
"Hani-"
"Bel aku lagi sibuk! Tolong jangan ganggu aku. Besok aku akan kedatangan klien penting yang bisa membantu aku untuk mengembalikan perusahaan papa mertua aku seperti dulu. Makanya aku tidak bisa pergi kemana pun," kataku memperjelas. Kalau waktuku tidak untuk bermain-main.
"Kamu sudah berubah ya Han," katanya.
Aku hanya tersenyum miring saat mendengarnya, Ya memang setelah hari itu aku sudah berubah. Begitu juga dengan sifatku, yang tak mempercayai siapapun.
"Yasudah, kalau kamu sibuk banget. Aku pergi aja deh sendirian ... padahal punya teman tapi nyatanya aku selalu sendirian..."
Aku terdiam, melirik wajah manyun Bella yang terlihat jelas kesalnya.
Sungguh aku tak berniat membuat temanku bersedih. Akhirnya demi dia aku menutup laptopku. Lalu menyusun semua proposal di atas meja. Bangkit lantas aku menghampiri Bella yang sedang duduk beberapa meter di depanku.
"Ayo jangan lama-lama ya," ujarku memperingati.
Bella tersenyum lebar lalu tubuhnya ikut bangkit kemudian menyusulku yang sudah mendahulinya.
Setelah beberapa menit kami berkendara akhirnya mobil sedan Bella berhenti di sebuah cafe yang baru kali ini aku kunjungi.
Saat aku masuk ke dalam cafe tersebut tiba-tiba hawa panas menyelimuti diriku. Ketika mengamati sekelilingku yang rata-rata adalah pasangan. Hanya aku dan Bella yang datang tanpa pasangan.
Ragu ku tarik lengan Bella lalu aku mulai bertanya,"Bell kenapa disini?" tanyaku dengan nada lirih. Bella tersenyum tipis, tiga detik setelahnya satu tangannya terangkat. Tanpa membalas pertanyaanku Bella malah berteriak memanggil kedua pria yang baru saja datang.
"Alfa! Maja! Disini!" teriak Bella sontak membuatku terkejut.
Aku sudah di tipu teryata, kali ini mereka berdua bersekokongkol dengan Bella. Untuk menjodohkanku dengan pria lain.
"Maaf lama beautyful girl," kata salah satu pria tampangnya seperti orang peringan.
"It's ok handsome," balas Bella. Aku memutar bola mataku malas. Detik setelahnya aku mulai meminum jus apelku kembali.
"Kapan kamu pulang dari Amerika Ja?" tanya Bella. Ku lihat pria itu tersenyum tipis di bandingkan dengan pria satunya. Yang ini lebih kalem.
"Dua minggu yang lalu," balas pria itu dengan nada sopan.
"Wah jahatnya kamu baru ngabarin sekarang..." kata Bella. Sungguh membuatku muak.
"Bell teman kamu kok diam-diam baek?" tanya Alfa.
Aku tersedak oleh jus yang ku minum.
"Haha imutnya baru di omongi juga udah batuk-batuk, groginya ketemu sama cogan?" tanya pria bernama Alfa itu dengan pdnya. Sehingga alisnya ikut naik-turun memamerkan wajahnya yang tidak terlalu tampan di depanku.
"Maaf tapi yang di sebelah aku ini orangnya memang pendiam..." kata Bella. Yang segera ingin ku kecik lehernya. Apa ini masalah yang tadi katanya sangat penting.
Di bandingkan dengan perkerjaanku. Hah teman menyebalkan setelah ini aku tidak mau tertipu lagi dengannya.
__ADS_1
"Han, ngomong dong gak kasihan sama cogan-cogan di depan lo?" bisik Bella. Dengan kasar ku dorong pundaknya.
"Maaf sekali, tapi saya benar-benar sibuk sekarang. Jadi saya izin duluan, dan kalian bisa melanjutkan obrolan kalian bersama teman saya," ucapku sambil tersenyum terpaksa.
"Saya pergi dulu!" tandasku sambil melirik pria yang sedari tadi terus menatapku.
"Hani tunggu!" pekik Bella dia masih duduk di kursinya. Menahanku agar aku tidak pergi.
Tapi maaf, pertemuan seperti ini tidak pernah aku bayangkan sama sekali. Apa lagi melanjutkan hidupku bersama dengan pria yang tidak aku cintai...
Dan apa-apaan dengan mereka, bukannya aku sudah mempunyai suami? yang selama ini selalu aku tunggu kedatangannya.
Dan baru dua tahun berlalu, kini keluargaku sibuk menjodohkanku. Dan anehnya mertuaku juga mendukungnya.
"Ini menyebalkan!" kilahku kesal. Berjalan cepat menuju jalan raya.
Dan tanpa ku sadari pria bernama Maja itu mengikutiku. Entah apa maksudnya, membuatku kesal.
Awalnya ku biarkan saja, karena aku tak ingin mencari masalah. Tapi sialnya dia terus mengikutiku.
"Anda kenapa? Ada masalah?" tanyaku dengan di setiap katanya penuh penekanan.
"Ah maaf," katanya terkejut.
"Saya penasaran dengan kamu jadi saya-"
"Jadi anda sebaiknya pergi dan tidak usah mengikutiku... perjodohan itu saya tolak!" lanjutku.
"Kamu tau tentang perjodohan itu?" tanyanya. Aku mendesah pelan. Apa dia pikir aku sebodoh itu untuk tidak memahami gerak-geriknya.
"Karena saya tau jadi saya menolaknya," tandasku.
"Kenapa? Apa alasannya?" tanyanya lagi. Membuatku pusing, karena aku tidak suka membalas sesuatu hal yang tidak aku suka.
"Aku sudah menikah!" kataku. Membuat pria di depanku ini terbelalak. Terkejut dengan perkataanku barusan.
"Tidak mungkin," katanya,"Mama mengatakan kalau kamu sudah bercerai..." lanjutnya, gantian kini aku yang terkejut.
Cerai? Sejak kapan? Ini tidak mungkin.
"Suamiku hanya pergi sebentar, dan saya yakin dia akan kembali lagi... jadi tolong jauhi saya, dan tolak perjodohan itu!" jelasku. Beberapa menit kemudian aku meninggalkannya, yang saat ini sedang memasang wajah kecewa.
...****...
"Assalamuallaikum," kataku, dari luar pintu.
Dan beberapa menit setelah aku memanggil akhirnya ada jawaban dari dalam.
__ADS_1
"Waalaikumsallam," balas mamaku dari dalam.
"Hani, ayo masuk..." ajaknya. Dahiku berkerut saat mama menarik tanganku.
"Ada apa ma?" tanyaku bingung. Mama hanya tersenyum dengan tangannya yang terus menarikku.
Dan saat aku dan mama sudah berada di ruang tamu. Kedua mataku terbelalak. Menatap kedua orangtua Ayan yang sudah aku anggap layaknya orangtuaku sendiri kini malam-malam mereka datang ke rumah.
"Jadi sayang, bagaimana kamu mau kan menikah dengan Maja?" tanya bunda.
Membuatku merasa sedih.
"Maaf membuat kalian kecewa lagi, tapi aku sungguh tidak berniat untuk menikah lagi. Karena aku sudah menikah! Dan aku sudah mempunyai suami..."
"Bagaimana bisa kalian menjodohkanku? Sementara suamiku masih hidup," kataku tidak terima.
"Sayang, bunda ngerti perasaan kamu. Tapi Ayan tidak akan pernah kembali," balas bunda. Aku yang mendengarnya hanya tertawa.
"Kenapa? Kenapa Ayan tidak akan kembali? Sebenarnya kalian menyembunyikan apa dari Hani ma, pa?" airmataku kini tumpah, mengalir deras membasahi kedua pipiku.
"Sampai detik ini, aku masih sabar menunggu sebuah kebenaran yang tidak ku ketahui... apa kalian senang melihat Hani menderita seperti orang gila yang tidak mengerti apapun!" ucapku dengan suara meninggi.
"Sayang, kami tidak ingin melihat kamu menderita lagi. Karena itu kami memutuskan untuk kamu menikah lagi..."
"Dan maaf karena kebungkaman kami yang tidak bisa menjawab pertanyaan kamu. Karena Ayan yang meminta itu,"
Aku kembali tertawa hampa, rambut coklat itu ku sisir ke belakang. Kedua mataku mendongak ke atas.
"Selalu seperti ini! Kalian kira Hani akan tahan jika di perlakukan seperti ini terus?"
"Han-"
"Hentikan! Tolong... jika kalian menyayangi Hani? Hentikan perjodahan itu, karena sampai kapan pun suamiku tetaplah Ayan,"
"Aku akan menunggunya, dan aku yakin dia pasti akan kembali. Demi cintanya!"
...****...
"Tuan, salamat datang..." sambut Putra wakil seketaris perusahaan Garyan Company dengan sopan. Pria itu Membungkukkan tubuhnya, menyambut klien penting dari perusahaan Brand Cosmatic dari Amerika.
"Mobil saya sudah siap?" tanya pria berjas hitam itu dengan wajah datar.
"Sudah tuan, silahkan..." ujar Putra mempersilahkan.
Dan tanpa aba-aba pria itu berjalan menaiki mobil sedan berwarna hitam.
Menghela napas, detik setelahnya memerintah agar supir itu mejalankan mobilnya.
__ADS_1
TbC...