
"Hani," panggil Sabrina agak segan.
Setelah menyembunyikan kebenaran selama bertahun-tahun. Timbulnya rasa bersalah pasti ada.
Menghentikan langkahnya, Hani menghapus jejak air mata yang mengalir membasahi kedua kedua pipinya. Menarik napas dalam-dalam, Hani membalik tubuhnya. Menatap mamanya dengan menahan tangisnya.
"Mama, minta maaf sama kamu Hani. Mama tidak bermaksud menyembunyikan kebenarannya dari kamu, tapi saat itu mama tidak punya pilihan lain. Begitu juga Ayan, mama yang terlalu takut kehilangan putri mama pun mengusir Ayan, pergi dari kehidupan kamu."
"A-apa?" tanya Hani terkejut. Sebelum ini mamanya belum menceritakan perihal kepergian Ayan.
Yang dia tau adalah, mamanya bercerita setelah kejadiannya di culik oleh Putri dan rekannya Kia. Yang melibatkan Keno juga.
Mamanya bercerita setelah Ayan menceraikan dirinya, pria itu pergi karena masalah Putri dan Ayan belum berakhir. Putri mengacam akan kembali, dan akan membunuh Hani 2 tahun lagi, sekarang? Apa Ayan kembali semata-mata ingin melindungi Hani karena Putri yang sebentar lagi akan di bebaskan.
Tidak, karena keluarga Putri sangat Kaya. Pengadilan memutuskan memperpendek masa hukuman. 2 bulan yang lalu, Putri sudah bebas dari penjara.
Jika memang Putri alasan Ayan kembali, tapi kenapa? Sampai detik ini Putri tidak membuat masalah. Wanita itu tidak pernah mendatangi Hani.
Lalu apa alasan sebenarnya dari kepergian Ayan.
Dan saat Sabrina mengatakan jika dia yang telah meminta Ayan untuk pergi. Di situlah Hani jadi mengerti. Tapi bukan masalah itu sekarang yang Hani pikirkan. Ayan bukan tipe orang yang akan melepaskan wanita yang begitu dia cintai dengan begitu mudah.
Mertuanya memintanya untuk pergi, dan dia menurut. Itu tidak mungkin. Ingat Girlang papa Ayan juga pernah melakukan hal yang sama, bahkan dengan ancaman pula.
Lalu? Alasan Ayan pergi itu apa? Ini benar-benar teka-teki yang Ayan sendiri tau apa jawabannya.
"Mama mohon maafkan mama," sabrina menangis, air matanya tak kuasa dia bendung lagi. Rasa sakit di dadanya seolah menyeruak keluar dari dalam dirinya.
Akhirnya beban yang selama ini dia simpan, bisa tersampaikan juga.
"Ma, setelah menyembunyikan kebanaran bagaimana mama bisa dengan mudahnya meminta maaf. Mama jika aku tidak melihat pembicaraan mama dengan orang itu, mungkin sampai Hani tiada. Kebenaran itu tidak akan pernah terungkap!"
Sabrina menggelengkan kepalanya. Satu tangannya bergerak ingin menyentuh tangan sang putri. Tapi apa yang terjadi, Sabrina sadar. Putrinya kali ini berhak marah. Tak sepatutnya dia memisahkan Hani dan Ayan. Tapi apa daya? Setelah mengetahui ada orang yang ingin mencelakakan anaknya. Apalagi orang itu adalah teman Ayan yang berusaha ingin memecah belahkan keluarganya. Membuatnya tidak punya pilihan lain selain melakukan itu.
"Sudah lah ma, semuanya sudah terjadi. Kehidupanku sudah hancur sejak kepergian Ayan. Dan sekarang, aku tidak tau apa yang harus ku lakukan." Hani sudah pasrah dengan hidupnya. Hani tidak pernah mengeirah jika kehidupannya akan serumit ini.
"Mama, akan meminta Ayan kembali. Mama janji. Jika Ayan adalah kebahagiaan putri mama. Mama akan melakukannya!"
"Tidak. Ayan pergi, bukan karena mama yang memintanya untuk pergi. Sudah lah, itu masa lalu Hani,"
"Lalu jika bukan karena mama kenapa Ayan pergi da-"
"Sudah ya ma. Hani capek. Hani mau tidur," sela Hani memotong.
__ADS_1
Mendengar itu, Sabrina menjadi sedih. Hidup putrinya hancur karenanya.
"Maafkan mama Hani," lirih Sabrina.
Mengangguk lemah, Hani memutar tubuhnya kembali lalu di susul Air bening jatuh mengalir membasahi pipinya. Saat ini Hani menangis tanpa suara.
Hatinya sakit, sangat sakit. Semuanya yang terjadi Hani harap ini hanya mimpi. jika ini adalah nyata, Hani tidak akan sanggup menghadapinya.
Tapi, dari semua kebenaran yang Hani ketahui. Ada satu kebenaran yang benar-benar membuatnya sakit. Yaitu kebanaran, tentang Ayan yang memilih pergi darinya. Dan tidak memperjuangkan cinta mereka. Itu keyataan yang paling menyakitkan yang Hani rasakan saat ini.
...****...
Duduk termenung di ruang kerjanya, Ayan tak henti-hentinya memalingkan pandangannya dari satu arah, air bining itu terus mengalir tanpa henti, jatuh membasahi pipi serta brewoknya yang tipis.
tersenyum miris, jarinya bergerak naik turun mengelus photo Hani yang pria itu jadikan walpaper pada layar ponselnya.
Sudah 2 tahun berlalu. Ayan pikir ada perubahan yang terjadi, usaha ingin melupakan semua itu bagaikan mimpi. Sulit sekali ingin melupakan semuanya.
Satu hal yang pasti. Jika ini memungkinkan terjadi, Ayan ingin sekali lagi memiliki Hani kembali. Ayan ingin Hani menjadi istrinya lagi. Akan tetapi, itu rasanya tidak mungkin. Sudah banyak kesalahan yang sudah terjadi, dan itu semua karena salahnya.
"Pak Ayan," panggil Loli takut.
Wanita itu berdiri di ambang pintu, dengan kepala menunduk. Loli memperhatikan Ayan tidak keluar dari ruangnnya sejak 3 jam yang lalu. Apa pun yang terjadi, sejak kejadian malam itu. Kini sikap bosnya menjadi aneh. Seperti saat ini.
Tersentak Ayan menerjapkan matanya dua kali, kursi yang dia putar menghadap ke belakang. Kembali dia putar ke depan.
Meletakan ponselnya di atas meja, Ayan menatap loli yang sedang berdiri di ambang pintu ruangannya.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara parau.
Mendengar suara Ayan yang parau. Sontak, Loli langsung mendongakkan kepalanya. Sepasang mata wanita itu membulat dengan sempurna.
Melihat kondisi Ayan yang benar-benar memprihatinkan. Ini semua pasti karena kejadian tadi malam. Sebenarnya apa yang terjadi setelah mereka pergi?
"Ada apa Loli?" tanya Ayan sekali lagi.
Tangan yang di perban itu dia letakan di atas meja. Sehingga Loli dapat melihatnya.
"T-tangan bapak?" kilah Loli merasa ngerih.
Ayan tersenyum miris. Kondisinya benar-benar sangat miris.
"Oh ini. Tidak apa," ujar Ayan.
__ADS_1
"Kamu ada keperluan apa?"
Loli tersentak. Lalu kembali teringat dengan wanita paru baya yang sedang mencari Ayan.
"Ada yang mencari bapak di ruang tunggu." kata Loli menjelaskan.
Alis Ayan terangkat satu,"Siapa?" tanyanya lagi.
Loli mencoba mengingat.
"Ibu Rosita," ingat Loli.
Mendengar nama bundanya di sebutkan. Reflek dengan cepat pria itu langsung berlari untuk menemui bundanya itu. Sudah 2 tahun dia merindukan bundanya.
Dengan senyum mengembang, Ayan menghampiri Rosita yang sedang duduk di sofa.
"Bunda!" panggil Ayan. Manik pria itu sudah berkaca-kaca.
Melangkah lebar, Ayan bertekuk lutut di depan bundanya.
"Bunda, Bunda apa kabar?" Ayan menangkup kedua pipi Rosita. Wanita itu juga menangis saat melihat anaknya sudah kembali pulang.
Tapi, kedatangannya bukan untuk bermanja-manja dengan putranya. Namun, ada alasan lain kenapa dia harus menemui Ayan.
"Bunda, Ayan sangat merindukan Bunda. Ayan meminta maaf atas tindakan Ayan 2 tahun yang lalu. Semu-"
"Ayan, pergilah." sela Rosita memotong. Tangis wanita pecah saat putranya menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa kamu kembali dan mengacaukan semuanya. Pernikahan Hani, bunda yang sudah mengaturnya. Jika kamu benar-benar menyayangi bunda." Rosita mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Bunda mohon, kamu pergi lah dari kehidupan gadis yang sudah kamu hancurkan. Biarkan dia hidup dengan bahagia. Bunda memohon dengan mengatupkan kedua tangan bunda."
Ayan menggelengkan kepalanya. Tangan Rosita yang mengatup itu dia sentuh kemudian di kecupnya.
"Bunda, jangan memohon seperti itu." kata Ayan sambil menangis.
"Terus bunda harus bagaimana? Biar kamu pergi dari kehidupan Hani?"
"Gadis itu sudah sangat menderita atas perbuatan kamu. Bunda hanya ingin menebusnya dengan membuat gadis itu bahagia. Dengan cara menikahkannya kembali," tutur Rosita berujar.
Mendengar itu, Ayan hanya bisa terdiam. Pergi, dari tempat ini? Tidak mungkin. Ada alasan penting kenapa dia harus kembali. Ayan tidak akan tinggal diam. Jika masalahnya tentang nyawa Hani. Ayan tidak akan mungkin pergi dari tempat ini sama seperti yang di inginkan bundanya.
Tidak akan.
__ADS_1
TbC.