
Perlahan Arash membawa mobilnya masuk ke garasi rumah, mereka berdua pun turun dari mobil, Arash mengambil koper dari bagasinya dan berjalan masuk menarik koper itu, lalu Adinda mengikuti Arash dari belakang masuk ke dalam rumah.
Begitu memasuki ruang tamu langkah kaki Adinda terhenti melihat sekelilingnya, rumah bernuansa putih sampai ke dalam dalamnya dengan perabotan super mewah sangat cocok dengan pembawaan sang pemilik rumah.
Arash berbalik badan menoleh ke arah Adinda yang seakan takjub dengan kemewahan rumahnya.
"Ck ck ck.. Cepatlah! Jangan norak begitu Adinda!" ucapnya sinis membuyarkan pikiran Adinda.
"Cih! Dasar, sejak kapan sih sifatnya berubah seburuk itu" Gumamnya pelan seraya melirik Arash.
"Apa yang kau gumamkan" Adinda menutup mulutnya lalu tangannya menyentuh kedua telinga dan kepalanya menggeleng, ia mengisyaratkan tak mau dengar apa yang dikatakan Arash dan tak mau menjawabnya, membuat Arash mengernyit kesal, lalu Arash kembali berjalan dengan cepat sampai Adinda kewalahan mengikuti langkahnya.
Dugg..Tiba tiba saja Arash menghentikan langkahnya membuat Adinda menabrak punggungnya.
"Ih Adinda! Jalan pake mata!" ucapnya pelan namun menusuk, Adinda hanya terdiam sembari membuang muka.
Ternyata Arash berhenti mendadak karena ia berpapasan dengan Ibunya,Mariana berdiri dengan pakaian yang biasa digunakannya ke kantor, dia benar benar terlihat awet muda dengan balutan ssetelan celana dan jas berwarna cream, Adinda pun segera menundukkan kepala sebagai bentuk salamnya "Halo nyonya Mariana" ucapnya canggung.
"Ya, kamu sudah datang, Arash akan menunjukkan kamarmu, saya harus kembali ke kantor sekarang"
"Baik hati hati di jalan Nyonya" Dinda merasa sikap Mariana tak seburuk saat pertemuan pertama.
Mariana kembali berbalik badan setelah berjalan beberapa langkah "Oh ya, mulai sekarang sampai setahun kedepan alangkah lebih baik jika kamu memanggilku seperti panggilan Arash kepadaku, bagaimanapun situasinya tentang perjanjian pernikahan hanya kita bertiga yang tahu dirumah ini dan harus selalu seperti itu, kau harus terlihat seperti istri dan menantu yang baik disini di depan orang orang yang bekerja di rumah ini, aku juga akan berusaha melakukan peranku sebagai Ibu mertua yang baik, kamu akan di perlakukan baik disini asalkan kamu tidak bertingkah, apa kamu mengerti?"
"Baik Nyonya.. Ahh Mama!" Setelah itu Mariana pergi.
"Ikuti aku, aku akan menunjukkan kamarmu" ucap Arash sembari berjalan.
Mereka berdua mulai menaiki tangga hingga sampai di lantai dua, Arash meninggalkan koper adinda di depan pintu sebuah ruangan lalu Arash masuk ke ruangan yang berada tepat di sebelahnya dan Adinda pun mengikutinya masuk.
Arash menoleh kebelakang "Kamu ngapain?"
__ADS_1
"Kamu bilang aku harus mengikutimu"
"Ck ck.. Dasar bodoh, bukankah aku meninggalkan kopermu di depan sana? Itu artinya kamarmu di sebelah!" ucapnya dengan wajah kesal.
"Apa kamu bilang bodoh? Ngomong makanya ngomong!" jawabnya kesal karena ia dibilang bodoh.
"Hahh.. Menyebalkan banget!" gerutunya.
"Kamu yang menyebalkan! Kamu pikir aku suka melihat wajahmu itu! Setiap kata kata yang kamu ucapkan selalu saja membuatku marah, gara gara siapa aku berada di posisi ini? jangan berani bicara didepanku lagi atau aku akan membuatmu menyesal sudah meremehkanku! Kamu salah kalau mengira aku masih sama dengan 10 tahun yang lalu!!!" teriaknya dengan mata memerah, kemudian Adinda keluar dan menarik kopernya masuk ke dalam kamarnya.
"Brakkk!!" terdengar suara pintu yang sengaja di banting sekeras mungkin dari kamar Adinda.
"Nyebelin banget! Aku benci banget orang itu!" gumamnya setelah duduk di tempat tidurnya.
Sementara Arash yang telah berganti pakaian kembali keluar dari kamar, langkahnya berhenti menatap pintu kamar Adinda, Ia terus teringat ekspresi wajah Adinda yang di penuhi oleh kemarahan sehingga membuat Arash sedikit merasa bersalah.
Apa aku sudah keterlaluan?
Arash turun lalu berjalan ke arah dapur, rupanya saat ini sudah waktunya ia makan siang, seorang ART muda berusia 24 tahun bernama Mirna menghampirinya dari dapur, ia sudah memasang wajah tersenyum menyambut Tuannya.
"Tuan Arash, saya sudah siapkan makan siang" ucapnya yang hanya direspon anggukan oleh Arash.
Mirna dengan sigap menarikkan kursi untuk Arash, Arash meliriknya sekilas, sesungguhnya ia merasa amat terganggu dengan tatapan Mirna kepadanya namun sejauh ini ia bekerja dengan baik.
Arash menatap makanan di atas meja "Kenapa piringnya hanya satu?" Mirna hanya terdiam dan ragu ragu meski terlihat ingin mengatakan sesuatu. "Siapkan satu lagi, lalu tolong panggilkan Adinda di kamarnya"
"Baik Tuan" Mirna pun menaiki tangga menuju kamar Adinda.
Ternyata namanya Adinda, cih namanya Norak, apa wajahnya sama noraknya dengan namanya?
"Tok tok tok" Mirna mengetuk pintu kamar lalu tak lama Adinda membukanya.
__ADS_1
Cih..masih cantikan nona Mikayla kemana mana malahan lebih cantik Mirna, harusnya kemarin Mirna saja yang menggantikan Nona Mikayla menikahi Tuan Arash.
"Haloo, ada apa?" tanya Adinda dengan ramah begitu melihat wanita muda berseragam ART merah muda.
"Tuan Arash menunggu anda di meja makan!" ucapnya dengan wajah ketus lalu ia pergi begitu saja, padahal Adinda ingin mengatakan bahwa ia tak ingin makan berdua saja dengan pria yang ia benci.
Karena merasa tak enak hati Adinda pun berjalan menuju meja makan, benar saja, Arash masih terdiam disana, dia belum menyentuh makanannya sama sekali, setelah Adinda duduk dihadapannya barulah Arash mengambil sendoknya dan mulai makan beberapa hidangan yang tersedia.
Suasana yang hening, wajar saja Arash tak berkata sekalipun, itu karena memang Adinda yang belum lama menyuruhnya tak berbicara dengannya, meski begitu Adinda tetap menghormati makanan yang sudah susah payah disiapkan oleh ART meskipun ia pun tak sadar makanannya itu masuk lewat mulut atau hidung.
Setelah selesai makan Adinda segera membereskan dan hendak mencuci piringnya sendiri, Arash mulai meliriknya.
"Mirna" panggil nya keras, dalam sekejap Mirna muncul dari dapur dengan senyuman sumringahnya.
"Iya Tuan"
Arash melirik Dinda yang sedang membereskan piring di meja "Katakan padanya untuk tak melakukan pekerjaanmu!"
Adinda yang mendengarnya dengan jelas tampak mengernyit "Nona, biar saya saja" ucap Mirna dengan senyuman terbaiknya. Adinda pun meletakkan kembali piring di tangannya, ia melirik tajam ke arah Arash.
Ingin sekali Dinda mengatakan isi pikirannya saat ini namun sesuai ucapan Ibu Mertuanya ia harus berperan sebagai Istri dan menantu yang baik, ia harus menahannya sebentar karena ada Mirna disana.
Arash pun kembali ke kamarnya lalu Adinda mengikutinya, setelah sampai di depan kamar Adinda menarik tangan Arash yang sudah membuka pintu.
"Apa?"
Adinda pun hanya terdiam menatap wajah Arash tajam, sedangkan ia tak tahu apa yang sebenarnya ingin ia katakan, ia ingin protes dengan sikapnya di meja makan namun ia sadar ia sendiri yang menyuruh Arash tak berbicara dengannya.
Melihat Adinda yang tak kunjung berkata kata akhirnya Arash menepis tangan Adinda "Nggak jelas banget" gumamnya lalu ia masuk dan menutup pintu saat Dinda masih ada di sana. Adinda pun merasa frustasi dengan dirinya sendiri.
Hahhh belum sehari saja sudah melelahkan, rupanya ini bukan pekerjaan mudah.
__ADS_1
Bersambung.