Menikah? Oh No!

Menikah? Oh No!
Part 10


__ADS_3

"Saya mau kerja dulu," pamit Ayan kepada Hani yang saat ini tengah tiduran sambil membaca komik.


Tertawa terbahak-bahak sampai tidak mendengar ucapan dari suaminya. Ayan mengulas senyuman kecil, mengusap puncak kepala Hani pria itu berkata,"Kalau butuh apapun jangan lupa telpon saya," lirihnya berujar.


sontak Hani langsung terdiam, merasakan telapak tangan Ayan bermain lembut di atas kepalanya.


"Assalamuallaikum,"


Hani nyengir kuda, menepis tangan Ayan pelan gadis itu menjawab."Waalaikumsallam," balasnya.


Ayan mengangkat kedua sudut bibirnya memberikan senyuman terbaiknya kepada Hani.


"Saya pamit," pamit Ayan lagi. Entah kenapa hatinya memberontak untuk dirinya pergi meninggalkan Hani seorang diri.


"Hem," jawab Hani sambil pokus kembali membaca komiknya.


Namun, beberapa detik setelah Ayan sudah di ambang pintu gadis itu langsung bangkit kemudian berteriak.


"Suami om!" panggilnya yang di panggil membalikkan tubuhnya dengan cepat.


"Ada apa?" tanya Ayan.


"Minta uang jajan dong!" pintanya sambil mengulurkan satu tangannya. Setinggi dada.


"Lihat di meja dapur sana," ujar Ayan sambil menunjuk meja yang lumayan panjang itu dengan dagunya."Saya letakan uang saku kamu di atas sana," sambungnya. Membuat Hani melompat kegirangan.


Jika tahu menikah akan se-asik ini, mana mungkin dia menolak dari dulu perjodohannya dengan Ayan. 


"Ah. Gomawo suami om," kata Hani dengan wajah sumringah.


Ayan tersenyum. Memutar kembali tubuhnya pria itu melangkah keluar dari pintu apartementnya.


...****...


"Gimana?" tanya Bara mewakili dari semua teman seangkatan dengannya.


"Gimana apa nya?" Ayan bertanya balik. Hawa di sekelilingnya mendadak berubah panas. Saat semua temannya itu kini tengah mengerubunginya. Kepo dengan kehidupan rumah tangganya.


"Sok polos lo!" sarkas Bara sambil menepuk punggung Ayan lumayan kuat.


"Polos gimana? Kalau mau tanya itu langsung ke inti. Jangan kode-kode. Kamu tau saya tipe orang yang gak peka!" semprot Ayan.


"Ok. Langsung ke inti ni ya, inti!" seru Bara.


kini tatapan serius di tunjukan oleh teman-temannya. Yang di tatap tetap santai sambil membaca buku berjudul. Tentara ...


"Gimana? Masih perawan?"


Bhuk!


Pukulan kuat yang di berikan Ayan untuk Bara. Membuat semua temannya yang tengah menyaksikan itu langsung tersentak. Ikut meringis saat melihat Bara kini memijat-mijat kepalanya.


"Pertanyaan macam apa itu?" ketus Ayan menatap Bara dengan manik berubah tajam.


"Bercanda loh Yan. Lo serius amat!" Balas Bara sembari mengelus-elus kepalanya yang benjol.


"Hal yang berbau tentang istri saya. Saya harus serius tentang hal itu!" ketus Ayan.

__ADS_1


"Lain kali jangan bawa-bawa istri saya dalam pembicaraan kalian ini. Paham!" tegasnya memperingati.


"Bubar semua!" titah Ayan sambil menunjuk pintu keluar.


Semua tampak menunduk, lesuh. Tamatkah riwayat mereka. Ini semua karena Bara. Tidak biasanya Ayan sangat marah, karena pertanyaan sepele yang biasa di lontarkan dari candaan seorang Bara. Kini mejadi seserius itu?


Setelah semua temannya pergi. Ayan buru-buru beristigfar untuk menjernikan pikirannya.


Emosinya meledak secara tiba-tiba saat mendengar wanitanya secara tidak langsung menjadi bahan gunjingan.


"Istighfar Ayan!" tegasnya kepada dirinya sendiri.


Meraih ponselnya. Pria itu langsung menekan nomor Hani di kontaknya yang pria itu beri nama, istriku.


Ayan menunggu panggilannya terhubung dengan Hani.


Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, sementara tangan yang lain menekan ponselnya ke telinga.


"Ya om?"


"Assalamuallaikum,"


"Sorry om. Saya suka lupa orangnya, Waalaikumsallam,"


"Mengucapkan salam itu wajib Falia, bagaimana kamu bisa lupa?"


"Ha? Om ngomong apa? Gak denger ini!"


Tiba-tiba jarinya berhenti mengetuk meja, dahinya berkerut. Ada banyak sekali suara di sekitar Hani. Membuatnya menjadi cemas kemudian langsung bertanya.


"Maaf om, bisa ulangi gak barusan ngomong apa?"


Ayan menghela napas, mendekatkan telponnya ke dekat bibir. Menarik napas panjang kemudian pria itu berkata lumayan keras.


"Kamu lagi dimana!"


"Oh, sekarang saya lagi di ma- eh kalau jangan pakai mata dong!"


"Maaf ... maaf,"


"Maaf, maaf lo liat ponsel gue sekarang remuk. Kayak muka lo!"


Ayan memijat pelepis alisnya, mendengarkan pembucaraan Hani dengan seorang pria yang tidak sengaja menabrak Hani. Hingga membuat ponsel Hani terjatuh.


"Falia kamu deng-"


Tut ... tut ... tut ...


Ayan meremas rambutnya frustasi lalu menatap layar ponselnya yang sudah mati.


"Ah! Kenapa bisa lowbat?" pekik Ayan melemah.


Sementara di waktu lain. Kini seorang gadis dengan wajah menekuk itu tengah mengumpat lantaran ponselnya kini retak.


"Sabar Han," ucap Bella.


"Gimana mau sabar! Lo liat ni ponsel gue remuk!" pekiknya sambil menepuk sekali ponselnya ke telapak tangan.

__ADS_1


"Mau gue beliin?" tawar Bella.


"Gak usah, sekarang kan gue udah punya suami kaya. Untuk apa gak di manfaati sekarang," kilah Hani. Mendadak suasana hatinya berubah menjadi baik.


"Cih, sejak kapan lo ngakui kalau om Ayan itu suami lo? Hah!" semprot Bella sambil mendorong dahi Hani dengan telunjuknya.


"Sejak ... gue tinggal sekamar sama tuh om-om," balas Hani sambil nyengir.


"Idih! Narsis!" cibir Bella, berjalan cepat gadis itu meninggalkan Hani di belakangnya


"Tunggungi gue!" teriak Hani sembari mempercepat langkah kakinya.


...****...


Merebahkan tubuhnya ke sofa, gadis itu menutup kedua matanya dengan lengan.


Mengatur napasnya, gadis itu kini kembali membuka matanya.


Melirik jam di dinding. Ia berdecak sebal.


Sudah jam 8 malam tapi Ayan masih juga belum pulang, baru 3 hari pernikahannya dengan Ayan kini dirinya sudah di tinggal saja oleh suaminya itu.


Hani meniup poninya. Mengibas-ibaskan rambut pendeknya itu dengan cepat,"BOSEN!" keluhnya sambil menekan kata bosen.


Bangkit, gadis itu berjalan malas menuju dapur, mengintip isi lemari es, kemudian mengambil sebotol minuman bersoda. Membuka botolnya secara perlahan. dia langsung menenggak minuman itu hingga habis.


"Ah ...." desahnya. Mengelap sisa minuman dengan lidahnya.


"Laper," cicit Hani, memasang wajah sedih gadis itu kembali berjalan menuju sofa.


Menghidupkan tv. Untuk mengurangi rasa bosan yang sedari tadi melandanya.


1 jam...


2 jam...


3 jam...


Kini sudah pukul 12 malam. Tapi Ayan juga belum pulang. Ngantuk perlahan mata Hani mulai tertutup.


Membiarkan tv kini menontonnya.


Beberapa menit setelahnya. Pintu rumah berbunyi menandakan ada seorang yang akan masuk ke dalam.


"Asslamuallaikum," ucap seorang pria yang tidak lain pemilik dari apartement mewah yang kini menjadi milik Hani juga.


Manik pria itu membulat mendapati istrinya itu tengah tertidur sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Berjalan secara hati-hati pria itu mulai berjongkok, menatap wajah polos Hani saat tertidur.


Mengulas senyuman manis, perlahan pria itu mulai mencium kening istrinya lembut."Maaf, karena membuatmu harus menunggu terlalu lama." bisiknya.


Setelah puas menatapi wajah istrinya kini. Ayan langsung menggendong tubuh Hani sampai ke lantai atas. Menuju kamar.


Meletakan secara hati-hati tubuh mungil istrinya ke ranjang. Kemudian menyelimuti tubuh Hani pria itu duduk di sisi ranjang. Meraih tangan kanan Hani kemudian mengeucupnya.


"Maaf." ucapnya sekali lagi.

__ADS_1


__ADS_2