Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Berdamai


__ADS_3

Keesokan harinya Adinda melakukan pekerjaannya seperti biasa, Lina datang bersama kedua pegawai wanita yang baru mulai bekerja hari ini, "Kak, ini Rosita dan Kinanti, kalian sapalah, dia Kak Adinda yang punya Butik ini" Adinda mengangguk seraya tetsenyum.


"Haloo, terimakasih sudah menerima kami" ucap Rosita.


"Ya, bekerjalah dengan nyaman, jika ada yang tidak dimengerti kalian bisa tanyakan padaku atau Lina" jawab Adinda.


"Baik"


Kemudian Lina mulai mengarahkan pekerjaan mereka berdua, sementara Adinda kembali ke meja kerjanya di pojok ruangan, ia masih sibuk membuat desain gaun yang sewaktu waktu bisa ia tawarkan kepada kliennya.


Lina kembali menghampiri Adinda, "Kak, kemarin Kakak bertemu Kak Arash kan? Dia datang saat aku hendak menutup butik jadi aku memintanya menunggu di dalam"


"Iya, aku bertemu dengannya"


"Jadi kenapa Kakak nggak ikut bersamanya? Kukira dia datang menjemput Kakak"


"Aku akan bercerai"


"Apah?? Kakak serius??!! Kenapa?"


"Setelah dipikirkan kami memang tidak cocok, kami dari dunia yang berbeda, jadi.. Aku ingin berpisah dengannya"


"Kakak pasti sulit mengatakannya? Kakak nggak perlu menceritakannya padaku, tapi ingatlah aku akan selalu berada dipihak kakak"


Adinda tersenyum tipis, "Terimakasih"


Anya membuka pintu masuk, "Halo kak Anya, sudah lama Kakak gk kesini" sapa Lina.


"Iya, dimana Adinda?"


"Ada di meja kerjanya, masuklah Kak"


"Oke!"


Anya melangkah menuju tempat Dinda berada dengan ragu ragu, ia masih merasa tak enak hati karena perkataannya kepada Dinda terakhir kali.


"Siapa itu? Masuklah" ucap Dinda yang melihat seseorang di depan pintu kaca ruangan kecilnya.


Anya pun masuk, "Din.." ucapnya dari depan pintu dengan raut wajah tak enak.


"Anya.. Sini duduk, sudah lama aku nggak melihatmu, gimana kabarmu dan Bara?"


Anya merasa lega karena Adinda masih bersikap sama seperti biasanya, "Kami baik, aku datang untuk minta maaf atas perkataanku terakhir kali, ku harap kau mau memaafkanku"


"Itu bukan apa apa.. Kita kan teman, bukannya aku juga sering berkata kasar juga padamu? Sudahlah, itu hal yang lumrah di antara kita, aku cuma sedih karena kamu nggak datang setelah hari itu"

__ADS_1


"Aku merasa bersalah padamu, itu sebabnya aku nggak bisa datang walau ingin, apa kau tahu aku sangat kesepian tanpamu!"


"Hehe, aku lega karena sepertinya kau baik baik saja, apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?"


"Iya, dia berusaha memperbaiki semuanya, namun perasaanku kepadanya sudah benar benar hilang, aku berusaha mencintainya lagi tapi nyatanya aku semakin tertekan"


"Jadi apa yang akan kau lakukan?"


"Aku dan dia sudah bicara dari hati ke hati, memang hubungan ini tak bisa dipaksakan lagi dia juga tak bisa apa apa dan menyarankan kami untuk berpisah secara baik baik, proses cerai kami kembali berjalan Din"


"Jadi begitu.. Bagaimana dengan hak asuh?"


"Dia tak mempermasalahkannya lagi, sepertinya dia sudah mengikhlaskannya, tapi kami sepakat akan terus berhubungan baik demi putra kami, kami akan bertemu sesekali, dia juga memberikan tunjangan yang tak sedikit, dia memberikan kami sebuah rumah yang nyaman di Kota Bogor"


"Bogor? Apa kalian akan tinggal di sana? Kenapa jauh banget?"


"Hehe nggak sejauh itu kali, aku yang menginginkannya, untuk mengganti suasana hati saja, dan disana kebetulan lokasinya bagus untukku membuka klinik perawatan gigi"


"Syukurlah kau kelihatan bahagia, ternyata aku juga salah menilai Kak Donny, meskipun dia salah tapi dia cukup bertanggung jawab, aku lega mendengarnya"


"Iyaa.. Aku datang sekalian ingin berpamitan, Bara juga akan mulai masuk sekolah dasar di sana"


"Baiklah, meski berat berpisah dengan kalian tapi aku menghormati keputusanmu, kuharap kau bisa hidup bahagia sesuai keinginanmu"


Anya memeluk Dinda erat erat, "Terimakasih Din, tapi.." Anya menyentuh dahi Adinda, "Kamu demam ya?"


"Kamu pucat Din! Ayoo aku antar ke rumah sakit!"


"Aku bisa sendiri, ini hanya demam biasa, kau pasti sibuk menyiapkan pindahanmu kan?"


"Tapi sebentar aja nggak masalah!"


"Nggak, aku akan periksa sendiri!"


"Dasar! Nggak ada yang bisa mengalahkan keras kepalamu itu! Tapi beneran kamu harus ke Dokter!"


"Iya iya! Sini peluk dulu dan pergilah Anya!" Adinda membuka lebar tangannya.


Anya pun memeluknya, "Ku harap kau juga bahagia bersama Arash Din" Adinda terdiam, sayangnya ia rasa harapan Anya tak akan terwujud.


"Iya, tentu saja aku akan sangat bahagia.." Adinda tak ingin mengatakan masalahnya kepada Anya yang baru saja terlepas dari beban berat di pundaknya.


"Datanglah sesekali.. Aku akan memberikan perawatan gigi gratis khusus untukmu!!"


"Kamu sudah janji yaa??!!"

__ADS_1


"Iya!!"


.


Malam harinya Arash mulai melihat ke sekitarnya sebelum akhirnya masuk ke butik Adinda, kebetulan saat itu Adinda sedang bersiap mengunci pintu.


"Adinda.." ucap Arash begitu melihat Adinda.


"Ada apa lagi? Aku sudah mau mengunci pintu"


"Yasudah, kunci saja sana!" Arash masuk lalu duduk dengan santainya.


"Iya, makannya kamu keluar sana!"


"Aku mau disini!"


"Mau apa?"


"Mau bersama istriku!"


"Aku bukan istrimu!"


"Hahhh.. Adinda, sudah dong marahnya, semuanya sudah berlalu kan? Apapun itu aku tak akan melepaskanmu, kamu istriku dan akan selamanya begitu!"


"Bukannya kamu ingin cerai? Bukannya kamu tak ingin melihatku? Kenapa membuatku bingung?!"


"Siapa bilang?"


"Kamu!!"


"Aku nggak pernah bilang itu selama aku masih waras!"


"Di rumah sakit, Ibumu menyuruhmu menceraikanku dan kau mengiyakannya!! Apa itu berarti kamu sudah nggak waras?"


Arash terdiam sejenak berfikir, ia tersenyum begitu mengingatnya lagi, "Hehe, rupanya kamu menguping Adinda?"


"Nggak nguping! Cuma denger!"


"Sama aja! Tapi kamu pasti nggak denger semuanya sampai selesai kan? Biar ku selesaikan ucapanku, Aku akan bercerai dengannya.. Itu jika Adinda memang bersalah, tapi Adinda nggak ada hubungannya dengan kecelakaan itu, itu hanya kecelakaan yang nggak di sengaja! Jadi karena itu kamu mengatakan tentang cerai? Hehe"


"Jangan ketawa!! Menjengkelkan!"


"Hehe, aku lega karena kesalahpahaman ini terselesaikan, dan mengapa dulu aku meninggalkanmu kamu pasti penasaran?" Adinda mengangguk, "Aku pergi karena merasa bersalah kepada Mama, aku melakukan semuanya untukmu tapi tak adil untuk Mama yang tersiksa karena kehilangan orang yang dicintainya dan hidup dalam berbagai tekanan, aku sadar tapi aku tetap tak menyesali keputusanku itu, aku pergi karena tak yakin bisa melihatmu bersama dengan pria lain setelah aku memutuskan hubungan kita karena perasaan bersalah itu, Yang paling penting adalah Mamaku bisa melakukan apapun kepada seseorang yang sudah ia incar, kau tak akan menyangka apa yang akan dilakukannya untuk mengusikmu jika tahu tentang kebenarannya, Ibuku sangat berbahaya, meski begitu tetap saja aku tak bisa melupakanmu, makanya setelah bertemu kembali tanpa sadar aku terus melewati batasan yang kubuat sendiri dan semakin serakah, maafkan aku Adinda"


"Aku yang seharusnya minta maaf, tapi apa kamu akan menentang Ibumu sendiri?"

__ADS_1


"Aku akan menghadapinya asal bersama denganmu"


Bersambung.


__ADS_2