Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Orang yang sama


__ADS_3

Sepulang dari restaurant Adinda kembali ke butiknya, ia melakukan pekerjaannya seperti biasa, yang tak biasa adalah seseorang duduk di pojokan terus memperhatikannya yang sedang memasang payet pada gaun hingga membuat Lina dan Tasya terus menggoda bosnya itu hingga membuatnya salah tingkah.


Adinda menghentikan pekerjaannya kemudian mendekat menghampiri Arash "Pergilah! Apa kau tak memiliki pekerjaan lain selain melihatku?" ucap Adinda sebal.


"Apa kau kehilangan fokusmu karena aku terus memperhatikanmu Adinda?" godanya dengan tersenyum smirk.


Wajah Adinda kembali merona karena malu "Dasar tidak tahu malu!" karena memang seperti itulah sikap Arash, dia akan menunjukkan perasaannya terang terangan setelah yakin dengan tujuannya, Adinda tak bisa menolaknya meski sedikit terganggu karena ia sudah membuat keputusan untuk memulai hubungan mereka kembali.


Tapi ini terlalu cepat dan mendadak perasaanku masih belum siap untuk berhadapan dengan buldozer di depanku ini, yahh aku tahu dia hanya berusaha tapi tetap saja.


Tiba tiba Henry muncul setelah membuka pintu, Arash dan Adinda kompak menoleh kearahnya yang membawa cup es kopi.


"Ohh.. Adinda sedang ada tamu yaa? Aku cuma mau memberikan ini" Henry menyodorkan yang dibawanya.


Adinda pun mengambilnya "Terimakasih Henry, seharusnya kamu tak perlu repot repot begini"


"Ini tidak repot sama sekali"


Arash bangun dari duduknya dan mengambil es kopi di tangan Adinda dan meletakannya di meja.


"Apa sebenarnya tujuan anda?" ucap Arash dengan raut wajah tak sukanya


"Apa maksud anda? Tentu saja saya tak memiliki maksud lain, kami berteman jadi--"


"Ohhh..teman ya? Mulai sekarang saya melarang anda berteman dengan istri saya"


Deg.. Seketika rasanya Henry tersambar petir, istri katanya? Ia benar benar tak menyangka Adinda sudah menikah dengan laki laki yang tampak kasar dihadapannya, Henry pun terdiam.


"Jangan bicara kasar!" ucap Adinda kepada Arash.


"Kenapa? Kenapa aku tak boleh bicara kasar dengannya?"


"Dia temanku dan kau harus bisa menghargainya!"


"Untuk apa aku menghargi laki laki yang jelas mendekati istriku dengan maksud lain ini!!"


"Maksud lain apa? Jangan berpikir sembarangan!!"


Tiba tiba Henry merasa tak enak karena dirinya memicu pertengkaran sepasang suami istri di hadapannya. "Adinda, sudahlah aku baik baik saja, maaf sudah membuat keadaannya rumit"


"Tidak tidak, kau tak perlu merasa bersalah, memang dasar orang ini saja yang berpikir berlebihan"

__ADS_1


"Adinda!!" teriak Arash kesal.


"Sudah sudah, aku permisi" Henry pun segera melarikan diri dari situasi tak menyenangkan itu.


"Aku nggak suka dengan sikap kamu yang seperti ini!" ucap Dinda.


"Aku juga nggak suka dengan sikapmu yang terus menerus dekat dengan siapapun!!"


"Jadi apa maumu?? Apa kamu menyesal memulai kembali hubungan denganku?! Kau mau membatalkan keputusanmu?"


"Kamu menantangku Adinda? Hanya karena masalah sepele--"


"Iya! Masalah yang kamu anggap sepele inilah yang paling membuatku berpikir ulang tentang hubungan kita, sejak dulu! Apa kamu tahu aku terganggu dengan sikapmu yang seperti ini? Iya dulu memang masih wajar karena kita kekasih dan saling mencintai, tapi kenapa sekarang kau masih bersikap begini dengan hubungan kita yang baru saja akan dimulai? Aku benar benar tak habis pikir denganmu!!"


"Bagimu hubungan kita sekarang memang baru saja akan dimulai dan wajar saja kau meremehkannya, tapi bagiku.. Perasaanku masih sama dan tak pernah berkurang sedikitpun!!!" Tanpa sadar Arash mengakui perasaannya karena terbawa amarah.


Seketika suasana menjadi hening, Adinda tak pernah menyangka akan mendengar sebuah pengakuan dari pria keras kepala di hadapannya itu.Tasya dan Lina hanya memperhatikan dari kejauhan dalam diam.


Adinda menoleh ke arah Tasya dan Lina, ia mengusap keningnya, ia baru sadar ada orang lain di sekitar mereka yang menyaksikan pertengkaran itu.


Adinda mengambil tasnya dan menghampiri Lina dan Tasya. "Sepertinya aku harus pulang lebih awal"


"Oke! Jangan kawatir Kak"


Suasananya masih hening, keduanya terlihat sangat canggung terlebih Arash yang baru saja kelepasan bicara, tapi ia tak nenyesalinya.


"Kemana tujuan kita? Aku hanya mengikuti jalan karen kau tak mengatakan apa apa" ucap Arash dengan hati hati.


Selama perjalan 15 menit Adinda hanya terus terdiam sembari berfikir, ia masih terbayang dengan ucapan Arash yang baru saja ia dengar.


Seketika pikirannya buyar "Entahlah.. Terserah kau saja mau kemana"


Tak lama Arash menghentikan mobilnya di depan sebuah taman di pusat perkotaan, "Ayo turun dan menghirup udara segar"


"Ohh?? Oke"


Mereka berdu berjalan melewati pintu masuk taman, suasana disana cukup ramai karena memang sore sore seperti ini banyak sekali anak anak yang bermain di taman entah itu bermain ayunan, jungkat jungkit dan berbagai fasilitas di taman itu.


Tiba tiba seorang anak laki laki berusia sekitar 5 tahun menabrak Adinda dan terjatuh. "Aahhhh, duhhh kamu nggak apa apa?" Adinda segera berjongkok menolong anak yang terpental di rerumputan hijau itu karena menabraknya.


"Aku nggak apa apa, maaf"

__ADS_1


"Oke, hati hati bermainnya yaa" Ucap Adinda seraya melihat anak itu kembali berlari ke arah teman temannya.


"Duduklah disana, aku akan pergi sebentar" ucap Arash sembari menunjuk kursi di pojokan taman.


"Oke!" Adinda tak tahu apa yang akan dilakukan Arash tapi ia tak ingin bertanya, Adinda hanya duduk dan menuruti keinginan Arash dengan patuh.


Tak lama Arash muncul membawa minuman es boba di tangannya, itu adalah minuman favorit Adinda sejak dulu sampai sekarang.


"Kau pasti haus, minumlah ini"ia menyerahkan minuman yang dibawanya.


"Oke, makasih, kau nggak minum?"


"Aku sudah"


"Oke"


Sroooootttt, Adinda terus meminum minuman di tangannya, tapi meskipun ia sudah menghabiskan minuman berukuran besar itu mereka berdua tak kunjung berbicara, Adinda yang mengajaknya pergi untuk berbicara pun sebenarnya tak tahu apa yang harus dibicarakan.


Apa kubilang saja terang terangan? Seperti.. Apa maksud perkataanmu tadi? Apa benar kau masih mencintaiku? Apa yang kau katakan direstaurant tadi serius? Arrgghhh rasanya malu banget kalau mengatakan hal seperti itu dengan mulutku sendiri. Kenapa dia diam saja sih bikin canggung suasana saja.


"Kenapa melihatku seperti itu?" ucap Arash yang terganggu dengan tatapan tajam penuh pertanyaan dari Adinda.


"Aku nggak melihatmu, aku melihat pohon di sebelahmu" dalihnya.


"Hahhhhh.. Adinda adinda!!" gummnya seraya tersenyum.


"Apa? Kenapa menyebut namaku?"


"Entahlah, aku hanya merasa kurang lengkap kalau tak menyebut namamu"


"Apa mksudnya itu?"


"Apa? Kupikir kau mengajakku keluar untuk membicarakan apa, apa tak ada yang ingin kau bicarakan? Katakanlah!"


"Ehemmmm.. Apa maksud perkataanmu tadi?" ia berusaha menahan rasa malunya.


"Yang mana?"


"Aku tau kamu tau maksudku!!"


"Ya! Dugaanmu benar, aku memang masih sama dengan aku sepuluh tahun yang lalu, perasaanku padamu tak pernah berubah sedikit pun"

__ADS_1


Adinda mulai menatap wajah Arash, pria itu mengatakannya dengan sungguh sungguh, deg deg.. Rasanya jantung Adinda kembali berdebar setelah berhenti untuk waktu yang lama, debaran yang sama dengan waktu dulu, debaran menyenangkan akan dicintai sekaligus mengingatkannya atas kenangan pahit ditinggalkan di saat saat terberat dalam hidupnya.


Bersambung.


__ADS_2