
"Dasar manusia sialan!!!" teriak Adinda begitu melihat ponsel Anya, disana terlihat chat dari Donny yang akan datang membawa Bara untuk tinggal bersamanya.
Mujin tampak kaget, ini adalah pertama kalinya ia melihat Adinda mengumpat dengan berteriak dan terlihat sangat marah.
"Dinn..tenanglah, dia kaget tuh lihat ekspresinya" ucap Anya dengan menunjuk Mujin yang terdiam menatap Adinda.
"Ohh? Maaf ya Mujin, sudah kubilang aku tak sebaik yang kau pikirkan kan??"
"Eii.. Aku tak peduli dengan itu, wajar kau bersikap seperti itu saat marah, itu bukan apa apa, jadi apa yang membuat Adinda marah dan Anya Ssi terlihat kawatir?"
"Suamiku ingin membawa Putraku padahal kami baru saja bertengkar karena dia ketahuan selingkuh, saat ketahuan pun dia lebih memilih membawa pergi selingkuhannya itu, ahh maaf tiba tiba aku mengatakan semuanya padamu padahal kita baru kenal hari ini"
"Tidak apa apa" jawab Mujin terburu buru.
"Jadi mau gimana? Kapan dia berencana datang kesini?" tanya Adinda.
"Dia bilang sudah berada di dekat sini"
"Kau jagalah Bara, biar aku yang akan menghadapinya untukmu, kau tak perlu kawatir, kembalilah ke atas aku akan mengurusnya sendiri" ucap Dinda dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Kau yakin Din?"
"Tentu saja, berdebat dengan bedebah tukang selingkuh adalah keahlianku" ucapnya seraya menggulung lengan baju panjangnya.
"Pppfffftttttt..." Mujin tak kuasa menahan tawanya.
Adinda menoleh ke arah Mujin "Ini bukan waktunya tertawa Lee Mujin! Apa aku terlihat lucu? Tungguu.. Seharusnya aku terlihat menyeramkan, benar kan Anyy??"
"Iya bener banget, ayo mulai atur ekspresi wajahmu Dinn" Anya mengangguk angguk setuju lalu tangannya memegang kedua pipi Adinda. "Matamu harus lebih membuka" Adinda pun menurutinya melebarkan kedua matanya. "Nah bagus Din, lalu naikkan bahumu sedikit, kau akan terlihat lebih garang, bibirmu terlalu pucat, kau harus menggunakan lipstik warna merah tua milikku" Anya mengambil lipstik di tasnya yang berada di atas meja lalu mengaplikasikan Lipstik tersebut di bibir sahabatnya. "Nahh..ini sempurna" Anya tersenyum puas.
"Pppffftttt.. Hihi ahahaha" Mujin sudah tak tahan lagi menahan tawanya melihat interaksi kedua orang dihadapannya itu.
Adinda menoleh ke arahnya "Apa? Apa aku terlihat aneh? Ambil cermin Anyy, aku mau lihat wajahku"
"Nggak! Penampilan wajahmu sempurna Din"
Adinda mengangguk "Aku percaya padamu sahabatku"
__ADS_1
Ketika melihat Donny yang sudah berada di depan pintu Anya segera naik ke atas.
Sedangkan Adinda segera membuka pintu menghampiri Donny. Adinda sudah bersiap memasang wajah garangnya di depan pria itu. "Apa yang membawamu kesini?" tanya Adinda kepada Donny.
"Anya disini kan? Bisa tolong panggilkan?" ucapnya seraya menatap Adinda dengan canggung.
"Kata siapa mereka disini?"
"Sudah jelas mereka akan ada disini, satu satunya orang yang akan menerimanya dengan sukarela hanyalah kau"
"Siapa bilang?"
"Sudahlah, semua masalah kami gara gara kamu yang mengadu pada Anya kejadian di hotel kan? Jika bukan karena kamu sekarang keluarga kami akan damai damai saja! Maka dari itu merasa bersalahlah padaku dan lekas panggilkan Anya! Aku tak ada urusan denganmu!"
"Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah pergilah!!" Adinda masuk ke butik karena tak ingin lebih lama mendengar omong kosongnya.
Tiba tiba Donny menerobos masuk "Hei.. Sudah kubilang pergi!! Dasar nggak punya sopan santun!! Kau tak akan bisa membawa Bara setelah apa yang kau lakukan kepada Ibunya!!" Teriak Adinda. Namun Donny tak menghiraukannya, ia terus masuk memeriksa kesetiap ruangan dan Adinda mengikutinya.
Namun disaat setiap ruangan yang diperiksanya ia tak juga menemukan Anya saat itulah langkah kakinya terhenti, Donny berbalik badan. "Dimana dia??!!" Tanyanya dengan kesal.
"Sudah kubilang mereka tak ada disini!!! Pergi atau aku akan lapor Polisi!!"
"Uuukkkhhh" ucapannya memang tak salah, tapi Adinda tetap kesal.
Donny menoleh ke arah tangga yang mengarah ke atas, ia segera berjalan menuju tangga dan mulai naik.
"Heiii... Tungguu!!! Berhenti disana!" teriak Adinda seraya mengejar Donny menaiki tangga, "Sudah kubilang berhenti!!!" Adinda meraih baju Donny dan menariknya, namun Donny yang merasa Adinda terlalu mengganggunya menepis tangannya dengan kasar.
"Aaaaarrgggg.." Bruukkkkk!!! Adinda jatuh berguling di tangga, Donny yang menyadari Adinda terjatuh segera menghentikan langkahnya melihat kebelakang, Adinda sudah terperosok di lantai dengan kening berdarah.
Mendengar sesuatu yang jatuh cukup keras membuat Anya keluar dari persembunyiannya. "Kau yang melakukannya???!!!!" teriak Anya setelah melihat Adinda di lantai. "Dasar laki laki gilaaaa!!! Enyah atau aku akan membunuhmu sekarang juga!!!!" Amarah Anya meledak ledak. Ia segera menghampiri Adinda yang sudah di tolong oleh Mujin.
"Aku nggak sengaja sayang.." ucapnya seraya melihat Anya yang berlari dan menabrak bahunya.
"Kamu nggak apa apa Adinda?" Tanya Mujin kawatir.
"Kamu nggak papa Din? Hei kemana saja kau Lee Mujin, bukankah seharusnya kau melindungi Adinda!!!"
__ADS_1
"Maaf aku baru saja menerima panggilan televon"
"Sudah sudah, jangan bertengkar, aku nggak apa apa, tapi.. Aduhhh kakiku" Ia menggerakkan kakinya.
"Kenapa kenapa? Apa sakit? Aduh keningmu berdarah, apa sakit sekali, ini semua gara laki laki gila itu!!" Anya yang semakin panik menatap tajam dengan raut wajah benci kepada Donny yang hanya berdiam diri di tempatnya semula berada.
"Kakimu pasti terkilir, aku akan membawamu ke rumah sakit" ucap Mujin.
"Maaaa.." Bara keluar dari kamar mencari Anya yang tiba tiba keluar, di sana ia terdiam melihat Ayahnya.
Donnya tersenyum dan mendekat pada Bara "Bara.. Nak, ayo ikut Ayah pulang ke rumah"
Bara terlihat syok melihat Ayah yang sudah menyakiti Mamanya, "Jangan mendekat!" ucap anak itu menghentikan langkah Donny yang sudah bersiap memeluknya, senyuman Donny seketika hilang.
"Apa yang kau lakukan Bara, aku adalah Ayahmu--"
"Aku nggak suka Ayah, aku nggak mau melihat Ayah lagi, pergi dari sini!!" ucapan Bara membuat Donny sangat syok.
"Bara masuk ke kamar sayang!" ucap Anya lantang, Bara pun mengangguk lalu menutup pintu kamar dengan keras..Blammmm!!!
"Kau sudah dengar perkataan Putramu sendiri kan?? Kau sudah tak diterima!! Enyahlah atau putramu sendiri akan lebih membencimu!!" ucap Anya kesal.
"Kau pasti sudah meracuni Bara dengan menjelek jelekkanku kan makannya dia bersikap seperti itu kepadaku!!!" ucap Donny seraya menuruni tangga mendekat ke hadapan Anya dengan ekspresi terluka.
"Apa kau pikir anakmu tak memiliki mata dan telinga sampai aku harus repot repot menjelek jelekkanmu di hadapannya? Kau pikir aku masih sudi menyebut namamu?!!!"
"Jangan keterlaluan!!!!" teriak Donny.
"Hei..maaf Brooo.. Bukannya aku ikut campur, pergilah, kau tidak lihat ada yang terluka karenamu?? Mau pergi sendiri atau aku harus menyeretmu??!!" ucap Mujin santai namun sorot matanya amat tajam.
Donny melihat Adinda yang terluka dan tak bisa berdiri dengan tegak karena kakinya terluka, ia mengepalkan kedua tangannya lalu pergi dari sana.
"Ayo kita kerumah sakit Din" Ucap Anya meraih tangan Adinda.
"Anyy.. Kau dan Bara pasti merasa terguncang dengan kedatangan Donny setelah apa yang terjadi, jadi aku akan pergi dengan Mujin, kau tak perlu menghawatirkanku, jagalah Bara dan tenangkan dia juga dirimu" Mata Anya mulai berkaca kaca, Adinda selalu bisa melihat kedalam hati terdalamnya meski ia tak menunjukannya, ia merasa keadaannya hanya akan membebani Adinda ia pun mengangguk menuruti ucapan Adinda, pelan pelan ia melepaskan tangan Adinda.
"Ayo Adinda" ucap Mujin seraya memapah Adinda keluar dari butik.
__ADS_1
Bersambung.