Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 21


__ADS_3

Mencolek pundak Hani, pemuda itu langsung bersembunyi. Senyum nakal terbit dari bibirnya, walau dia merasakan sensasi nyeri saat pemuda itu menggerakan pipinya untuk tersenyum.


Terasa pundaknya ada sesorang yang menyetuhnya, gadis itu langsung menghentikan langkahnya, menoleh kanan dan kiri, mencari biang kerok yang sudah dia tebak adalah Keno. Tidak ada siapun membuat Hani merasa kesal.


Gadis itu melanjutkan aktivitas jalannya sambil memainkan ponselnya. dia berjalan seorang diri tanpa ada sahabat di sampingnya. Ya memang selain Bella dan Boby, Hani tidak mempunyai teman lagi.


Baginya Bella dan Boby sudah lebih dari cukup untuk mengisi hari-harinya yang kosong.


Lalu saat dirinya tidak ingin mempunyai sahabat. Keno datang, entah apa maksud kedatangannya yang jelas Hani tidak suka.


Tersenyum gadis itu membaca setiap pesan yang di kirim Ayan untuknya. Untuk sesaat Hani berpikir jika Ayan ada di sekolahnya itu akan lebih baik.


Melihat Hani dari kejauhan pemuda itu tersenyum dengan kedua tangan dia masukan ke dalam saku celana bahannya.


"Cewek di depan!" panggil Keno berteriak.


Yang di panggil seketika langsung berbalik, menatap tidak suka ke arah Keno. Dengan cepat gadis itu langsung berlari.


"Cewek di depan tunggu gue dong!" teriak Keno lagi.


Pemuda itu ikut berlari mengejar Hani.


Kantin.


Ikut duduk di samping kursi Hani. Keno tersenyum sambil melipat tangannya di atas meja. Menatap Hani yang sedang makan dengan lahap tanpa memperdulikan kalau saat ini dirinya itu sedang menatapnya.


"Makan yang banyak," ujar Keno sembari mendorong baksonya untuk Hani.


Hani membulatkan matanya, tersedak gadis itu langsung menyeruput jus jeruk di gelasnya.


"Lo mau bikin gue gendut!" sarkas Hani sambil memukul pelan meja kantin.


"Emang kenapa kalau gendut? Takut gak laku ya? Tenang kan ada gue," Keno menopang dagunya menatap Hani sambil mengerlingkan netranya,"Yang siap jadi suami lo. Suami yang terima apapun kekurangan lo,"


Hani memutar bola matanya malas, gadis itu kembali memakan bakso yang tinggal setengah itu dengan cepat.


...****...


"Tante," panggil Putri dari belakang, berlari kecil wanita itu memeluk Rosita dari belakang.


Mencium pipi Rosita dengan manja, wanita itu kini duduk di kursi meja makan.


Bersama Gilang dan Ayan.


"Makan yang banyak Put," ujar Gilang. Memberikan semangkok sup kepada Putri.

__ADS_1


"Siap om," balas Putri.


"Gimana kabar Papi dan Mami kamu?" tanya Gilang.


"Alhamdulilah semuanya baik om," sahut Putri, melirik Ayan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Kamu masih jadi tentara?" tanya Gilang lagi.


Putri mengangguk kecil.


"Emm ... Padahal kamu bisa jadi model terkenal, kenapa kamu memilih terjemur panasnya sinar matahari dan membuat dirimu lelah sendiri. Padahal di luar sana wanita seusia kamu ini sedang bersenang-senang dengan pasangan mereka," tutur Gilang.


Putri terdiam, melirik Ayan lagi. Wanita itu memasukan makanan ke dalam mulutnya. Menguyanya perlahan kemudian menelannya. Begitu seterusnya sampai makanan di piringnya itu habis.


Selesai sarapan kini Ayan dan Putri sama-sama pergi bertugas seperti hari-hari biasanya.


Setelah berpamitan kepada Gilang dan Rosita. Kini Putri dengan langkah cepat menghampiri Ayan yang ada di dalam mobil.


Mengetuk kaca mobil Ayan dua kali, wanita itu berkata,"Ayan boleh numpang gak?" tanyanya.


perlahan Ayan menurunkan kaca mobilnya. Tersenyum pria itu menganggukan kepalanya sekali.


Melihat itu Putri langsung loncat-loncat kegirangan. Memasuki mobil Ayan dengan api yang membara.


1 jam dalam perjalanan menuju tempat pelatihan. Putri selalu mengajak Ayan berbicara. Membicarakan hal yang tidak penting di dalam mobil, hanya sebuah cerita  yang dulunya sering mereka bicarakan.


"Baiklah ... mulai tempur lagi!" ucap Putri seraya menyapu pandangannya ke seluruh lapangan yang sudah penuh dengan para prajurit tentara.


"Ayan gimana penampilan ku?" tanya Putri sambil memutarkan tubuhnya.


"Seperti biasa, selalu cantik," ungkap Ayan sesuai fakta.


"Ya kan? Gini kamu kok gak mau sama aku?!" ucapnya menyindir.


"Soalnya kamu kan sudah aku anggap ad-"


"Bos tentara!" teriak Bara memotong percapan Ayan dan Putri. Pria itu berlari kemudian menghampiri ke dua sahabatnya itu.


"PUTRI!" pekik Bara bersemangat sambil merentangkan kedua tangannya.


"Bara!" balas Putri seraya memeluk tubuh Bara.


"Gue kangen sama lo Put. Kemana aja lo selama ini?" tanya Bara.


"Gue tugas di padang. Biasa," kata Putri menjelaskan.

__ADS_1


Bara mengangguk selali, pertanda kalau pria itu mengerti. Melirik Ayan di samping Putri. Pria itu  mengerutkan keninnya. Melihat kondisi Ayan yang sedikit berubah. Tersenyum tidak biasanya.


"Kesambet setan ape lu?" tanya Bara sambil mengerutkan dahinya.


Membuat Ayan tersentak dari lamunannya.


"Bukan urusan anda," balas Ayan cuek.


Pria itu berjalan meninggalkan Bara dan Putri, yang kini menatapnya dengan ekspresi aneh.


"Kenapa tuh orang?" tanya Bara.


Yang di gelengi Putri.


"Entah lah," ucap Putri sambil menepuk pundak Bara.


"Gue pergi duluan," ujar Putri. Wanita itu berjalan cepat mengikuti Ayan.


2 jam latihan, kini Ayan kembali ke ruangannya. Mendudukan dirinya ke kursi biasa dia duduki, Pria itu kembali tersenyum saat mengingat malam itu bersama Hani.


"Ayan!" teriak Putri, wanita itu melebarkan senyumannya sambil duduk di atas meja Ayan.


"Kamu lagi kasmaran sama siapa?" tanya Putri.


"Orang," balas Ayan.


"Ak--"


"Tapi Bukan kamu," potong Ayan cepat. Membuat Putri langsung memasang wajah sebal.


"Nyebelin kamu!" sarkas Putri.


"Dari dulu," sahut Ayan.


Putri terkekeh kecil, wanita itu mengambil ponselnya. Lalu memphoto Ayan diam-diam.


Menyadari itu Ayan langsung mencoba menghalangi Putri dengan cara menutup wajahnya.


"Gak lucu Put," kata Ayan tidak suka.


"Ini lucu kok." balas Putri sambil memperbesar photo Ayan di ponselnya. Wanita itu tertawa melihat ekspresi Ayan di dalam ponselnya.


Ayan menghela napas, memandangi raut wajah Putri yang terlihat bahagia,"Put aku sudah menikah," kata Ayan membuat Putri yang tadinya tertawa terbahak-bahak itu langsung menghentikan tawanya.


Menatap Ayan dengan raut wajah tidak bisa di tebak,"Ini gak lucu Yan," ucapnya.

__ADS_1


"Aku gak lagi ngelucu," ujar Ayan.


__ADS_2