Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Anak haram


__ADS_3

Adinda duduk terdiam setelah memperhatikan gerak gerik Lina dan tasya karena mereka adalah orang yang bisa leluasa menyentuh gaun gaunnya yang berada di butik, tak ada yang mencurigakan, semuanya tampak seperti biasa. Jika langsung bertanya ia akan menyakiti perasaan mereka itulah sebabnya hingga saat ini Adinda masih belum membicarakan permasalahan gaun.


Tiba tiba Tasya mendekatinya, "Kak..apa ada masalah? Dari tadi aku perhatikan kakak diam saja?"


"Bukan apa apa"


"Eii ayolah cerita sama aku Kak, kudengar kakak mengambil gaun ganti kemarin, apa ada masalah dengan gaun yang udah dipersiapkan?"


Deg, Adinda tersentak, bahkan ia belum bilang kepada Lina, bagaimana Tasya membahasnya lebih dulu?


Adinda mentapnya dengan waspada "Kamu denger dari mana?"


Tasya tersentak, "Eh?? Aku ten tentu saja dengar dari Lina, dia yang memberitahuku Kak, kalau begitu aku mau lanjut membantu Lina merapikan lemari penyimpanan" Tasya pergi terburu buru.


Hahhh..aku tak ingin berprasangka buruk kepada orang orangku sendiri, tapi.. Kenapa dia malah datang sendiri dan mengatakan hal yang mengharuskanku mencurigainya..


"Aku lelah.." Gumam Adinda menyenderkan kepalanya di atas meja.


"Diiinnnn...." Panggil Anya yang baru saja kembali.


Adinda mengangkat kepalanya, "Apa? Kau darimana?" ia menatap penampilan Anya dari ujung rambut sampai kepala yang terlihat formal.


"Dari pengadilan, perceraian kami memasuki proses mediasi"


"Ternyata begitu..kenapa dengan wajahmu yang galau itu? Apa masalahnya?"


"Ahhh aku kesal!"


"Apa masalahnya?"


"Donny bilang tak mau bercerai sekarang"


"Hahh?? Serius?"


"Iya, dia bilang dia menyesal dan meminta rujuk denganku di depan orang orang di pengadilan"


"Wah.. Yang bener saja orang itu!! Emangnya dia pikir setelah ketahuan selingkuh di depan matamu dia bisa kembali hanya karena dia ingin??" Adinda tersulut emosi, kemudian ia menatap Anya yang terdiam. "Kenapa? Jangan bilang kamu mau menerimanya lagi??!!" nada suaranya meninggi.


"Gimana ya Din.."


"Gimana apanya!! Jangan Any, no!!"

__ADS_1


"Aku juga nggak berniat balikan, tapi dia bilang akan menuntut hak asuh Bara, dia menyewa pengacara terkenal, dan posisiku sendiri nggak menguntungkan untuk menang melawannya"


"Aku akan bantu! Apa sekarang juga aku minta bantuan Arash untuk mencarikan pengacara yang lebih handal?" Adinda sudah memegang ponselnya.


"Nggak Din.. Logikanya aku tetep nggak bisa menang karena aku sekarang pengangguran yang nggak punya apa apa bahkan rumah pun aku tak punya"


"Kau bilang akan membuka klinik?"


"Tentu saja itu terlaksana jika Donny memberikan uangnya, Hahhhh.. Aku harus apa Din.. Aku nggak mau pisah sama Bara dan nggak mau membuat hidup Bara sengsara jika ikut denganku yang seperti ini"


"Tenanglah Any.. Ayo pikirkan pelan pelan, intinya aku tetap nggak merestui jika kau dan dia rujuk kembali, titik!!"


"Aku lelah! Aku akan naik ke atas!" Anya pun meninggalkannya.


.


Sampai di ruangan Arash dikejutkan oleh Mujin yang duduk di kursi meja kerjanya, orang itu tersenyum begitu melihat Arash. "Hai Arash, apa yang harus kulakukan hari ini? Sepertinya yang namanya Denis belum tiba"


"Pergilah ke ruanganmu sendiri!" jawab Arash tegas.


"Eheiii.. Baiklah, tapi bisakah kau mengantarku? Aku nggak tahu dimana letaknya"


"Keluar dari pintu belok kiri 2 ruangan dari situ, ada tulisannya Asisten General Manager! Apa kau bodoh?!!" jawabnya dengan kesal.


"Bilang saja kau kerabat jauh Ayahku yang datang dari Korea Selatan! Awas kau kalau bicara macam macam!! Pergi dari sini!!"


"Kenapa kau sangat membenciku?" tiba tiba raut wajahnya berubah serius.


"Apa masih harus ditanya alasannya? Aku membencimu sejak menyadari bahwa kau adalah anak haram Ayahku!!"


"Hemm..padahal aku sangat menyukaimu sejak mengetahui bahwa aku memiliki saudara sepertimu, apalagi saat pertama kita bertemu, kau tersenyum padaku dan aku berusaha menjadi akrab denganmu, saat itu aku sangat bahagia , tapi setelah pertemuan ketiga kau berubah, padahal aku sangat menanti nantikan pertemuan kita, kau hanya peduli dengan perasaanmu sendiri"


"Apa kalau kau berada di posisiku kau tak akan membenci anak haram dari ayahmu?"


"Entahlah.. Bagaimana jika dibalik? Apa yang akan kau rasakan jika menjadi Anak haram yang tak mendapat kasih sayang Ayahnya, hidup dengan Seorang Ibu yang rela meninggalkan keluarganya dan hidup hanya untuk menanti kedatangan satu orang hanya bermodalkan kata cinta? Meski begitu kau memiliki segalanya! Sedangkan aku? Aku harus hidup dengan menanggung beban sebagai anak yang tak memiliki Ayah seumur hidupku!" Setelah mengatakan yang ingin dikatakannya Mujin segera pergi dari ruangan itu.


"Hahhh.. Menyebalkan! Kenapa aku harus mendengar masalahmu? Kau pikir aku peduli dengan hidupmu!!!!!" gumam Arash yang kesal namun di dasar hatinya mulai terusik setelah mendengar kehidupannya selama ini.


Tok tok, suara ketukan membuyarkan lamunan Arash. "Masuk" Denis membuka pintu.


"Kau sudah datang? Apa kau sudah mendengar dari Ibuku?"

__ADS_1


"Sudah Pak" jawab Denis.


"Maafkan aku yang tak bisa memperjuangkan hakmu"


"Ini bukan masalah Pak, saya bersyukur masih bisa bekerja di samping anda"


"Baiklah, sekarang tolong urus orang itu terlebih dahulu"


"Baik"


Sementara seharian ini Arash dibuat semakin risih karena terus menerus melihat wajah Mujin yang selalu membuatnya terbawa amarah, Mujin yang sangat loyal dan pandai bersosialisasi di tempat kerja pada hari pertamanya mendapatkan sambutan yang cukup baik dari semua orang meski awalnya semua orang iri dengannya yang bisa menduduki posisi tinggi karena jalur koneksi tanpa tahu hubungannya dengan pemilik Hutama Grup, Arash semakin jengkel Mujin terlihat sangat berusaha mengambil hati semua orang yang ditemuinya hari ini dengan sifat ramah yang seolah olah dibuat buat itu.


.


Setelah butik sepi dan semua orang sudah pergi Adinda masih duduk sendirian memeriksa cctv yang terpasang di atas lemari penyimpaman butik, ia memeriksa dengan teliti namun di bagian waktu yang dicarinya malah tak ada, seseorang sudah menghapusnya dengan sangat rapi.


"Mau nggak mau aku harus menanyakan padanya kan?" gumamnya.


"Tanya apa?"


"Hahhh!!!!" Adinda yang kaget tiba tiba ada suara di belakangnya, ia berbalik badan, Arash tersenyum menatapnya. "Dasar ngagetin! Sejak kapan kamu disini?"


"Dari tadi..aku diam aja soalnya kamu kelihatan lagi fokus banget jadi aku nggak mau ganggu he he"


"Harusnya bilang kalau sudah datang dong!"


"Harusnya kamu yang bilang kalau nggak bisa datang!!"


Adinda meringis "He he maaf"


"Apa ada masalah? Kamu sedang memeriksa pelaku gaun kan?"


"Iya! Tapi rekamannya sudah dihapus tak tersisa, tapi aku mencurigai seseorang"


"Siapa? Haruskah aku menangkap dan menginterogasinya?"


"Nggak! Ini biar aku urus sendiri, aku bisa"


"Emmm.. Baiklah, katakan kalau butuh bantuan"


"Iya, ayo kita pulang!"

__ADS_1


"Oke!"


Bersambung.


__ADS_2