
Adinda memasuki ruangan pengantin wanita, begitu ia tiba disana mempelai sudah menyelesaikan make up nya, ia mulai membantu mempelai mengenakan dress rancangannya, namun begitu dress terpasang tiba tiba bagian dada hingga perut sudah robek membuka sampai terlihat **********, Adinda pun sangat syok dengan kejadian langka itu, begitupula dengan reaksi pengantin yang panik.
"Maaf Nona Jolla, ini sesuatu yang seharusnya nggak terjadi" Ucap Adinda dengan panik.
"Duhhh.. Ini gimana sih? Terus nasip gaunku gimana dong?" keluhnya seraya menatap cermin.
"Tunggu.." Adinda memperhatikan dengan seksama bagian yang robek. "Seharusnya ini nggak bisa robek dengan sendirinya, aku rasa seseorang mengguntingnya, terlihat sangat rapi"
"Aku nggak mau tahu apa yang terjadi dengan gaun ini, aku harus segera datang ke pernikahanku!" jawabnya kesal. "Hahh.. Nggak seharusnya aku mengikuti saran Mavin untuk memesan gaun di butik kecil hanya karena desainernya adalah Istri temannya!"
"Maaf, Nona Jolla ini juga diluar kendali saya, seharusnya rekan saya sudah pasti mengeceknya terlebih dahulu, tolong tunggu sebentar--"
"Jadi kamu nggak mengeceknya sendiri dan hanya mengandalkan pekerjamu? Hahhh benar benar nggak profesional!!"
"Maafkan saya Nona, karena robekannya terlalu parah jadi akan memakan waktu lama jika diperbaiki, kalau saya ambil gaun jadi di butik yang sesuai dengan ukuran anda gimana?"
"Jadi maksudmu aku harus memakai gaun acak? Apa gaunmu ada lagi yang bagus?"
"Saya akan membawa beberapa yang desainnya agak mirip dengan gaun ini anda bisa memilihnya terlebih dahulu"
"Yasudah! Cepat ambil, ingat jangan lama lama atau aku benar benar akan menghancurkan bisnismu!!!"
"Baik Nona, tolong tunggu sebentar"
Begitu keluar dari ruangan mempelai wanita Adinda berlari sekuat tenaga menuju tempat motornya diparkir sejak semalam, Adinda memkai helmnya lalu menjalankan motor dengan kecepatan penuh, untunglah masih sangat pagi jadi ia tak terjebak macet dan sampai di butik dengan selamat.
Ia membuka rolingdor pintu karena Lina dan Tasya masih belum datang, dalam sekejap Adinda sudah mengobrak abrik isi lemari penyimpanan.
Ia baru ingat bahwa ia tak memiliki stok gaun jadi yang belum pernah disewakan, sedangkan kliennya kali ini sudah mengatakan saat fitting bahwa dirinya tak pernah memakai gaun yang pernah disewakan kepada orang lain. Wajahnya mulai mengernyit rasanya kepalanya ngeblenk untuk beberapa saat.
Adinda mulai memfokuskan pikirannya mencari solusi, tiba tiba ia teringat ada satu gaun tersisa di penyimpanan kusus dibagian laci paling bawah lemari, itu adalah gaun hasil karyanya sendirian tanpa campur tangan siapapun, Adinda mengerjakan gaun itu sedikit demi sedikit di sela sela pekerjaannya dan rencananya ia akan menggunakan gaun tersebut untuk mengikuti pameran kompetisi desain gaun pengantin Nasional yang batas pendaftaran sekaligus pengiriman desain akan ditutup 1 minggu lagi.
Bimbang, namun Adinda harus menentukan pilihannya dalam waktu singkat, tanpa berpikir panjang ia mengemas gaun tersebut ke dalam sebuah koper yang dibawanya dan bergegas kembali ke hotel.
Meski klien sempat kesal karena mau tak mau ia harus mengenakan satu satunya gaun yang di bawa oleh Adinda tanpa pilihan seperti yang dijanjikan oleh Adinda sebelumnya, namun raut wajah mempelai wanita terlihat cukup puas dengan gaun tersebut meski dia masih tetap mengoceh dan memaki panjang lebar saat proses memakainya karena acaranya diundur dari jadwal yang ditentukan, namun Adinda dengan sabar menghadapinya dengan senyuman karena memang benar semua itu adalah kesalahannya sepenuhnya, meski begitu ia lega karena masalah mendesak sudah teratasi.
Adinda berjalan bergandengan tangan bersama Arash memasuki aula pernikahan, kedua orang yang tampak sangat serasi itu tak kalah menjadi pusat perhatian orang orang mengingat berita yang belum lama beredar di internet.
Seperti biasa pandangan orang orang sangat mengganggu Adinda, namun ia sudah memutuskan untuk percaya diri dan menghadapinya dengan senyuman.
Adinda menoleh ke arah mempelai wanita dari kejauhan, syukurlah kliennya tampak bahagia, bagi Adinda itu sudah sepadan dengan perjuangannya menyiapkan gaun yang ia anggap istimewa itu.
__ADS_1
Adinda mulai merasakan pandangan yang amat menusuk dari satu arah, tak lama Mikayla menghampiri keduanya.
"Hai Ar.." sapanya kepada Arash, ia mengabaikan keberadaan Adinda.
"Kamu disini juga Kay?" tanya Arash.
"Tentu! Mavin kan teman kita saat kuliah di luar negri"
"Oke"
Mikayla menggandeng tangan Arash tiba tiba, "Ayo kita sapa teman teman kita disana yang sudah datang jauh jauh Ar.."
Arash segera menepis tangan Kayla, "Lepas, aku akan datang bersama istriku, ayo Din, aku akan perkenalkan dengan para kenalanku" ucapnya seraya menggandeng tangan Adinda, mereka menjauh dari Mikayla.
"Kenalan? Bukannya teman?"
"Bagiku mereka hanyalah kenalan, temanku cuma kamu! Teman yang akan menemaniku seumur hidup he he"
"Ciihh.. dasar! Apa nggak papa kamu ninggalin Mikayla gitu aja?" Adinda menoleh ke arah Mikayla yang tampak sangat kesal.
"Memangnya kenapa?"
"Nggak!"
Menyebalkan! Apa kali ini rencanaku gagal lagi? Dasar payah!.
Arash mengambil minuman dari seorang pelayan yang melewati mereka. "Minumlah"
"Terimakasih Ash"
"Apa kamu sudah lelah? Kamu kelihatan nggak bersemangat"
"Bukan, aku baik baik saja"
"Tapi gimana dong? Raut wajahmu seolah mengatakan aku sedang tidak baik baik saja, cepat tanya aku!"
"Apa kelihatan seperti itu? Tapi aku beneran nggak papa, aku ingin segera pulang dan tidur"
"Maksudnya kamu pengen tidur siang?" Adinda mengangguk "Sama aku juga?"
"No!" Adinda menatap waspada.
__ADS_1
"Dasar jahat"
"Hari ini entah kenapa aku ingin lihat DJ Arash bermain musik, lalu setelah itu kita berkendara memakai motorku"
"Loh..tiba tiba? Baiklah, aku akan kabulkan keinginan Yang Mulia Ratu!"
"Oke"
Setelah melakukan hal hal sesuai keinginan Adinda tahu tahu langit sudah mulai gelap, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah.
Di ruang tamu Arash dan Adinda melihat Mujin dan Mariana sedang berbincang, raut wajah keduanya terlihat sangat serius, namun begitu mereka mendekat keduanya tampak terdiam seolah mengalihkan pembicaraan dengan sengaja.
"Kalian sudah pulang?" ucap Mariana bangun dari duduknya.
"Iya Ma" jawab Adinda.
"Baiklah, kalian beristirahatlah, aku juga akan beristirahat" ucap Mariana lalu beranjak pergi, Adinda juga pergi terlebih dahulu.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" ucap Arash kepada Mujin dengan tatapan curiga.
"Penasaran yaa??" ledek Mujin.
"Hhhh"
"Aku cuma bilang aku ingin bekerja di hotel karena suntuk"
"Apaahhh??!!"
"Aku bilang ingin bekerja di hotel!!"
"Kenapa hotel? Bukan perusahaan?"
Mujin tersenyum, "Entahlah he he"
"Jangan tersenyum sialan!!"
"Eh he he, hari ini Adinda kelihatan begitu cantik ya, hhhh sayang sekali dia tak menyapaku"
"Apa kau bilang???!" Arash mencengkeram kerah baju Mujin dengan tatapan membunuh.
"Pukullah aku! Maka aku akan dapat kesempatan diobati olehnya..ayo pukul aku!" Mujin sengaja meledeknya menyodorkan pipinya, tangan Arash semakin mengepal, kemudian ia mendorong tubuh Mujin dengan keras.
__ADS_1
Bersambung.