Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Pertemuan yang tak diharapkan


__ADS_3

"Aku hanya penasaran, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu bersama Kak Donny" ucapnya dengan ragu ragu.


"Emm.. Tentu saja aku sangat bahagia, dia orang yang lembut dan bijak, aku menyukainya lebih dari diriku sendiri, apa ini menjawab rasa penasaranmu?"


"Ya! Andai.. Andaikan ternyata suamimu bukan orang yang selama ini kau tahu dan dia menghianatimu di belkangmu, apa yang akan kau lakukan?"


Tiba tiba anya tertegun "Mungkin aku akan hancur setelah menghancurkannya hahaha, Dinn.. Aku nggak nyaman dengan pembicaraan ini"


"Ohh?? Maaf Any, ayo bahas hal lain saja"


Anya terlihat terlalu takut bahkan hanya dengan membicarakan kemungkinan terburuknya, akhirnya Adinda mengurungkan niatnya demi menjaga perasaan sahabatnya, tapi dalam sudut hati Adinda merasa semakin tak nyaman.


.


Setelah Anya pergi Adinda memfokuskan pikirannya kepada pekerjaan yang sudah menantinya, sampai ia tak sadar hari sudah gelap dan hanya tersisa dirinya seorang karena ia hanya ingin fokus dan mengalihkan pikirannya yang rumit terkait sahabatnya.


"Drrtttt!" bunyi suara hp yang bergetar membuatnya kembali tersadar, Dinda pun menghentikan aktifitasnya dan mengambil ponselnya.


Panggilan dari Teman Serumah, "Apa?"


"Kau sudah selesai bekerja?"


"Ya! Sudah!"


"Oke, akan tiba dalam 10 menit, jangan membuatku menunggu a---"


"Emmm" Dinda pun segera mematikan panggilan meski Arash masih ingin bicara.


Adinda mulai membereskan barangnya lalu mengambil tas, kemudian ia keluar dan mengunci pintu.


Tiba tiba langkah kaki seseorang mendekat "Din" ucap pria bertubuh kurus tinggi itu seraya menyentuh pundak Dinda.


Dinda menoleh kebelakang, menatap lekat lekat wajah yang sudah lama tak dilihatnya "Kak Arjuna?"


Arjuna meringis melihat Adiknya yang masih mengenalinya meskipun mereka tak bertemu lebih dari 10 tahun. "Syukurlah kamu masih mengenalku, bagaimana kabarmu selama ini?"


Adinda menatap tajam kakak laki lakinya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, penampilannya terlihat lusuh, tangannya membawa tas besar yang lusuh pula, lalu ia memukul kepala kakaknya menggunakan tas, buk..bukkk!!.


"Hei hei hei.. Berhenti Adinda, sakit!!" teriaknya dengan kedua tangan melindungi kepalanya.

__ADS_1


Setelah cukup puas Adinda pun berhenti dengan nafas terengah engah. "Sudah lebih dari 10 tahun kita tak bertemu kenapa kau malah memukuliku begitu melihatku?"


"Dasar kakak bodoh! Kamu pergi meninggalkanku setelah kematian orang tua kita dan tak bisa dihubungi, tapi apa ini? Sekarang Kakak muncul dengan penampilan gembel seperti ini, setidaknya kupikir kau hidup dengan baik jadi aku tak perlu menghawatirkanmu dan hanya cukup menyalahkanmu yang kabur karena tak ingin bertanggung jawab atas hidupku!!" mengatakan hal itu dihadapan orang ini membuat air mata Adinda menetes mengingat perjuangannya hidup sendirian setelah kepergian orang tuanya dan kakak laki laki yang semestinya bisa ia andalkan ikut meninggalkannya juga.


"Maaf Dinn, aku pergi karena kupikir aku akan berhasil, tapi hasilnya malah seperti ini, mana mungkin aku kembali dengan mudah setelah meninggalkanmu, tapi syukurlah sepertinya kau hidup dengan baik" ia melihat keatas bangunan butik berlantai dua di hadapannya.


"Tentu saja aku hidup dengan baik!! Dimana saja selama ini?"


"Aku bekerja sebagai TKI di Malaysia, tapi seperti yang kau lihat aku tak berhasil, aku kesulitan sampai berhutang cukup banyak kepada rentenir, sekarang mereka sedang mengejarku habis habisan"


Adinda mengernyit kesal, ia duga Kakaknya masih suka berjudi sampai berhutang, dia yang selalu menyusahkan Ayah dan Ibu saat masih hidup dulu, Adinda semakin kesal mengapa ia harus mendengar hal yang tak enak seperti itu dari orang yang selama ini tak memperdulikannya.


"Dinn, pinjami aku uang, aku akan segera mengembalikannya, pasti kamu punya uang kan??"


Dinda merasa semakin kesal "Memang sifat seseorang tak mudah berubah!" gumamnya.


"Apah? Terserah kamu! Tapi kamu mau meminjamiku uang kan Din??" Arjuna menggoyang goyangkan tangan Dinda.


"Ternyata Kakak muncul hanya ingin meminta uang dariku??!! Setelah kamu membuat susah Ayah dan Ibu sekarang aku? Aku tak punya uang, Kakak bisa pergi sekarang! Aku sibuk" Adinda pun berjalan pergi namun Arjuna memegangi tangannya.


"Dasar adik tak berguna, jauh jauh aku datang kesini tapi kamu seperti ini kepada Kakak kandungmu sendiri!!" teriaknya.


"Dinn, tolonglaaahh, apa kamu mau melihat Kakakmu satu satunya mati dipukuli preman?" wajahnya memelas.


"Dasar bedebah menyedihkan, mati sajalah!!"


Plaaakkkkk!!!!! Juna menampar pipi adiknya sampai tubuhnya jatuh terpental "Dasar adik tak tahu diri!!!"


"Adinda!!!" Teriak Henry yang baru saja keluar dari bangunan sebelah. "Ayo bangun Dinn" Henry membantu Dinda bangun. "Apa apaan ini? Beraninya laki laki main tangan dengan perempuan!!" tegasnya menatap Juna tajam, sosoknya yang biasa lembut sekarang terlihat sangat dingin dan menyeramkan.


"Siapa kau!! Jangan ikut campur urusan keluarga!!"


"Keluarga macam apa yang memukul keluarganya sendiri!!"


"Hei.. Sudah kubilng jangan ikut campur kan!! Ohh.. Apa jangan jangan kau memiliki hubungan dengan adikku? Berikan aku uang kalau begitu!"


"Kakak!!! Berhenti!!" teriak Adinda yang sudah tak tahan lagi.


"Kamu sepertinya kaya? Adikku memang pintar memilih pacar dulu maupun sekarang!! Ayoo berikan uangnya!!!" Juna semakin mendesak Henry yang masih berusaha menelaah situasi.

__ADS_1


"Jangan hiraukan dia Henry, kamu bisa pergi, aku akan menyelesaikan ini sendiri" ucap Dinda.


"Nggak bisa, aku nggak bisa meninggalkanmu bersama bedebah yang memukul adiknya sendiri ini" jawab tegas Henry.


"Memangnya kamu mau apa? Kalau kau memukulku aku tak akan merestui hubungan kalian berdu----"


Bukkkkk!!!!! Henry memukulnya dengan keras karena Juna terus berbicara omong kosong "Dasar sialan!!!" teriak Juna.


"Maafkan aku Din, aku berusaha tak memukulnya karena dia kakakmu tapi tanganku refleks jadi---" ucapnya kepada Dinda.


"Apahh?? Refleksss??" Juna berlari ke arah Dinda lalu ia mencengkeram leher Dinda sambil menodongkan pisau kecil yang diambil dari sakunya. "Aku juga refleks, berikan uang atau ku habisi pacarmu!!!"


"Kakak sudah gila!!!"


"Diam atau tak segan segan aku menghabisimu, apa kau pikir aku peduli denganmu?"


Henry tersentak dalam diam, tubuhnya kaku, karena tak ingin memperpanjang masalah akhirnya ia mengeluarkan hp nya "Berapa yang kau mau? Lepaskan Dinda terlebih dahulu, aku akan mentransfer uangnya sekarang juga!"


"Ohhooo!! Harusnya begitu dari tadi, berikan 10 juta!! Transfer ke 6391xxxxx"


"Hahhh.. Hanya karena uang 10 juta kau sampai berbuat seperti ini pada adikmu sendiri?"


"Kalau Dinda bisa diajak bicara baik baik aku tak akan menggunakan kekerasan, salahnya sendiri--"


"Berhenti beromong kosong aku sudah mentransfermu 15 juta, tapi sekali lagi kau muncul dihadapan Adinda aku akan benar benar menghabisimu!!" ia menunjukkan bukti transfer di hp nya.


Arjuna pun menyeringai "Bagus!!" kemudian dia mendorong tubuh Adinda ke arah Henry lalu melarikan diri dengan cepat.


Saat itulah mobil Arash berhenti tepat di depan Dinda yang masih berada di pelukan Henry, lampu mobil Arash membuat Dinda dan Henry menutupi matanya karena silau.


Arash pun turun dengan mata tajam yang tertuju pada tangan Henry yang memegangi Lengan Dinda.


"Kau sudah datang?" ucap Dinda lalu Arash menyuruhnya masuk menggunakan isyarat wajahnya yang menoleh ke mobil.


Adinda melepaskan pegangan tangan Henry "Henry, terimakasih untuk yang barusan, aku akan menggantinya nanti, sampai bertemu lagi"


"Yaa, kau tak perlu memikirkannya hati hati di jalan" Henry tersenyum dan melambaikan tangannya sementara Arash masih menatapnya dengan wajah tak suka, lalu ia masuk kembali ke dalam mobil.


Iihhh menyeramkan, apa itu pacar Dinda?? Apa Dinda sudah memiliki kekasih? Hmmm sayang sekali.....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2