.


"Jika kamu mengingkari janji ini? Ingat istri kecilmu di rumah!" sergah Gilang mulai mengancam Ayan dengan menggunakan Hani.


...****...


Keno tersenyum senang, targetnya selalu ada saat ia ingin memangsa. Namun, saat ia mau menghampiri si target tiba-tiba mobil sedan berwarna hitam lebih dulu menghampiri Hani.


Memasang wajah murung Keno menatap ke arah Hani yang tersenyum sambil masuk ke dalam mobil. Memagang dadanya pemuda itu meringis.


"Sakit," ucapnya.


"Assalamuallaikum om!" sapa Hani saat memasuki mobil Ayan.


Ayan yang tadinya sedang melamun, kini pria itu kembali tersadar. Tersenyum miris kemudian membalas salam Hani.


Mengusap wajahnya kasar, pria itu kembali menatap lurus jalan raya.


Membuat Hani kini merasa bingung saat melihat sikap dingin suaminya.


Ingin bertanya, tapi tidak berani untuk bertanya. Membuat Hani resah dan akirnya memilih untuk diam.


Sesampainya di apartementnya, Ayan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Di ikuti Hani dari belakang. Pria itu mengambil handuk berwarna putih kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


Hani memasang wajah murung menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Meremas rok sekolahnya gadis itu berkata.


"Apa ada masalah?" batin Hani cemas.


Di dalam kamar mandi Ayan terus membuka matanya tanpa sama sekali menutupnya. Membiarkan air menggurur tubuhnya.


Hani atau papanya.


Satu sisi ia sangat mencintai perkerjaannya sebagai seorang tentara, di sisi lain ia tidak ingin melihat Hani di pisahkan darinya.


Geram Ayan mengepalkan kedua tangannya, kemudian memukulkannya ke dinding.


Setelah 1 jam lebih di dalam kamar mandi, akhirnya pria itu keluar. Melihat Hani yang tengah menyusun bajunya di atas ranjang.


Melihat itu membuat Ayan gemas. Kemudian memeluk tubuh Hani dari belakang.


"Eh," sentak Hani lantas melirik Ayan di belakangannya.


"Apa perasaan saya saja. Sekarang kamu mulai berubah?" bisik Ayan.


Membuat Hani gugup. Cepat-cepat gadis itu memutar tubuhnya kemudian mendorong Ayan.


"Om ngomong apa sih?!" Hani tertawa renya menatap Ayan kemudian kembali berkata,"Siapa juga yang berubah?" sambungnya.


Ayan meyeringai memakai kaos hitam polos ke tubuhnya memperlihatkan badan sispeknya ke arah Hani. membuat gadis itu buru-buru langsung keluar dari kamar.


...***...


Hani memukul kepalanya pelan, saat mengingat tubuh sispek suaminya yang sangat menggoda iman. Gadis itu menenggelamkan wajahnya dengan bantal sofa.


terkekeh pelan Ayan menarik bantal di tangan Hani. Kemudian pria itu ikut duduk di samping Hani.


"Kenapa?" tanya Ayan.

__ADS_1


Hani terkejut saat melihat Ayan. Gadis itu sedikit menjauh dari pria di sampingnya.


Memandang lurus menatap televisi di depannya.


"Gak papa," balas Hani.


Ayan melirik Hani, kini pria itu kembali berpikir untuk membuat keputusan.


Memjiat pangkal hidungnya, Ayan meringis. Membuat Hani yang melihatnya menjadi khawatir lantas bertanya.


"Om kenapa? Sakit?" tanya Hani seraya menempelkan tangannya ke dahi Ayan.


Ayan terdiam, apa sebaiknya masalah ini ia ceritakan ke Hani. Pikir Ayan.


"Falia, apakah saat kamu terjatuh kemarin di kantor kamu sempat mendengar percakapan saya dengan Papa?" tanya Ayan.


Hani terdiam cukup lama. Menunduk gadis itu mengangguk.


"Sudah saya duga,"


Hani kembali mendongak, menatap Ayan dengan takut."Om marah ya sama saya?"


"Bukan begitu,"


Hani mengerutkan kening, berpikir Hani mencoba mengingat percakapan Ayan dan Gilang.


"Apa jangan-jangan om lagi membuat keputusan untuk memilih seperti yang di katakan oleh Papa mertua?"


Ayan menghela napas berat. Menatap Hani dengan mata sayu. Pria itu mengangguk.


"Lalu apa keputusan om?" tanya Hani.


Ayan lagi-lagi menghela napas.


"Tidak tau," balasnya.


Hani menggulum bibir bawahnya. Menatap Ayan dengan sedikit rasa takut kehilangan.


"Om, jika om Ayan tatap mejadi seorang tentara, itu artinya om akan pergi jauh?"


"Tidak pergi Falia, hanya terkadang tentara di tugaskan untuk menjaga keamanan negara. Dari tempat,  ke tempat yang lain. Mungkin itu akan memakan waktu berbulan-bulan," ujar Ayan.


Hani mendekat, gadis itu menggenggam tangan Ayan.


"Kalau gitu Om jangan jadi tentara! Saya tidak mau jauh-jauh dari om," pinta Hani.


"Saya juga tidak ingin jauh-jauh dari kamu, tapi cinta saya dengan negara ini juga besar sama seperti cinta saya ke kamu,"


"Jadi maksud om. Om tetap memilih menjadi tentara?"


"Itu lah yang masih saya bingungkan,"


Hani menundukan kepalanya, perasaan sedih menyelimuti dirinya. Jika benar Ayan tetap mempertahankan menjadi seorang tentara.


Mungkin Hani akan berada sangat jauh dari Ayan.


TbC


Udah panjang loh ini💓


Menurut kalian Ayan memilih apa?

__ADS_1


tentara or Ceo


Keno


__ADS_2