Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Adinda Istriku


__ADS_3

Pagi yang cerah telah datang, Adinda mulai membuka matanya saat cercaan sinar matahari mulai mengusik tidurnya yang pulas, Demi menghemat biaya hidup Adinda membuat lantai dua butik menjadi tempat tinggalnya, itu karena memang biaya sewa di tempat itu tidak sedikit, untuk mendapatkan modalnya membuka butik ia pun hanya bisa mengandalkan pinjaman Bank, keputusannya terbilang sangat berani karena semua itu demi impiannya sebagai seorang desainer.


Adinda pun duduk, ia membuka sedikit tirai yang berada tepat di samping tempat tidurnya, hari benar benar telah siang karena matahari sudah cukup tinggi.


"Aku kesiangan, pasti Lina sudah datang kan" gumamnya sembari bangun membuka keseluruhan tirai.


Adinda melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah untuk memastikan Lina benar benar sudah datang atau belum.


"Lina kamu sudah datang, hoammm" ucapnya begitu menghampiri Lina di ruang tunggu.


Ketika Lina mulai menoleh kebelakang dan sedikit bergeser ia melihat Arash sedang duduk disana menikmati secangkir teh hangat dari Lina, matanya menatap Adinda dengan tajam, melihat dari atas kebawah, penampilan yang berantakan seakan ekspresi wajahnya mengatakan seperti itu.


"Kenapa kamu disini?" ucap Adinda seraya menunjuk Arash. "Lina, kamu yang membiarkannya masuk?"


"Ya, tentu saja apa Ada alasan aku tak bisa membawanya masuk?" jawab Lina tak mengerti.


"Tentu saja orang ini tidak boleh datang ke sini!" ucapnya dengan nada meninggi.


"Kenapa Kak, Tuan bilang ingin menemuimu jadi aku biarkan dia masuk, bukankah Tuan Arash dan Istrinya klien kita?"


"Yaah sudah lah, iya kau benar" Dinda mengiyakannya karena tak bisa menjelaskan situasinya lebih lanjut.


"Silahkan kalian bicara, aku harus mengelap kaca depan" Lina pun pergi menjauh dari keduanya.


"Katakan apa yang membawa anda kesini" ucap Adinda dengan raut wajah kesalnya.


"Mamaku memintaku menjemputmu, sekarang kamu adalah istriku, kamu harus tinggal di rumah kami"


"Tidak mau!" acuhnya.


"Apa bagusnya tinggal di ruko seperti ini? Kau akan merasa lebih nyaman kalau tinggal di rumah kami, jangan banyak bicara dan lekas bereskan barangmu!" ucapnya dengan nada tak sabar.


"Bilanglah pada Nyonya Mariana aku lebih nyaman disini"


"Ikutlah denganku baik baik atau Ibuku akan mengirimkan pengawalnya untuk menjemputmu paksa"


"Kenapa aku harus selalu menurutimu dan Ibumu? Aku tak mau!" Adinda kekeh dengan pendiriannya.


"Yasudah, kalau kau tak mau aku akan mengumumkan kepada semua orang bahwa wanita yang kunikahi adalah pemilik Maha Butik, lalu apa? Orang orang akan mulai memperhatikan setiap gerak gerikmu"


"Lakukan saja!" adinda tetap bersikeras.


"Hahhh, kenapa kau keras kepala seperti itu? Bukankah kau sudah memikirkan resiko kedepannya karena menyetujui pernikahan denganku? Walau bagaimanapun sekarang aku adalah suami sahmu, hanya setahun atau kau tak akan mendapatkan apapun dari perjanjian pernikahan ini" suaranya mulai meninggi.

__ADS_1


Adinda pun terdiam sejenak, ia mulai berfikir, memang benar kini ia adalah istri sah Arash meski bukan atas kemauannya sendiri, namun ia telah terlanjur masuk ke dalam keluarga itu, kedepannya ia tak akan bisa menghindarinya terus menerus akan lebih baik jika ia menuruti keinginan keluarga itu dan bercerai setelah setahun dan mendapatkan imbalan besar seperti yang sudah dijanjikan oleh Mariana, ia bisa menggunakan imbalan itu untuk membayar sisa pinjaman beberapa tahun kedepan.


Melihat Adinda terdiam Arash pun bangun dan melambai lambaikan tangannya di depan wajah Adinda "Kenapa diam saja!" serunya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu, tapi sebelum itu aku harus mandi dan membereskan barang, apa kamu mau menungguku"


"Ya, cepatlah"


Saat menaiki tangga tiba tiba adinda terfikirkan sesuatu yang menarik, bibirnya pun tersenyum smirk.


Baiklah, mari kita uji kesabaran Tuan konglomerat.


Pertama Adinda masuk ke kamar mandi ia mandi dengan gerakan yang sangat pelan, ia selesai mandi setelah 30 menit.


"Seger banget hihi"


Setelah memakai pakaian dan mengaplikasikan make up tipis tipis di wajahnya ia mulai memilah bajunya di lemari dengan pelan.


Tak terasa waktu sudah berlalu satu jam, Arash mulai gelisah, ia terus menerus melihat jam di ponselnya dan sesekali menengok ke arah atas tangga, ia bangun dan kemudian duduk kembali.


Arash mengambil kembali cangkir tehnya, kini airnya sudah tak tersisa lagi, ia pun mulai menyenderkan kepalanya di sofa.


Kini ia telah duduk disana dua jam, "Hahhhhh" ia menghela nafas panjangnya, kini ia benar benar sudah tak bisa sabar, ia pun bangun lalu menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu itu satu persatu, sampai diatas ia melihat kamar Adinda yang terbuka, ia melihat Adinda masih membolak balik bajunya di lemari gantung dengan sangat santai.


Adinda pun kaget mendengar suara Arash yang sudah di belakangnya, ia menoleh kebelakang "Kenapa masuk kamar wanita sembarangan!" ucapnya keras.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh masuk ke kamar Istriku?"


"Tidak! Keluar sekarang!"


"Tidak bisa, jika aku keluar sekarang kamu akan turun tiga jam lagi"


Kok tau sih..


"Tunggulah di luar, aku akan cepat" ujarnya pasrah.


"15 menit kau tak keluar aku akan kembali kesini, jangan mencoba mengulur waktu lagi!"


"Cih"


Tak lama pun Adinda keluar kamar dan manuruni tangga dengan membawa satu buah koper besar ditangannya, melihat Adinda yang muncul dengan susah payah membawa koper Arash segera menghampiri dan membawakan kopernya.


Adinda meliriknya seraya tersenyum.

__ADS_1


Setidaknya dia masih punya hati nurani.


Sesampainya mereka didepan Lina menghadang, tapi Dinda belum memikirkan alasan kepadanya "Apa yang terjadi? Mengapa kau membawa koper besar?" lina menatap keduanya bergantian dengan bingung.


Adinda pun cukup bingung untuk menjelaskannya.


"Kami sudah menikah, jadi Dinda akan tinggal di rumahku" celetuk Arash karena melihat dinda yang tak bisa berkata kata.


Sontak kedua wanita itu sangat kaget menatap Arash dengan tajam.


"Apa katanya?Kalian menikah? Aku salah dengar kan? Haha aku pasti salah dengar" ucap Lina sembari mengusap usap telinganya.


"Siapa yang menikah?" ucap Anya yang sudah berdiri di belakang mereka semua.Semua orangpun dibuat semakin kaget lalu menoleh kearahnya serentak.


"Anya, kapan kau datang?" Adinda mendekati Anya.


Lalu Anya menatap pria dihadapan Lina kemudian mendekatinya dengan perlahan memperhatikan wajahnya dengan seksama "Arash? Kamu Arash kan?" tunjuk nya "Kamu Arash mantan pacar Dinda sepuluh tahun yang lalu kan?"


Dinda semakin kebingingungan, ia merasa panik melihat reaksi Lina.


"Anya.. Ayo kita bicara dulu--" Dinda pun menarik tangan anya ingin membawanya ke tempat lain, namun Anya menepis tangan dinda.


"Kamu ya! Arash kan?"


"Iya, kamu Anya kan?" jawab spontan Arash.


"Dasar gila! Ngapain kamu muncul lagi dihadapan Dinda, asal kamu tahu ya gara gara kamu dulu aku sama Dinda nggak bisa tidur dan nggak bisa makan selama seminggu! Berani beraninya kamu muncul lagi!" teriaknya memaki Arash.


Arash pun terdiam menatap Anya dan dinda bergantian. Dinda meraih pundak Anya "Anya, aku bisa jelasin, kamu tenang dulu okey?"


"Tunggu tunggu, kalau Dinda yang patah hati terus nggak bisa makan dan nggak bisa tidur itu wajar, kenapa kamu juga?" ucap Arash.


"Heiii!! Kamu pikir sekarang itu yang penting!" teriak Anya kesal.


"Jadi sekarang mau kamu apa?"


"Minta maaf!"


"Aku minta maaf Anya, sudah kan?" ucap Arash dengan wajah acuh karena tak ingin terus berdebat.


"Hahh.. Jangan minta maaf, bikin kesal!!" Arash hanya bisa mengerutkan alisnya.


Dinda pun kewalahan menenangkan Anya, sedangkan Lina hanya kebingungan di tengah tengah mereka masih mencoba menelaah situasi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2