
"Bagaimana pendapatmu Adinda? Apa kau setuju?" tanya Arash.
Seketika Adiinda terdiam, mencoba berfikir dengan keras kehidupan apa yang akan dijalaninya nanti setelah wajahnya muncul sebagai menantu keluarga Hutama yang terpandang.
Mariana menatap Adinda yang bimbang, ia mengerti kekawatiran yang dipikirkann oleh menantunya yang baik hati itu. "Ini bukanlah satu satunya cara, ini hanya cara termudah menepis semua rumor tanpa harus repot repot mengeluarkan konferensi pers, kamu boleh menolak jika tak ingin" ucapan Mariana membuat Adinda semakin bimbang. "Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu karena acara ulang tahun pendirian perusahaan masih 2 hari lagi" Ucap Mariana lalu melangkah pergi.
"Aku akan lakukan Ma" ucap Adinda membuat langkah kaki Mariana terhenti, dia pun berbalik badan dan wajahnya tersenyum.
"Kau yakin Adinda? Kau tak perlu terburu buru membuat keputusan loh"
"Aku adalah istri Arash dan menantu Mama yang sah, tidak ada alasan aku tak bisa melakukannya, lagian cepat atau lambat aku harus mendampingi suamiku di tempat umum" Mendengarnya membuat Ibu dan Putranya tersenyum gembira.
"Ya! Itu memang benar Adinda, karena hubungan kalian sudah berubah maka tak ada alasan untuk bersembunyi" jawab Mariana tersenyum. "Ahhh... Aku lapar, ayo temani Mama makan" Drreeeekkkkkk.. Mariana menarik kursi untuk di dudukinya.
🍀🍀🍀🍀
Dua hari kemudian.
Acara ulang tahun pendirian perusahaan yang ke 49 tahun di laksanakan di aula utama Hutama's Hotel, meski acaranya tertutup namun pihak wartawan diizinkan masuk hanya sampai depan pintu aula.
Tak seperti tahun tahun sebelumnya, kali ini semua perhatian media tertuju pada acara tersebut karena nama Hutama yang tak henti hentinya di kait kaitkan dengan Artis Alexa Isnandar, artis yang sedang naik daun namun mencoba bunuh diri.
Adinda terlihat cantik dan Elegan menggunakan dress panjang berwarna hitam dengan pundak yang sedikit terbuka, Arash pun tampak gagah dengan setelan jas hitam formalnya dan berdasi kupu kupu, serta rambut yang di sisir rapi ke belakang.
Deg deg, jantung Adinda berdebar hebat meski ia dan Arash baru saja naik mobil menuju acara tersebut, namun lain hal dengan Arash, ia terus menerus menatap Adinda yang duduk di sampingnya dengan wajah cerah.
"Kau gugup?" tanya Arash.
"Ya! Tentu saja! Huuhhh"
"Santai sajalah, kau istriku, kedepannya kau akan sering mendampingiku ke acara acara seperti ini, kau akan segera terbiasa, gaunnya sangat cocok denganmu, apa itu nyaman?"
"Ya, aku nyaman, bagaimana penampilanku? Sayang sekali aku nggak bisa pake hils karena kakiku yang masih belum sembuh banget"
"Cantik"
"Apah?" tiba tiba Adinda merasa malu.
"Kubilang cantik, aku sampai takut pria pria di tempat pesta melirikmu dengan air liur menetes"
__ADS_1
"Eheiii.. Rupanya kau cuma bercanda"
"Aku serius, Adinda aku mencintaimu"
Wajah Adinda memerah,hingga debaran di dadanya membuat lemas. "Eheemmmmm" seketika ia sadar bahwa di dalam mobil ada Pak supir yang baru saja memberikan tanda keberadaannya dengan deheman.
"Adinda, kubilang aku mencintaimu! Kenapa kau tak menjawa----" dengan cepat Adinda membungkam mulut Arash dengan tangannya karena saking malunya dengan Pak supir.
"Hei bisa bicarakan itu nanti saja? Benar benar nggak peka situasi!" bisik Dinda seraya melirik Pak supir memberi kode dengan matanya kepada Arash, Arash pun tersenyum lalu mengangguk dengan patuh.
"Ehemmmm..sudah sampai Tuan Nona" ucap pak supir saat berada di depan pintu masuk aula hotel.
"Baik Pak, terimakasih" ucap Adinda canggung.
"Huuuhhhh" Adinda mulai mempersiapkan dirinya, ia sangat gugup, namun tiba tiba tangan Arash menggandengnya membuatnya merasa lebih tenang.
Cekrek cekrek.. Kilatan cahaya kamera menyambar nyambar bagaikan petir di malam hari,Adinda mencoba tetap fokus.
Baiklah, aku hanya perlu tersenyum di sampingnya.
Seketika para wartawan berbisik bisik "Hei itu istrinya? Bukan Alexa"
"Aduh..habislah aku sudah banyak menulis artikel tentangnya"
Arash dan Adinda masuk dengan bergandengan tangan, seperti yang sudah di duga, semua mata menoleh ke arah mereka, terutama Adinda, ia merasakan pandangan yang menusuk dari berbagai arah.
"Hahh..aku sudah lelah" gumamnya pelan.
Wajah Arash mendekat ke telinga Adinda "Tenang saja, kita tak perlu berlama lama, cukup menyapa beberapa orang lalu kita bisa pergi" bisik Arash, Adinda pun mengangguk.
Arash dan Adinda menyapa Mamanya yang sudah berada di sana dan sedang berbincang bincang dengan beberapa kolega. Saat melihat Arash dan Adinda mendekat Mariana segera tersenyum dengan tangan terbuka mrnyambut kedatangan keduanya, ia mulai memperkenalkan menantunya itu kepada rekan rekannya di sana satu persatu, Adinda merasa terharu karena memiliki seorang Ibu mertua yang sangat baik padanya, bahkan sering kali ia menyanjung Adinda di depan rekan rekannya meski respon orang orang tak terlalu bagus namun itu membuatnya bisa lebih percaya diri berdiri di samping Arash.
Sampailah di puncak acara, yaitu pemotongan kue lalu pidato dari Direktur utama kemudian dilanjutkan dengan sesi foto, lalu selanjutnya hiburan oleh salah satu penyanyi populer tanah air.
Arash merasa Adinda sudah kelelahan, ia membawa Adinda menjauh dari kerumunan orang, sampailah ia di tempat yang menyajikan berbagai deseert dan minuman.
"Kau suka dessert kan? Ambillah apapun yang kau mau" ucap Arash seraya menyodorkan piring padanya.
"Oke! Aku akan segera mengisi ulang tenagaku" jawab Dinda tersenyum, matanya tampak berbinar mengitari berbagai pilihan deseert kualitas hotel bintang 5 yang tampak berkilauan itu . "Ini yang terbaik" gumamnya tersenyum membuat Arash ikut tersenyum.
__ADS_1
Setelah mengisi piringnya Adinda kembali menghampiri Arash yang sedang duduk sendirian, namun tiba tiba Arash bangun karena hp nya berdering, ia mengangkat telfon seraya menjauh setelah memberi isyarat kepada Adinda menunjuk kemana ia akan pergi.
Kini Adinda duduk sendiri seraya menyantap desert manis yang menyegarkan, ia merasa harus menikmatinya sebagai penghargaan untuk dirinya sendiri karena sudah berjuang keras menyesuaikan diri di tempat itu.
Klotak klotak.. Tiba tiba Mikayla duduk di hadapan Adinda, "Anda disini juga?" ucap Adinda.
"Tentu, disinilah tempatku!"
"Oke!" acuhnya, ia tetap lanjut menyuapi mulutnya.
Mikayla bergidig "Dasar kampungan! Hei..tugasmu sudah selesai, aku sudah kembali jadi tinggalkan Arash!" Adinda sama sekali tak meresponnya hingga membuat Mikayla tersulut emosi. "Aku bicara denganmu sialan!!"
"Hahhh.. Tolonglah..jangan mengganggu orang yang sedang makan!" jawab Adinda santai.
"Dasar gila! Apa kau datang kesini cuma untuk makan?"
"Tentu! Dan juga aku datang untuk mendampingi suamiku, apa ada masalah?"
"Dasar tak tahu malu!!" tangan Mikayla sudah memegang gelas berisi minuman berwarna merah di hadapan Adinda, namun tiba tiba lengannya di tahan oleh seseorang dari belakang. "Sialan! Siapa yang berani ikut campur" Mikayla menoleh kebelakang. "Ahh.. Rupanya si anak haram yaa!" ucapnya begitu melihat Mujin.
"Anak haram? Apa itu anak haram? Apakah anak di luar pernikahan Adinda?" tanyanya dengan raut wajah polos, Adinda pun dengan polosnya mengangguk.
"Yang satu anak haram yang satu lagi istri pengganti dari kelas rendahan! Seharusnya kalian menikah maka akan sangat cocok!"
"Ohhoo.. Aku juga berharap begitu sih andaikan aku bertemu Adinda lebih awal.." ucapnya dengan nada bergurau.
"Benar benar gila!"
"Kamu yang gila! Jagalah ucapanmu di depannya, apa kau pikir aku tak bisa melakukan apa apa padamu Nona? Meski anak haram aku tetaplah seorang Hutama, apa kau pikir Ibu Mariana menerimaku tanpa alasan? Kau boleh menyalahkan orang lain atas kegagalanmu memiliki sesuatu, tapi ingatlah kau tak bisa menuntut orang lain untuk mengikutimu yang sudah gagal!" ucap Mujin pelan namun menusuk, Mikayla pun semakin kesal dan memilih pergi dari sana.
"Pergi sana pergi... Hehehe" Mujin tertawa senang karena berhasil mengalahkannya.
Bersambung.
Halo semua pembaca setia Novel Menikahi Sang Mantan, izinkan saya menyapa kalian semua disini.
Terimakasih yang sudah mengikuti sampai sini, terus ikuti dan mohon dukungan selalu untuk author dengan Like favorite dan komen ❤
Semoga kalian semua selalu sehat dilancarkan rizki dan bahagia selalu.
__ADS_1