
Mahendra tampak berfikir mengingat ingatnya kembali, "Benar, saya datang saat itu, jadi apa yang ingin anda tanyakan?"
"Anda bilang taxi Ayah saya mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak trotoar jalan, tapi baru baru ini seseorang mengatakan bahwa Taxi menabrak mobil Kakek Darius Hutama"
"Tidak ada yang ingin saya katakan Nona, silahkan bertanya kepada suami anda sendiri"
"Apah?? Tapi Pak tidak bisakah anda mengatakannya? Saya sudah jauh jauh datang kesini hanya untuk mendapat jawaban dari anda loh"
"Hei Nona! Jangan memaksa! Jangan pernah temui saya lagi!!" Mahendra pun bangun lalu pergi begitu saja.
"Tunggu Pak.." Mahendra tak memperdulikan panggilan Adinda sedikitpun. Mau tidak mau ia harus mencari tahu lewat Arash.
.
Adinda sampai di depan ruang rawat tempat Mariana di rawat, beberapa saat ia terdiam di depan pintu yang sedikit terbuka, ia ragu ragu untuk masuk karena kawatir dengan penolakan Mariana, namun Adinda memberanikan dirinya, tangannya mulai merai gagang pintu.
"Bercerailah segera! Mama tahu dulu kamu meninggalkannya karena nggak bisa tahan melihat anak dari orang yang menyebabkan Ayah dan Kakekmu meninggal kan?" ucapan Mariana membuat langkah Dinda terhenti. Sementara Arash hanya terdiam sejenak.
"Aku akan bercerai sesuai keinginan Mama" ucap Arash.
Deg! Rasanya jantung Adinda serasa ditusuk, rasanya ia tak sanggup lagi mendengar ucapannya selanjutnya, Adinda pun segera Menghindar dan menjauh dari sana.
Arash melanjutkan" Itu jika memang Adinda bersalah! Tapi Adinda nggak bersalah Ma! Semua itu hanyalah kecelakaan yang nggak disengaja! Aku mencintainya! Ini semua terjadi karena Mama yang memaksaku menikahi Adinda kan?" tegas Arash.
"Hahh..Seharusnya kau bilang dari awal kalau dia adalah mantan pacarmu!"
"Dari awal Mama tak memberiku waktu untuk menjelaskannya tuh! Seekarang sekeras apapun Mama mencoba memisahkan kami aku akan tetap mempertahankannya!"
"Kamu serius? Haruskah aku memakai cara kekerasan agar kau mengerti? Gara gara anak itu kamu membohongi Mama! Gara gara anak itu kamu memiliki hobi di kelab malam! Apa kamu pikir Mama nggak tahu?" jawab Mariana kesal.
"Hahh?? Itu hobi! Bukan gara gara Adinda! Tunggu..apa selama ini Mama memata mataiku?!" nada suara Arash semakin meninggi.
"Dulu iya, tapi sekarang tidak, tapi rencananya aku akan melakukan itu lagi"
"Maaa!!!"
"Kamu tahu apa yang akan Mama lakukan jika kamu terus berhubungan dengannya lagi?"
"Mama mengancamku? Aku tidak takut!"
"Yasudah, lakukan apapun yang kamu mau! Mama juga akan lakukan apapun yang aku mau! Kamu mencoba keras kepala, aku akan lebih dari itu!!" Mariana tetap bersikeras dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Melihat Mama yang sudah banyak bicara berarti Mama sudah sembuh ya? Jadi nggak ada gunanya kan aku ada disini?!" Arash bangun dari duduknya lalu pergi.
"Dasar anak tak berbakti!!" gumam Mariana kesal.
Akhirnya Mariana menyadari, sejak awal itu adalah kesalahannya, bahkan ia meminta Arash dan Adinda melakukan pendekatan sebagai suami istri yang sesungguhnya.
"Hahhh..bodohnya aku, pantas saja Arash yang sulit mencintai orang lain itu dengan mudahnya membuka hatinya kepada Adinda hanya karena permintaanku! Seharusnya aku menyadarinya lebih awal!" gumam Mariana menyesal.
Adinda berjalan dengan gontai sampai di tempat parkir, perasaannya teriris mengingat ucapan Arash yang dengan mudahnya mengatakan akan cerai dengannya.
Tiba tiba kepalanya terasa sakit lagi, tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh, tiba tiba seseorang memeganginya. "Kamu baik baik saja Adinda?" ucap seorang pria.
Adinda menoleh kepadanya "Mujin? Aku baik baik saja"
"Kamu kelihatan pucat Adinda, ayo istirahat di sana" Mujin menunjuk taman kecil di samping rumah sakit, Adinda pun mengangguk, mereka duduk berdampingan di kursi besi panjang.
"Kamu mau kemana? Apa sekarang keadaanmu sudah baikan?" tanya Adinda seraya menatap tas besar di bawah kaki Mujin.
"Aku bosan, aku sudah meminta persetujuan Dokter yang merawatku selama ini, keadaanku juga sudah jauh lebih baik, kudengar Ibu Mariana dirawat juga disini?"
"Benar"
"Kamu nggak menemaninya?"
Mujin tampak terdiam, "Maafkan aku Adinda"
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Karena tak ada yang bisa kulakukan untuk membantumu"
"Nggak papa, aku bisa sendiri Mujin tenang saja!"
"Mungkin jika kamu mengetahuinya kamu juga tak akan mau melihat wajahku lagi kan?"
"Aku yakin kamu nggak salah dan aku nggak akan begitu!!"
"Kenapa yakin begitu? Padahal kamu nggak tahu apa apa"
"Karena keyakinan"
"Baiklah..aku harus pulang sekarang, Mujin kau juga akan kembali ke rumah?" Mujin mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu Adinda!" Mujin bangun.
"Nggak! Aku nggak mau di antar oleh pasien!"
"Hehe..sayang sekali.. Baiklah"
Ketika Adinda kembali, di butik sudah ada Arash yang duduk di dalam sana, Arash segera bangun ketika melihat Adinda membuka pintu, pandangan mereka bertemu, Arash mendekatinya, tangannya ingin meraih dan memeluk tubuh Adinda namun Adinda menghindarinya membuat Arash tersentak.
"Kamu nggak merindukanku?"
"Kenapa? Kenapa kau memanipulasi semua orang dan melindungi nama baik Ayahku? Apa kamu mengasihani kami? Seharusnya kau biarkan saja semuanya!!"
"Hei..kenapa bicara begitu? Tentu saja aku melakukan semuanya demi dirimu Adinda" ucapnya lembut.
"Demi aku? Kamu meninggalkan aku juga dulu demi aku? Yang benar saja! Seharusnya kau jujur saja sejak awal kau meninggalkanku karena tak bisa lagi melihat anak dari orang yang sudah menyebabkan kematian keluargamu!!!" suara Adinda semakin meninggi.
"Bukan begitu Adinda, jangan salah paham!" Arash meraih tangan Adinda namun Adinda menepisnya dengan kasar.
"Kalau saja kau mengatakannya sejak awal kita tak akan berada di situasi seperti ini!!" Mata Adinda memerah menahan tangis.
"Adinda.. Dengarkan dulu penjelasanku ya?"
"Apa lagi yang perlu kau jelaskan? Aku sudah tahu semuanya! Haruskah aku berterimakasih juga karena kau sudah melindungi nama Ayahku? Aku sangat berterimakasih untuk itu! Kalaupun memang kau bukannya tak bisa melihat wajah putri yang menyebabkan kecelakaan ini, Putri dari penyebab kecelakaan yang tak bisa lagi melihat wajah dari keluarga korban! Terlepas dari semuanya aku tak bisa lagi melihat wajahmu, aku mau cerai!"
Arash tersentak, "Apa kamu bilang??!!!"
"Ceraikan aku!"
"Nggak, nggak Adinda jangan bicara seperti itu! Nggak boleh" Arash memegang kedua pundak Adinda dengan erat. "Sudah kubilang kamu nggak bisa lagi lari dariku!"
Adinda terus mengalihkan pandangannya, perlahan air matanya mulai menetes dan kehilangan kata kata. "Pergi!!"
"Adinda, ayo bicara baik baik oke" Arash masih mencoba membujuknya.
"Pergi ku bilang pergi!!!!" teriak Adinda membuat Arash terdiam.
"Baiklah.. Sepertinya kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya, beristirahatlah, ayo bicara di lain waktu, aku akan datang lagi besok"
Kamu membuatku menjadi orang yang sangat menyedihkan!
Ketika Arash berjalan keluar tiba tiba terdengar suara kamera memotret, Arash pun mencari cari keberadaannya, namun tak menemukannya. "Sudah dimulai yah ck ck ck" gumamnya seraya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Bersambung.