Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Orang asing


__ADS_3

"Gimana dengan Anya?" tanya Arash tiba tiba memulai pembicaraan begitu mobilnya keluar dari gerbang rumah.


"Gimana apanya"


"Kemarin kamu sampai berbuat kehebohan gara gara wanita itu adalah simpanan suaminya Anya kan?"


Dinda menghela nafas panjang "Hahhhh.. Aku masih sangat kesal sampai tak bisa makan dan tidur"


"Apa kau sefrustasi itu?"


"Tentu saja! Ini menyangkut Anya bukan orang lain, aku bisa merasakan sakit hatinya"


"Aku mengerti"


"Apa yang kamu mengerti?"


"Rasa sakit yang kamu rasakan, aku juga merasakannya sampai sekarang"


"Apa? Kamu pernah diselingkuhin?"


"Aku nggak mau cerita tuh!"


"Dihh aku juga nggak penasaran" Adinda menoleh ke wajah Arash yang seketika menjadi muram, tapi rasanya ia tak memiliki hak untuk bertanya lebih lanjut.


"Kamu tahu kan apa kesalahanmu kemarin?"


"Aku tahu, nggak seharusnya aku membuat keributan, aku terbawa emosi dan berbicara kasar denganmu aku minta maaf untuk itu tapi aku tak menyesal sudah menghajar wanita itu"


"Bukannya kau yang dihajar?"


"Iiihh nyebelin!"


"Kau tahu apa yang paling ku kawatirkan saat kau terlibat perkelahian dengan seseorang?"


"Apa? Nama baikmu?"


"Wanita itu akan mendendam kepadamu dan melakukan hal hal di luar perkiraan, apa kau sudah memikirkan resikonya?"


"Aku tak peduli, yang belum terjadi akan kuhadapi nanti, aku tak takut, tapi sejak kapan kau menghawatirkanku?"


"Aku selalu menghawatirkanmu"


"Apah?" Dinda merasa ia sudah salah dengar.


Arash yang malu dengan ucapannya sendiri segera mengganti topik pembicaraan "Kenapa macet sekali sih, bagaimana kalau mendengarkan musik?"


"Kenapa kau merekomendasikan butikku kepada orang orang yang melakukan reservasi pernikahan di hotelmu?"

__ADS_1


Tangan Arash yang hendak memutar musik berhenti. "Apa kau tak menyukainya? Itu karena mereka meminta saranku bukan aku yang menawarkannya ehemm.." ucapnya canggung.


"Jadi begitu.., aku berterimakasih untuk itu, cuma rasanya sedikit tak nyaman dan mengganjal karena orang itu adalah kamu"


"Ada apa denganku? Kita teman serumah jadi aku hanya ingin berbuat baik padamu tak lebih, kau tak salah paham mengira yang bukan bukan kan?"


"Tentu saja tidak!!" ia mengelak dengan tegas.


Arash pun tersenyum "Baguslah"


.


Setelah mengantar Adinda ke butik Arash mampir ke perusahaan yang dikelola oleh Ibunya.


Sampai di depan ruangan kerja Mariana, Arash berpapasan dengan sekretaris Ibunya yang bernama Andy, pria berusia 40 an yang selama ini membantu pekerjaan Mariana dari dekat.


"Pagi Tuan Arash, saat ini Ibu Mariana sedang kedatangan tamu, saya akan menyampaikan kedatangan anda terlebih dahulu, anda bisa menunggu kan?"


"Tamu? Sepagi ini? Siapa?"


Reaksi wajah Pak Andy terlihat tak tenang dan ragu ragu "Anu.."


Karena tak sabar mendengar ucapan Andy Arash pun langsung membuka pintu sehingga membuat Andy panik.


Kedua orang yang sedang duduk saling berhadapan itu seketika kompak menoleh ke arah Arash, Mariana segera bangun dan menghampiri Arash "Kenapa kau datang? Mama akan menemuimu nanti keluarlah, Mama sedang membicarakan hal penting"


"Kalian pernah bertemu saat berusia 11 tahun?" tanya Mariana yang terkejut mendengar pernyataan pria bernama Lee Mu jin itu.


"Itu kamu ya..apa yang kau lakukan? Mengapa kau menemui Ibuku?" tanya Arash dengan ketus.


"Aku datang kesini untuk mengambil hakku"


"Lee mu jin !! Biar aku saja yang memberitahu Arash, kau pergilah terlebih dahulu" ucap Mariana yang menghawatirkan respon Arash.


"Karena kita keluarga jadi aku akan tetap disini" Mujin kekeh dengan pendiriannya.


"Keluarga katamu?!!" Arash mencengkeram kerah baju Mu jin dengan raut wajah kesal.


"Arash lepaskan dulu, ayo bicara baik baik" bujuk Mariana, Arash pun melepaskannya dengan mendorongnya.


"Kenapa Mama tak terkejut dengan kedatangan orang ini? Apa jangan jangan Mama sudah tahu bahwa Ayah memiliki anak dari wanita lain di negara asalnya?"


"Maafkan Mama Arash, mama tak bisa mengatakannya kepadamu, mama tahu setelah kematian Ayahmu, sejak kapan kau mengetahuinya?Apa sejak kau mulai mengabaikan Ayahmu?" Arash mengangguk, ia tak menyangka ternyata ibunya menyadari perubahan sikap Arash kepada Ayahnya dulu.


"Jadi sekarang apa yang orang ini inginkan sampai datang kesini?" ucap Arash tak suka.


"Orang ini? Panggil aku Hyung! Aku lebih tua tiga bulan darimu" Mujin tersenyum.

__ADS_1


"Persetan!!"


"Duhh, anak anda galak sekali Ibu Mariana"


"Arash dengarkan Mama, mulai hari ini dia akan menetap di jakarta dan akan tinggal bersama kita"


"Apah??!" Arash tersentak tak mempercayai apa yang barusan didengarnya. "Aku nggak setuju, hei kamu! Pergilah ke negara asalmu dan enyah dari hadapan kami!!!"


"Itu tidak bisa Arash" jawab Mariana.


"Kenapa tidak bisa Ma? Apa masalahnya?"


"Itu karena saham milik Ayahmu telah dialihkan kepadanya dan dia memiliki hak atas perusahaan kita secara hukum, pria jahat itu mengalihkannya kepada putranya jauh sebelum dia meninggal, Mujin kehilangan Ibunya dan dia tak memiliki siapapun disana itu sebabnya dia datang kesini, aku menerimanya dengan syarat dia akan menyerahkan setengah sahamnya kepadaku karena dia bilang tak ingin pusing memikirkan perusahaan dan tak akan ikut campur, dia hanya ingin hidup dengan nyaman disini"


"Hahhhhh" Arash merasa frustasi sampai kehilangan kata kata.


"Maaf mama berniat berdiskusi denganmu terlebih dahulu tapi karena tiba tiba Mujin datang jadi mama harus mengambil keputusan ini sendiri"


Arash mengusap kepalanya berulangkali karena kesal dan frustasi. "Apa kau sudah mengerti Adikku?" ucap Mujin dengan percaya diri. Arash pun hanya bisa menerima keputusan yang di buat Ibunya itu.


Arash menatap dalam dalam raut wajah Ibunya yang bersikap seolah tegar, namun ia yakin bahwa perasaan Ibunya sedang kacau. Suami yang dicintainya dengan segenap hati ternyata menghamili wanita sebelum menikah dengannya, bahkan ia mengetahui fakta mengerikan itu setelah mengalami kepedihan karena kematian suaminya, tak ada yang bisa ia salahkan disituasinya, Arash hanya merasa Iba kepada Ibunya yang selalu terlihat kuat dan baik baik saja dari luar.


"Aku harus bertemu klien di luar, mari bicara di rumah nanti, kalau kau tak sibuk antarlah Mujin ke rumah, Mama sudah memberitahu Bi Murni untuk membereskan kamar di samping kamarmu"


Arash kembali tersentak "Kamar di samping kamarku? Bukannya---"


"Kamu tahu maksud mama kan? Bilanglah baik baik sama Adinda saat kau menjemputnya, mama pergi!"


"Maaa!!" Mariana pergi terburu buru karena tak ingin mendengar keluhan Arash yang ia sudah tahu apa yang akan dikatakannya.


Arash menoleh ke arah Mujin dengan raut wajah kesal sedangkan Mujin membalasnya dengan meringis membuat Arash semakin kesal.


"Ikuti aku!"


"Oke adikku hehe"


"Jangan panggil aku seperti itu!!"


"Baiklah" jawabnya santai.


"Jaga jarak dua langkah!!!"


"Oh..oke oke.." Mujin pun dengan sabar menuruti keinginan Arash, ia benar benar mundur 2 langkah.


Setelah mengantar Mujin ke rumah dan menyerahkannya kepada Bi Murni Arash bergegas pergi lagi untuk menyelesaikan urusannya di hotel.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2