
Tengah malam tiba tiba Adinda terbangun, ia menoleh ke arah jam dinding, jam menunjukan pukul 2 dini hari, ia menoleh kesampingnya, Lira tidur terduduk dengan menyenderkan kepalanya di sisi tempat tidur.
Adinda bergerak dengan pelan dan hati hati, perlahan kakinya turun, ia mulai berjalan tanpa alas kaki mendorong tiang infus keluar dari ruangan.
Ia berjalan pelan melewati lorong rumah sakit, tak ada seorangpun, suasana sunyi, langkahnya terhenti ia bersembunyi di balik dinding ketika melihat seorang Pengawal yang ia kenal berrdiri dengan tubuh menyender dinding berjaga di depan ruangan VVIP, tak salah lagi itu pasti ruangan tempat Arash di rawat.
Brukkkkk!!! Tiba tiba Pengawal itu terduduk di lantai sepertinya dia tak sanggup lagi menahan kantuknya, disaat itulah Adinda mulai mendekat, ia melihat dari selah kaca pintu disana Arash masih memakai alat bantu pernafasan dan masih belum juga sadarkan diri, disampingnya ada Mariana yang tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arash.
Adinda benar benar sedih, tak ada yang bisa ia lakukan untuk Arash bahkan hanya berada di sampingnya saja ia tak mampu, tiba tiba Mariana bangun dari sandarannya, Adinda bergegas pergi sebelum Mariana menyadari keberadaannya.
Namun sekilas Mariana melihat Adinda yang beranjak pergi dari balik pintu. Mariana berjalan ke depan ruangan, ia benar benar murka ketika melihat penjaganya malah tidur di sana dan mengabaikan tugasnya.
"Pulang sana kalau mau tidur" ucapan pelan namun tegas Mariana seketika membangunkan Penjaga itu, dia segera berdiri dan memohon ampun.
Sejak ia memergoki Adinda malam itu setiap malam Mariana akan bangun dan ia selalu melihat Adinda muncul di balik pintu mencuri curi waktu di jam jam saat penjagaan melemah.
Sampai 5 hari kemudian seperti biasa Adinda diam diam pergi ke ruangan Arash, tidak ada siapapun yang berjaga di sana, Adinda pikir kali ini adalah kesempatannya menemui suaminya, namun begitu ia mengintip dari pintu ternyata ruangan itu kosong.
Adinda masih berpikir positif, ia kira Arash pindah ke ruangan lain, Adinda pun segera pergi ke tempat perawat berjaga.
"Permisi" ucap Adinda di hadapan seorang perawat yang sedang fokus dengan komputernya.
"Ya? Nona Adinda kan? Ada apa? Kenapa malam malam begini anda keluar ruangan? Apa ada yang mendesak?" tanya Perawat wanita yang biasa mengecek kesehatan Adinda bersama Dokter.
"Ya, saya cuma mau tanya, kenapa ruangan tempat Arash Hutama dirawat kosong? Apa dia dipindahkan ke ruangan lain?"
__ADS_1
"Ohh.. Tadi jam 9 malam Tuan Arash bersama berangkat bersama walinya, dia di rujuk ke rumah sakit yang ada di Amerika Serikat atas permintaan dari Ibunya"
Adinda tersentak "Apah? A..Amerika?" suara Adinda mulai bergetar.
"Benar, beliau mengalami cedera otak yang cukup serius, peralatan medis di sana lebih lengkap itulah sebabnya Dokter yang menanganinya merekomendasikan rumah sakit di sana"
"Ahhhh...terimakasih.." Adinda berbalik badan pergi, perasaannya sangat tak karuan, ia tak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang, tanpa sadar air matanya mengalir membanjiri pipi.
Setelah itu Adinda hanya berbaring di ruangannya, ia tak bisa memejamkan mata sedetikpun karena perasaannya yang tak tenang.
Tahu tahu matahari sudah muncul, keheningan malam sirna namun Adinda masih terdiam membisu tak bergerak sedikitpun.
Lira membuka pintu, dia berjalan dengan membawa sebuah nampan berisi sarapan untuk Adinda, "Waktunya sarapan Nona Adinda" ucap Lira dengan suara lembutnya. Namun Adinda sama sekali tak bergeming, ia masih terus melihat ke arah jendela yang rintik rintik terkena air hujan gerimis.
Lira menghela nafasnya, ia merasa kondisi Adinda yang seharusnya sudah membaik tiba tiba terlihat memburuk dalam semalam.
"Aku nggak berselera makan.." ucapnya lirih.
"Anda harus makan! Harus! Atau gaji saya akan di potong setengahnya, apa anda nggak kasihan? Saya harus membeli keperluan anak saya, kalau sampai---" tiba tiba ia terhenti.
Adinda mengambil nampan itu dan memangkunya, ia mulai menyuapi mulutnya dengan makanan yang tak terasa seperti makanan dilidahnya saat ini. Lira tersenyum, selama 5 hari ia berada di sisi Adinda ia sudah tahu bahwa Adinda adalah oraang yang sangat tak tegaan dan mudah simpati kususnya kepada orang yang lemah, Lira akan memelas dan berkata seperti itu jika Adinda menolak keinginannya.
"Sementara anda menghabiskan makanan saya mau membereskan pakaian anda"
"Apa aku sudah dibolehkan pulang?"
__ADS_1
"Iya! Apa anda tak mendengar tadi pagi Dokter bilang anda sudah diizinkan pulang?" Adinda menggeleng. "Astaga Nona, anda nggak boleh terlalu banyak fikiran, kesehatan anda adalah yang utama, setelah anda sehat semuanya akan baik baik saja"
"Ya, kau benar Lira, terimkasih" Lira mulai membenahi barang barang Adinda.
Tok tok, seseorang membuka pintu, Dia adalah Asisten pribadi Arash yaitu Denis.
"Ada apa Pak Denis?" tanya Adinda seraya menaruh nampan makanannya di atas meja samping tempat tidur.
"Bagaimana kondisi anda Bu Adinda?" Denis menatap Adinda dalam dalam.
"Saya sudah sehat, ada apa?"
Denis tampak tak enak hati, ia membuka tasnya, kemudian Denis memberikan selembaran kertas. "Maaf Bu Adinda, ini adalah surat perceraian"
Deg.. Raut wajah Adinda seketika menjadi sangat muram. Adinda mulai membaca surat yang sudah memiliki cap jari Arash itu, sebenarnya ia tahu Mariana yang sudah melakukan itu tanpa persetujuan Arash yang sedang koma, Ia terdiam sejenak terpaku dengan selembaran di tangannya itu.
Ia takut jika dia terus bersikeras Mariana akan tahu bahwa dirinya sedang mengandung, semuanya akan menjadi semakin rumit dan dia akan terus mengganggu kehidupannya dan anaknya, atau bisa jadi Mariana akan merebut anak itu darinya.
Tidak..itu tidak boleh!!
Tanpa berpikir panjang lagi Adinda mengambil pena yang dipegang oleh Denis dan menandatangani surai perceraian itu. Matanya merah, ia menahan tangisnya.
Maafkan aku Ashh.. Aku harus melindungi anak kita, satu satunya hal yang bisa menghubungkan kita kembali suatu hari nanti, kuharap kamu seegera membuka mata dan kembali sehat sehingga kita bertiga bisa berkumpul bersama, aku akan menantikan saat itu tiba, tolong kembalilah kepelukanku..
Pada akhirnya air mata yang sudah susah payah dibendungnya jatuh deras seperti kerasnya usahanya membendung, Adinda segera mengalihkan wajahnya ke arah lain agar Denis tak melihatnya, namun Denis bisa mengira seperti apa Raut wajahnya kini, Denis terlihat sedih, tak seharusnya ia melakukan itu tapi ia tak bisa melakukan apa apa, ia hanya bisa setia mendampingi atasannya dan menjaga dari jauh orang yang berharga bagi atasannya itu di saat saat terberat ini.
__ADS_1
Setelah Denis meninggalkankan ruangan, tangisan Adinda semakin keras, semakin histeris, ia pikir kali ini saja ia ingin benar benar melampiaskann seluruh kesedihannya yang tersisa, Lira yang diam diam mendengarkan percakapan kedua orang tadi menghampiri Adinda, ia memeluknya erat menenangkan Adinda tanpa bicara sepatah katapun.
Bersambung.