
3 bulan yang lalu..
Arash membuka mata setelah tidur panjangnya, ia melihat langit langit di ruangan itu, seketika ia teringat kecelakaan yang menimpanya dan Adinda, kemudian matanya beralih ke sekelilingnya, tak ada siapapun di sana, ia sendirian. Batinnya bertanya tanya bagaimana kondisi Adinda? Ia pikir ia harus segera bangun dan menemuinya.
Arash mencoba menggerakan tangannya yang terasa sangat berat.
Apa aku menjadi cacat? Tidak mungkin!.
Arash terus berusaha menggerakkan tangannya keatas dan setelah peluh membasahi keningnya akhirnya ia berhasil.
Tiba tiba seseorang masuk ke dalam ruangan, itu adalah orang yang baru pertama kali di lihatnya, orang asing dengan rambut pirang.
Orang itu mendekat, ia terkejut melihat Arash yang sudah membuka matanya, kemudian orang itu segera mengambil ponsel di sakunya lalu menghubungi seseorang dengan ekspresi girang, orang itu berbicara dalam bahasa inggris.
Setelahnya Dokter dan perawat mulai memeriksa keadaan Arash, begitu melihat Dokter dan Perawat akhirnya Arash menyadari bahwa saat ini ia sedang berada di luar negri.
Namun pikiran Arash terus menerus terfokus dengan Adinda, tapi tak ada seorang pun yang bisa ia tanyai di sana tentang keberadaan dan keadaannya.
Setelah berbincang dengan perawat ia akhirnya mengetahui bahwa dirinya tertidur selama 4 tahun lamanya betapa terkejutnya Arash mendengarnya, itu karena ia merasa bangun setelah satu hari. Perlahan Arash mulai menelaah situasinya dengan tenang.
Keesokan harinyaa Mariana berjalan di rumah sakit tempat Arash di rawat dengan tergesa gesa, karena setelah sekian lama penntiannya tak sia sia akhirnya Putranya bangun setelah 4 tahun lamanya.
Cklaaakkkk! Mariana membuka pintu, ia melihat Arash sedang duduk menyandar di atas tempat tidur, raut wajahnya tersenyum amat bahagia, ia menghampiri Arash lalu memeluknya.
"Mama yakin kamu akan bangun" kata Mariana dengan wajah haru.
"Bagaimana dengan Adinda?"
Pertanyaan Arash membuat Mariana melepaskan pelukannya, wajahnya seketika berubah menjadi masam.
"Lupakan wanita itu! Bahkan selama 4 tahun ini dia sama sekali tak mencoba mencari tahu kabarmu!"
"Bukan karena Mama menghalanginya?"
"Kamu nggak akan percaya dengan ucapan Mama kan? Mama sudah tahu kau akan seperti ini!"
Mariana membuka tasnya, ia mengambil sebuah amplop coklat lalu menaruhnya di tangan Arash.
__ADS_1
Arash pun membukanya, betapa terkejutnya ia melihat 4 lembar foto potret Adinda bersama dengan seorang anak gadis kecil, lalu Adinda yang sedang tertawa bersama keluarganya, potret ke 3 Adinda yang tersenyum berhadapan dengan Henry dan terakhir foto Adinda bersama Henry dengan Anak kecil di tengah tengah mereka.
"Apa ini!!!" Arash meremas foto foto itu lalu membuangnya ke lantai.
"Itu Adalah bukti bahwa Adinda sudah memilih pria lain disaat kamu masih berjuang untuk hidup disini!! Sejak awal dia langsung menandatangani surat perceraian begitu di sodori surat cerai oleh Denis!"
"Pasti Mama mengancamnya kan? Aku yakin Mama sudah menakut nakutinya!!"
"Aku bahkan tidak pernah muncul di hadapannya!! Terserah kau saja!! Intinya sekarang kau tak memiliki hubungan apapun dengan wanita pembawa sial itu!!"
"Hahhh!!" Arash tiba tiba memegangi pelipisnya.
"Jika masih tak percaya silahkan nanti kamu lihat sendiri saja! Untuk itu kamu harus pulih terlebih dahulu!"
Arash terdiam, ia menenangkan dirinya.. setelah hari itu ia rajin melakukan terapi agar tubuhnya bisa segera digerakkan sepenuhnya, Mariana selalu mendampinginya meski Arash terus saja mengacuhkannya.
Sampai satu minggu setelah itu Arash dan Mariana tiba di bandara Soekarno Hatta, jakarta.
Ia berjalan dengan kecepatan penuh dengan mendorong koper bawaannya, ia meninggalkan Mariana dan pergi dari sana sendirian.
Namun langkahnya tiba tiba terhenti, senyumannya menghilang begitu melihat seorang anak gadis menghampiri Adinda lalu disusul oleh seorang pria yang wajahnya tak asing baginya keluar dari rumah, dia adalah Henry.
Petugas Security yang berjaga di pos depan mulai menghampiri Arash untuk menanyakan keperluannya karena sudah di perhatikan cukup lama.
"Ada keperluan apa Pak?" tanya Security begitu mendekat.
"Tidak!" Arash segera berbalik badan lalu pergi dari sana.
Ia pikir ia sudah terlambat, hatinya sakit melihat Adinda yang tersenyum bahagia dan senyum itu bukanlah ditujukkan untuk dirinya.
Setelah hari itu Arash masih belum menyerah, ia terus diam diam memperhatikan Adinda dari kejauhan, namun ada saja halangan jika ia ingin mendekatinya dan menanyakan langsung tentang kebenarannya, yang ia dapat adalah rasa sakit melihat Adinda bersama orang lain.
Suatu hari ia mendatangi Denis di rumanya, meminta agar Denis kembali bekerja untuknya, namun ia hanya mendapat penolakan, Denis sudah bekerja di tempat lain. Saat itu Arash benar benar merasa sendirian di dunia yang luas ini dia tak memiliki seseorang yang memihaknya, perasaan rumit mulai dirasakannya dan semakin bertambahnya hari perasaan itu berubah menjadi rasa benci.
***
Arash berdiri di roftop di Hutama'S Hotel, perlahan ia menghisap rokok di tangannya seraya menenangkan diri melihat bintang bintang yang berkelip di malam hari yang sangat cerah.
__ADS_1
Selama ini ia tak pernah merokok karena Adinda membenci pria perokok, seperti sebuah pelampiasan karena kini ia hidup tanpa Adinda akhir akhir ini ia mulai kecanduan rokok.
Arash melihat jam yang melingkar di lengannya, ia teringat malam ini adalah janjiannya bertemu dengan seorang wanita pilihan Ibunya, bukan sembarang wanita, wanita itu adalah putri dari seorang tokoh politik terkemuka di indonesia, bukan tanpa alasan Ibunya ingin dirinya menikahinya.
Awalnya Arash sangat menolaknya tapi karena sebuah kemarahan dalam hatinya ia memutuskan akan menerima perjodohan itu, karena ia pikir itulah cara untuknya melanjutkan hidup dan melupakan Adinda.
Arash berjalan memasuki restauran di Hutama's Hotel, tampak seorang wanita cantik dan Anggun sudah duduk di pojok ruangan dengan memandang keluar. Itu adalah kursi favorit biasa Adinda duduk, mengapa harus disana?.
Arash melanjutkan menghampirinya setelah mengusir pikiran pikiran tentang Adinda.
Ketika Arash sampai dihadapannya, wanita itu menoleh ke arahnya dengan wajah tersenyum, Arash terkejut melihatnya, dia adalah Alexa Isnandar, seorang aktris yang pernah menggemparkan media karena percobaan bunuh dirinya di Hutama's Hotel.
"Haloo apa kabar Tuan Arash?" ucapnya.
"Kenapa kau disini? Jangan jangan kau orangnya?"
Alexa mengangguk, "Benar, saya adalah orang yang di jodohkan dengan anda, selama ini saya menjadi aktris dengan menyembunyikan identitas asli saya. Berkat bantuan anda dulu kini hidup saya lebih tenang karena sudah keluar dari dunia keartisan yang berisik, anda tahu kan? Saya memilih menerima perjodohan ini karena orangnya adalah anda?"
"Apa maksudmu?"
"Saya cukup tertarik dengan anda sejak pertama kali kita bertemu!"
"Kau tahu aku sudah pernah menikah?"
"Tentu, dan saya juga tahu sekarang anda sudah bercerai!!"
"Padahal anda bisa mencari pria lain yang lebih layak, kenapa kau tertarik padaku?"
Wanita itu tersenyum, "Karena wajah tampan anda!!"
"Hei!! Aku serius!"
"Hei!! Aku sangat serius tuh, jadi kapan kita akan menikah?"
"Apah???" tiba tiba Arash tersentak mendengar ucapan tak terduganya.
Bersambung.
__ADS_1