
Menopang dagu pria itu mengagumi wajah sang istri yang setiap harinya bertambah cantik. Berdehem pria itu tersenyum lebar, detik setelahnya tangannya bergerak menyentuh rahang sang istri, meremasnya lembut kedua matanya berkedip.
"Falia, hari ini kamu ada waktu?" tanya Ayan dengan suara lembut.
"Waktu ya?" Hani berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
"Gak ada keknya," lanjutnya.
"Emang kamu mau kemana?" tanya Ayan sedikit kecewa. Padahal dirinya sudah mempersiapkan pesta di hari ulangtahunnya bersama dengan Hani. Tapi setelah mendengar tolakan halus dari sang istri membuat Ayan sedih. Tentu saja.
"Maaf Ayan, tapi aku mau ngurus pendaftaran kuliah aku." jelas Hani juga ikut sedih.
Sedih karena lagi. Dirinya harus berbohong kepada Ayan. Ini semua demi rencana pesta yang sudah ia rencanakan bersama Putri.
"Baiklah," Ayan tersenyum seraya melepaskan tangan kanannya dari rahang istrinya.
"Kalau begitu aku ikut kamu," ujar Ayan. Sontak membuat Hani membulatkan matanya, menggeleng gadis itu menolak usulan sang suami.
"Maaf tapi, aku sudah janjian dengan Putri," jelas Hani.
Memasang wajah murung, pria itu mengembungkan kedua pipinya. Lalu tangannya bergerak untuk meraih dompet yang berada di saku jaket tentaranya. Melirik Hani yang sedang memainkan ponselnya. Pria itu menghela napas lelah. Detik setelahnya tangannya meraih KTP di dalam dompet lalu meletakannya ke atas meja. Tersenyum tipis Ayan mendorong KTP-nya ke dekat Hani. Berdehem pria itu memanggil istrinya.
"Falia," panggil Ayan.
"Hemm," balas Hani dengan kedua netranya menatap layar ponselnya.
"Baiklah aku tidak akan ikut tapi-"
"Itu bagus," potong Hani.
"Bagus?" tanya Ayan dengan kedua alis menyatuh.
"Ah- maksud aku, bagus karena aku tidak merepotkan kamu." jelas Hani. Gugup.
Netra Ayan menajam, pria itu menarik ponsel istrinya kemudiannya meletakannya di atas meja.
"Merepotkan?" Ayan meletakan kedua tangannya ke pundak Hani,"Apa pernah aku mengatakan kalau kamu itu merepotkan bagiku?"
Menggulum bibir bawahnya, Hani menunduk, tanpa sengaja netranya menangkap KTP Ayan yang tergeletak di meja.
"B-bukan gitu," Hani menepis kedua tangan Ayan di pundaknya. Tangan kanannya bergerak meraih KTP Ayan di meja, mengangkatnya lalu menunjukannya kepada Ayan.
"KTP kamu?" Ayan tersenyum, pria itu tidak sabar untuk mendengar Hani mengatakan selamat ulang tahun untuknya.
"I-iya," sahut Ayan.
"Kenapa kamu telekdor gitu?" Hani meraih tangan kanan Ayan, latas memberikan KTP tersebut kepada Ayan.
"Lain kali jangan telekdor, kalau hilang bahaya tau!" tandas Hani. Dalam hati gadis itu tertawa.
Melirik jam di dinding, Hani menepuk jidatnya pelan. Menatap Ayan yang sedang murung karena tidak mendengar ucapan selamat ulang tahun darinya.
"Maaf suamiku tercinta, tapi kayaknya istrimu ini tidak bisa berlama-lama di rumah, karena sebentar lagi istrimu ini akan pergi," kata Hani dengan nada bicara Alay.
Ayan tetap memasang wajah murung, pria itu berdehem untuk membalas ocehan sang istri.
"Jangan marah dong, janji nanti malam," Hani menodongkan tangannya seperti pistol, lalu gadis itu mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Aku akan," Hani berjalan mendekati Ayan. Kemudian membisikan sesuatu di sana.
Mendengar itu Ayan langsung tersenyum lebar, lalu tangannya bergerak otomatis untuk mengangkat tubuh Hani. Memutarkannya tiga kali, pria itu tertawa.
"Ayan, tolong turuni aku!" cicit Hani, merasa kelelahan sendiri. Padahal tubuhnya yang di angkat.
Mendengar itu perlahan Ayan menurunkan tubuh istrinya ke lantai,"Maaf Falia, karena aku terlalu bahagia..." kata Ayan dengan raut wajah yang terlalu bahagia.
"Hemm... kalau begitu aku pamit ya," izin Hani yang langsung di angguki Ayan.
"Hati-hati," ujar Ayan.
Hani tersenyum, netranya menatap wajah runcing suaminya lama. Detik setelahnya gadis itu memutar tubuhnya kemudian Hani mulai berjalan ke arah pintu keluar.
Menghentikan langkahnya, gadis itu meringis, berbalik kemudian kembali berlari ke arah Ayan.
Melihat itu dahi Ayan berkerut, mulutnya terbuka untuk bertanya tapi sebelum itu Hani menutupnya dengan telapak tangan.
Tersenyum, perlahan Hani mendekatkan bibirnya. Gadis itu mecium punggung tangannya yang berada di bibir Ayan.
Merasakan itu Ayan membulatkan matanya, jakunnya naik turun, mendadak pipinya memanas.
"Aku mencintaimu," ungkap Hani, nyengir. Tiga detik setelahnya Hani melepaskan tangannya di bibir Ayan kemudian gadis itu mulai berlari ke arah pintu apartementnya. Meninggalkan Ayan yang masih tercengang sehabis mendengar kata Aku mencintaimu. Demi allah hatinya bergetar ketika Hani mengatakan itu. Lemas hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.
Pria itu tersenyum sambil menutup wajahnya yang memerah.
"Masya Allah, Falia," katanya.
...****...
"Apa kamu serius dengan rencana ini?" tanya Hani ragu, kedua tangannya meremas gaun putih di tangannya.
"Baik lah," ucap Hani di barengi helahan halus. Gadis itu memutar kursinya menjadi menghadap kaca rias di depannya.
"Sudah siap?" tanya Putri yang di angguki Hani.
"Bersiap lah," Putri meraih alat make up di meja. Detik setelahnya wanita itu menatap wajah Hani lewat pantulan cermin.
"Akan ku buat kamu seperti biadari, sebelum kematianmu..." kata Putri membuat Hani tercengang. Gadis itu terkejut lantas menatap Putri di sampingnya dengan tatapan tidak percaya.
"J-jangan salah paham, maksud aku sebelum kematian pura-puramu," Putri memiringkan kepalanya,"Ya itu maksud aku," Putri nyengir.
Menghembuskan napas lega, Hani ikut tersenyum kemudian berkata,"Baiklah mohon bantuannya Put," ujar Hani berharap semoga rencana ini berjalan dengan lancar.
"Putri kenapa kamu bisa keceplosan gini sih? Untung saja gadis ini bodoh!" kata Putri dalam hati.
1 jam setelahnya...
"Yey akhirnya selesai juga," kata Putri seraya memberikan riasan terakhir untuk Hani.
"Sekarang kamu boleh buka mata kamu," kata Putri mempersilahkan.
Mendengar itu Hani langsung membuka matanya, netranya membulat gadis itu tercengang tidak percaya.
Menyaksikan dirinya lewat pantulan cermin. Satu kata yang terbesit di pikirannya sekarang. Sangat cantik. Hingga tanpa sadar senyum manis terbit dari bibirnya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," pamit Putri.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Hani, memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Putri.
"Mempersiapkan kematianmu..." ucap Putri di sertai seringaian.
Lagi. Hani menjadi tercengang tidak sekali, melainkan tiga kali Putri mengatakan kalau dirinya akan mati.
Sesaat Hani mencurigai wanita di depannya ini.
"Ah, lagi maafkan aku," Putri menepuk jidatnya sekali,"Ini kebiasaanku karena selalu berbicara ngelantur, aku harap kamu bisa mengerti ya Hani," jelas Putri menyakinkan gadis yang tampak mulai curiga dengannya.
Mengangguk pelan, Hani tersenyum tipis. Menandai jika dirinya saat ini mulai ragu dengan Putri.
"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Putri.
"Jangan lupa hubungi Ayan. Suruh pria itu datang menemui istrinya di tempat lokasi," ujar Putri. Kemudian melenggang pergi. Wanita itu melambaikan tangannya dari belakang memberikan kode kepada wanita yang sedari tadi berada di belakang lemari. Untuk melancarkan niatnya.
Mendadak perasaan Hani tidak enak. Entah kenapa saat ini dirinya tidak nyaman dengan ruangannya sekarang.
"Mbak," ucap seorang wanita berpakaian pelayan datang menghampiri Hani. Sontak membuat gadis itu yang tadinya tengah melamun langsung tersentak.
"Siapa ya?" tanya Hani panik.
Mengulurkan tangan kanannya yang terdapat sebuah surat, pelayan itu memberikannya kepada Hani.
"Saya pelayan hotel ini, tapi saat saya buang sampah di luar. Ada seorang pria menitipkan ini," Hani melirik secarcik kertas di tangan pelayan wanita di depannya.
"Katanya untuk mbak, Hani kan?" tanya pelayan itu memastikan.
"Iya saya Hani," ujar Hani membalas, tangannya bergerak untuk meraih secarcik kertas di tangan pelayan di depannya.
Setelah memberikan kertas itu, pelayan wanita yang namanya tidak di ketahui langsung pergi meninggalkan Hani.
Menghela napas berat perlahan Hani membuka kertas yang membuat dirinya merasa was-wasan.
"Ah!" jerit Hani ketika membaca pesan di dalam surat tersebut.
MATI! MATI! MATI! MATI!
10 detik setelah membaca itu tiba-tiba ponselnya berdering. Menandakan ada sebuah pesan di sana.
Buru-buru Hani melihatnya.
0852xxx
Sudah membacanya? Gimana rasanya? Takut? Hahaha... jika kamu tidak ingin kata Mati itu terjadi. Kamu datang ke lokasi Pabrik roti di dekat Hotel Hans. Saya tunggu. Jika tidak mungkin suami kamu yang akan menjadi targetnya...
Membaca itu tangan Hani menggeletar begitu juga bibirnya. Dan tanpa sadar ponselnya itu terjatuh ke lantai.
Trankk!!
"A-Ayan? T-tidak!" teriak Hani syok detik setelahnya gadis itu belari sambil mencicing gaunnya.
Gadis itu berlarian seperti orang kesetanan, bertanya kepada orang-orang yang melintasi dirinya. Bertanya tentang letak dimana pabrik roti yang di bicarakan oleh si pengirim pesan.
Tapi tidak ada siapapun yang tau.
Di balik dinding, Putri tertawa melihat kondisi Hani sekarang. Tepat sasaran...
__ADS_1
"Hahaha..." tawanya.