
Disini sekarang, dimana Hani dan Argam duduk bersampingan. Di depannya ada Rosita dan juga gilang. Dan di samping kanannya. Ada mama dan juga papanya.
"Om, tante. Hari ini mama dan papa tidak bisa datang," kata Argam, pria itu baru saja memasukan ponselnya kembali ke saku jasnya. Semenit yang lalu ia menghubungi mama dan papanya, yang tidak dapat hadir di karenakan harus pergi untuk mengurus pekerjaan. Orangtua Argam, memang orang sibuk. Jadi maklum jika tidak dapat menghadiri acara makan malam, keluarga pihak calon istri.
Bertukar pandang, Sabrina dan Rosita saling kode melalui mata mereka.
Sedangkan Gilang dan Herman keduanya saling tukar pandang.
Tersenyum Hani menepuk pundak Argam kemudian berkata. Pria itu tampak sedih, karena memberi harapan palsu kepada pihak perempuan. Sebelumnya ia sudah berjanji jika orangtuanya pasti datang.
"Tidak apa, kamu datang untuk makan malam disini saja kami sudah senang, ya gak ma? Pa?" tanya Hani.
Tersentak, keduanya kembali menatap Hani dan Argam.
Detik berikutnya membalas.
"Ya, nak. Tidak papa, kamu sudah datang saja kami senang!" kata Herman berujar.
Tersenyum tipis, Argam melirik Hani. Wanita yang akan di nikahinya begitu baik, yang sangat mengerti tentang perasaannya saat ini.
"Terima kasih, banyak." kata Argam.
Lalu dia mengambil, dua tas ransel yang rencana akan diberikannya kepada Hani. Itung-itung membayar atas kekecewaan yang keluarga Hani rasakan. Atas perbuatannya.
Isinya tidak banyak, hanya keperluan kesehatan. Seperti obat-obatan.
"Ini untuk kalian semua," kata Argam.
"Apa itu nak?" tanya Sabrina. Tas ransel itu lumayan agak besar.
"Ini obat," kata Argam menjelaskan.
Mengerutkan kening mereka. Semuanya saling menelan salivanya masing-masing.
"Obat semua?" tanya Rosita. Kali ini wanita itu ikut bertanya, Argam adalah pilihannya.
"Iya," sahut Argam sambil tersenyum.
"Tapi nak, kami semua baik-baik saja. Kami tidak sakit," kata Sabrina berujar.
Argam geleng kepala.
"Sakit datang tanpa di undang, siapa tau. Sehabis saya pulang kalian semua sakit," cetus Argam.
Hani memiringkan kepalanya, berpikir kenapa Argam berbicara seperti itu. Ucapan itu adalah doa loh!
"Argam, kami baik-baik saja. Tapi seperti kata kamu. Obat ini," Hani menerima tas ransel yang Argam bawa,"Aku terima ya." lanjutnya dibarengi senyuman samar.
Lagi, Argam dibuat terkesan dengan perlakuan Hani. Tak butuh setelah menikah baru mencintai Hani, sekarangpun Argam rasa dia sudah memiliki perasaan itu.
"Terima kasih Hani," ucap Argam.
Mengangguk sekali, Hani bangkit. Kemudian berjalan sambil membawa dua tas ransel di tangan kanan dan kirinya. Tas itu akan dia bawah ke atas lalu menyimpannya di kamar. Kemudian nantinya akan dia jual, lumayan kan. Obat pasti mahal harganya.
__ADS_1
Sesampainya dikamar, Hani mendengar ponselnya berbunyi.
Tadinya, ponsel itu dia tinggal didalam kamar.
Dan tidak tau sejak tadi, Ayan terus menelponnya. Padahal hari ini juga hari libur?
Memutar bola mata malas, Hani mengakat telpon dari Ayan.
"***-"
"Falia turun kamu!"
"Salam dulu, udah lupa cara ngucapi salam pak?"
"Assallamuallaikum, maaf. Saya kebawa emosi."
"Waalaikumsallam, emosi kenapa?"
"Cepatan turun!"
"Turun kemana? Memang bapak di bawah?"
"Aku di depan rumah. Cepatan turun, atau aku kempesin ini ban mobil si dokter sialan!"
"Lo, he? Kok gitu?"
"Sudah turun!"
"Gak mau! Bapak aja masuk ke dalam. Bukannya ini juga rumahnya bapak?"
Tut!!
Mengepalkankan satu tangannya, kaki kanan Ayan bergerak otomatis menendang ban mobil Argam disampingnya.
Sialan! Pikirnya.
Hani mematikan sambungannya secara tiba-tiba. Padahal ia juga belum selesai bicara, memikirkan Argam bersama Hani membuat Ayan emosi sendiri.
Niatnya ingin berolahraga, sekalian ingin melihat bundanya diam-diam. Eh setelah melihat mobil si dokter sialan. Membuat Ayan jadi emosi, jika bisa akan ia angkat mobil Argam kemudian membuangnya.
Enak saja, pria itu masuk ke dalam rumahnya. Ke dalam hidup wanitanya! Dan sekarang? Juga masuk ke dalam keluarganya.
Jika dia tidak bermusuhan dengan papanya Gilang. Maka, sejak tadi ia sudah masuk ke dalam. Untuk mengacaukan Argam disana.
Tapi sialnya! Ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain marah-marah gak jelas di depan rumahnya sendiri.
"Aku bocorin beneran mobil si dokter sialan, Kalau Falia tidak datang!" ucap Argam bermonolog.
Pria itu sudah jongkok, lalu mengamati ban mobil Argam. Yang masih terpasang di tempatnya.
"Jika sampai Falia menikah dengan dia! Saya tidak ikhlas. Saya akan teror mereka terus!" ucap Ayan lagi. Kesal, pastinya.
"Berdiri pak, kotorannya udah penuh di situ. Pindah gih!" ucap Hani yang baru saja datang. Dan sedikit mendengar samar-samar ucapan Ayan barusan.
__ADS_1
Menoleh, Ayan mengembungkan pipinya. Wajahnya memerah karena Hani menggodanya.
"Berdiri pak," kata Hani memerintah.
"Saya gak punya waktu banyak untuk sekedar lihat bapak kayak gini." sambungnya.
"Kamu pikir aku punya banyak waktu? Aku datang hari ini karena Putri akan kembali datang ke Indonesia, dan kamu disini?! Malah asik-asikan bersama Argam!"
"Terus kenapa? Apa masalahnya kalau dia datang? Saya gak ada nyuruh bapak untuk lindungi saya. Mending bapak pulang deh, gak usah urusin hidup saya. Saya udah tenang tanpa ada bapak!" sarkas Hani kesal.
"Tarik ucapan kamu! Tarik!" teriak Ayan marah.
"Jika bisa saya akan mengorbankan nyawa saya untuk kamu. Jika bisa saya akan memberikan seluruh semesta untuk kamu! Jika ini memungkinkan saya akan bunuh Putri untuk kamu!"
"Tapi Falia, melihat kamu terluka karenaku. Membuat harga diriku terhina, aku kecewa dengan takdir yang ku punya, aku yang tidak bisa berbuat apapun, dan sekarang aku ingin menebusnya. Aku ingin!" cetus Ayan ikut marah. Hani memancing emosinya.
Keduanya kini saling bertatap mata.
"Siapa Putri?" sela Argam. Sejak tadi berdiri di belakang Hani.
"A-Argam?!" kaget Hani.
Tersenyum, Argam beralih menatap Ayan. Maju dua langkah untuk mendekati Ayan.
"Kamu mantan suami Hani kan? Pria yang membuatnya harus menunggu begitu lama?" tanya Argam.
Membuang muka. Ayan berdecih.
"Saya, Argam. Dan saya dengan lancangnya, sudah jatuh hati dengan wanita yang dulunya adalah istri kamu."
Dengan cepat Ayan melempar tatapan penuh kemurkahan. Kedua tangannya sudah terkepal kuat.
"Maaf. Tanpa sengaja saya mendengar obrolan kalian, dan setelah melihat ini, saya merasa tidak pantas." ucap Argam merasa tidak enak.
"Argam," cicit Hani memanggil.
Menoleh, gantian menatap Hani. Argam tersenyum mengembang.
"Hani, pria yang di hadapan kamu ini. Sangat mencintai kamu. Pria baik sepertinya yang rela melindungi kamu dengan nyawanya, tidak mungkin meninggalkan kamu tanpa alasan." tutur Argam.
"Kamu tidak mengerti, di-"
"Aku mengerti. Sebagai pria aku melihat cinta, yang begitu dalam di matanya. Dia sungguh mencintaimu, dan sepertinya aku harus mundur sekarang. Karena aku juga tau kamu masih mencintainya, kalian berdua sama-sama masih saling mencintai."
"Argam, walau kami saling mencintai. Tapi takdir kami tidak untuk bersama, hatiku sudah terluka karena mencintainya!" tegas Hani merasa kesal.
"Teryata kesalahpahaman di antara kalian sangat banyak,"
Argam kembali menatap Ayan.
"Ayan, saya titipkan Hani. Jangan kamu lukai lagi, lindungi dia seperti ini. Sebelum saya jatuh cinta terlalu dalam. Saya akan pergi, semoga kalian selalu berbahagia."
"Argam!" bentak Hani tidak tahan lagi. Pria itu sudah asal berbicara.
__ADS_1
"Hani, ikuti kata hati kamu. Jangan pikiran kamu! Hem..."
Perkataan Argam seketika membuat Hani terdiam cukup lama.