Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Berdamai dengan masalalu


__ADS_3

Adinda keluar dari pintu kamarnya dengan membawa tas kecil hitam di tangannya, kemudian ia menuruni tangga lalu berjalan ke arah pintu keluar, ia melihat Arash yang sedang duduk ditemani secangkir kopi yang masih panas di teras rumah, namun ia tak ingin repot repot menyapanya, Dinda hanya terus berjalan melaluinya.


"Mau kemana?" ucap Arash tiba tiba membuat langkah Dinda terhenti.


Dinda menoleh kebelakang "Mau ke butik" jawabnya acuh.


"Jalan kaki?"


Dinda pun terdiam, benar juga di komplek perumahan elit tak akan ada taxi yang lewat, ia harus berjalan cukup jauh untuk keluar jalan raya.


"Nih" tiba tiba Arash melempar kunci mobilnya, siap tak siap Dinda tetap menangkapnya dengan kedua tangan. "Kamu bisa pergi dengan mobilku tapi kau harus pulang sebelum jam makan malam"


Dinda terdiam menatap kunci mobil ditangannya membuat Arash mengernyitkan mata. "Sana pergi kenapa diam saja bikin kesal" ucapnya sinis.


"Aku nggak bisa nyetir" ucapnya ragu ragu lalu melemparkan kembali kunci mobil kepada Arash "Nih, aku akan jalan kaki saja sampai jalan raya" ujarnya lalu pergi dengan terburu buru.


Setelah berjalan kaki sekitar 3 menit mobil Arash berhenti di sampingnya berdiri kemudian Arash membuka jendela mobil "Masuk!"


Tanpa pikir panjang Adinda pun masuk ke mobil, ia duduk di samping kursi kemudi. "Mulai besok aku akan membawa motorku, jadi aku tak akan merepotkanmu lagi"


"Heehhh.. Tidak ada motor yang masuk perumahan ini apa kau tidak tau? Apa kata orang jika Istri seorang Hutama pulang pergi menggunakan motor butut?"


Dulu kamu juga suka naik motor butut itu daripada mobil mewahmu!.


Rasanya perasaan Adinda memburuk, ia benar benar tertohok setelah diingatkan oleh fakta bahwa dunianya sangat berbeda dengan pria di sampingnya.


Arash melirik ke sampingnya karena Adinda tak menjawab ucapannya. "Ehemmm, mulai sekarang aku akan mengantarmu jika kamu ingin ke butik, lalu sebenarnya hari ini Mamaku meminta kita untuk tidak melakukan aktifitas diluar karena kita baru saja menikah"


"Aku hanya ingin mengecek keadaan butik sebentar, aku takut Lina kesulitan sendirian"


"Apanya yang sulit, bukankah butikmu itu tak pernah sibuk?"


Adinda menatap ke arash dengan sorot mata tajam, kesabarannya telah menipis "Heii!! Dari tadi kamu menghinaku terus ya, apa kamu seseneng itu menghina dan merendahkanku terus menerus? Apa mulutmu tak bisa berkata baik sedikit saja??" teriaknya hingga membuat Arash mengerem mobilnya mendadak sehingga membuat tubuh keduanya terpental kedepan, namun dengan sigap Arash menempelkan tangannya di dahi Dinda sehingga dahinya tak membentur dinding mobil, tiba tiba Dinda teringat momen 10 tahun lalu saat mereka masih menjalin hubungan,Arash melakukan hal seperti itu beberapa kali saat mereka sedang berada dalam mobil yang sama.


Adinda pun menatap Arash, seketika suasana menjadi hening sekaligus canggung, Arash segera menarik tangannya begitu menyadari situasi. "Ehemmmm!" wajahnya menjadi panik lalu ia kembali menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi" ucap Dinda.


"Aku bukannya sengaja melakukan itu, hanya kebiasaan, jangan kepedean Adinda!" pungkasnya.


"Kebiasaan atau apapun jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman!" tegasnya.


"Apa begitu saja buat kamu salah paham? Jangan harap ya Adinda!" nada bicaranya semakin meninggi.


"Aku tak pernah berharap, sejak dulu kamu yang datang dengan sendiri dan pergi dengan sendirinya juga! Memang seperti itulah dirimu, kamu selalu melakukan apapun yang kamu inginkan tanpa memikirkan perasaan orang lain yang terlibat denganmu"


"Hahhh!! Apa sekarang kamu sedang membahas masa lalu? Kamu masih tak terima aku putusin?"


"Aku sudah tak peduli tuh"


"Terus kenapa malah membahasnya sekarang? Meskipun kita berpisah dengan tak baik apa nggak sebaiknya sekarang kita berdamai saja mengingat kita akan hidup bersama setahun kedepan?"


"Bukannya kamu yang tak ingin berdamai denganku? Kamu yang salah malah menyalahkan orang lain!"


"Baiklah, aku minta maaf atas semua kesalahanku baik sekarang atau di masa lalu Adinda, kuharap sekarang kamu bisa melupakan masalalu kita dan menganggap aku orang yang baru kau temui kemarin dan mari bersikap selayaknya orang asing yang sedang bekerja sama, bukankah itu juga yang kamu inginkan?"


"Apa? Katakan saja"


"Berhenti merendahkan dan menghinaku, bicaralah baik baik"


"Adinda, diumurku sekarang aku tak bisa berkata manis jadi--" Adinda menghentikan ucapannya.


"Siapa bilang aku butuh kata kata manis, apa kamu tak bisa mencerna perkataan seseorang dengan baik?"


"Hmmm, bukannya kamu sudah tahu memang gaya bicaraku seperti ini sejak dulu"


"Tentu saja, karena gaya bicaramu itu kamu pernah dipukuli kakak senior sampai babak belur lalu keesokan harinya kamu membawa seorang pengawal untuk membalas dendam sampai akhirnya orang orang tahu bahwa kamu adalah pewaris Hutama's Hotel, aku masih nggak nyangka pacarku ternyata sangat kekanak kanakan hahaha" tiba tiba Adinda terdiam "Dan saat itu aku baru tahu ternyata pacarku adalah seorang konglomerat generasi ke tiga betapa terkejutnya aku"


"Jangan bahas hal hal memalukan itu lagi Adinda!" teriaknya.


"Pppffftttt" Adinda menutup bibirnya yang tertawa tanpa suara karena mengingat kejadian itu.

__ADS_1


"Sekarang kamu tertawa?"


"Pfftttt hihi"


"Seneng ya? Berhenti menertawakan sesuatu yang ada di pikiranmu sekarang!!"


"Hahahaha" Dinda malah semakin keras menertawakannya, Arash pun tersenyum tipis melihat Adinda yang seperti itu.


Baiklah mari kita saling berdamai dengan masa lalu, aku tak ingin menyakitimu lagi, ku pikir sikapku ini sudah tepat agar perasaan kita berdua tak kembali goyah oleh satu sama lain, lebih tepatnya aku menghawatirkan perasaanku sendiri, tapi aku salah bahkan aku tak tahan menatapmu yang terus terusan bersedih karena ucapan kasarku, apa ini benar benar keputusan yang tepat? Apa benar aku tak akan menyakitimu lagi? Bisakah kami memulai awal baru sebagai seseorang yang baru dan melupakan semua cerita lama yang jika kau mengetahuinya kau yang akan paling terluka. Adinda adinda.. Mengapa kita harus bertemu lagi seperti ini, aku hanya ingin semua orang bahagia, tapi aku harus apa, bahkan aku membenci diriku sendiri yang tak pernah bisa lepas dari bayang bayangmu.


Adinda kembali melirik Arash setelah mengusap air mata karena terlalu lama tertawa "Kenapa menatapku seperti itu?"


Arash segera memfokuskan pandangannya kedepan "Tidak, kamu sepertinya sudah tak marah lagi"


"Siapa bilang?" jawabnya seraya membuang muka.


"Bukankah kita sekarang teman? Teman serumah?"


"Hmmm, aku pikir pikir dulu deh lihat bagaimana sikapmu kedepannya" Ia mengatakannya dengan malu malu.


"Baiklah.. Ngomong ngomong gimana kabar mantan pacar yang sempat kamu tendang saat itu"


"Aku benci karena kamu melihat saat itu, bisakah kamu pura pura tak tahu saja!"


"Yang kamu tendang apa kira kira sudah membaik atau malah memburuk?" godanya dengan raut wajah biasa saja.


"Aku nggak peduli, berhenti membahasnya!"


"Aku dengar kamu diselingkuhin kan?"


"Berhenti!!!"


"Hehehe"


Tak disangka hubungan keduanya membaik dengan mudah, itu semua karena kedewasaan dan demi kehidupan yang lebih nyaman untuk setahun kedepan, mereka pikir itu lah hal terbaik yang bisa dilakukan mengingat kedepannya mereka berdua akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2