Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Sosok asing


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu darinya!" ucap lantang seorang pria tinggi kurus memakai mantel hitam berusia akhir 70 an yang membawa tongkat di tangannya, dibelakangnya terlihat seorang pria berpawakan tinggi besar memakai setelan jas rapi dengan kacamata beningnya.


Mariana melepaskan tangannya, ia tersentak melihat orang yang sudah sangat lama tak di temuinya itu. "Kenapa anda ikut campur Pak Dewangga Ady Atmaja? Silahkan abaikan saja kami!!" jawab tegas Mariana dengan raut wajah tak suka.


"Kau sudah menyakiti cucuku, bagaimana mungkin aku diam saja!"


Sekali lagi Mariana tersentak, "Apa anda bilang?"


Bukan cuma Mariana yang terkejut dengan pengakuan pria tua itu, Adinda pun tak menyangka orang yang tak pernah menampakkan wajah di depannya itu tiba tiba datang seperti pahlawan kesiangan.


"Benar, Adinda ini adalah cucu perempuanku satu satunya, jadi mulai sekarang berhenti mengganggunya atau aku akan benar benar mengambil tindakan keras kepadamu!" katanya dengan sorot mata dingin. "Jangan kira aku tak tahu apa saja kelakuanmu sejak kau menduduki kursi Ayahmu!"


"Memangnya jika anda tahu anda mau apa?" Mariana dan Dewangga saling bertatapan dengan penuh kebencian bagaikan singa tua dan harimau ganas yang menunjukkan taringnya masing masing siap menerkam satu sama lain.


"Kamu benar benar menantangku? Nak, kamu bukanlah lawan yang sebanding denganku, berjanjilah kau tak akan mengganggunya lagi maka aku akan melupakan semuanya, ini adalah demi kebaikan bersama"


Mariana terdiam sejenak, tak ada untungnya jika terlibat dengan orang tua yang dulunya selalu menjadi pusat kecemburuan Ayahnya itu, tiba tiba Mariana terpikirkan sesuatu untuk mengakhiri hubungan Putranya dengan Adinda.


"Bawa pergi cucu anda dan jangan pernah kembali ke hadapan keluarga saya, maka saya akan bersedia mengalah untuk kali ini saja"


Dewangga meminta Sekretarisnya membawa Adinda kembali ke ruang perawatan dengan isyarat matanya.


"Ingatlah janjimu!" Dewangga pergi menyusul Adinda dan Asistennya.


Ketika Dewangga masuk Adinda sedang ditangani oleh Dokter karena lengannya terluka dan ia baru saja siuman dari pingsan, disana Adinda hanya terdiam dengan tatapan kosong, Dewangga pun memutuskan duduk menunggu di kursi tunggu di luar ruangan bersama Asisten pribadinya Budi.


"Anda tidak boleh banyak bergerak terlebih dahulu Nona Adinda, anda baru saja mengalami kecelakaan serius, apalagi anda sedang mengandung" ucapan Dokter seketika membuat Adinda tersentak.


"Anda bilang mengandung?" Adinda benar benar tak percaya, ia pikir barusan ia salah dengar.


"Benar, kelihatannya anda baru tahu ya? Kapan terakhir kali anda selesai datang bulan?" ucap Dokter wanita itu.

__ADS_1


Adinda tampak berpikir, "Bulan lalu tanggal 25 "


"Baik, berarti kandungan anda baru memasuki 3 minggu, untuk lebih jelasnya lebih baik dilakukan USG, di masa masa kehamilan ini anda harus berhati hati dan hindari stress"


"Ya, terimakasih Dokter" ucapnya ragu ragu.


"Baik" Dokter itu pun berjalan keluar dari ruangan.


Dewangga dan Asistennya masuk ke dalam ruangan, ia berjalan dan berhenti di sisi ranjang Adinda. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kata Dokter?" suara yang terdengar asing itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Adinda menatapnya dengan tatapan ketegasan, "Kenapa anda datang kemari tiba tiba?"


Sejenak Dewangga terdiam, ia sudah menduga kemunculannya tak akan mendapat sambutan baik dari cucu yang selama ini diabaikannya.


"Aku tak akan berdalih atau membuat alasan, maaf..aku benar benar minta maaf" katanya dengan kepala menunduk.


Adinda hanya terdiam tak bereaksi, "Kalau begitu istirahatlah, aku akan mengirim orang untuk menjagamu" Dewangga pun berjalan ke arah pintu.


"Mengapa baru sekarang..." ucapan Adinda membuat langkah Dewangga terhenti. "Kemana saja anda selama ini? Bahkan anda tak mau melihat wajah Ibuku untuk terakhir kalinya, apa baru sekarang amarah anda mulai mereda? Bukankah sudah terlalu terlambat?" seketika Adinda menjadi emosional.


Budi mendekati Adinda, "Nona Adinda, maaf jika saya ikut campur, Sudah 12 tahun saya bekerja dengan Pak Dewa, Nona harus tahu, selama ini Pak Dewangga selalu memperhatikan anda dari jauh setelah kematian Bu Nabilah, beliau bahkan pergi ke pemakaman pada hari itu namun tidak muncul di hadapan anda, Kakek anda sangat bersedih dan menyesal, dia juga menderita sudah mengusir Bu Nabilah. Kalau begitu saya permisi, kita akan segera bertemu lagi." ucap pria berusia 40 tahunan itu.


Adinda terdiam, Ia cukup terkejut dan belum merasa siap, Sejak ia lahir ia tak pernah bertemu dengan Kakeknya karena Kakeknya memutuskan hubungan sepihak dengan Nabilah karena dia tak merestui hubungan putri bungsunya dengan pria dari keluarga biasa dan seorang supir taxi yang bekerja di perusahaan taxi miliknya dan menolak pria yang sudah dipilihkan olehnya.


Ketidakhadirannya membuat Adinda melupakan fakta bahwa dirinya masih memiliki keluarga dari pihak Ibunya, bahkan Arjuna tak tahu menahu tentang mereka.


Dewangga Ady Atmaja adalah pebisnis sukses yang memiliki perusahaan transportasi taxi yang sudah menjamur di beberpa kota di Negara ini, selain perusahaan transportasi ia juga memiliki perusahaan fashion Merk ternama yang dulunya dikelola oleh mendiang istrinya.


Dewangga memiliki 1 anak laki laki bernama Rakka Ady Atmaja yang kini sudah menggantikan posisi Ayahnya di Perusahaan pusat di kota jakarta selatan dan 2 orang anak perempuan yaitu Karina Ady Atmaja dan Nabilah Ady Atmaja.


Adinda berbaring dengan melihat ke atap langit langit ruangan putih tanpa noda sedikitpun, hari ini adalah hari yang sangat berat untuknya, rentetan kejadian terus membuatnya terkejut, lemas dan pusing, mulai dari Arash yang sampai saat ini belum juga sadarkan diri hingga amukan dari Mariana, lalu dirinya yang dinyatakan hamil di tengah kacaunya situasi saat ini, ia tak tahu haruskan ia merasa senang atau sedih yang jelas ia tak merasa bahagia seperti orang orang pada umumnya setelah dinyatakan hamil dan juga kemunculan orang yang tak pernah disangka sangka membuatnya syok bukan main.

__ADS_1


Di tengah tengah lamunan yang berkepanjangan seseorang masuk ke ruangan rawat, dia adalah Mujin, dia berjalan mendekat dengan bibir tersenyum.


"Adinda,kamu kelihatan sangat pucat, bagaimana? Apa ada yang sakit?" Mujin duduk di kursi samping tempat tidur.


Adinda menggeleng pelan, "Syukurlah kamu baik baik saja, barusan aku lihat Arash juga sudah di pindahkan ke ruang rawat"


"Apa dia sudah sadar?"


"Belum, sepertinya dia butuh waktu lebih lama untuk bangun, itu wajar karena kepalanya terluka parah"


Adinda semakin murung, "Apa nggak ada yang menemanimu disini? Sepupu kamu nggak tahu kamu disini?"


"Iya, aku sengaja tak mengabarinya agar mereka tak perlu kawatir.


"Bolehkah aku menemanimu disini?"


"Aku sendirian tak masalah Mujin, terimakasih"


"Apa kau yakin?"


Tok tok.. Seseorang kembali mengetuk pintunya, seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Adinda muncul dan mendekati Adinda.


"Halo Nona Adinda, perkenalkan nama saya Tira, saya diutus oleh Pak Dewangga untuk menjaga dan mengurus keperluan anda di rumah sakit, lalu Pak Dewa meminta anda dipindahkan ke ruangan VVIP jika anda setuju" ucap wanita itu dengan senyuman ramah dan hormat.


"Tolong sampaikan padanya, aku berterimakasih, aku akan tetap berada di ruangan ini dan aku bisa mengurus diriku sendiri, kau bisa kembali"


"Ta..tapi..Baiklah, saya akan menuruti keinginan anda tapi tolong biarkan saya disini melakukan pekerjaan saya Nona, saya mohon.." raut wajahnya terlihat putus asa.


"Ya.. Baiklah, lakukan saja sesukamu. "


"Terimakasih Nona, asal anda tahu betapa berharganya pekerjaan ini bagi saya dan anak saya yang masih balita" ia tersenyum.

__ADS_1


Adinda kembali terdiam, ia mengusap perutnya pelan, Adinda bertanys tanya apa nantinya ia bisa tersenyum sendu sepertinya jika mengingat anaknya sendiri?


Bersambung.


__ADS_2