
Dimas yang tadinya hampir sampai ditempat tujuan, tiba-tiba menghentikan motornya dipinggir jalan.
matanya begerak mengikuti sosok yang ia kenal.
Liyuna yang ngoceh gak jelas juga ikutan berhenti ngoceh karena terkejut.
"Lo mau mati?!" pekik Liyuna sambil memukul pelan punggung Dimas.
Dimas mengabaikan ucapan Liyuna, dan dengan cepat mengambil ponselnya.
"Rob, entar jemput Liyuna ya dijalan Lintang," ujar Dimas melalui telepon.
Padahal Roby belum bilang iya, tapi Dimas udah buru-buru mematikan ponselnya.
"Lo mau kemana? Kita kan belum ke rumah om Bara?!" tanya Liyuna memekik.
"Lo sama Roby, gue ada urusan." ujar Dimas.
"Hah?" sentak Liyuna dengan mata membesar.
"Turun," pinta Dimas.
"Lo seriusan nuruni gue dipinggir jalan?" tanya Liyuna tidak percaya.
"Cepetan!"
"Jahat amat lo!" ucap Liyuna seraya turun dari motor Dimas.
"Awas lo buat masalah?!" tegas Dimas memperingati.
"Suka gue kan lo gak ada wlek!" balas Liyuna sambil menjulurkan lidahnya.
Dimas geleng kepala.
kemudian menancap gas motornya.
meninggalkan Liyuna dan juga helm yang masih dikepala Liyuna.
cowok itu melihat Quenta.
yang menarik perhatiannya adalah orang yang bersama Quenta.
Saat Dimas melihat, Quenta sedang dipukuli kemudian diseret dan dimasukan ke dalam mobil.
Dan sekarang Dimas sedang mengikuti mobil orang yang membawa Quenta diam-diam dari belakang.
sampai akhirnya mobil itu berhenti dirumah yang besar.
"Keluar!" teriak wanita cantik yang baru saja keluar dari rumah besar tersebut.
saat itu juga Quenta keluar.
Gadis itu menangis, dengan wig rambut yang terlihat acak-acakan.
wanita itu lantas langsung menarik wig rambut milik Quenta dengan kuat. Sampai rambut asli Quenta juga ikut ketarik.
"Sejak kapan kamu kerja?!"
Quenta nangis sesegukan dan gak berani bicara.
"Sejak kapan?!"
Quenta menggelengkan kepalanya.
Kebisuan Quenta membuat wanita itu jengkel.
"Kamu selalu bangga kan sama rambut panjangmu ini! Mama akan potong ini!" ancam wanita itu yang tidak lain adalah mama Quenta yang benama Anisa.
Dimas yang memperhatikan Quenta dari kejauhan merasa terkejut dengan perlakuan wanita yang katanya adalah Mamanya.
"Mama jangan, mama!" mohon Quenta.
"Kata kan, kamu kerja untuk papamu kan?"
Quenta dengan berat menganggukan kepalanya.
"Mama akan potong ini sebagai hukumannya!" pekik Anisa.
__ADS_1
Tapi niatnya itu terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Ma ada apa?"
Dan orang itu adalah anak tiri dari suami keduanya. Anisa dengan cepat langsung memasangkan wig rambut pendek itu ke kepala putrinya.
kemudian merapikannya.
"Noval? Dia udah pulang?" tanya putra tirinya.
"Ryan?"
Bersamaan dengan Anis yang memanggil, pria benama Ryan itu langsung memeluk Quenta.
"Kenapa gak pulang ke rumah? 2 hari ini kakak cari kamu," tanya Ryan.
Quenta menundukan kepalanya.
Hanya mamanya yang tau kalau dirinya ini adalah seorang wanita.
sedangkan saudara tiri dan ayah tirinya mengenalinya sebagai Noval. Bukannya Quenta.
Semuanya dimulai saat mamanya menikah lagi dengan seoarang pria kaya. Yang dimana pria kaya itu tidak suka dengan anak perempuan.
karena itu mamanya tega mengubah identitasnya menjadi seorang laki-laki dari Quenta berumur 5 tahun. Bahkan di kartu keluarga dirinya berjenis kelamin laki-laki.
"Ada masalah apa?" tanya Ryan lembut.
Quenta menggelengkan kepalanya. Lalu gadis itu tersenyum.
"Noval gak papa kok kak Ry,"
Ryan ikut tersenyum. Pria itu menyentuh sudut bibir Quenta yang mengeluarkan darah.
"Sepertinya orang jahat ini harus dikasih pelajaran, bagaimana menurut kamu Noval?"
"Ah ini, tadi Noval habis jatuh ...." lirih Quenta beralasan.
"Benar kah?"
Quenta mengangguk.
"Kak Ry?" kaget Quenta.
"Kamu kan lagi sakit? Emang gak boleh ya gendong adik sendiri?"
"Bukan gitu ...."
"Jadi boleh kan?"
Quenta menganggukkan kepala dengan ekspresi tersipu malu.
Ryan tersenyum kemudian berjalan perlahan sambil menggendong Quenta menuju pintu dan membawanya masuk.
Anisa yang melihat itu, mengepalkan tangannya. Sialan, padahal ia sudah senang Quenta pergi dari rumah.
tapi karena putra tirinya itu?
"Sialan!" maki Anisa kesal.
Dan ditempat yang sama Dimas yang sejak tadi memperhatikan itu merasakan sesuatu yang aneh.
Karena wanita yang katanya mamanya Quenta itu berprilaku kejam hanya saat tidak ada pria yang barusan menggendong Quenta.
"Ah sudahlah!" Dimas mengacak rambutnya,"Ngapain juga gue kepo sama Kisah hidup dia?"
Setelah mengatakan itu Dimas pun pergi dengan menggunakan motornya.
sepertinya Dimas tidak perluh ikut campur masalah keluarga orang lain.
tapi demi apapun, setelah kejadian tadi rasa keingintahuan Dimas meningkat menjadi 100%.
yang tadinya Dimas tidak terlalu memperdulikannya. Sekarang Dimas ikut penasaran dengan alasan dibalik Quenta yang harus berpenampilan layaknya seorang pria.
...****...
"Roby eek. Udah ditunggu gak dateng, tau tadi langsung pigi aja naik taksi. Kalau gini ceritanya, bisa-bisa Om Bara udah berangkat kerja. Alasan buat nganter jam tangan sia-sia," keluh Liyuna di dalam taksi menuju rumah Bara.
__ADS_1
Dan gak lama setelahnya taksi pun berhenti didepan rumah milik keluarga Bara.
Liyuna langsung turun.
usai turun hal pertama kali yang dia lihat adalah rumah masa depan. Eh maksudnya rumah milik keluarganya Bara.
dengan perlahan dan penuh dengan kepercaya dirian. Liyuna berjalan menuju rumah yang terhalang oleh gerbang.
karena itu Liyuna harus izin dulu sama satpam buat masuk ke dalam.
setelah diizinin masuk.
Barulah Liyuna masuk ke dalam rumah.
Disana ia disambut oleh pelayan.
Rumah sepi, padahal besar rumahnya.
andai aja dirinya jadi menantu dirumah ini, pasti seketika rumah ini hidup.
tapi ya ....
"Saya dengar kamu cari Mas Bara?"
Liyuna menganggukan.
Wanita cantik dan elegan itu datang dan ikut duduk disampingnya.
sialan jantungnya ikut berdebar.
bahkan aroma tubuh wanita itu sangat harum seperti bunga.
"Ada perluh apa? Maaf sekali baru saja Mas Baranya pergi kerja."
Nah kan, usaha Liyuna jadi sia-sia.
"Saya keponakannya om Keno, semalam itu jam tangannya om Bara ketinggalan dirumahnya om Keno. Jadi om Keno suruh saya buat anterin ini ke om Bara,"
"Begitu ya, maaf kalau calon suami saya ngeropoti, mas Bara kebiasan orangnya suka lupaan ...."
Jdeerrr!
wanita yang seharum Bunga ini ternyata calon istrinya Bara dan juga rivalnya!
"Jamnya sekarang mana?" lanjut Nana bertanya.
Liyuna yang sempat terkejut langsung sadar.
Terus Liyuna kasih bungkusan yang ada ditangannya. tapi sebelum itu dia nyelepin sesuatu di sela jamnya.
"Ini," ujar Liyuna.
dan senyum Nana mengembang.
wanita berterima kasih karena Liyuna sudah mau repot-repot nganter barang penting milik calon suaminya.
"Terima kasih banyak ya," ujar Nana.
"Nama kamu siapa?" lanjutnya bertanya.
"Liyuna," jawab Liyuna.
"Wah nama kamu juga bagus," puji Nana.
"Terima kasih," kata Liyuna berterima kasih.
"Kalau gitu saya pulang dulu," lanjutnya.
"Loh jangan dulu, tadi saya udah suruh pelayan buat jus buat kamu ...."
"Tapi saya gak haus,"
Nana pun memasang wajah sedih.
Menghela napas, Liyuna pun menjadi gak enak.
"Yaudah deh," ujarnya.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Nana antusias.
Liyuna menanggukan kepalanya.