Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
S2 Part 13


__ADS_3

Roby tersenyum sangat lebar, pesan Liyuna yang baru saja masuk ia abaikan. Sepasang matanya terpesona saat ia mengamati majah cantik Yuri dari samping.


bahkan guru les yang sedang mengajar tidak ia lihat sedikit pun.


Yang dilihati sadar sejak tadi, Yuri membalas menatap Roby kemudian melambaikan tangannya hanya sebatas dada. Kalau terlalu tinggi takutnya guru lihat.


Terus seperti itu, Roby sampai lupa rutinitas mamanya yang selalu bertanya tentang apa yang sudah ia pelajari di tempat les.


Roby yang panik asal ambil punya Andre terus dipotret-potret buat ia baca dan salin nanti dirumah.


sekarang selamat.


Roby pun kembali memandangi Yuri yang duduk disampingnya.


Sampai akhirnya bel pulang.


les selesai.


Roby masih memandangi Yuri.


Yuri tersenyum,"Roby gak mau pulang?"


Roby menggelengkan kepalanya,"Maunya sama Yuri terus ...."


"Halah buaya, gak usah ajak ngomong Yuri!" sela Andre yang masih kesal dengan kelakuan Roby yang main photo catatannya.


Yuri hanya tersenyum manis mendengar itu.


sedangkan Roby memasang ekspresi tidak suka dan segera mengusir Andre.


Andre pun pergi.


Roby dan Yuri saling tukar pandang.


Tak lama setelahnya.


Ada sekelompok geng cewek ya, bukan cowok. Mereka memanggil Yuri.


Dan Roby tau betul geng seperti apa mereka.


"Yuri, skuy!" ajak si ketua Geng. Siska namanya.


"Okey, tunggu bentar Yuri siap-siap dulu!" ujar Yuri.


Manik Roby membesar. Sepertinya Yuri sudah lama bergaul dengan mereka?


"Kita tunggu dimobil lo!" kata salah satu dari mereka.


Yuri pun setuju dan menganggukan kepalanya.


"Yuri kamu kenal mereka?" tanya Roby.


"Ya, Baru kok."


"Saran aku mending kamu keluar dari geng itu,"


Yuri tersenyum,"Emang gengnya kenapa?"


"Gengnya gak jelas, dan bisa bikin kamu yang polos gini ja-"


"Makasih Roby, Yuri duluan ya?" Yuri melambaikan tangannya,"Bye!" setelah itu Yuri pun pergi.


Roby menghela napas berat.


Kok bisa orang sebaik Yuri gitu berteman sama geng yang dimana semua anggotanya gak jelas.


Matre, suka main sama om-om dan ....


Roby gak terima. Mumpung belum kenal lama, pokoknya Roby harus jauhi Yuri sama the geng.


Roby pun segera mengejar Yuri.


"Lama banget lo!"


"Maaf ya,"


"Mana kunci mobil?"


"Tunggu, Yuri am-" ucapan Yuri menggantung saat Siska merebut tasnya tiba-tiba. Kemudian mengambil kunci mobil dan juga kartu kredit miliknya.


"Kartu kredit udah penuh lagi kan?" tanya Siska.


Yuri menganggukan kepalanya.


Siska pun tersenyum lebar kemudian merangkul Yuri.


"Lo emang yang terbaik Yuri, kita pesta malam ini!"


Mendengar kata pesta Yuri seketika ingat dengan pesan papanya yang melarangnya pulang terlalu larut malam.


"Pesta lagi?" tanya Yuri memastikan.


Siska mengangguk antusias.


"Yuri gak bisa ikut kalau pesta," ujar Yuri yang tidak mau mengecewakan papanya.


"Lo kok jadi gak asik?"

__ADS_1


"Maaf, tapi papa Yuri marah kalau Yuri pulang terlalu malam."


"Ah basi! Lo anak orang kaya, orangtua lo sibuk kerja. Jadi gak ada yang peduli juga lo pulang apa gak!"


"Iya, tapi papa punya mata-mata. Yuri bilang gini juga demi kebaikan kalian semua ... Soa-"


"Yuri gak usah peduliin kita, asal uang lo ada ya kita ...." Siska melirik teman-temannya.


"Bakal baek-baek aja," sambungnya.


"Kalian gak kenal papa Yuri,"


"Nanti kita kenalan! Sekarang kita pesta dulu okey?"


Yuri hanya diam.


Mereka tidak tau seperti apa papa Yuri kalau marah.


"Lo gak usah takut!"


Yuri menganggukan kepala.


setelah itu Siska mengajak Yuri untuk masuk ke dalam.


tapi ....


"Jangan ikut mereka Yuri!" kata Roby sambil mencekal tangan Yuri membuat tubuh Yuri berbalik.


"Roby?"


"Jangan ikut mereka."


"He lo siapa?!" tanya Siska.


"Wow Roby!" pekik Tyana mantan pacar Roby yang juga satu geng dengan Siska.


"Roby?" Siska mencoba untuk mengingat siapa Roby.


dan ia pun ingat.


"Lo buaya darat yang sering jadi bahan bicaraan para betina kan?"


"Lo jangan hasut Yuri ke jalan sesat!"


"Haha ... sesat?" Siska tertawa garing,"lo yang sesat! Lepasin Yuri!" lanjut Siska memerintah agar melepaskan Yuri.


"Gaakan, lo mau apa?"


"Yuri," panggil Siska.


"Siska maaf," balas Yuri sambil menundukan kepalanya.


"Woy kunci sama kartu!" teriak Roby saat mobil milik Yuri dibawa.


"Udah biarin aja," ujar Yuri.


"Kamu serius Yuri? Itu mobil loh ...."


"Iya gak papa, yang penting mereka gak sampai di apa-apain sama papa."


"Oh ya, emang bokap lo siapa?"


"Kamu beneran mau tau?"


Siapa coba yang gak mau tau calon mertua sendiri?


"Iya mau,"


"Tapi kebayakan orang pas denger namanya langsung takut,"


"Aku janji gak akan takut,"


"Benar ya?"


"Iya,"


Yuri pun tersenyum.


"Tau pemilik A.R.M company?"


Mendengar itu manik Roby melebar, itu perusahan terbesar diseluruh dunua. Cabangnya juga banyak.


salah satunya milik keluarganya. Mana mungkin Roby gak kenal.


"Tau!" balas Roby antusias.


"Pemiliknya adalah papa Yuri,"


kali ini bukan mata aja yang lebar, mulut juga ikutan.


Roby pun sedikit menjaga jarak dari Yuri.


"Kan takut!"


"Gak takut kok, cuma masih sayang nyawa aja."


"Alesan,"

__ADS_1


"Bokap lo terkenal ganas didunia perbinisan, gue juga denger katanya juga suka ganas ke calon menantu."


"Ya benar, kamu tau itu?"


glek.


"Sedikit tau," ujar Roby sambil melangkah mundur.


"Kok makin jauh sih?" tanya Yuri.


"Gak menjauh kok, cuma masih sayang sama nyawa."


mendengar itu Yuri pun tertawa.


"Kamu lucu,"


"Iya tau, tolong bilang itu ke papa kamu. Biar beliau kasih aku sedikit kegenasan."


"Shiap!"


Lalu Yuri kembali tertawa saat melihat ekspresi Roby yang ketakutan.


...****...


Masih dikediaman keluarga Bara.


Liyuna yang sudah selesai minum pun hendak berpamitan pulang.


tapi Nana mencegahnya lagi.


"Bisa temenin saya sebentar lagi?"


"Baik lah," ujar Liyuna.


Nana pun menjadi bahagia.


"Terima kasih kamu anak baik,"


manik Liyuna membulat mendengar itu.


"Oh ya, kamu mau liat vidio saat kami bertunangan di London gak?" tanya Nana.


demi apapun hati Liyuna seketika ngilu.


Vidio tunangan katanya?


"Boleh," balas Liyuna dengan senyum tipisnya.


Nana tersenyum mengembang kemudian memutarkan vidio saat dirinya bertunangan dengan Bara.


Dan Liyuna tanpa sadar meneteskan airmatanya.


Nana bertanya.


"Kenapa kamu nangis?"  tanya Nana.


"Maafkan Liyuna mbak," ujar Liyuna terisak-isak.


"Kenapa minta maaf?" tanya Nana lagi.


"Liyuna suka sama om Bara!"


setelah ucapan Liyuna, keduanya saling tidak bicara.


sampai dimana Nana kembali membuka suara.


wanita itu tersenyum.


"Saya udah tau, dan calon suami saya juga suka sama kamu."


mendengar itu Liyuna terkejut.


"Om Bara suka sama Liyuna?" tanya Liyuna memastikan apa yang barusan ia dengar itu benar.


"Benar,"


"Tapi, boleh kah saya meminta satu permintaan aja?" tanya Nana.


"Permintaan?"


"Ya, bisa kah saya berusaha untuk membuat Bara melupakan kamu dan mencintaiku selama kurang lebih dalam waktu 2 minggu? bisa kah saya meminta izin itu ke kamu? Saya janji setelah 2 minggu itu saya tidak bisa membuatnya jatuh cinta dengan saya ...." Nana tersenyum dengan mata bergelinangan.


"Saya rela mundur demi kamu," lanjutnya.


Membuat manik Liyuna berkaca-kaca.


"Kenapa minta izin ke aku? Aku kan jadi ngerasa kayak orang jahat."


"Karena kamu wanita yang Bara cintai dan saya tau kamu gak jahat."


Mendengar itu Liyuna hanya bisa menangis.


kenapa ia harus mengaku kalau dirinya menyukai Bara? Apalagi didepan calon istrinya.


Liyuna menjadi tidak berdaya. Rivalnya sangat cantik dan parahnya mempunyai hati yang baik.


"Mau berteman?" Liyuna menganggukan kepalanya.

__ADS_1


kemudian keduanya saling berpelukan.


Apa yang akan terjadi untuk selanjutnya?


__ADS_2