Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 38


__ADS_3

"Sebel ih!" teriak Hani, gadis itu menghempaskan dengan kasar ponselnya ke ranjang. Tiga detik setelahnya tubuhnya juga ikut terhempas di samping ponselnya. Batal biasa yang setiap malam Ayan pakai. Kini bantal itu ia peluk erat-erat. Sarung bantal yang sengaja tidak ia ganti selama tiga bulan ini menjadi alasan obat perindu di kala setiap kali ia merindukan suaminya.


Menghirup aroma Ayan yang masih menempel di bantal yang Hani peluk sekarang, gadis itu tersenyum miris. Kembali melirik ponselnya yang tiba-tiba berdering.


Cepat-cepat Hani langsung mengangkatnya.


"Assalamuallaikum Ayan, kenapa baru telepon saya? Aku kan-"


"Maaf ngecewain tapi gue Keno bukan, suami lo. eh ralat maksudnya calon suami penganti," kata Keno dari dalam telepon.


Senyum yang tadinya melabar, kini kembali melemah. Gadis itu sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Kemudian mendekatkannya ke mulut lalu berteriak.


"Dasar Keno gila!" teriak Hani kesal. Gadis itu menendang bantal guling di bawah kakinya.


"Cie kecewa..." ejek Keno, lalu terdengar seperti helaan napas dari dalam ponselnya.


Hening sejenak, 10 detik setelahnya Keno kembali bersuara.


"Turun! Gue di bawah ni," kata Keno. Sontak membuat Hani langsung duduk besilah di atas kasur, perlahan menurunkan kakinya ke lantai lalu mulai berlari ke arah cendela, untuk mengintip pemuda yang saat ini tengah melambaikan tangannya.


"Lo ngapain disitu?!"  tanya Hani sambil berteriak. Keno menaik turunkan tangannya ke udara. Menyuruh Hani untuk turun ke bawah.


"Tunggu bentar!" lanjut Hani, gadis itu menutup kembali cendelanya dengan gorden. Memutuskan panggilan telponnya dengan Keno. Gadis itu turun untuk menemunya.


Sesampainya di teras, Hani langsung melempar tangannya ke pundak Keno, mendorongnya pelan. Kemudian berkata.


"Ngapain lo malam-malam ke rumah cewek yang udah beristri hah?" semprot Hani judes.


Keno nyengir menampakan deretan giginya yang berwarna putih dan bersih. Pemuda itu menepuk sekali tempat duduk di belakangnya.


"Ayo naik!" pintanya.


Jelas. Membuat Hani membuat kerutan pada dahinya.


"Ngapain? gak mau ah!" tolak Hani terang-terangan.


Keno mengerucutkan bibirnya, matanya melirik perut Hani yang mengempis.


"Lo belum makan kan? Kuy ikut gue!" seru Keno sekali lagi menepuk tempat duduk di belakangnya.

__ADS_1


Hani terdiam sejenak, gadis itu mengelus perut datarnya dua kali. Mulutnya berkecap saat ia membayangkan berbagai makanan.


Namun, tak lama membayangkan itu Hani langsung menggelengkan kepalanya.


"Gak ah nanti suami gue marah lagi kalau gue jalan sama lo!" ketus Hani menolak.


"Astoge Hani, ya kali suami lo marah liat istrinya makan. Dari pada gak hayo? Lebih marah mana, saat dia pulang tiba-tiba lo sakit?"


Hani bimbang, gadis itu nampak berpikir keras. Hingga akhirnya ia menganggukan kepalanya.


"Yaudah ayok. Tapi sebelum itu aku miscol Ayan dulu," ujar Hani yang di angguki Keno. Pemuda itu menyalakan mesin motornya.


Sementara Hani kini Mencoba menghubungi Ayan, namun tidak di angkat. Gadis itu mencoba kembali dan hasilnya tetap sama. Membuatnya geram lantas membiarkannya saja.


"Udah belom?" tanya Keno.


Dengan bibir maju kedepan, gadis itu menjawab.


"Udah ah jangan bahas itu, gue males!" terang Hani seraya menaiki motor besar milik Keno. Memakai helm dengan raut wajah murung.


Beberapa menit setelahnya, akhirnya Keno memberhentikan motornya di di tepi jalan raya. Terlihat bapak-bapak dengan gerobak yang tidak terlalu besar sambil berteriakan nama sate membuat Keno langsung menghentikan motornya. Melirik Hani yang hanya melamun sampai tidak menyadari kini mereka sudah sampai.


"Beb udah sampe, malah diem bae?" sentak Keno. Menggoyang pelan kedua pundak gadis yang masih menangkring di atas motornya.


Keno terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jarinya bergerak otomatis mendorong jidat gadis di depannya.


"Begonya natural banget, ini yang gue suka dari lo! Ayo turun," ujar Keno. Mengulurkan tangannya berniat membantu Hani yang kusahan turun dari motor besarnya. Harap maklum tubih mungil Hani yang membuat gadis itu kesusahan.


"Bang sate. Pesan sate dua porsi! Terus sama teh manis dua, harus manis ya kayak cewek di depan gue ini," Keno mengedipkan sekali matanya. Hani memutar bola matanya malas.


"Anak holkay kok makannya dsini?" sindir Hani sengaja.


"Yang holkay bokap gue bukan guenya," balas Keno. Pemuda itu tersenyum tipis saat abang tukang sate menghampirinya dengan kedua tangan memegang piring yang berisi sate di tangannya. Lalu bang sate taruh ke atas meja.


"Ini satenya mas, mbak." ujar tukang sate itu ramah.


"Makasih bang sate," balas Keno. Satu Tangan bergerak untuk memberikan Hani sate miliknya.


"Cobain setelah ini gue jamin. Lo pasti mau terima lamaran gue," kata Keno ngawur.

__ADS_1


"Nggak ah, punya gua ada." tolak Hani, menggigit sate kambing yang masih hangat itu dengan nikmatnya.


Membuat Keno sedikit kecewa, pemuda itu memakan sendiri satenya.


"Bilang iya aja, sekali-kali nyenengi hati gue," gumam Keno yang terdengar oleh Hani. Gadis itu terkekeh pelan.


...****...


"Makasih ya Ken," Hani melepaskan helm di kepalanya,"Berkat lo gue kenyang..." ujarnya seraya memberikan helm itu ke sang pemilik.


"Buat calon istri mah apa aja boleh, besok-besok bang satenya gue sewa khusus masakin lo sate setiap harinya..." ucap Keno dengan sombongnya.


"Serah lo aja... gue mau masuk dulu. Lain kali gue yang traktir!" seru Hani. Gadis itu tersenyum tipis kemudian beranjak pergi meninggalkan Keno.


"Beneran ni ya?! Lo uda janji!" teriak Keno. Hani melambaikan tangannya dari belakang.


Memasuki apartementnya dengan jalan sempoyongan, gadis itu melempar sepatunya ke sembarang tempat. Menaiki tangga menuju kamarnya dengan bertelanjang kaki.


Bruk!


Hani menjatuhkan dengan kasar tubuhnya ke ranjang, membuat ranjang itu bergoyang sejenak.


Mencium bantal Ayan, dengan rambut menutupi wajahnya gadis itu mendengkur kelelahan.


Di sudut kamar, pria dengan kemeja berwarna putih polos itu meyeringai memandangi tubuh mungil yang sedang meringkuk sambil memeluk bantal. Yang kini menjadi bahan objeknya, saat pria itu mendekatinya. kancing ujung lengan kemejanya pria itu lepas, lalu menggulungnya ke atas. Kemudian jari-jarinya sibuk membuka dua kancing kemejanya di atas.


Tersenyum pria itu berjongkok, lalu tangannya terangkat untuk memindahkan rambut Hani yang menghalanginya untuk menatap wajah gadis yang selama ini ia rindukan.


Mendekat, pria itu menempelkan bibirnya ke kening gadis yang saat ini tengah tertidur. Lama-lama turun hingga ke bibirnya. ********** lembut sampai membuat si pemilik bibir itu terbangun. Sontak langsung mendorong pria bebadan tegap yang baru saja menciumnya itu kuat.


Matanya membulat, mulutnya terbuka sangat lebar. Matanya mulai berkaca-kaca saat kini matanya menangkap Ayan yang saat ini sedang terduduk di lantai, sambil tersenyum lebar.


Seketika gadis itu langsung mengingat ciuman sepihak yang di lakukan oleh Ayan.


"Fal-"


Bhuk!


Ucapannya terhenti saat bantal menimpuk wajahnya. Ayan terdiam sejenak menatap wajah memerah istrinya.

__ADS_1


"Sana pergi!" usir Hani.


TbC.


__ADS_2