
Sudah 2 jam berlalu Arash masih berdiam diri di dalam mobilnya dengan menyenderkan kepalanya pada stir, ia masih mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa sangat panas dan darahnya yang serasa mendidih.
Tiba tiba ia teringat wajah anak itu.. Wajah yang tersenyum kepadanya tapi malah ia abaikan dengan sangat acuh, apalagi ia teringat lagi bagaimana ia bicara kasar dengan Henry di hadapan anak itu, seketika mental Arash menjadi down.
Arash mengusap wajahnya, "Aku sudah gila.. Apa yang dipikirkan anak itu tentang diriku yang buruk ini.. Harusnya waktu itu aku mendengarkan penjelasan Adinda sebentar saja.. Dasar orang egois gila yang hanya memikirkan perasaan diri sendiri!!" gumamnya.
Lalu Arash kembali teringat kata kata yang ia ucapkan kepada Adinda di resepsi pernikahan teman Alexa. Arash yang kesal kepada dirinya sendiri mengusap kepalanya berkali kali.
Aku nggak bisa begini terus, aku harus segera memperbaiki sesuatu yang bisa diperbaiki.
Arash menjalankan mobilnya keluar dari gedung parkir Hutama Grup. Jantungnya berdebar kencang mengingat ia akan menemui wanita yang begitu dirindukannya dan juga Putrinya yang manis, rasa berdebar sekaligus kekawatiran kehadirannya di tolak keduanya membuat perasaannya campur aduk tak karuan.
Sampailah Arash di depan kediaman Atmaja, setelah di tanya tanya oleh petugas keamanan yang berjaga di depan ternyata ia diperbolehkan masuk oleh pemilik rumah begitu petugas itu menghubungi Tuannya.
Mata Arash melihat sekeliling ruang tamu luas tempatnya berada saat ini, menit demi menit berlalu, ia mulai bertanya tanya mengapa ia harus menunggi selama ini? Apa Adinda dan Putrinya tak mau menemuinya? Pertanyaan pertanyaan seperti itu mulai mengusik pikiran seorang Arash yang sedang dirundung rasa kawatir berlebihan.
Arash masih sabar menunggu dengan sesekali meneguk minuman yang sudah disuguhkan oleh ART sebelumnya..
Tokk tookkk!! Tiba tiba Arash mendengar suara ketukan pada lantai dan semakin mendekat, Arash segera bangun dari duduknya begitu melihat seorang pria tua yang wajahnya pernah beberapa kali dilihatnya itu dengan membawa tongkat di tangannya, Wajah tegas dan sorot mata seperti serigala yang menekan lawan membuat Arash merasa ciut karena ia merasa telah banyak melakukan salah kepada keluarganya.
Arash bangun untuk memberi salam "Selamat siang Pak Dewangga, maaf mengganggu waktunya, saya Arash Esfandiar Hutama, saya adalah Ayah kandung dari anak Adinda, saya datang untuk brtemu Adinda dan anaknya"
Dewangga sudah duduk di hadapan Arash, laki laki tua itu masih mengamati wajah Arash tanpa menjawab ucapan darinya.
"Kau.. tatapan mata itu sangat mirip dengan kakekmu rupanya"
"Oh?? Anda mengenal Kakek saya rupanya"
"Tentu saja, dia adalah orang yang selalu berusaha mengungguliku dalam semua hal"
"Ahh..ja jadi begitu.." Arash tersenyum canggung merasa itu bukanlah pembicaraan yang tidak menyenangkan.
"Jadi kamu orang yang selama ini membuat cucuku sengsara?"
Deg, tiba tiba Arash merasa tertohok, "Maaf.. Saya tidak bisa membuat alasan untuk itu, saya minta maaf"
"Jadi kamu mengakui ya? Lalu untuk apa kamu datang kesini? Apa untuk membuat Cucuku sengsara lagi?"
"Tidak! Saya adalah orang yang sangat ingin membuat Adinda bahagia"
"Tapi sepertinya tidak bisa kan?"
"I..itu, saya akan berusaha lebih baik kedepannya"
"Kedepannya? Apa kau berencana rujuk dengan cucuku?"
__ADS_1
"Itu benar tapi--"
"Hehhhh..sayang sekali.. Padahal aku lebih suka jika kau menjauhi Adinda seperti kemarin kemarin dan Adinda bisa menikahi pria yang benar benar cocok untuknya"
Ughhh. Ucapannya semakin tajam saja.
"Tolong jangan bicara seperti itu Pak, saya akan berusaha keras untuk membahagiakan Adinda dan anak kami"
"Hmm.. Semua itu tetaplah keputusan Adinda dan juga cucu buyutku apakah mereka akan menerimamu lagi atau tidak, aku tidak punya hak untuk mengatur ngatur hidupnya"
"Terimakasih, tapi apa mereka berdua tidak berada dirumah?" Arash melihat ke arah dalam.
"Tidak ada, jadi pergilah sekarang!" Dewangga bangun.
Arash pun ikut bangun "Kemana mereka pergi? Tolong beri tahu saya"
"Aku tak ingin memberi tahu tuh.." acuhnya.
Arash hanya bisa terdiam melihat Dewangga membalikkan badannya, Arash pikir wajar saja Kakek Adinda tak menyukai dirinya yang sampai sekarang tak pernah bisa membuat bahagia. Apa kini seorang Arash sedang di tolak mentah mentah?.
.
"Buka mulutnya sayang.." ucap Anya yang memakai Jas Dokter, ia memeriksa gigi Jean dengan memasukkan kaca mulut, Jean pun sangat patuh. "Wah..pinter banget anak cantik.. Giginya juga bagus, sudah"
"Bagus Din.. Kau merawatnya dengan baik, terus lakukan pemeriksaan gigi rutin 6 bulan sekali yah, oke sayang?"
"Oke Tante Doktell! Cekalang Jeje mau main sama Kak Balaaa!" ucap Jean.
"Boleh dong, Kakak baru pulang sekolah, pasti sekarang sedang menonton tv"
"Oke Tante! Mami aku pelgi dulu!"
"Iya.. Main sebentar terus pulang sama Mami ya.."
"Oke Mami!" Jeje segera berlari ke dalam rumah Anya yang menyambung dengan kliniknya.
"Kamu kelihatan lesu Din, apa ada masalah?" ucap Anya yang sudah duduk di kursinya berhadapan dengan Adinda.
"Apa kelihatan lesu? Yah.. Ini karena semalam aku tak bisa tidur"
"Berhati hatilah saat menyetir sendiri, kau sudah pernah kecelakaan, istirahat dulu disini sebelum kembali ke Jakarta jika mengantuk"
"Siap Bu Dokter!! Hehe"
"Dasar anak ini..Bagaimana kabar Arash? Apa dia masih koma? Padahal ini sudah 4 tahun"
__ADS_1
"Dia sudah sembuh"
"Beneran? Syukurlah..Kapan?"
"Entah, aku belum lama ini bertemu dengannya"
"Harusnya kau senang, kenapa kau lesu begini?"
"Yah.. Dia bilang membenciku dan ingin melanjutkan hidup tanpa diriku"
"Dia bilang begitu??" Adinda mengngguk. "Dasar gila! Berani beraninya dia memperlakukanmu yang sudah hamil dan membesarkan anaknya sendirian begini malah bersikap seperti itu.. Tapi, kenapa dia begitu? Pasti ada alasannya dong? Apa Ibunya lagi lagi membuat kesalahpahaman di antara kalian?"
"Bukankah itu sudah pasti? Tapi masalahnya kenapa dia nggak mau mendengar penjelasanku sama sekali? Bikin kesal deh pokoknya!!"
"Yah.. Kalian berdua kan selalu begini, salah paham ini salah paham itu.. Tapi ujung ujungnya kalian balik lagi!"
Adinda menyenderkan punggungnya di kursi "Ahhh.. Terserahlah, aku capek memikirkan orang orang itu.."
"Orang orang? Selain Arash siapa lagi yang kau pikirkan? Apa ada laki laki yang menyatakan cintanya padamu dan mengajakmu menikah?"
"Jujur saja Any.. Selain Dokter kamu itu dukun kan?" ucap Adinda dengan raut wajah serius.
"Apa sih.. Ha ha haaaa"
.
Adinda membuka kaca mobilnya begitu sampai di depan pagar untuk memberi salam pada security yang berjaga.
Pagar pun terbuka, Mobil kembali berjalan, Adinda sangat terkejut tiba tiba saja seseorang menghadang tepat di depan mobil membuatnya hampir tertabrak dan orang itu adalah Arash.
Adinda mendongakkan sedikit kepalanya ke jendela. "Apa apaan ini? Minggir!!"
Arash mendekati Adinda, "Adinda ada yang ingin kukatakan, ayo bicara diluar" ucap Arash dengan sesekali melirik ke kursi belakang tempat Jean berada, anak itu tidur di car seat.
"Bicara disini saja, aku lelah"
"Nggak bisa!" Arash membuka pintu mobil, "Kau pindahlah kesana, biar aku yang menyetir!" ia menunjuk kursi di samping kursi kemudi.
Adinda pun pindah dengan menggerutu Karena Arash yang memaksa masuk, "Dasar egois! Kamu nggak lihat anakku sedang tidur? Kau mau menyetir? Apa kau yakin bisa menyetir setelah mengalami kecelakaan sampai kau koma?"
"Adinda.. Jangan berisik! Atau kau akan membangunkannya!"
Adinda segera menutup mulutnya rapat rapat, ia merasa kesal mengapa ia harus menuruti ucapan laki laki ini?.
Bersambung.
__ADS_1