
Arash membuka pintu kamar setelah melakukan cek in dadakan dengan disusul oleh Adinda dibelakangnya, entah mengapa begitu memasuki kamar presidential suite room itu jantung Adinda berdebar semakin cepat.
Tiba tiba Adinda tertegun, ia teringat kamar itu adalah kamar yang sama saat ia baru saja resmi menikah, Adinda kembali teringat kenangan pada hari itu ditempat ini, karena tak ada dekorasi pengantin baru yang menggelikan ruangan itu terasa sangat nyaman sekarang.
"Adinda..mau mandi bareng?" ceketuk Arash dengan santainya.
"Apah?!" mata Adinda membelalak saking terkejutnya.
"Ha ha ha..lihatlah ekspresimu itu, aku cuma bercanda..kalau begitu aku mandi dulu ya.." Arash berjalan dengan cepat ke kamar mandi.
Brak! Ia berdiri di balik pintu, wajah Arash memerah. "Ahh..aku benar benar sudah gila.." gumamnya. Sebenarnya ajakan mandi bersama itu tak sepenuhnya bercanda.
Sementara Adinda terduduk di atas pinggiran tempat tidur dalam diam dengan wajah kebingungan.
Rasanya sangat canggung menunggu seseorang yang sedang mandi di kamar hotel begini..duhh..aku ngapain ya..
Arash pun muncul dengan pakaian mandinya berwarna putih, Adinda segera bangun, ia berjalan dengan cepat ke kamar mandi.
"Hehe..lucu banget sih Adinda Adinda" gumam Arash tersenyum melihat ekspresi wajah Adinda yang malu.
Adinda membuka pintu kamar mandi dengan pelan dan hati hati, ia melirik ke keberadaan Arash, Arash sudah berbaring di tempat tidur. Adinda berjalan mendekat, tampaknya Arash sudah tidur, yah itu wajar karena jam dinding diatas tempat tidur sudah menunjukkan pukul 11 malam, Adinda pun berbaring dengan hati hati disampingnya.
Jadi dia memang mengajak menginap untuk tidur? Hanya tidur? Astaga..sia sia aku gugup dari awal..
Adinda mematikan lampu di sampingnya, kasur yang empuk dan lembut membuatnya sangat nyaman, dalam waktu singkat ia sudah mengantuk.
"Hooaammmm" ia menutupi mulutnya dengan tangan.
Grepppp...tiba tiba saja Arash memeluknya. "Kupikir kau sudah tidur"
"Apa kamu pikir aku bisa tidur dalam situasi ini?"
"Ap apaa? Me memangnya kenapa situasinya?" Adinda tergagap.
"Ha ha ha"
"Jangan ketawa!"
"Ha ha ha, hari ini kamu lucu banget sih Adinda"
"Lucu apanya! Berhenti tertawa!"
"Oke.. "
Arash mulai terdiam, mereka bertatapan dalam gelap dengan cahaya yang samar samar, tangan Arash mulai membelai pipi Adinda dengan lembut.
"Aku mencintaimu Adinda.." Bisiknya.
"Aku juga mencintaimu Ash" jawab Adinda.
Arash mulai mencium bibir Adinda dengan lembut..begitu Adinda membalas ciumannya seketika tubuh Arash semakin memanas, ia melanjutkan menyusuri leher kemudian turun ke dadanya, semakin lama nafas keduanya semakin berat.
__ADS_1
"Adinda.. Katakanlah sekarang jika ingin berhenti" bisiknya di telinga Adinda, Adinda bisa merasakan nafasnya yang panas di telinganya.
"Lakukan apapun yang kau mau Ash.."
Mendengarnya mengatakan kata yang begitu diharapkannya membuat hasrat Arash semakin memuncak, ia mulai berpindah mengunci tubuh Adinda dalam pelukannya, dalam waktu singkat ia sudah melemparkan pakaian mandi yang dikenakan keduanya ke lantai.
.
Cip cip cip.. Burung berkicau bertanda matahari sudah hampir muncul, Arash yang masih bertelanjang dada itu membelai lembut rambut wanita yang masih terlelap pulas hanya berbalutkan selimut putih yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Waktunya bangun Adinda..." bisiknya pelan.
"Emmmm... Aku masih ngantuk, ayo tidur sebentar lagi" jawabnya dengan suara lesu.
"Katanya ada pekerjaan penting hari ini?"
"Benar juga" Adinda mulai membuka matanya, "Ahhh..tubuhku.."
"Kenapa?"
"Seluruh tubuhku sakit"
"Apa itu salahku?"
"Tentu saja!"
"He he.. Maaf, aku terlalu bersemangat tanpa sadar aku hhhhmmmmppppp" Adinda membungkam mulutnya dengan tangan karena merasa malu dengan arah tujuan pembicaraan itu.
"Nggak perlu di tutupi! Aku sudah melihat semuanya.. Hehe" godanya
"Dasar!" Adinda segera berlari ke kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi Arash sudah tak ada di tempatnya, Adinda berjalan ke arah tempat tidur, di atasnya ada sebuah papper bag hitam berisi baju dan pakaian dalam wanita.
"Kapan dia menyiapkan ini? Masih ada bandrolnya, gila.. Mahal banget untuk ukuran pakaian yang di pakai di dalam, ukurannya pas lagi.." gumamnya dengan raut wajah malu.
Saat Adinda sedang bercermin Arash membuka pintu, "Kau dari mana?" tanya Adinda seraya sibuk memakai make up di wajahnya.
Arash mendekatinya "Aku baru saja mengurus sesuatu untukmu"
"Untukku?"
"Iya, kenapa nggak pakai gaunnya?"
"Aku akan pakai setelah selesai mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu"
"Oke"
Wuunggg wunnnggg.. Arash menyalakan hair dryer dan membantu Adinda mengeringkan rambutnya, Arash melihat wajah Adinda yang tersenyum dari cermin besar di hadapan mereka.
"Liburan ke bali yang tertunda, ayoo kita pergi secepatnya Adinda"
__ADS_1
"Tiba tiba?"
"Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu tanpa diganggu oleh pekerjaan kita"
"Aku akan pikirkan.. Memangnya apa yang ingin kau lakukan disana?"
"Memelukmu seharian tanpa keluar dari kamar!" ucapny tegas membuat Adinda ternganga.
"Bener bener deh.. Untuk apa berlibur ke tempat jauh kalau hanya untuk itu..Apa keinginanmu itu tak terlalu biasa?"
"Apa kau bilang?! Bagiku itu adalah kemewahan yang tak bisa dinilai dengan uang!! Bersama denganmu adalah harapan terbesarku"
"Hahhh..kau membuatku malu saja, tolong jangan katakan hal yang menggelikan begitu ah"
"Hehe" Arash mematikan hair dryer dan meletakannya di atas meja kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Adinda dengan tangan yang melingkar di perutnya. "Hahhh.. Aku nggak mau bekerja"
"Jangan jadi pemalas! Kau harus bekerja keras agar anak kita nanti hidup dengan nyaman"
"Wah..Adinda kau sudah membayangkan anak?"
"Eh??" Adinda hanya tersipu malu.
Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu, Arash pun membukanya.
"Kakak!!!!" ucap Lina menghampiri Adinda.
"Loh Lina, kenapa kesini? Sepagi ini?" Adinda kebingungan. "Koper? Jangan jangan?"
Lina menatap Arash dengan tajam "Hahhh.. Aku sudah selesai melakukan tugasku jadi aku akan pulang dan tidur lagi beberapa jam! Tolong jangan ganggu aku kakak ipar!" ucapnya kepada Arash, Arash hanya mengalihkan wajahnya.
Adinda mengantar Lina ke depan kamar, "Maaf ya Lin, kamu pasti capek, gara gara aku.."
"Ini bukan salah kakak, aku kesal dengan suami kakak karena sejak jam 3 pagi dia sudah menelvonku terus terusan untuk membawa keperluan pekerjaan kakak, hoammm aku ngantuk banget"
"Maaf ya, kau bisa membuka butik lebih siangan, sana pulang dan tidur lagi.."
"Oke Kak"
Brak! Adinda kembali ke kamar mendekati Arash yang duduk di sofa dengan tatapan tajam. "Itu..aku hanya bermaksud membantumu jadi--"
"Apa kamu nggak tidur?"
"Ehh??"
"Terimakasih sudah membantuku, tapi kamu juga harus beristirahat kan? Jangan begitu lagi oke"
"Oke..Apa kamu menghawatirkanku Adinda?"
"Tentu saja..kamu suamiku dan orang yang berharga bagiku.."
Arash tersenyum, ia mengangkat tubuh Adinda. "Kyaaaaa.. Turun kau mau apa? Aku harus pergi.. " Arash membawanya kembali ke tempat tidur lalu menciuminya. "Hentikan! Geli, haha geli banget! Ahh Hentikan aku benar benar harus pergi sekarang!!!..."
__ADS_1
Bersambung.