Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Berbagi ruang


__ADS_3

"Adinda..ada yang ingin kubicarakan, setelah makan datanglah ke kamarku" ucap Mariana yang baru saja menyelesaikan makannya.


"Baik Ma"


Dreeeekkkkkk.. Mariana bangun dari kursinya dan berjalan ke kamarnya, tak lama Adinda pun menyusul.


"Tok tok tok" Adinda mengetuk pintu kamar Mariana yang berada di lantai 1.


Mariana membuka pintu "Masuklah"


"Iya, permisi" ini adalah pertama kalinya Dinda masuk ke kamar Ibu Mertuanya, kamar yang luas dengan dekorasi yang simpel dan rapi, sangat cocok dengan kepribadian pemilik kamar.


"Duduklah"


"Baik" mereka pun duduk berhadapan di sofa.


"Maaf aku tak bisa menepati janjiku untuk membuatmu memakai kamar terpisah dengan Arash, ini karena semuanya terjadi begitu saja"


"Tidak apa apa Ma, aku bisa mengerti"


"Seperti yang sudah kau dengar, Mujin adalah anak dari suamiku dengan cinta pertamanya di korea, usianya hanya selisih 3 bulan dengan Arash.." tiba tiba ucapannya terhenti. "Hhhhhh" ia menghela nafasnya. "Ini memalukan, aku harus mengatakan hal seperti ini dengan mulutku sendiri bahwa faktanya keluarga kami berantakan begini"


"Maa, aku mengerti, jangan merasa terbebani hanya karena aku mengetahui rahasia keluarga ini"


Mariana menatap Dinda dalam dalam "Andai kau benar benar menantuku, aku merasa cukup nyaman denganmu, tak bisakah kau mulai melakukan pendekatan yang serius dengan putraku?"


"Kenapa Mama tiba tiba---" Adinda bingung dengan arah pembicaraan yang tiba tiba berubah.


"Mama harap kalian menjadi sumi istri yang sesungguhnya, apa kau tidak menyukai putraku? Arash itu tampan meski bicaranya sedikit kasar dan tak sabaran tapi sebenarnya dia baik, Dinda.. Kau tahu tidak? Arash sudah tahu perselingkuhan Ayahnya saat ia berusia 11 tahun, mereka berdua pernah bertemu saat itu"


"Mereka berdua?"


"Ya, Arash dan Mujin, Ayah Arash selalu mengajak Arash saat dirinya menemui kekasih dan putranya saat kembali ke korea bersama dengan kami, Arash menyembunyikan fakta bahwa Ayahnya berselingkuh sejak saat itu, dia memendamnya sendirian demi Mamanya ini, dia juga pasti merasa berat menerima kehadiran Mujin, kuharap kau menghiburnya Adinda"


"Baik Ma"


"Hahhh.. Aku terlalu banyak bicara"


"Tidak apa apa Ma, Apa Mama baik baik saja?" raut wajah Adinda penuh dengan kekawatiran.

__ADS_1


Ucapan Adinda membuatnya tertegun, tentu saja dia merasa tak baik baik saja, tapi dengan seseorang menanyakan keadaannya seperti ini rasanya ia menjadi jauh lebih baik, Mariana merasa terharu, selama ini orang orang yang berada didekatnya tak pernah menanyakan keadaannya dan ia selalu mengubur rasa kesepiannya di tengah tengah kesibukannya yang padat, sedangkan putranya memang pada dasarnya tak pandai mengutarakan perasaannya, sisinya yang seperti itu sangat mirip seperti dirinya.


Mariana merasa oh begini rasanya diperhatikan oleh seseorang?. Mariana pun tersenyum "Aku baik baik saja"


"Syukurlah, Mama boleh memanggilku kapanpun saat Mama membutuhkan teman bicara"


Mariana tertegun lagi, ia mulai bertanya tanya apa dia benar benar membutuhkan teman bicara? Mengapa anak yang belum lama dikenalnya itu seolah bisa membaca apa yang dipikirkan oleh dirinya dan sangat memahami perasaannya? Mariana pun tak mengerti, satu satunya orang yang biasa diajaknya bicara santai hanyalah sekretaris pribadinya, namun pembicaraan mereka tak lebih dari membicarakan pekerjaan, kini perlahan ia mulai sadar betapa kesepiannya ia selama ini dan betapa berharganya perasaan memiliki seseorang yang berada dipihak kita.


"Baiklah, kau sudah bilang begitu, kau harus mau saat kupanggil kapanpun itu!" tegasnya dengan wajah tersipu.


Adinda tersenyum, eskpresinya saat ini sangat mirip dengan ekspresi Arash saat sedang malu malu. "Siap Maa"


"Kau pasti lelah, aku sudah menyita banyak waktumu, pergilah beristirahat"


"Baik Ma"


"Ohh..jangan lupa, pertimbangkan ucapanku tadi soal hubungan kalian berdua"


Seketika wajah Adinda memerah, Adinda mengangguk karena ia tak tahu harus bagaimana merespon perkataan seperti itu, Dinda pun keluar dari kamar, Mariana tersenyum tipis, melihat reaksinya dia tak sepenuhnya tak menyukai putranya itu kan? Mariana mulai berharap.


Adinda berdiri di antara kamar yang biasa dihuninya dan kamar Arash yang di sebelahnya.


"Ini kamarku" ia menunjuk kamar Arash "Aku mau masuk"


"Jadi begitu.. Ku pikir kau sedang melamun menatap pintu kamarku hehe"


"Tidak, aku akan masuk sekarang"


"Ohhh.. Baiklah"


Adinda meraih gagang pintu kemudian membukanya. Kleeekkkk "Huuaaaaa!!!!!" teriak Adinda seraya berbalik badan dan menutup matanya.


Rupanya Adinda melihat Arash yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya. "Apasih Adinda brisik banget!!" ucap Arash santai.


"Kamu gila ya! Cepat pake baju"


Tok tok tok.. Seseorang mengetuk pintu kamar, Adinda pun segera membukanya, Mujin muncul dari balik pintu "Ada apa Adinda? Kenapa kamu berteriak?"


Belum dijawab Mujin sudah menoleh ke arah Arash yang sedang bertelanjang dada. "Apa lihat lihat!!" ucap Arash dengan galak.

__ADS_1


Mujin tersenyum "Kamu kaget gara gara lihat suamimu nggak pakai baju Adinda?" tanya Mujin menoleh ke Dinda yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan aneh.


"Apah?? Mana mungkin ha ha ha" Dinda tertawa hambar membuat suasana semakin aneh.


"Sudah pergi sana ngapain masuk masuk ke kamar suami istri sih!" ucap Arash seraya mendorong Mujin keluar.


"Tunggu tunggu kalian aneh"


Brakkkk!!!! Arash menutup dan mengunci pintu setelah berhasil mengeluarkan Mujin.


"Makanya jangan heboh!" celetuk Arash sembari memakai bajunya di depan lemari. "Orang akan curiga kalau kamu kaget melihat suamimu telanjang dada doang!!" omelnya.


"Kamu yang salah! Mulai sekarang pakai baju di kamar mandi!"


"Nggak mau! Itu sangat merepotkan! Ini kamarku aku akan melakukan apapun sesukaku!"


"Kamu mau terus egois begitu?"


"Sudahlah Adinda! Kenapa ribet banget sih, sudah malam aku ngantuk!" Arash melemparkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Yasudah lakukan apapun sesukamu karena ini adalah kamarmu!!! Siapa diriku berani mengatur hidupmu!!" ucapnya kesal, Adinda masuk ke kamar mandi dengan membawa baju gantinya, situasi saat ini sangat tak nyaman untuknya namun ia harus tetap bertahan dan menyesuaikan diri.


Setelah keluar dari kamar mandi Adinda mematikan lampu kemudian mengambil bantal lalu ia berbaring di sofa.


Keesokan harinya.


Alarm dari ponsel Arash mulai berdering berbunyi nyaring di atas tempat tidur, Adinda yang terganggu dengan kebisingan itu mulai membuka mata seraya tangannya mencari cari sumber suara yang berada di dekatnya.


"Bukan Hp ku, punya siapa ini" gumamnya yang masih setengah sadar menatap layar ponsel.


Adinda mulai menatap langit langit yang tampak asing baginya, Deg.. Ia baru sadar sekarang ia tidur di ruangan yang sama dengan seorang pria.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidur di atas tempat tidur? Bukannya di sofa?" gumamnya lagi, ia menoleh dengan hati hati mencari cari keberadaan Arash.


Nggak mungkin kan kalau aku tidur di ranjang yang sama dengannya? Dia nggak ada..


Dinda pun beranjak dari tempat tidur, disanalah ia melihat Arash yang masih tertidur diatas sofa.


Apa ini? Dia yang memidahkanku ke tempat tidur? Eeii mana mungkin.. pasti aku yang tak sadar pindah sendiri dan membuat pria ini mengalah??

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2