Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Introspeksi diri


__ADS_3

Arash yang masih terbakar amarah turun setelah menepikan mobilnya, ia mengeluarkan sekotak rokok beserta koreknya dari kantong celana. Ia menyandarkan tubuhnya pada mobil sementara bibirnya terus menerus menghisap satu persatu batang rokok.


Setelah mendinginkan kepalanya dengan 3 batang rokok sebagai penenngnya ia mulai tersadar akan apa yang sudah dilakukannya.


"Kenapa aku semarah ini? Hahhh.. Harusnya aku bisa lebih sabar.. Aku sudah menjadi seorang ayah tapi tempramenku masih buruk" gumamnya.


Tiba tiba ponsel Arash berdering, panggilan masuk dari Denis, Arash pun menjatuhkan puntung rokoknya kemudian menginjaknya, lalu ia menjawab panggilan seraya kembali masuk ke dalam mobil.


Sesui permintaan Denis, mereka bertemu di sebuah coffe shop, begitu Arash sampai Denis melambaikan tangannya.


"Duduklah Pak Arash" Ucap Denis, "Anda mau minum apa?"


"Katanya ada yang mau dibicarakan? Ayo bicara dulu" Arash duduk dengan menyilangkan kakinya.


"Baik.. Jadi.. Saya mau membicarakan tentang Bu Adinda.."


"Kalau itu aku sudah tahu semuanya"


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu"


"Ya, aku juga mau minta maaf, karena masalahku kau jadi menerima perlakuan tak mengenakan dari Ibuku"


"Anda tak perlu minta maaf, saya senang melihat anda kembali sehat"


"Ya.."


"Anu Pak.. Saya barusan melihat artikel aneh yang menyebutkan bahwa Tuan Lee Mujin yang menggantikan kursi Ibu Mariana, Identitasnya juga sudah terbongkar, itu cukup membuat heboh, anak diluar nikah suami yang sudah meninggal menjadi pewaris perusahaan? Keabsenan anda di situasi ini juga dipertanyakan"


"Itu hanya berita sampah, Ibuku sengaja menerbitkannya agar aku kembali"


"Eh.. Apa anda sedang kabur dari rumah?"


"Kabur? Kamu kira aku anak remaja?"


"Eh.. Bukan gitu, anda tak akan kembali meski Ibu anda di rumah sakit karena terkena serangan jantung?"


"Apah? Serangan jantung?"


"Apa anda tidak tahu? Setidaknya beritanya sudah menyebar"


Tiba tiba Arash bangun, "Aku pergi dulu"


"Baiklah"


.


Arash berlari menuju resepsionis rumah sakit, begitu sampai di depan ruang rawat ia melihat Pak Andy sedang duduk menelevon disana, dia tampak sibuk.


Begitu melihat Arash di depannya Pak andi segera mengakhiri panggilannya, menaruh kembali ponselnya di saku celana.


"Akhirnya anda datang juga"


"Bagaimana keadaannya?"


"Beliau sangat kelelahan dan banyak pikiran ditambah lagi sebelum pingsan beliau bertengkar hebat dengan Lee Mujin, artikel itu bukan Ibu Mariana yang menerbitkan, itu ulah Lee Mujin meski sekarang sudah di blokir dan dikonfirmasi berita hoax, tapi masalahnya sekarang identitas Lee Mujin sedang ramai di perbincangkan, tak butuh waktu lama orang orang akan semakin mengorek identitas aslinya"

__ADS_1


"Sepertinya anda ketinggalan berita, dia sudah dikonfirmasi bahwa dia adalah anak diluar nikah Ayahku"


"Be.. Benarkah? Saya akan segera bertindak.."


"Sudahlah.. Biarkan saja semua orang tahu, aku punya rencana untuk sepenuhnya mengusirnya"


"Rencana apa yang anda maksud?"


"Sesuatu yang hanya diketahui olehku.." Arash tersenyum menyeringai.


"Baiklah.. Tapi kapan anda akan kembali bekerja di perusahaan? Anda harus menggantikan Ibu Mariana untuk sementara waktu bukan?"


"Aku tidak bisa melakukan itu sebelum Mama mengaku salah atas tindakannya selama ini, saya yakin anda bisa mengatasinya Pak Andy"


"Yah.. Saya tidak bisa memaksa anda, memang selama ini Ibu Mariana sudah sangat kelewatan, Beliau harus introspeksi diri dari kejadian kali ini" ucap Andy seraya mengangguk angguk. "Jadi sekarang anda tinggal dimana?"


"Di villa pribadiku yang tak diketahui olehnya" ia melihat Mariana dari kaca pintu.


Arash masuk dengan langkaah hati hati, ia melihat Mariana yang sedang berbaring memakai baju rumah sakit, wajahnya terlihat sangat pucat, saat ini dia benar benar terlihat lemah.


Tiba tiba tangan Mariana bergerak, Arash segera pergi karena sepertinya Ibunya akan terbangun, ia tak ingin menghadapi Ibunya untuk saat ini.


Mariana membuka matanya, saat itu Pak Andy baru saja membuka pintu.


"Anda sudah baikan Bu?"


"Aku baik baik saja, hanya sedikit lemas"


"Syukurlah.."


Mariana kembali terdiam menatap langit langit putih ruangan itu.


"Benarkah? Apa akhirnya dia kembali karena aku sakit?" jawabnya antusias.


"Tidak, dia hanya datang melihat kondisi anda sebentar"


Seketika raut wajah kecewa Mariana terlihat jelas. "Apa dia terlihat sehat?"


"Ya, dia terlihat seperti biasanya"


"Anak itu selalu baik baik saja tanpa diriku..sebaliknya aku merasa tidak bisa bernafas jika tak melihatnya.. Aku tahu aku adalah orang tua yang buruk baginya, aku yang terlalu percaya diri karena mengira dia akan selalu berada dipihakku apapun yang kulakukan hanya karena dia adalah Putraku satu satunya dan pewaris tunggal, apa yang harus kulakukan agar dia kembali?"


"Anda bisa memikirkannya setelah kesehatan anda pulih"


"Benar...aku tidak boleh mati dalam keadaan seperti ini atau Putraku tak akan mengadakan pemakaman untukku kan?"


"Tolong jangan bicara seperti itu"


***


Pagi hari yang cerah, Adinda menggendong Jean menuju meja makan tempat semua orang berkumpul di pagi hari.


"Celamat pagii cemua..." sapa Jean dengan riang membuat semua orang tersenyum.


"Selamat pagi cantik, ayo duduk dikursimu" jawab Karina tersenyum.

__ADS_1


Semua orang menikmati sarapannya, "Ehemmm.." tiba tiba Rakka berdehem. "Ada yang mau kukatakan mumpung semua orang berkumpul" ucapnya menatap semua orang satu persatu.


"Cepat katakan saja jangan kebanyakan basa basi" ucap Dewangga yang tak sabar.


Rakka mengangguk, "Ayah..aku mau nikah lagi.."


"Hemmmm.."


"Kakak.. Kali ini kau akan menikahi janda yang mana? Haha" ledek Karina.


"Dia masih gadis, seumuran dengan Adinda"


"Apahhhh!!!! Kakak gila yaa!! Kakak mau menikahi gadis muda Yang bahkan seusia Adinda? Setengahnya usiamu? Wahh benar benar gilaa.." Karina menggeleng gelengkan kepalanya.


"Bukan setengahnya juga kali! Memangnya kenapa? Aku juga masih terlihat berusia 30an.. Benar kan Adinda?" Adinda hanya meliriknya.


"Dasar tua tua keladi!!" ucap Karina lagi.


"Tidak boleh!!" tegas Dewangga lalu ia menyeka mulutnya.


"Ayah.. Kenapa? Apa karena jarak usia kami yang jauh? Dia benar benar gadis baik, dia dewasa dan penuh perhitungan, dia sangat cantik, aku juga sudah berkunjung ke rumahnya dan orang tuanya menyambutku dengan hangat"


"Lakukan saja jika Kamu ingin mempermalukan dirimu sendiri!!" jawab Dewangga lagi.


"Ayah!!! Kenapa aku mempermalukan diriku??!!"


"Sudah jelas gadis muda itu pasti mengincar hartamu!" ucap Karina.


"Hei!! Nenek tua sepertimu tahu apah!!" teriak Rakka kepada Karina.


"Beraninya kamu membentakku!! Dasar Kakek tua tukang kawin!!!"


Brakkkk!!! Dewangga menggeberak meja makan. "Apa kalian tidak malu kepada Jean?" Seketika semua orang melihat kearah Jean yang tersenyum karena Adinda menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.


"Maaf.." sesal Karina.


"Kakek..Tante.. Bagaimana kalau kita beri kesempatan kepada Om untuk membawa kekasihnya kemari? Kita bisa menilai bagaimana wanita itu kan? Apa dia layak menjadi istri Om Rakka atau tidak" ucap Adinda berusaha menengahi.


"Benar Adinda.. Cuma kamu yang paling pengertian" Rakka tersenyum cerah.


Dewangga berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan usulan dari Adinda.


"Oh iya Din.. Tante sudah banyak dibantu dengan desain desain baju yang kamu berikan, semuanya terlihat fresh dan Tante yakin baju baju itu akan sangat laris dan menjadi tren baru nantinya"


"Baguslah jika aku bisa membantu Tante.."


"Untuk seterusnya bisa kamu bantu tante?"


"Tentu jika aku ada waktu"


"Maksud Tante, kamu mulailah bekerja di kantor, Tante akan menyiapkan posisi yang bagus, Jeje sudah besar, dia juga sudah akrab dengan pengasuhnya"


"Apa maksudmu? Adinda sedang menyiapkan butiknya sendiri, jangan ganggu keponakanmu dengan pekerjaanmu!!" jawab Dewangga.


"Masih belum menyiapkan kok Kakek, membuat Desain baju seperti itu ternyata lebih menyenangkan, aku akan memikirkannya Tante"

__ADS_1


"Bagus Adinda.."


Bersambung.


__ADS_2