
“Aku akan mengantarmu ke kantor Polisi” ucap Adinda ketika mobil mereka sudah mulai berjalan.
“Tidak! Biar aku antar kalian dulu lalu aku akan naik taxi ke sana, kalian pasti lelah”
“Mami...” panggil Jean, dia duduk di pangkuan Adinda.
“Ada apa sayang?”
Jean mendekatkan wajahnya ke telinga Adinda, “Aku nggak cuka cama Om galak ini, aku maunya Papi Henly” Bisiknya yang bisa didengar dengan jelas oleh Arash.
Meski merasa sedih dan kecewa Arash tak menunjukkannya, ia hanya terus tersenyum saat melihat anak itu menatapnya dengan kewaspadaan seolah ia merasa bahwa laki laki yang tak disukainya itu akan merebut Maminya.
“Jean nggak boleh bicara seperti itu ya, itu tidak sopan! Om ini memang terlihat sangat galak dan ganas, juga seperti monster yang muncul saat halowin, apa Mami benar?” Jean
mengangguk tersenyum meledek, Arash hanya terdiam pasrah namun ia senang karena akhirnya ia melihat senyum Putrinya. “Tapi.. monster yang muncul di saat halowin
itu sebenarnya adalah monster bohongan, mereka orang sama seperti kita, Jean pintar pasti mengerti kan?”
“Aku mengelti Mami, Jeje Pintall..” jawabnya dengan antusias.
“Jadi.. seperti monster monster itulah om ini.. Om galak ini hanya muncul kemarin, sekarang Om nya sudah tidak lagi galak, lihatlah dia tersenyum terus dari tadi kan?”
Dug Dug!! Kaki Adinda menendang nendang kaki Arash memberikan isyarat padanya agar ia tersenyum lagi, Arash pun tersenyum menatap Jean namun Jean malah kehilangan
senyumannya. Tapi itu tak membuat Arash berkecil hati.
Arash menyadari bahwa kehadiran orang yang mengaku sebagai Ayahnya tiba tiba membuatnya terkejut, wajar jika anak itu belum bisa menerimanya dan belum bisa nyaman berada di dekatnya, ia yakin suatu saat nanti Putrinya akan menerimanya, ia
pikir untuk sekarang ia hanya perlu berusaha untuk tersenyum di depan anak ini meski rasanya bibirnya hampir kram.
.
Akhirnya mobil sampai di halaman rumah, ketika mereka bertiga turun, di kursi teras rumah sudah ada 3 orang yang memasang wajah suram menatap ke arah satu orang yaitu Arash.
Jean berlari menghampiri Kakek buyutnya, “Kakek buyut.. apa kalian cemua menunggu Jeje pulang?”
“Tentu saja sayang, dari mana saja kamu baru pulang, apa ada orang asing yang memaksa
__ADS_1
kalian pergi bersamanya ke suatu tempat?” ucap Karina dengan sesekali melirik tajam ke arah Arash.
"Tante!!" ucap Adinda agar Karina berhenti.
"Ayo Jeje sayang, kita masuk saja" ucap Karina, ia menggendong Jean membawanya masuk.
"Adinda, mulai hari ini di rumah kita memiliki jam malam, tidak ada yang boleh pulang lewat dari jam 8!" ucap Rakka dengan wajah dingin, kemudian ia masuk ke dalam.
"Kalian kenapa begini sih!" gumam Adinda.
"Adinda dengar ucapan Pamanmu kan? Sekarang masuk!" ucap Dewangga yang sudah berdiri lalu berjalan masuk.
Adinda melirik wajah Arash yang terdiam dengan perilaku keluarga Adinda kepadanya, "Jangan diambil hati, mereka sebenarnya orang orang baik"
"Iya, aku nggak apa apa, ini nggak seberapa di banding perlakuan Ibuku padamu dulu"
Mendengar Arash berbicara seperti itu membuat perasaan Adinda tak nyaman, ia merasa tak tega. "Bukankah kamu harus ke kantor Polisi? Pergilah.."
"Iya.. Aku pergi sekarang ya!" Adinda mengangguk melihat Arash pergi dengan senyuman di wajahnya.
🍀🍀🍀
Tiba tiba ia mendapatkan panggilan masuk dari Pak Andy, Arash segera menjawabnya.
"Ada apa Pak Andy?"
"Tuan Arash, datanglah sekarang ke kantor.. Ibu Mariana berencana mengumumkan kepada media bahwa anda akan dihapus dari daftar pewaris jika anda tak datang sekarang juga"
"Jadi Mama mengancamku menggunakan uangnya? Aku tak peduli lagi Pak Andy, biarkan dia melakukan sesuai keinginannya"
"Tuan Arash, tolong jangan keras kepala, selain itu Ibu Mariana berkata bahwa akan memasukkan nama Lee Mujin ke dalam kartu keluarga dan mengadopsinya, anda tahu apa artinya itu kan?"
"Yasudah.. Sebentar lagi aku kesana" Arash mematikan panggilannya.
Tak lama ia sampai di depan ruang kerja Mariana, ia membuka pintu, disana sudah ada Lee Mujin duduk berhadapan dengan Mariana.
"Sudah kuduga kamu akan datang" ucap Mariana tersenyum puas menatap Arash.
__ADS_1
Arash berjalan mendekat, "Aku datang kesini untuk mengatakan langsung kepada anda bahwa aku ingin anda melakukan apapun sesuai keinginan anda, aku tak peduli lagi dengan pewaris atau yang semacam itu!" ucapan Arash membuat Mariana mengernyitkan dahinya.
"Rupanya kamu benar benar menantang Mama ya!!"
"Iya.. Yasudah aku sudah mengatakan yang ingin dikatakan aku akan pergi sekarang" Arash pergi setelah melirik wajah Mujin yang tersenyum.
Brakkk!! Arash menutup pintu dengan keras.
Mariana memegangi dahinya, "Anak itu benar benar keras kepala! Bahkan rencana yang kau usulkan gagal!" ucapnya kepada Mujin.
"Itu karena dia belum merasakan bagaimana sulitnya hidup tanpa uang, percayalah padaku kali ini saja Ibu Mariana, lakukanlah sesuai rencana, jadikan aku anak sekaligus pewarismu yang sah, aku yakin setelah Arash merasakan bagaimana kehidupannya tanpa uang keluarga Hutama dia benar benar akan kembali"
"Apa kau belum tahu jika Arash selama ini hanya menerima gajinya? Tak ada uang lain dariku atau perusahaan yang diterimanya!"
"Ohh.. Benarkah? Aku cukup terkejut dengan kemandiriannya, tapi tetap saja, dia akan kehilangan pekerjaan mapannya dan tak lagi memiliki pemasukan"
"Kau mengatakan itu karena menginginkan perusahaanku kan? Jujur sajalah.. Aku tidak bisa kau tipu Lee Mujin!!"
"Eheiii... Aku serius ingin membantu anda memberikan pelajaran kepada Putramu yang keras kepala itu Ibu Mariana, jika anda tak bisa percaya anda bisa menulis surat perjanjian untuk itu.. Aku bukan orang yang seserakah itu!!"
"Bagaimana jika Arash benar benar tak kembali? Apa yang akan kau lakukan?"
"Itu.. Saya akan mengikuti keinginan anda saja, saya tak akan menolak jika anda meminta saya memegang kendali perusahaan meski itu merepotkan, toh.. Siapa lagi yang akan melakukan itu selain diriku!"
Dasar anak licik ini, bahkan setelah memegang kendali Hotel aku tak bisa mengusirnya dengan mudah karena dia sudah melakukan persiapan yang sempurna untuk itu, apa yang akan terjadi jika dia menduduki kursiku?.
"Jangan menatapku setajam itu Ibu Mariana, wajahku bisa bolong he he"
"Sudah cukup! Pergilah lakukan pekerjaanmu di hotel, aku butuh waktu berfikir terlebih dahulu"
Mariana pikir cara seperti itu tak akan mempan merobohkan keras kepala Putranya karena dia sudah benar benar bertekad, salah salah dia akan kehilangan perusahaannya jika bertindak sembarangan.
.
Mata Arash refleks melihat ke arah tempat butik dulu berada ketika melewati jalanan yang dilewatinya kini, namun tiba tiba didepan matanya ia melihat Adinda dan Jean berjalan memasuki Sweet Cofee.
"Bukannya itu kafe milik si gondrong? Hahhh.. Ngapain mereka berdua kesana? Nggak bisa dibiarkan, bisa bisa Putriku semakin lengket dengan laki laki itu!!"
__ADS_1
Arash segera berbelok memarkirkan mobilnya di depan Sweet Cofee.
Bersambung.