Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Terkuaknya perselingkuhan


__ADS_3

Setelah berhasil mengaktifkan nomor kembali Adinda menerima pesan masuk dari Anya yang mengatakan bahwa ia sudah berada di singapura karena Ayahnya sakit dan akan kembali dalam 2 hari, pesan itu dikirim 2 hari yang lalu.


"Apa berarti sekarang dia sudah kembali? Biar kuhubungi" gumamnya.


Tuuuutttt tuuuutttt.. Adinda melakukan panggilan telefon tapi Anya tak kunjung juga mengangkatnya meski panggilan tersambung. Adinda pun mencoba lagi dan lagi, akhirnya diangkat.


"Haloo..ini Tante Adinda kan?" suara anak kecil.


"Haloo, iya ini Tante Adinda, ini Bara kan? Gimana kabar Bara dan Mama?"


"Huuuhuuuu Tante.. Tolong Mama Tantee" Bara menangis tersedu sedu.


"Ada apa Bara? Katakan sama Tante, kenapa Mama Anya?"


"Mama bertengkar dengar Papa dan Tante temannya Papa, Mama menangis lalu pergi"


"Apah?" Adinda sangat terkejut mendengarnya, "Jadi sekarang Bara sama siapa dan dimana?"


"Aku sendirian dirumah Tante, aku takut huhuhuuuu"


"Oke oke, Bara jangan nangis lagi ya, Tante akan menjemput Bara lalu mencari Mama, tunggu Tante Oke"


"Iya Tante..cepat datang aku takut"


"Oke oke" Adinda mematikan panggilan dengan tangannya yang gemetar.


"Ada apa?" tanya Arash melihat wajah Adinda yang memucat.


"Ahhhh.. Sepertinya Anya memergoki suaminya selingkuh, aku.. Aku harus menjemput Bara sekarang ketakutan sendirian dirumah" ucap Adinda dengan panik.

__ADS_1


Arash menggenggam tangan Adinda yang masih gemetar "Tenanglah, aku akan mengantarmu" Adinda pun menatapnya lalu mengangguk.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Arash mengemudikan mobilnya di jalan yang lenggang dengan kecepatan penuh, akhirnya mereka sampai di depan rumah Donny, Adinda membuka pintu yang tak dikunci, seketika ia melihat pemandangan yang sangat mengejutkan, perabotan seperti meja kaca, vas bunga dan beberapa pajangan telah pecah berhamburan di lantai, Adinda semakin terkejut ketika melihat percikan darah yang menetes di bawah kakinya, pikirannya menjadi sangat kacau. Arash yang baru menyusul pun tak kalah terkejut dengan kondisi ruang tamu itu.


Seketika pikiran Adinda yang sedang kacau menjadi fokus kembali ketika ia mendengar suara tangisan anak kecil. "Itu suara Bara" ucapnya kepada Arash. Mereka segera menuju ke sumber suara berada, dan menemukan Bara yang sedang berjongkok di pojokan kamar orang tuanya, kondisi ruangan itu pun sama berantakannya dan tempat tidur yang basah.


Ketika anak itu melihat Adinda dia segera berlari memeluk Adinda dengan erat, Dinda bisa merasakan tubuh kecilnya yang gemetar hebat, anak itu hanya menangis dan tak bisa mengatakan apapun, melihat seorang anak sekecil ini sudah menyaksikan hal hal yang tak seharusnya dilihatnya membuat Adinda semakin terhanyut ikut dalam kesedihannya, Adinda memeluknya dengan erat.


"Nggak papa Bara, semuanya akan baik baik saja" sebisa mungkin Adinda menahan tangisannya untuk menenangkan anak itu.


"Ayo bawa dia ke mobil, kita harus menemukan Anya" ucap Arash, Dinda pun merespon dengan Anggukan.


Tak lama setelah mobil melaju Bara terlihat tidur dengan tenang di pangkuan Adinda, sementara mata Adinda dan Arash masih menyusuri sepanjang jalan mencari keberadaan Anya.


Tiba tiba mata Arash tertuju ke satu arah ketika mobil melewati jembatan, disana beberapa orang sudah berkumpul di pinggir jembatan. "Tunggulah disini, aku akan memeriksa di sana" ia menunjuk sekumpulan orang.


"Ya! Aku akan menyusul setelah membaringkan Bara di kursi belakang"


Benar saja, Arash menemukan Anya yang sepertinya sedang kehilangan akal, dari informasi orang orang yang berada disana katanya Anya hendak melompat dari jembatan namun untungnya berhasil ditahan oleh seseorang dan sekarang keadaan Anya sangat kacau.


"Anyaaaa!!!" teriak Adinda begitu menemukan Anya yang sedang terduduk lemah di lantai, Adinda segera memeluk erat Anya yang terlihat sangat syok itu. "Maaf aku terlambat hiks hiks, apa yang sudah terjadi denganmu mengapa kamu ingin mengakhiri hidupmu? Sadarlah Anyy" Adinda menggoyang goyangkan pundak Anya agar Anya melihatnya dan menyadarkan diri.


Setelah beberapa saaf Anya menoleh ke arah Adinda "Dinnn..ak akuuu.. Akuuuu--"


"Jangan bilang apapun, tetaplah diam, aku disini, aku disini kamu nggak sendirian"


"Dinn...hiks hiksss huuaaaaa" selama beberapa saat Anya hanya terus menangis di pelukan Dinda sementara orang orang sudah pergi dan Arash kembali ke mobil untuk memberikan waktu bagi mereka berdua.


Akhirnya Anya bisa menenangkan dirinya dan tersadar apa yang paling penting untuknya saat ini "Din, Bara sendirian dirumah, pasti dia ketakutan, bagaimana bisa aku meninggalkannya begitu saja dan hanya memperdulikan perasaanku saja" ucapnya panik, ia bngun dari duduknya.

__ADS_1


"Tenanglah, Bara ada di mobil, aku menjemputnya"


"Serius? Hahhhhh.. Aku lega, terimakasih Din"


"Ayo masuk ke mobil dulu, ini sudah tengah malam anginnya dingin banget" Ucap Dinda, Anya pun mengangguk.


Begitu melihat Bara yang sedang tertidur pulas Anya merasa lega, tapi Lagi lagi air matanya keluar, ia baru sadar apa yang baru saja ingin ia lakukan, ia merasa dirinya sangatlah egois dan seorang Ibu yang sangat buruk karena berusaha mengakhiri hidup tanpa memperdulikan nasip Putranya kedepannya, Anya memeluk erat Putranya dan menciuminya.


"Kemana aku harus mengantarmu?" tanya Arash yang seketika membuat Anya terdiam, ia tak tahu lagi kemana ia akan pergi karena rumah yang ditinggalinya adalah rumah milik Donny sebelum mereka menikah.


"Ke butik" ucap Adinda.


"Terimakasih Dinn"


"Jangan berterimakasih, kau dan Bara adalah keluargaku, diantara keluarga tak perlu ucapan terimakasih"


"Baiklah"


.


Perbincangan yang panjang, Anya menceritakan bagaimana ia bisa tahu tentang perselingkuhan suaminya, rupanya sebelum pergi ke singapur Anya sudah mencari tahu tentang gelagat suaminya yang semakin mencurigakan, dari Anya menanyakan tentang parfum kepada teman Donny yang pada akhirnya temannya merahasiakan darinya dan membenarkan semua yang ditanya oleh Anya, Anya yakin dia menutupinya atas permintaan Donny.


Tapi malam ini Anya dan Bara kembali dari Singapur tanpa mengabari suaminya, siapa sangka suaminya itu membawa selingkuhannya masuk ke dalam rumah, Anya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita itu berbaring di atas tempat tidur yang biasa digunakannya bersama dengan suaminya dengan pakaian yang sudah berserakan di lantai.


Mereka tertidur pulas sampai tak menyadari langkah kaki Anya, itu berarti mereka berdua sangat kelelahan bukan? Tentu saja Anya sangat syok dengan pemandangan di hadapannya, ia segera menyuruh Bara masuk ke kamarnya, sementara Anya menyiramkan seember air untuk mengguyur kedua orang yang tak memakai sehelai pakaian pun itu karena sudah tak tahan lagi.


Dari situlah pertengkaran di mulai, Anya membanting semua perabotan dan membuat keadaan menjadi porak poranda, Donny berlutut meminta maaf namun semua itu tak ada gunanya, Anya melempar pecahan kaca ke arah selingkuhan suaminya namun Donny berhasil melindunginya, alhasil tangan Anya sendiri yang terluka dan berdarah, namun Donny tak memperdulikannya sedikitpun, laki laki itu hanya sibuk membawa pergi selingkuhannya sebelum Anya semakin menggila dan melukainya.


Anya menceritakannya sembari Dinda mengobati tangannya yang terluka, sedangkan Arash hanya memperhatikan keduanya dari kejauhan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2