
Arash memasuki gedung tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Cindy dan Gustav, seseorang dengan gaun indah dan wajah yang cantik mencolok melambaikan tangan kepadanya tak jauh dari pintu aula resepsi, dia adalah Alexa.
Arash dan Alexa masuk, Alexa mulai menggandeng lengan Arash, tiba tiba Arash tersentak. "Apa apaan ini?" ia menoleh ke arah tangannya dengan tatapan tak suka.
"Kali ini saja, tolonglahhh" bisik Alexa dengan tatapan memohon.
"Hahhhh!!" mau tak mau untuk kali ini dan terakhir kali ia akan membiarkannya begitu saja.
Mereka berdua menghampiri pasangan pengantin, Alexa merasa puas dengan reaksi pengantin wanita yang tak bisa berkata kata karena pasangan dibawa olehnya jauh di atas standar.
Alexa tersenyum, "Selamat ya Cindy dan Gustav, kalian sangat serasi"
"Te..terimakasih, kalian juga sangat serasi" jawab Cindy. Cindy adalah teman Alexa dari kecil, tapi pertemanan mereka lebih seperti permusuhan karena keduanya sama sama tak mau mengalah dan merasa lebih hebat dari satu sama lain, jika ada kesempatan satu sama lain akan saling merendahkan. Lebih tepatnya rasa iri menjadi pemicu hubungan mereka. Itulah sebabnya Alexa mati matian mendekati Arash demi membuat sahabatnya iri dengannya yang memiliki latar belakang lebih hebat daripada laki laki yang menjadi suaminya.
Setelah merasa cukup puas melihat reaksi pengantin wanita Alexa mengajak Arash duduk di kursi tamu, ia mengambil minuman yang sudah tersedia di atas meja.
"Senangnya.." ucap Alexa tersenyum puas yang tak dihiraukan oleh pria di depannya.
Tiba tiba pandangan mata Arash tertuju pada seseorang, wanita dengan gaun silver panjang mencuri perhatiannya, dia adalah Adinda.
Adinda dan Henry juga berada di tempat itu, mereka duduk tepat di kursi belakang Arash dan Alexa.
Deg, jantung Arash berdebar hebat ketika pandangan mata mereka berdua bertemu. Adinda yang kaget melihat Arash sontak berdiri. Henry melihat ke arah tempat Adinda terpaku.
Apa secepat ini mereka berdua bertemu?.
Arash yang sudah menyadarinya segera bangun. "Ada apa?" tanya Alexa yang melihat Arash tiba tiba berdiri di depannya.
"Aku ke toilet dulu" ucap Arash, ia keluar dari aula terburu buru.
Seperti dugaan Henry, Adinda yang melihat Arash segera mengejarnya dan meninggalkan dirinya seorang diri.
Adinda terus berlari mengejar Arash yang terus menjauhinya. "Tungguuu!! Ashh.. Berhenti dulu!!" Adinda terus mengulangi ucapannya namun Arash sama sekali tak memperdulikannya, dia hanya terus berusaha untuk kabur.
Gedubrakkkk!!! "Ahh!!!" Adinda terjatuh, hillsnya patah dan kakinya terkilir.
Tiba tiba Arash menghentikan langkahnya dan berbalik badan karena menyadari Adinda yang terjatuh, kemudian ia mendekati Adinda mengulurkan tangan dan membantunya berdiri, tanpa ragu ragu Adinda menerima uluran tangan darinya.
"Kamu benar benar Ash kan? Aku nggak berhalusinasi kan?" kata Adinda seraya menatap wajah Arash lekat lekat.
__ADS_1
"Benar, ini aku Adinda"
Adinda tersenyum dengan air mata mengalir, ia memeluk Arash erat erat, "Syukurlah.. Syukurlah kamu sudah sehat dan ada di depanku"
Arash mendorong tubuh Adinda yang memeluknya menjauh, "Adinda, kita bukan lagi suami istri, tolong jaga jarak!" ucapnya tegas.
"Ahh.. Benar juga! Maaf.."
"Jadi, apa yang ingin kau katakan sampai mengejarku seperti ini?" ucapnya dengan wajah dingin.
Adinda kaget dengan ekspresi asing yang di tunjukan olehnya, Arash terlihat sangat marah, tapi ia tak begitu memperdulikannya.
"Sejak kapan kamu kembali? Kau tahu sudah lama sekali aku menunggumu?"
"Bohong!!" ucapan Arash yang kasar membuat Adinda tersentak.
"Aku nggak bohong, aku serius!"
"Ahh..maksudnya kamu menungguku bersama anak dari pria lain? Wah.. Benar benar hebat Adinda!!"
"Ap..apa maksudmu anak dari pria lain? Anak itu--"
"Tunggu.. Pasti ada kesalahpahaman, dengarkan aku dulu--"
"Sudahlah, aku nggak mau berurusan denganmu lagi!! Aku akan menikah dengan orang lain!! Aku akan melanjutkan hidupku tanpamu!! Sekarang aku benar benar membencimu Adinda!!" Arash berbalik badan lalu pergi.
"Tunggu!!! Kamu nggak boleh pergi sebelum mendengarkan penjelasanku!!! Kubilang tunggu!!!" Arash terus menjauh. "Woy!! Arash sialan kubilang berhenti!!! Kembali ke sini sekarang juga atau tidak sama sekali!!!! Arash masih tak bergeming, "Hah! Hah! Baiklah!! Lakukan saja seperti keinginanmu!!! Kamu bilang kamu membenciku!! Aku lebih membencimu!!!" teriak Adinda.
Gedubrakkk!!! Adinda kembali jatuh, itu membuat langkah Arash kembali terhenti, ia menoleh kebelakang, tangannya mengepal begitu melihat Henry merangkul Adinda untuk membantunya bangun.
"Sudah..sudah, jangan menangis" ucap Henry seraya mengusap air mata Adinda dengan sapu tangannya.
"Dasar manusia menyebalkan hiks" gumam Adinda.
Melihat interaksi kedekatan Adinda dan Henry di depan matanya membuat Arash semakin meradang, ia pun segera pergi dari sana sebelum kesabarannya habis dan ingin menghajar laki laki yang menyentuh tubuh Adinda, perasaannya menjadi sangat kacau, perasaannya berbanding terbalik dengan ucapan ucapan kasarnya tadi.
Di dalam mobil Henry terus menerus melirik ke arah Adinda yang duduk di sebelahnya, Adinda hanya terdiam melihat ke arah luar, Henry sangat mengerti perasaan Adinda, bagaimana dia tak terluka, selama ini ia sangat menunggu dan menantikan momen pertemuan kembalinya dengan laki laki itu, tapi begitu bertemu ia malah diperlakukan seperti sebuah kotoran.
Henry tersenyum tipis.
__ADS_1
Ternyata kekawatiranku sia sia, Arash bahkan tak mau mendengarkan penjelasan Adinda sama sekali, dasar laki laki bodoh! Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menjadi lebih dekat dengan Adinda dan Jeje, Adinda harus mulai membuka matanya untuk melihatku, hanya diriku seorang! hanya aku yang tak akan pernah bisa melukai mereka.
Henry menghentikan mobilnya di depan kediaman Atmaja, ia kembali melirik Adinda yang masih terdiam.
"Kita sudah sampai Adinda"
Ucapan Henry membuyarkan lamunan Adinda. "Ahh.. Ternyata sudah sampai, terimakasih Henry" Adinda menatap Henry, wajahnya terlihat sangat sembab.
"Aku yang harusnya terimakasih, dan maaf Adinda, karena kamu menemaniku ke acara pernikahan kamu jadi mengalami hal yang tidak menyenangkan"
"Sudahlah, kau tak perlu minta maaf, karena pada akhirnya pertemuanku dengannya hari ini menjadi jawaban yang pasti"
"Jadi kamu mau bagaimana dengan Ayahnya Jeje?"
"Dia bilang membenciku dan ingin melanjutkan hidup tanpaku, aku bisa apah?" ia tersenyum getir.
Henry menggenggam tangan Adinda "Benar, tadi dia datang bersama Alexa Isnandar, kau lihat dia duduk bersamanya kan?"
"Benarkah? Aku tak memperhatikannya, ternyata ucapannya tadi serius.." Raut wajah Adinda semakin murung.
"Jangan terlalu bersedih.. Jeje akan sangat sedih jika melihatmu seperti ini"
Adinda mengangguk, "Iya, aku mengerti.. Aku akan segera membereskan perasaan ini dan kembali menjadi diriku sendiri, terimakasih Henry, kau memang yang terbaik" Henry tersenyum, ia mengangguk.
"Mau mampir?"
"Nggak, ini sudah malam, oh iya Adinda.. Mampirlah ke Sweet Coffe bersama Jeje sesekali, mulai besok aku akan sering bekerja di sana.."
"Loh?? Bukannya kau sudah kerja di perusahaan Ayahmu?"
"Seperti biasa, aku datang kesana jika diperlukan, aku pergi jika disuruh, seperti itulah hidupku" Henry tersenyum kecut.
"Jangan berkecil hati, semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu"
"Benar Adinda, kata kata itu juga berlaku untukmu"
Adinda mengangguk lalu turun dari mobil, Henry pun kembali menjalankan mobilnya keluar dari gerbang besar itu.
Bersambung.
__ADS_1