
Arash terus menarik tangan Adinda sampai mereka berada di tempat parkir dimana mobil Arash berada, Arash membuka pintu mobil lalu membuat Adinda masuk ke dalam sana, raut wajah Arash saat ini terlihat begitu kacau.
Mobil pun berjalan sampai keluar gedung, seorang Security menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan.
"Apa lagi sih!!" Arash berdecak kesal karena ia pikir Security itu mengganggu jalannya.
"Berhenti dulu, itu koperku" kata Adinda menunjuknya, Arash pun berhenti, ia membuka sedikit jendela di sampingnya.
"Masukin!" perintahnya seraya membuka bagasi mobilnya, Security itu mengangguk.
Brakk!! Begitu suara bagasi tertutup Arash segera menjalankan mobilnya kembali, ia tak memberi kesempatan Adinda yang sudah membuka jendela untuk berterimakasih karena Security itu sudah menjaga barangnya.
Adinda menoleh ke arah Arash, wajahnya masih kaku dan rahangnya semakin mengeras. "Maafkan aku" kata Adinda membuat Arash mengernyit.
"Jangan sekalipun minta maaf atau menundukkan kepalamu jika kamu tak bersalah!!!" bentaknya. Adinda hanya terdiam. "Aku.. Aku yang seharusnya minta maaf, aku membuatmu terlibat dengan kekejaman Ibuku, apa yang harus kulakukan agar dia berhenti? Rasanya aku sudah tak tahan melihatmu menderita begini" Arash memegangi pelipisnya dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya masih memegang kendali stir. Adinda masih terdiam, ia tak tahu bagaimana menghadapi pertanyaan itu. "Haruskah kita berpisah saja seperti keinginannya agar dia puas?!"
"Aku nggak papa" ucapnya membuat Arash menoleh ganas.
"Bagaimana mungkin kau nggak papa setelah semua ini? Adinda apa kamu pikir aku buta?"
"Apapun itu kita sudah berkomitmen akan bersama, kita hanya perlu menghadapinya bersama"
"Kita berdua terlalu naif! Haruskah kita kabur saja ke tempat yang jauh?" Tiba tiba ide gila merasuki pikiran Arash dan membuatnya menggebu gebu. "Benar, ayo kita pergi jauh dan hidup tenang!!"
"Kamu pikir cara itu efektif? Benarkah Ibumu tak akan menemukan kita? Bisa bisa kita hidup dengan perasaan gelisah seumur hidup seperti seorang buronan"
"Hahhhh!!!! Aku benar benar membenci ini!! Sialan!!"
"Kita mau kemana?"
__ADS_1
"Entahlah.." Arash beberapa kali melirik ke belakang melalui kaca spion, ada dua mobil hitam yang terus mengikutinya. "Sialannn!!!"
"Sudahlah, nggak ada gunanya kamu marah, tenangkan dirimu dulu! Ayo ke tempat yang tenang"
"Adinda, kencangkan sabuk pengaman!"
"Apa? Kenapa?" Adinda kaget melihat Arash dengan raut wajah serius sekaligus gelap, namun ia tetap menuruti perintahnya.
"Mobil di belakang sepertinya ingin menghentikan kita"
"Apah?" Adinda menoleh ke belakang, Mobil mereka sudah mengebut hampir menyalip Mobil Arash, namun Arash segera menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh dan berhasil membuat jarak.
Mobil mereka mulai memasuki jalanan terjal ke atas, entah di mana mereka berada, Adinda tak yakin tapi setelah perjalanan lebih dari sejam sepertinya kini mereka berada di pegunungan daerah Bogor.
Arash masih terus fokus mengamati Mobil yang masih membuntutinya, benar benar sulit mengelabui para profesional itu, ia yakin jika mereka tertangkap saat itu juga akan lebih berbahaya bagi Adinda.
"Hati hati" Adinda memperingati Arash yang mulai hilang kendali.
Ckiiitttttt!!!!! Suara mobil tercekat terdengar menggema dan mengerikan di telinga Adinda. Tubuh mereka mulai terhuyung ke sana kemari membentur sisi mobil, Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain pasrah, ia pikir mungkin inilah akhir dari kehidupannya yang penuh kesialan bertubi tubi, dalam situasi itu Adinda masih berharap agar laki laki di sampingnya baik baik saja.
Braaakkkkkk!!!! Pada akhirnya Arash memilih menabrakkan mobil yang sudah hilang kendali itu ke sebuah pohon besar agar mobil tak jatuh ke sungai besar di sebelah sisi bawah jalan.
Seketika pandangan mata Arash kabur, darah dari kepala mulai mengucur membasahi sebagian wajahnya, saat itu ia sangat ingin memeriksa keadaan Adinda di sampingnya tapi kepalanya tak bisa digerakan sesuai ke inginannya, "Adindaa.." ucapnya lirih dengan nada sedikit merengek sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Tak berapa lama dua mobil ambulans tiba di tempat yang sudah di kerumuni orang orang di jalanan yang hanya muat 1 mobil, dilihat dari kerusakan mobil di tempat kejadian itu adalah kecelakaan parah di bagian sisi kanan.
Mariana, Andy dan juga Denis berada di depan ruang ICU tempat Arash masih di rawat secara intensif, Andy dan juga Denis duduk menunggu dengan tenang sementara Mariana terus berdiri menatap pintu ruangan dengan tatapan kawatir dan panik yang luar biasa.
Mujin tiba disana, mendekati Denis.. "Bagimana keadaan mereka berdua?" tanyanya.
__ADS_1
"Pak Arash masih di dalam sini tapi Nona Adinda sudah di pindahkan ke ruang rawat" jawab Denis.
Mariana menoleh ke arah Mujin, "Untuk apa kau datang? Kamu pasti merasa lega karena Putraku masih terbaring tak berdaya di dalam sana! Apa kamu mau menertawakan aku sekarang?"
"Kenapa anda malah melampiaskan amarah kepada saya Ibu Mariana? Apa sebenarnya kesalahan saya? Bukankah penyebab kecelakaan ini adalah keegoisan anda sendiri?"
Wajah Mariana semakin gelap dan suram, "Dasar anak haram tak tahu diuntung! Beraninya kamu menyalahkan aku?! Ibu dan anak sama sama tak tahu diri, bisanya menyalahkan orang lain! Sejak awal aku tahu kamu memiliki maksud buruk kepadaku dan Arash karena kau menganggap kami adalah penyebab utama kemalanganmu dan Ibumu, padahal jelas jelas aku yang paling dirugikan! katakan padaku apa sebenarnya keinginanmu dengan datang kepada kami seperti ini? Aku menahan tingkah lakumu selama ini karena---" Mariana terhenti tak melanjutkan ucapannya, di sana Andy melirik Mariana yang hampir mengatakan sesuatu yang kira kira ia tahu apa itu.
"Kenapa anda berhenti? Teruskanlah..biar semua orang mengetahui siapa anda sebenarnya, Bahkan aku tak melakukan apa apa meski ingin! Apa anda tahu yang terjadi kepada Putra anda adalah karma untuk anda Ibu Mariana!!! Benar, aku datang untuk tertawa di tengah tengah kemalanganmu ini, tapi entah mengapa dahagaku belum juga terpenuhi jika belum melihat anda menangis darah"
"Hahhh" Mariana hanya diam karena sudah sangat lelah dan muak meladeni Mujin. Mujin pun pergi dari sana dengan langkah cepatnya.
"Pak Andy, bagaimanapun juga cari cara agar anak haram itu menjual saham perusahaannya padaku, aku tak peduli meski harus menggunakan kekerasan atau sesuatu yang ilegal"
"Saya mengerti" jawab Andy menunduk.
Tiba tiba Adinda muncul dengan pakaian rumah sakit dengan infus yang terpasang di lengannya, perban besar menutupi sebagian dahinya dan juga satu sisi pipinya lebam kebiruan, ia berjalan sambil mendorong tiang infus itu sendiri kearah Mariana yang berdiri membelakanginya di depan pintu.
"Ba..bagaimana keadaan Arash.." tanya Adinda ragu ragu, sontak membuat semua orang di sana terperangah menoleh ke arahnya bersamaan, tak terkecuali Mariana yang sedang terbakar amarah bercampur kawatir.
Mariana berjalan dua langkah ke hadapan Adinda dengan tatapan mata yang seolah akan menghabisinya, kaki Adinda pun refleks mundur selangkah.
PLAKKKKK!!!"
Satu tamparan itu membuat Adinda jatuh tersungkur ke lantai, darah Adinda menetes ke lantai karena selang infus yang tertarik lepas dari lengannya secara tiba tiba dan sedikit merobek kulitnya.
Denis segera berlari membantu Adinda berdiri.
"Berani beraninya kau muncul di hadapanku!! Seharusnya kau saja yang terbaring di dalam sana! Kenapa? Kenapa Putraku yang harus menanggung kesialanmu!! Kenapa kau dan orang tuamu melakukan ini pada keluargaku??? Apa kesalahan mereka!!!" Mariana mendekatinya lagi, kedua tangannya mencengkeram pundak Adinda dan menggoyang goyangkannya. "Katakan apa kesalahan kami!!!!" Mariana merasa sangat kalut, ia terus mengulangi perkatannya di hadapan Adinda seraya terisak pilu, sedangkan Adinda hanya terdiam dengan air mata yang mengalir deras.
__ADS_1
Bersmbung.