Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 20


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Putri, saat Ayan hendak pergi meninggalkannya.


"Ke apartement," jawab Ayan.


"Nginep disini, please!" mohon Putri sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Maaf gak bisa," sahut Ayan.


"Kenapa?" tanya Putri.


"Karena--"


"Ayan kalau mau pulang, bunda titip ini ya," ujar Rosita menyela pembicaraan Ayan dan Putri. Wanita itu memberikan tas ransel milik putranya.


Tersenyum pria itu meraih tas ransel berisi sisa pakaian Ayan, yang tertinggal di rumahnya.


"Makasih bun," kata Ayan sopan.


"Kalau gitu Ayan pamit dulu ya," Ayan meraih tangan Rosita kemudian mencium punggung tangan bundanya,"Assalamuallaikum." sambungnya.


"Waalaikumsallam," Rosita tersenyum kemudian mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinga putranya,"Bunda kirim salam sama Hani ya," ujarnya.


Ayan mengangguk mengerti, melirik Putri yang tengah cemberut, tersenyum pria itu langsung pergi.


"Tante kok gak larang Ayan si?" tanya Putri. Rosita tersenyum kemudian mendaratkan telapak tangannya ke atas kepala Putri, mengelusnya dua kali wanita itu berkata,"Buat apa? Itu kan haknya Ayan." ujarnya, membuat Putri langsung terdiam.


"Ayo masuk," ajak Rosita. Putri melirik mobil Ayan yang sedang berbelok. Menghela napas wanita itu akhirnya mengangguk.


...****...


Usai mengacak-acak dapurnya, gadis itu kini menyusun semua masakan yang sudah susah payah ia masak ke atas meja makan. Mengelap peluh yang sedari tadi bercucuran di dahi, hingga tidak sadar jika tangannya terkena tepung terigu, membuat dahi dan pipinya akhirnya terkena tepung.


"Akhirnya," ucap Hani dengan wajah sumriah. Menatap masakan gosong di depannya.


Sayur sop ayam yang tidak berkuah, sabal ikan gosong. Serta kangkung panjang yang belum di potong itu dengan bangganya.


"Semoga om Ayan suka," ucapnya terlalu percaya diri.


"Assalamuallaikum," ucap Ayan saat masuk ke dalam rumah.


"Astagfirullah," sentaknya saat melihat Hani berdiri di ambang pintu apartementnya sambil mengulurkan tangannya.


"Waalaikumsallam om," balas Hani. tersenyum gadis itu menggoyang-goyangkan ujung jarinya membuat Ayan yang tadinya tidak mengerti kini pria itu jadi ngerti dan akhirnya memberikan tangannya.


Mengernyit Hani menghempas tangan Ayan. Gadis itu meraih tas ransel yang di cincing oleh Ayan.


Tersentak pria itu menolak jika tasnya di ambil oleh istrinya.


"Jangan ini berat," ujar Ayan.


"Gak papa, saya kuat kok om!" jelas Hani sambil mengambil paksa tas ransel Ayan.


Mengangkatnya dengan menahan berat.

__ADS_1


"Perluh saya bantu?" tawar Ayan.


"G-Gak USAH!" tolak Hani,"Om makan aja sana!" sambung Hani gadis itu melempar tas ransel Ayan ke sofa.


Mendesah pelan, gadis itu menepuk-nepuk telapak tangannya menatap Ayan yang saat ini tengah menatapnya heran.


"Emang di rumah ada makanan?" tanya Ayan.


"Ada kok," ujar Hani sambil mendorong tubuh Ayan mendekat ke meja makan. Menyuruh suaminya untuk melihat masakan gosongnya.


Melihat itu Ayan langsung tersedak oleh air ludahnya sendiri. Menatap Hani yang dengan santainya menggoyang-goyangkan kaki.


"Silahkan makan om!" seru Hani mendesak Ayan untuk memakannya.


Ayan mengulas senyuman hangat, mengelus pipi dan kening istrinya. Menghapus jejak tepung yang tadinya menempel di sana.


Duduk, pria itu dengan senang hati memakan masakan gosong istrinya.


"Ini enak," ujar Ayan. Memakan dengan lahap masakan istrinya.


Walau terlihat dari wajahnya pria itu saat ini tengah menahan rasa pahit saat makanan itu ia kunya.


"Beneran om? kalau gitu saya mau makan!" seru Hani bersemangat.


Membulatkan netranya dengan cepat Ayan langsung melarang Hani untuk memakannya. Tapi terlambat gadis itu lebih dulu memakannya.


"Huek!" memuntahkan kembali makanan yang dia masak gadis itu berlari masuk ke dalam kamar mandi.


1 menit di dalam kamar mandi, Hani kembali keluar. Buru-buru gadis itu menyingkirkan masakannya.


"Ini enak kok," ujar Ayan. Pria itu kembali mengambil sendok di tangan Hani.


"Hemm enak ...." ucap Ayan. Pria itu melebarkan senyumannya.


Hani melongo melihat itu. Bagaimana bisa enak, dia merasakan sendiri masakan itu yang rasanya seperti rancun.


"Om hentikan! Bagaimana jika om sakit?" larang Hani menyingkirkan masakannya dari meja.


"Bagaimana bisa sakit? kamu memasak ini dengan cinta."


"Tapi om ... jika om memakan masakan yang rasanya seperti rancun ini. Nanti om bisa mati!"


"Ini masakan kamu Falia, bagaimana bisa kamu bilang ini racun?"


"Apa kamu lupa kerja keras kamu demi membuat makanan yang kamu bilang racun ini?" Ayan meraih tangan Hani yang terbungkus kain putih,"Kamu lihat? Pengorbanan tangan ini, dalam membuat makanan yang katanya racun. Hingga rela jika dirinya terluka lalu berdara," mencium tangan dimana luka Hani berada, pria itu berkata,"Masakan kamu ini bukan racun untuk ku," Ayan mendongak lantas tersenyum.


"Tapi cinta," sambungnya.


Kata-kata Ayan membuat Hani merasa bahagia. Sangking bahagianya gadis itu nangis sambil menatap pria di depannya.


Selama ini tidak ada orang yang menghargai dirinya sampai seperti ini.


Melihat itu Ayan buru-buru berdiri. menghapus jejak air mata istrinya.

__ADS_1


"Hei, ada apa? Apa kata-kata saya menyinggung perasaan kamu Falia?" tanya Ayan cemas.


Hani semakin mengeraskan suara tangisnya, mendorong tubuh Ayan menjauh darinya.


"Hiks ... hiks ... om Ayan jahat! Bilang aja masakan saya gak enak. Gak usah muji-muji gitu!"


Ayan tertawa, menangkup tangan Hani kemudian menariknya. Membuat tubuh Hani juga ikut ke tarik.


"Maafkan saya," kata Ayan. Memeluk tubuh Hani erat-erat.


...****...


"Sekali brengsek! Tetap brengsek!" teriak Veno murkah. Menampari wajah Keno berulang-ulang.


"Hentikan pak! Anda bisa kami tangkap jika bapak terus memukuli putra bapak!" tegas Polisi berwajah sangar itu memperingati.


Mendengar itu Veno langsung menghentikan aksinya. Menatap sangar ke arah Keno yang sedang terenyum miring.


"Maaf mengganggu bapak tengah malam begini. Tapi kami menangkap putra bapak karena dia ikut balap liar di jalanan," jelas polisi itu menjelaskan.


"Jika bukan karena mengingat status bapak. Sudah sejam yang lalu kami memasukan putra bapak itu ke dalam jeruji besi," sambungnya.


"Terima kasih, masalah ini biar saya dan putra saya yang menyelesaikannya." melirik pengacaranya, Veno langsung menarik kasar tangan Keno di sampingnya.


"Brengsek!" maki Veno saat melihat wajah Keno.


"Anda lebih brengsek!" balas Keno tak mau kalah.


"Apa katamu?!" tanya Veno sambil berteriak sekali lagi menampar pipi Keno yang sudah bengkak itu dengan tangannya.


"Brengsek! Bokap brengsek! Kalau lo malu punya anak kayak gue. Buang atau bunuh aja gue!" teriak Keno menatap Veno dengan kedua bola mata yang hampir keluar.


Brak!


Keno memejamkan matanya, saat tangan papanya mendorong dengan kuat kepalanya ke kaca mobil.


"Pergi sana! Ibu sama anak sama aja!" usir Veno.


Saat melihat darah segar keluar dari kepala Keno.


Keno membuka matanya lebar-lebar saat papanya itu membawa nama mamanya dalam pertengkaran mereka.


"Pria brengsek! Gue ingeti jangan bawa nama Mama gue!" ancamnya.


"Gue masih tahan kalau lo maki, Mukul gue. Tapi inget! Kalau lo bawa-bawa nama mama. Sekali lagi gue anggap."


"Kalau gue gak punya Papa!" ucapnya.


Kemudian pergi dari dalam mobil Veno papanya. Dengan penuh amarah.


****


Terima kasih sudah mau mampir ke cerita yang membosankan ini🙏

__ADS_1


Dilarang untuk memplagiat.


__ADS_2