Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Memulai kembali


__ADS_3

Di ruang kerjanya di hotel Arash duduk lalu mengambil ponselnya, kemudian meletakkannya kembali, namun ia terus menerus melirik ponselnya yang tak juga bergeming.


Tiba tiba ponselnya menyala, seseorang memanggil, Arash segera mengangkatnya.


"Haloo Adin---"


"Halo Tuan Arash, saya Andy Ibu Mariana mengajak anda makan siang bersama apa anda ada waktu?"


"Oh Pak Andy, saya pikir siapa"


"Apa anda sedang menunggu telefon orang lain? Ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak tidak, tadi anda bilang Mama saya mengajak makan siang?"


"Benar"


"Ada apa ya? Kok tiba tiba, Mama bukan orang yang akan mengajak putranya makan siang bersama diluar rumah"


"Saya tidak tahu tapi akhir akhir ini beliau sedikit berubah, beliau lebih santai dari biasanya"


"Benarkah? Apa itu sesuatu yang baik?"


"Tentu saja, baiklah saya sudah reservasi di restaurant jepang di jalan Boulevard Raya, saya akan sms alamat lengkapnya"


"Oke"


Tringgg!!! Pak Andy sudah mengirimi chat, Arash segera beranjak keluar dari ruangannya sembari membawa kunci mobil.


Arash menghentikan mobilnya di depan restaurant jepang, ia masuk ke dalam sana, matanya mengelilingi tempat duduk pelanggan mencari cari keberadaan Mamanya.


Ia mulai mendekat setelah menemukan yang dicarinya, disana Mariana tak sendirian, dia bersama dengan seorang wanita yang tak asing jika dilihat dari belakang, setelah mendekat rupanya wanita itu adalah Adinda, Dinda dan Mariana tampak mengobrol dengan santai, Arash bertanya tanya dalam benaknya, sejak kapan mereka berdua sedekat itu? Disatu sisi ia merasa senang bahwa mamanya menerima Dinda dan memperlakukannya dengan baik namun disisi lain ia berfikir apa itu tak akan menjadi masalah untuk kedepannya?.


Melihat Mamanya yang tersenyum seperti itu membuat Arash segera melupakan kecemasannya.


"Kau sudah datang?" ucap Marina menoleh ke Arash yang sudah berada di hadapannya.


Arash pun duduk "Mama nggak bilang kalau disini sama Adinda"


"Benarkah? Haha.."


"Memang kebiasaan Mama selalu melupakan hal yang terpenting, jadi kenapa Mama meminta makan siang bersama? Apa ada sesuatu yang ingin disampikan?"


"Benar, tapi sekarang kita makan dulu" ucap Mariana, makanan yang sudah di pesan pun berdatangan satu persatu, mereka berdua makan dengan tenang.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan makan Mariana mengusap bibirnya dengan tissu. "Jadi begini Arash, Mama mengajakmu bertemu diluar karena sekarang rasanya tak mungkin membicarakan hal tentang kalian berdua di rumah karena ada orang lain, Mama sudah berbicara kepada Adinda, Mama ingin kalian berdua melakukan pendekatan sebagai pasangan suami istri sungguhan"


Ppppfffttttttt.. Uhuukkk uhuuuuukkkk, Arash yang sedang minum akhirnya tersedak karena mendengar ucapan Mamanya yang tak terduga, Dinda hanya menatapnya canggung apalagi dengan reaksi Arash yang terlihat sangat kaget.


"Maaf Ma, apa aku tak salah dengar??" Arash menyeka mulutnya.


Mariana menggeleng "Tidak, aku yakin pendengaranmu masih normal"


"Kenapa Mama selalu membuat permintaan tak masuk akal sih!"


"Apa yang tak masuk akal? Apa kau tak tertarik dengan Adinda meski kalian sudah menghabiskan malam dalam ruangan yang sama? Apa kau benar tidak normal? Dia cantik baik mandiri pintar, dia sempurna menjadi istrimu"


"Ehemmmm" Dinda hanya berdehem malu dengan pujian yang dilontarkan didepannya terang terangan.


Arash melirik Dinda "Mama membuatnya malu"


"Jadi gimana? Apa kamu tak tertarik dengan Adinda?"


"Bukannya tak tertarik tapi---"


"Oke! Kalau begitu berarti kamu setuju dengan Mama!" ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri dan tak mau tahu pendapat putranya yang ambigu itu.


"Kok Mama seenaknya sendiri!" protesnya.


Arash dan Adinda kompak terkejut "Ngaco banget!! Oke oke akan melakukan keinginan Mama, apa mama puas sekarang? Tapi sebelum itu Mama harus meminta pendapat Adinda terlebih dahulu!"


Mariana tersenyum "Bagus Putraku, tenang saja, Mama tak akan memaksa jika Adinda menolak, jadi bagaimana Adinda?"


Arash dan Mariana menatap Adinda bersamaan membuat Adinda merasa terpojok, apalagi tatapan Mariana yang penuh dengan harapan, reaksi Arash juga seolah penuh kekawatiran jika Adinda akan menolaknya.


Setelah terdiam beberapa saat Adinda membuat keputusan "Baiklah, aku akan mengikuti keinginan Mama"


"Bagus sekali Adinda" Mariana tersenyum seraya menggenggam tangannya, Adinda merasa terharu karena rasanya ia mendapat kasih sayang dari seorang ibu yang sudah lama tak dirasakannya, itulah sebabnya ia tak ingin mengecewakan Mama mertuanya meskipun permintaannya diluar prediksinya.


"Hei Adinda, kamu nggak terpaksa menerima tawaran tak masuk akal ini kan? Sebelumnya Mama tak mengancammu kan?"


Plakkkk!!! Mariana menabok lengan Arash "Aduhhh sakit Maa"


"Kamu anggap Mama apa? Memang saat menawarkan pernikahan Mama sedikit mengancamnya tapi Mama menepati janji dan memperlakukannya dengan baik, Apa Adinda marah padaku dan merasa terpojok?"


"Tidak Maa, aku menganggap Mama seperti Mama kandungku sendiri mana mungkin aku marah padamu"


"Benarkah?? Baiklah Dinda, mulai sekarang kamu adalah putriku, jika Arash memperlakukanmu tak baik kau harus bilang padaku, aku akan membuangnya"

__ADS_1


"Maaaa!!!!" teriak Arash, sedangkan Adinda hanya tertawa dengan candaan Mertuanya itu.


"Karena kalian akan mulai pendekatan hari ini jadi sering seringlah menghabiskan waktu bersama, kalian harus berlibur ke suatu tempat dan mengakrabkan diri, apa kalian setuju?"


Adinda mengangguk "Baiklah, kalian pergilah ke suatu tempat dan habiskan waktu berdua, aku harus kembali ke kantor" Mariana bangun lalu segera pergi dari sana.


Kini tersisa dua orang dengan situasi teramat canggung "Ehemmm..kenapa kau mengikuti keinginan Mama? Bukannya kau masih membenciku?" tanya Arash.


"Kalau kamu kenapa setuju?" tanya balik Adinda.


"Tentu saja karena dia Mamaku, aku lega melihatnya terlihat lebih bahagia akhir akhir ini, aku tak ingin mengecewakannya"


"Jawabanku sama dengan jawabanmu!"


Arash tertegun menatap Adinda dalam dalam, bagaimana bisa ada seseorang yang dengan tulus menyayangi orang asing yang telah membuatnya menikahi orang yang tak diinginkannya.


"Apa kau serius untuk memulai kembali hubungan denganku?" ucapnya canggung.


"Entahlah, aku tak yakin tapi maukah kau dan aku mencobanya? Kita berdua sudah tak lagi muda untuk mencari cinta, cinta bukanlah segalanya, aku merasa nyaman dengan hidupku sekarang menjadi bagian dari keluargamu, kalau kau keberatan dengan pendapatku maka kita hanya perlu berpura pura di depan Mama jadi---"


"Aku tak keberatan, tapi mari kita benar benar mulai dari awal, mari lupakan masalalu kita untuk selamanya" ucap Arash dengan tenang namun penuh perasaan.


"Oke deal!"


"Mama bilang kau tak memiliki kekasih sejak pindah keluar negri, apa itu benar?"


"Ya!" jawabnya tanpa ragu ragu.


"Kenapa?"


"Karena kau!"


"Hei.. Aku tanya serius!"


"Aku menjawab dengan serius"


"Apah??" Adinda terkejut, seketika wajahnya berubah merona. Adinda bngun dari duduknya "Kita harus pergi!" ia berjalan keluar restaurant.


Arash pun menyusulnya "Tunggu!!"


"Sudah lama aku tak melihat ekspresinya yang seperti itu" gumamnya seraya melangkah cepat menghampiri Adinda.


Bolehkah aku sebahagia ini?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2