Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Jadi diri sendiri


__ADS_3

Arash berjalan menghampiri kedua orang di tepi danau, dahinya mengernyit ketika melihat Istrinya bersandar di bahu pria lain, apalagi sorot mata pria itu saat menatapnya membuat Arash sangat terganggu.


"Ehem" deheman Arash membuat Henry menoleh ke belakang.


"Saya bisa jelaskan, ini tak seperti yang anda lihat" ucap pelan Henry yang panik.


"Stttt..suaramu bisa mengganggunya" ucap Arash.


"Ohh?" Henry bertanya tanya mengapa orang ini tak marah padanya seperti biasa?.


"Aku harus bekerja, aku titip Adinda, jangan katakan aku datang kesini" ucapnya lalu pergi.


"Ha?? Oke.." jawab Henry ragu ragu.


"Haaa.." Arash menghela nafasnya setelah sampai di mobilnya, ia berhasil mengontrol perasaannya dan tak menunjukkan kecemburuannya di depan Henry meski sebenarnya dia merasa sangat kesal, namun ia berfikir mungkin saja saat ini dia lebih membutuhkan sosok yang disebut teman itu daripada dirinya.


Adinda kembali membuka matanya, di depannya terlihat Henry yang menutupi sinar matahari yang menyorot ke wajah Adinda dengan topinya, tersadar dari apa yang sedang dilakukannya tanpa sadar Adinda segera menegakkan duduknya. "Maafkan aku Henry, tanpa sadar aku malah ketiduran, duhhh berapa lama aku tertidur? Maaf, pundakmu pasti pegel banget ya.." ucapnya panik.


"Hei tenanglah, kau tak seberat itu, kau belum lama tidur, jadi tidurlah lagi, hari ini gratis" ia menyentuh bahunya beberapa kali.


Adinda mengalihkan wajahnya "Kau membuatku malu"


"Bukankah seorang teman setidaknya harus melakukan hal yang memalukan di depan temannya?"


"Heii..tetap saja.."


"Bagaimana tempat ini? Lumayan kan?"


"Iya! Aku nyaman disini, tapi dimana ikannya?" Adinda menoleh ke sekitar Henry mencari cari keberadaan hasil pancingannya.


"Ha ha" Henry hanya tertawa, tentu saja sejak awal ia hanya membiarkan ikan diam diam memakan umpannya, bahkan ia tak berani bergerak sedikitpun karena takut mengganggu tidur Adinda.


"Jujur saja deh..kamu baru pertama kali memancing kan?" tatap Adinda dengan curiga.


"Eheii..itu nggak bener, aku hobi mancing"


Adinda menggeleng geleng dan tersenyum "Hahhh.. Rasanya aku bisa kembali bernafas, terimakasih kau sudah membawaku ke tempat ini"


"Apa ada masalah?" tanya Henry hati hati.


"Apa kau belum melihat laman internet? The real of Cinderella?"


"Hei.. Apa kau merasa rendah diri karena artikel murahan itu?"


"Ahh..rupanya kau sudah melihatnya, bukannya aku malu dengan identitasku tapi.."


"Justru kau harus lebih berani karena semua orang sudah tahu siapa kau, ayolah..anggap ini sebagai kesempatan, semua orang akan mulai melirik dan tertarik denganmu juga bisnismu, disaat inilah kau harus menunjukkan bahwa dirimu tak seperti ucapan orang orang itu, aku yakin kau bisa!"


"Begitukah?" Henry mengangguk dengan semangat. "Terimakasih sudah mengingatkan itu Henry, kau yang terbaik.." Adinda tersenyum, "Kau bilang sedang sesak, apa ada yang bisa kubantu?"

__ADS_1


Henry terdiam sejenak, "Sepertinya kita akan jarang bertemu Adinda"


"Kenapa? Kau mau kemana? Bukannya Sweet Coffe belum lama buka?"


"Sebenarnya Sweet Coffe hanyalah pelarianku, sepertinya sekarang aku harus kembali ke kenyataan, tapi sesekali pasti aku akan mampir, karena Sweet Coffe adalah pelarian terbaik yang kuciptakan selama hidupku dengan usahaku sendiri"


"Pelarian?"


"Ya! Aku marah kepada Ayahku dan aku kabur dari rumah, bukankah kau berpikir aku sangat labil seperti remaja yang sedang puber?"


"Eheiii..mana mungkin aku berfikir seperti itu, kau pasti punya alasan"


"Benar, aku melakukan itu untuk melindungi sesuatu yang berharga bagiku"


"Kau keren Henry, berjuanglah dan jemput kebahagiaanmu!"


"Oke!"


Adinda melihat ponselnya, 17 panggilan dari Arash dan chat dari Anya dan Lina. "Sepertinya aku membuat semua orang kawatir, aku harus kembali Henry, bagaimana denganmu?"


"Aku masih ingin disini, kau pergilah, aku akan naik taxi nanti"


"Serius?" Henry mengangguk. "Aku pergi yaa.." Henry melambaikan tangannya.


"Hahhhh..aku sendiri lagi, bahkan kau pun tak ingin tahu siapa aku dan penasaran dengan identitasku Adinda..keputusan yang tepat aku menjauh.." gumamnya.


.


Setelah telinganya berasap Adinda mulai mengerjakan pekerjaannya yang sudah tertunda, ia mengerjakannya dengan cepat, tahu tahu matahari diluar sudah lengser, Tasya dan Lina telah bersiap menutup butiknya, begitu juga Adinda yang membereskan barang bawaannya lebih dulu.


"Aku pergi duluan yaa" ucap Adinda kepada Tasya dan Lina.


"Tumben Kakak mau pulang duluan?"


"Hehe" Adinda hanya tertawa canggung.


"Jangan lupa besok pagi acara di Hutama's Hotel!" ucap lantang Lina.


"Iyaaa" jawabnya seraya berjalan dengan cepat keluar dari butik.


Adinda memarkirkan motorny di tempat parkir khusus motor di basemen Hutama's Hotel, ia berjalan masuk, orang orang di sepanjang perjalanannya masih melihatnya dengan tatapan intens efek dari artikel yang sudah menghilang dari siang tadi, Adinda menyapa setiap orang yang menatapnya dengan senyuman yang paling manis meski jarang mendapat respon balik.


Ayo jadi diri sendiri..


Tok tok tok.. Adinda mengetuk pintu ruang kerja Arash di lantai 12 bangunan yang langsung menyambung dengan hotel.


"Masuk" suara Arash menjawab.


Adinda membuka pintu dengan hati hati, matanya mengelilingi seisi ruangan, disana terlihat Arash yang sedang berdiri menghadap ke jendela dengan berkas di tangannya.

__ADS_1


"Kau bilang mau pulang Denis?" ucap Arash yang salah mengira.


Adinda menghampirinya lalu memeluknya dari belakang membuat Arash kaget. "Aku bukan Denis!"


Arash berbalik badan, senyumannya mengembang melihat Adinda yang terlihat seperti biasanya, Arash menaruh yang dipegannya di atas meja di sampingnya kemudian tangannya membalas pelukan Adinda dengan erat.


"Kemana saja kau.."


"Aku pergi berkeliling lalu mencari udara segar bersama Henry sebentar, maaf sudah membuatmu kawatir, aku sudah mendengar dari Anya dan Lina kau mencariku"


"Sudah tahu aku kawatir bukannya menelvon atau apa.."


"Aku lebih suka langsung menemuimu tuh, apa kau tak suka?"


"Suka! Aku suka kamu yang datang padaku Adinda, kapanpun.. Emm soal artikel itu--" ucapannya terhenti.


Adinda menyela "Aku nggak mau bahas itu lagi, aku baik baik saja selama bersamamu"


"Bagus Adinda, sudah makan malam?"


"Belum"


"Ayo.." Arash menggandeng tangan Adinda membawanya ke restaurant mewah di dalam hotel.


Mereka duduk di samping jendela dengan pemandangan malam kelap kelip yang indah hingga Adinda tak bisa mengalihkan pandangannya dari luar. Meski orang orang menatap mereka berdua dengan terang terangan tapi mereka tak menghiraukannya dan hanya fokus dengan kebersamaan mereka berdua.


"Kau menyukainya?" Adinda mengangguk. "Ayo sering seringlah datang kesini"


"Oke"


"Oh iya.. Aku belum bilang besok kamu sibuk nggak? Kenalanku akan menikah disini, mau menemaniku?"


"Apa itu Jolla dan Winky?"


"Kamu tau mereka?"


"Besok aku membantunya memakai gaun pengantin mempelai wanita"


"Ohh..apa itu berarti kamu sibuk?"


"Aku sibuk sampai Mempelai wanita muncul di acara, setelah itu akan datang padamu"


"Yaa ide bagus, tapi apa kamu nggak papa?"


"Nggak papa!" Arash tersenyum lega.


"Emmm.. Gimana kalo malam ini kita menginap di sini?"


Seketika wajah Adinda memerah diam seribu bahasa. "Mau pulang aja?" tanya Arash lagi memastikan.

__ADS_1


"Baiklah, ayo menginap semalam saja" jawab Dinda dengan memasang wajah santainya menyembunyikan kegugupannya, Arash pun tersenyum cerah.


Bersambung.


__ADS_2