Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Wanita misterius


__ADS_3

Mujin menunggu di luar ruang UGD rumah sakit, ia tersenyum smirk menatap layar ponselnya. "Hehe.. Sepertinya kau akan sibuk akhir akhir ini Arash, haruskah aku memanfaatkan momen langka ini?" gumamnya.


Tiba tiba seseorang berhenti di depan Mujin, ia pun mendongakkan kepalanya. "Ada urusan dengan saya?" ucapnya ketika melihat seorang laki laki dihadapannya menatapnya intens.


"Apa Adinda baik baik saja? Tadi aku melihat dia dipapah oleh anda keluar dari butik, maaf karena kawatir aku mengikuti kalian" ucap Henry.


"Kau siapanya Adinda memangnya?" ia memperlihatkan tatapan curiga kepada pria dengan rambut sebahu itu.


"Ohh perkenalkan nama saya Henry, saya adalah teman Adinda sekaligus pemilik Sweet Coffee di sebelah Maha Butik"


"Oh teman.."


"Apa yang terjadi dengannya dan siapa Anda? Siapanya Adinda?"


"Saya Lee Mujin, saudara dari suami Adinda"


"Saudara? Saya yakin suami Adinda orang indonesia, tapi maaf sepertinya anda pendatang apa saya benar?"


"Yah, memang benar, tapi saya malas menjelaskannya tuh"


"Oh tidak tidak, saya nggak penasaran juga, yang membuat saya penasaran adalah kenapa Adinda sampai terluka?"


"Dia jatuh dari tangga! Selebihnya saya malas menceritakan detailnya" jawabnya dengan tatapan enggan.


"Oh..oke, tapi kenapa dia bisa jatuh? Seharusnya dia lebih berhati hati" gumamnya seraya menatap pintu ruangan.


Henry pun duduk di samping Mujin, Setelah beberapa saat Adinda keluar menggunakan tongkat penyangga, Henry dan Mujin segera bangun menyambutnya.


"Bagaimana bisa sampai jatuh dari tangga Adinda? Apa kau baik baik saja?" tanya Henry kawatir seraya menatap perban di kening dan kaki Adinda.


"Henry..kau disini? Aku baik baik saja hanya terkilir" jawabnya tersenyum.


"Apa kau yakin baik baik saja? Ahh pasti sakit sekali"


"Enggak, aku serius, cuma sedikit pusing tapi aku sudah diberi obat, ini akan segera membaik"


"Ayo kita pulang Adinda" ucap Mujin seraya meraih tangan Adinda bersiap membantunya berjalan.


"Aku juga akan membantu" ucap Henry mengambil tongkatnya ia juga meraih satu tangan Adinda.


"Padahal aku bisa berjalan sendiri" Adinda menoleh ke kiri dan kanan bergantian.

__ADS_1


Dukkk!! Tiba tiba seseorang menambrak bahu Mujin, orang yang sedang menggandeng tangan seorang wanita misterius dengan kacamata hitam dan rambut yang tertutup oleh kain yang menempel di kepalanya , laki laki itu terhenti. "Maaf" ucapnya seraya melirik sekilas namun tiba tiba langkahnya terhenti, ia menoleh sekali lagi.


"Adinda!" ucap Arash dengan dahi mengerut, "Kau kenapa? Dan pemandangan macam apa ini? Kau di apit oleh dua laki laki?"


Adinda terdiam menatap tangan Arash yang menggandeng seorang wanita yang terus menerus menutupi wajahnya, Arash pun segera melepaskan tangan wanita itu. "Adinda jawab dong, apa yang terjadi dengan dahi dan kakimu?"


"Aku lelah, ayo bicara dirumah, sepertinya kau juga sedang sibuk, ayo Mujin Henry.." ucap Adinda, lalu pergi bersama kedua orang yang membantunya berjalan.


"Adinda!!" Arash memanggilnya namun Adinda mengabaikannya.


"Apa seharusnya kuambilkan kursi roda Adinda?" tanya Mujin yang memperhatikan ekspresi Adinda yang menjadi murung.


"Nggak usah, aku nggak apa apa"


"Terimakasih Henry, aku akan pulang dengan Mujin, sampai bertemu lagi" ucap Adinda begitu ia masuk ke dalam mobil.


"Baiklah, hati hati menyetirnya!!" ucap Henry yang dibalas lirikan sinis oleh Mujin.


.


1 jam sebelumnya..


Arash datang ke rumah sakit atas paksaan dari Ibunya yang sudah melihat berita di internet, untuk memberrikan citra yang positif kepada pihak hotel ia diminta untuk menjenguk sendiri seorang selebriti yang sedang dalam perbincangan hangat karena kasus percobaan bunuh diri dengan menelan banyak obat tidur di Hutama's Hotel, mau tak mau Arash mengikuti keinginan Ibunya toh ini demi kebaikannya juga, begitu pikirnya seraya berjalan masuk menuju ruang rawat tempat sang aktris di rawat, ia sudah menduga di depan rumah sakit sudah ada beberapa wartawan yang siap memotretnya.


Arash berjalan menuju jendela, lalu ia membuka tirai agar ruangan lebih terang. "Apa anda menyesal karena anda masih bisa melihat matahari begitu membuka mata?" ucap Arash yang sudah duduk di sofa tunggu di dalam ruangan tersebut. Wanita itu masih diam tak menghiraukannya, namun mendengar suaranya ia menoleh ke arah Arash.


"Kukira Kak Menejer, siapa anda kenapa masuk kesini?


"Aku adalah orang yang nyaris paling di rugikan jika kau benar benar kehilangan nyawa selagi menginap di hotelku!"


"Apah? Apa anda Hutama?"


"Ya!"


"Saya minta maaf atas tindakan saya itu"


"Apa kau pikir minta maaf cukup?"


"Apa masih ada hal lain yang ingin anda dengar atau inginkan dari saya? Apa anda butuh kompensasi karena saya berniat mati di kamar hotel anda!!! Hiks hiks.." wanita itu malah menangis tersedu sedu membuat Arash mengernyit.


Arash pun meraih tissu di atas meja di hadapannya kemudian menghampiri wanita itu dan menyodorkan tisu ditangannya. "Jangan menangis! Kau pikir dengan menangis atau mati akan menyelesaikan masalahmu?"

__ADS_1


"Lalu aku harus apah!! Apa yang anda tahu tentang saya sampai anda berkata seperti itu dengan mudahnya!!" ucapnya dengan keras.


"Memngnya kau sudah memberitahuku apa masalahmu? Kenapa berteriak padaku??"


"Hiks hikss, aku lelah dan ingin mengakhiri hidup melelahkan sebagai seorang artis, aku muak harus tersenyum di hadapan semua orang padahal suasana hatiku sedang kacau! Tak ada yang memperdulikan atau mendengarkan keluh kesahku, aku hanya terus dituntut untuk kerja dan kerja menghasilkan uang untuk perusahaan, bahkan tak ada yang percaya bahwa seorang penguntit yang terus mengikuti dan merekam setiap gerak gerikku!! Bahkan saat aku di dalam rumahku sendiri!!Aku muak sangat muak hidup tak tenang seperti ini!!" ucapnya dengan emosional.


"Hmmm..aku mengerti sekarang, kalau begitu aku akan pergi sekarang dan membiarkanmu sendiri" Arash berbalik badan.


"Apa anda bilang? Setelah aku mengatakan semuanya pada anda sekarang anda akan pergi begitu saja?? Anda bahkan tak berpura pura simpati padaku, anda jauh lebih buruk dari semua orang yang kukenal!!"


"Apa aku punya tanggung jawab untuk menolongmu setelah kau menceritakan kisahmu itu?"


"Tolong bawa aku pergi!!"


"Apah??" Arash tak percaya dengan permintaan konyolnya.


"Tolonglah Tuan.." Wanita itu memohon.


"Hahhh.."


"Hanya sampai jauh dari rumah sakit ini dan para wartawan! Tidak! Tolong bawa saya pergi jauh dari sini!!"


"Apa yang akan kau lakukan jika sampai aku terseret kedalam masalahmu karena membantumu melarikan diri?"


"Itu... Saya akan bertanggung jawab, untuk sekarang saya harus menghindari semua orang atau saya akan semakin disalahkan atas kekacauan ini"


Arash tampak berpikir beberapa saat sebelum menjawab "Baiklah, tutupilah wajahmu jangan sampai para wartawan tahu bahwa kau pergi bersamaku" dengan berat hati Arash akhirnya bersedia membantunya.


"Tapi..apa itu mungkin?"


"Lakukan saja! Mereka akan mengira kau Istriku yang tak diketahui wajahnya!"


"Ohh..anda sudah beristri?"


"Jangan bertanya hal yang bersifat pribadi!!"


"Ohh.. Baiklah, saya akan segera bersiap"


Wanita itu pun berjalan keluar dari ruangan dengan menggandeng tangan Arash, Arash menoleh ke tangannya yang tiba tiba di gandeng. "Apa apaan ini?" ucapnya tak suka.


"Anda bilang orang akan mengira aku istrimu, bukankah wajar seorang istri menggandeng tangan suaminya"

__ADS_1


"Hahh...terserahlah, jalanlah dengan cepat dan tutupi wajahmu, mengerti?" Wanita itu pun mengangguk.


Bersambung.


__ADS_2