Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Anggota keluarga baru


__ADS_3

Arash memarkirkan mobilnya di depan butik, di depannya terlihat Adinda yang sedang asik mengobrol dan tertawa dengan Henry.


"Apa yang sedang mereka bicarakan sampai wanita itu tertawa senang sekali" gumam Arash menatap kedunya dari dalam mobil. "Aku malas bertemu dengan pria itu, biar kutelefon saja lah"


"Hhhh.. Sial! Nggak aktif"


Baru saja Arash memegang pegangan pintu mobil hendak keluar tapi ia melihat Henry yang tiba tiba menyentuh rambut Adinda terang terangan.


Tiiinnnn!! Tiiiinnnnn!! Tangan Arash refleks menekan klakson beberapa kali dengan kuat sehingga bunyi keras itu membuat Henry dan Adinda kaget bukan main.


"Wahhh..siapa sih orang gila di dalam mobil ini?" ucap Henry menatap mobil dengan kaca gelap itu.


"Hhhhh.. Aku kenal milik siapa mobil itu" jawab Dinda dengan wajah kesalnya.


"Aku pergi sekarang ya Hen, sampai jumpa"


"Ohh.. Oke Din sampai jumpa besok daaahhhh.."


Adinda membuka pintu mobil dan masuk, Brakkk!! Ia menutup dengan kuat.


"Adinda apasih kamu sengaja ya!!" ucap Arash kesal.


"Iya aku sengaja! Kenapa?"


"Mau rusakin mobilku?"


"Emang gitu doang bisa rusak? Mobil kamu mobil mainan?"


"Sudahlah, nggak ada untungnya berdebat sama orang yang nggak mau kalah!" Arash mulai menjalankan mobilnya.


"Orang kalo mau panggil itu tinggal panggil buka kaca mobilnya bukan malah nglaksonin orang bikin jantungan aja deh!" oceh Adinda.


"Ohh, aku nggak sengaja tadi"


"Ada orang nggak sengaja nekannya lebih dari sekali?"


"Iya deh maaf maaf, berhenti ngedumel Adinda! Aku begitu karena kaget melihat laki laki itu menyentuh rambutmu, heran kamu juga mau aja di pegang pegang!"


Plakkkk!!! Adinda menepuk lengan Arash dengan kuat "Aduh! Sakit Adinda aku sedang nyetir, kalau nabrak gimana!"


"Makannya jaga omongan!!"


"Memangnya salahnya dimana omonganku?!"


"Aku nggak di pegang pegang! Dia juga nggak menyentuh rambutku, dia cuma ambil benang yang menempel! Hhhh ngapain juga aku ngejelasin sama kamu segala.."


"Ahh jadi begitu.. Ngomong ngomong Adinda, mulai malam ini kita tidur satu kamar"


"Apahhh??!!! Apa katamu?" Adinda terlihat sangat kaget. "Mulai malam ini kita tidur dikamar yang sama Adinda!!" bibir Arash tersenyum tipis setelah melirik reaksi Adinda.


"Kamu gila ya!!!"


"Kita kan suami istri di mata hukum dan agama? Kenapa aku gila?" Arash tersenyum lagi, ia sengaja menggoda Adinda karena terhibur dengan reaksinya.


Plak!! Plakkk!! Adinda menepuk lengan Arash lagi. "Hentikan! Sakit Adinda!!" teriak Arash, ia pun menepikan mobilnya di jalanan yang lenggang.

__ADS_1


"Dasar menyebalkan! Bicara sembarangan! Kenapa berhenti disini? Kamu mau berbuat macam macam ya!!!" Adinda menatap curiga.


"Hhhhh.. Mikir apa sih Adinda? Kita perlu bicara serius sebelum sampai rumah" tiba tiba wajahnya menjadi sangat serius.


"Apa?"


"Mulai hari ini putra Ayahku tinggal di rumah, dia orang korea, ceritanya panjang, aku akan ceritakan lain kali, karena orang lain tahunya kita suami istri jadi kita harus tinggal di kamar yang sama sampai orang itu pindah"


"Apah? Sejak kapan kamu punya saudara? Kupikir kamu anak tunggal"


"Dasar Adinda bodoh! Dia anak ayahku dari perempuan lain!!"


"Ohh?" Seketika Adinda tertegun, ia diam seribu bahasa.


"Kenapa tiba tiba diam? Nggak ada yang mau ditanyakan lagi? Apa tiba tiba kamh jadi merasa iba dan akan bersikap lebih baik padaku Adinda?"


"Aku mengerti, ayo kita pulang"


"Ohh oke"


"Ah anuu.. Bisa antar aku ke rumah anya dulu nggak?"


"Siapa yang kamu panggil anu?"


"Jawab aja mau nggak?"


"Mau apa Adinda? Ini sudah malam!"


"Ini baru jam 7, sejak hari itu aku belum bisa menghubunginya, aku menghawatirkan dia dan Bara, apa mereka baik baik saja?"


"Oke oke" Arash kembali menjalankan mobilnya.


Mobil berhenti tepat di depan rumah berlantai 2 berwarna cream, Adinda turun sedangkan Arash menunggu di dalam mobil.


Adinda mencoba membuka pagar depan namun terkunci, menekan bel berulang kali namun penghuni rumah tak kunjung muncul.


Arash pun turun dari mobil "Nggak ada orang?"


"Sepertinya begitu"


Drreeeekkkk.. Seorang wanita muda membuka pagar, ia keluar dari rumah sebelah. "Halooo, cari Kak Anya ya?"


"Haloo, iya apa kamu tau dia ada dimana?"


"Kak Anya dan Bara pergi membawa koper kemarin malam, aku nggak sempat bertanya karena sepertinya mereka terburu buru, sedangkan suaminya biasanya belum pulang jam segini dia masih dirumah sakit" ucap wanita itu.


"Anya bawa Bara pergi kemana ya?"


"Aku nggak tau kak, kalau begitu aku masuk lagi ya"


"Yaa, terimakasih infonya"


"Oke!"


Lagi lagi Adinda tak bisa menemui Anya membuatnya semakin gusar. Adinda menggigit bibirnya sendiri, ia cemas memikirkan sahabatnya yang pergi di situasi rumah tangganya yang sedang diambang kehancuran karena orang ketiga.

__ADS_1


Arash melirik Adinda "Nggak usah overthinking Adinda! Dia pasti pergi ke suatu tempat karena ada urusan" ucap Arash yang mencoba menenangkan Adinda yang terlihat gelisah.


"Urusan apa? Apa jangan jangan dia pergi karena sudah tahu suaminya selingkuh?"


"Kalau kamu belum bilang aku yakin dia belum tahu"


"Beneran? Kamu yakin?"


"Iyaa.. Percayalah padaku, dia pasti akan mengabarimu nanti saat ada waktu"


"Itu dia masalahnya! Hpku rusak"


"Hmmm tunggulah, kau bisa menelfonnya dengan hp ku dirumah nanti"


"Baiklah"


.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah, begitu masuk Bi Murni meminta mereka berdua ikut makan malam karena Mariana sudah menunggu.


Di meja makan terlihat Mariana yang duduk diam menunggu kedatangan Arash dan Dinda dengan menahan ketidaknyamanan karena berada di meja makan yang sama dengan anak dari cinta pertama mendiang suaminya.


Kedatangan Arash dan Adinda seketika memecah keheningan di antara keduanya.


"Selamat malam Ma, kami pulang" ucap Adinda. "Halooo" sapa Dinda kepada orang asing yang baru ditemuinya.


"Haloo..kamu Adinda ya Istrinya Arash? Cantik banget! Senang bertemu denganmu, aku Lee Mu Jin, panggil saja Mujin" ucap Mujin dengan ramah.


"Ohh baiklah, terimakasih"


"Lekas duduk dan makan!" ucap tegas Mariana.


"Baik Ma"


Seketika suasana menjadi hening kembali, hanya terdengar suara gesekan piring dan sendok.


"Bi Murni, apa tidak ada kimci?" ucap Mujin yang belum terbiasa dengan makanan indonesia.


"Belum ada Tuan, besok akan saya pesankan"


"Oke oke tak masalah"


"Makanlah apapun yang ada! Jangan cari cari yang tak ada!" ucap Arash sinis.


"Baiklah Adikku, aku akan segera menyesuaikan diri" jawabnya seraya tersenyum.


"Aku bukan adikmu! Jangan panggil aku begitu!!"


"Oke oke!"


Adinda melirik ke Arash dan Mujin, mereka benar benar saudara ternyata karena wajah mereka sedikit mirip, kemudian Adinda menoleh ke arah Mariana, Wanita itu hanya diam dan hanya fokus menghabiskan makanan dipiringnya.


Setelah Adinda lihat lihat wajah Ibu mertunya tampak pucat, bisa dibayangkan bagaimana perasaannya kini, ia duduk semeja dengan putra suaminya dari perempuan lain yang tiba tiba muncul dan masuk ke dalam kehidupannya.


Rasanya jantungku ikut sakit hanya dengan melihat raut wajah Mama mertua, aku yakin Mama yang selalu tampak kuat itu juga memiliki kehidupan yang tak mudah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2