Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Hari yang kacau


__ADS_3

Saat Adinda baru saja sampai di butik ia berpapasan dengan Anya yang keluar dengan menggandeng Bara dan satu tangan lainnya menyeret sebuah koper besar, melihat Adinda Anya hanya berusaha mengalihkan pandangannya, raut wajahnya tampak tak nyaman, mereka berdua berhenti di depan Adinda, kira kira Adinda paham apa yang akan dilakukan oleh Anya.


"Tante Adinda?" panggil Bara yang melihat Adinda hanya diam.


"Iya? Bara sayang kamu bisa masuk dulu ke Tante Lina di dalam? Tante mau bicara sebentar dengan Mama"


Bara menoleh ke wajah Mamanya, anak itu pergi setelah Anya mengangguk kepadanya.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Adinda dengan wajah serius.


"Iya!"


"Cobalah berfikir sekali lagi Any.. Oke sekarang dia bilang nggak akan mengulangi perbuatannya lagi, tapi apa kamu mempercayainya? Ayolah Any..berfikirlah secara logis, aku akan membantu sebisaku" bujuk Adinda.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku Din? Kamu hanya bisa mengandalkan keluarga suamimu aku tahu itu, aku malu Din kalau orang lain tahu tentang masalahku dan aku yang tak berdaya!"


"Nggak ada yang memalukan dari permasalahanmu Any aku---"


"Cukup Din!! Kamu bicara sangat enteng karena ini bukan masalahmu!! Keputusanku sudah bulat, aku akan kembali ke rumahku, rumah suamiku! Aku akan menggali kembali perasaan yang kumiliki dulu dan kembali mencintainya karena dia sudah berjanji akan lebih mencintaiku"


Adinda meraih tangan Anya "Nggak boleh Any!! Enggak boleh!! Katakan padaku jika kamu diancam atau apapun itu aku akan membantumu asal kau tak kembali padanya!!"


Anya menepis tangan Adinda dengan kasar "Sudah kubilang cukup Din!! Nggak ada yang bisa kau lakukan!! Bukankah kau sendiri sadar siapa dirimu tanpa Arash! Aku!! Aku yang paling tahu, sudahlah..jika kau memang peduli padaku cukup hormati keputusanku saat ini, mulai sekarang jangan ikut campur dengan rumah tanggaku!!" Wajah Anya terlihat sangat marah, ia segera menghampiri Bara dan membawanya pergi, tak lama sebuah mobil berhenti di depan Anya, Donny pun turun dari sana mengangkat koper dan menaruhnya dibagasi kemudian membukakan pintu untuk istri dan anaknya masuk, sebelum Donny masuk ia menatap Adinda seraya bibirnya tersenyum smirk seolah mengatakan bahwa dialah pemenangnya.


Adinda mengusap rambutnya kebelakang dengan raut wajah kesal bercampur kawatir, yah apalagi yang bisa dilakukan seorang teman yang tak memiliki kekuatan. "Benar katanya, aku tak bisa membantu dengan kekuatanku sendiri! Tapi apa bicaramu nggak keterlaluan hah?? Dasar Anya sialan!!" gumamnya sendiri.


Adinda masuk ke butik, Lina segera menghampirinya. "Kak.." panggilnya.


"Tasya bilang dia berhenti bekerja hari ini"


"Apah?!" Adinda tersentak, pada akhirnya anak itu memilih melarikan diri. "Apa dia bilang alasannya?"


"Dia bilang mendapatkan pekerjaan di butik terkenal berkat kenalannya, ini sangat mendadak, bahkan aku tak tahu dia punya kenalan sehebat itu"


"Ya sudah, apa boleh buat.. Ayo cari orang lain"


"Oke Kak"


"Anu.. Lin, apa kau tahu gaun yang bermasalah kemarin?"


"Loh.. Aku baru dengar, memangnya kenapa kak?"

__ADS_1


"Gaunnya sengaja di gunting oleh seseorang, aku---"


"Apa jangan jangan Kakak mencurigaiku sengaja mengguntingnya?" raut wajah Lina langsung berubah.


"Hei, mana mungkin aku mencurigaimu--"


"Siapa lagi yang layak dicurigai jika bukan aku? Aku orang yang mengantarkannya kepada Kakak, nggak mungkin kakak nggak mencurigaiku!!"


"Lina.. Dengarkan dul---"


"Sudahlah Kak, aku juga tiba tiba ingin berhenti saja!!" Lina langsung mengambil tasnya dan pergi.


"Lina.. Lin!!!" Bahkan anak itu tak mendengarkan penjelasan Adinda sampai selesai.


"Hahh.. Benar benar gila.. Ada apa dengan hari ini?? Ada apa dengan semua orang??!!" gumam Adinda yang terduduk lemas di sofa seorang diri.


Tak bisa berdiam diri lama lama meski ia ingin, Adinda segera mengerjakan pekerjaannya sendirian, mulai dari memilah kain di toko kain yang jaraknya lumayan jauh hingga mengerjakan desain yang sudah dipesan dan lain sebagainya ia kerjakan seorang diri, bahkan dalam sehari waktu terasa begitu singkat, ia tak sempat merasa kesepian meski disana sendirian.


Lelah..Adinda menutup butiknya lebih awal dan bergegas pergi untuk segera melepas stressnya.


Taxi yang Adinda tumpangi berhenti di depan Hutama's Hotel, disana ia turun dan berjalan ke arah lift, ketika pintu lift terbuka Adinda melihat Mujin seorang diri di sana, dia tersenyum melambaikan tangannya kepada Adinda, Adinda pun masuk.


"Aku mau menemui suamiku! Mujin kenapa belum pulang? Bukannya kau bekerja terlalu keras di hari pertamamu?"


"Tidak tuh, ini aku mau mengambil barang lalu pulang, hei.. Aku bukan orang yang serajin itu hehe!"


"Baiklah baiklah.. bagaimana pekerjaanmu?"


"Ini tidak sulit, Arash banyak membantuku"


"Serius? Arash melakukan itu?"


"Eheeiii.. Tentu saja melalui asintennya dong! Haha"


"Ya, bukankah itu perubahan yang baik?"


"Mungkin"


Mujin menatap rambut Adinda, sehelai benang coklat ada disana, "Maaf sebentar Adinda" Ucapnya seraya menyentuh rambut Adinda.


Ting! Pintu lift terbuka di tempat tujuan, disana terlihat Arash berdiri dengan tatapan penuh amarah, ia langsung menarik tangan Mujin dengan kasar mengeluarkannya dari lift lalu mencengkeram kerahnya.

__ADS_1


"Apa lagi yang kau mau? Apa kau sedang merayu Istriku? Jangan pernah lakukan lagi atau aku akan memotong tanganmu!"


"Ashh..apa apaan ini, lepaskan dia!" tegas Adinda. Adinda melihat sekitarnya, untunglah suasana di tempat itu sudah sepi.


Arash melepaskannya, "Kau juga Adinda!! Mau maunya di pegang pegang oleh sembarang orang!!" teriaknya.


"Arash.. Aku cuma mengambilkan benang yang menempel di rambut Adinda, apa yang kau pikirkan sampai meneriaki Istrimu sendiri?!" ucap Mujin.


"Hei kau!! Sekarang kau mencoba memprovokasi Adinda agar dia membenciku?" teriak Arash.


"Tuduhan apa lagi ini Arash!" Mujin dan Arash masih terus berdebat, sementara Adinda terdiam melihat kedua orang di depannya saling melontarkan kata kata kasar.


"Cukup kalian!!!!!" teriak Adinda kesal. Semuanya pun menutup mulut dan menatap Adinda. "Hahhhh..!!!" Adinda berbalik badan lalu menekan kembali lift untuknya turun, kedua orang itu mengikuti di belakang Adinda. "Jangaan mengikutiku atau aku akan benar benar membunuh kalian!!!" ucapnya dingin tanpa berbalik badan.


Sesuai keinginannya Adinda pun turun sendirian. "Apa yang kuharapkan bisa melepas stress jika datang kesini!! Yang ada aku malah tambah stress" gumamnya kesal.


.


Arash sampai dirumah, ia bergegas menghampiri Adinda di kamar, begitu ia membuka pintu Adinda baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju mandi dan handuk kecil menempel di rambutnya yang basah.


"Hei kenapa tadi kau pergi begitu saja Sayang"


"Entahlah" jawabnya acuh.


"Kamu marah?" Arash mendekatinya yang sudah duduk di sisi tempat tidur, ia berjongkok di hadapan Adinda.


"Hari ini terlalu banyak hal yang membuat kesal, kau juga membuatku kesal! Apa apaan itu tadi katanga aku yang mau di pegang pegang sama sembarang orang!"


"Maaf, aku cuma terbakar cemburu setiap melihatmu dengan orang itu tanpa sadar aku mengatakan hal yang membuatmu kesal"


"Sudahlah..mandi sana!"


Arash bangun, "Apa yang kudapat setelah mandi?" godanya dengan mendekatkan wajahnya.


"Berhenti mendekat!"


Arash terus mendekat sampai akhirnya tubuh Adinda terjatuh di tempat tidur kemudian tubuh Arash menguncinya. "Mau apa?? Kubilang sana mandi!!"


Arash tak menghiraukan perkataan Adinda dan hanya sibuk menciuminya lalu tangannya menarik tali ikat baju mandi Adinda.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2