Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Memberi hukuman


__ADS_3

Begitu mobil Arash sampai di depan rumah Mariana segera menghampiri dengan raut wajah paniknya, itu karena sejak tadi ia terus menghubungi Arash tapi Arash terus mengabaikan panggilannya.


Melihat Mariana yang sudah di depan rumah Adinda meminta Arash menurunkan dari gendongannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu baik baik saja?" ucap Mariana seraya matanya memastikan Menantunya tak memiliki luka di tubuhnya.


"Aku baik baik saja Ma, jangan kawatir" Jawab Adinda tersenyum tipis.


"Siapa pelakunya?" tanya Mariana, Adinda hanya bisa terdiam.


"Sudah Ma, biarkan Adinda masuk dulu, aku akan bereskan semuanya Mama nggak perlu kawatir!" tegas Arash.


"Yasudah, masuklah dulu, kamu sudah makan?" Adinda menggeleng, "Ya ampun.. Cepat masuk, Mama akan suruh Mirna menyiapkan makanan"


"Terimakasih Ma" jawab Adinda.


Arash mengantar Adinda ke meja makan "Kamu tunggu disini sebentar ya, aku ke kamar sebentar" Adinda mengangguk.


Mirna berjalan membawa lauk pauk di kedua tangannya, ia menaruh di atas meja dengan kasar. "Bisanya ngerepotin! Tengah malam begini ganggu orang lagi tidur aja" gumamnya kesal.


"Maaf ya Mir" ucap Adinda yang hanya diabaikan oleh Mirna.


.


Arash dan Adinda berbaring bersama di atas tempat tidur, Arash tidur menyamping menghadap Adinda juga tangannya membelai rambut panjangnya. "Gimana? Apa yang harus kulakukan padanya?" tanyanya dengan hati hati.


"Kamu sudah tahu ya?"


"Tentu saja, aku akan menuruti keinginanmu"


Adinda terdiam sejenak berfikir, "Serahkan kepada polisi saja"


Arash tersentak "Kamu yakin?"


"Iya, dia harus diberi pelajaran agar tak mengulangi perbuatannya lagi kan?"


Arash mengangguk, "Keputusan yang tepat Sayang"


🌿🌿🌿


Tok tok tok.. Suara ketukan pintu pagi pagi di rumah Anya, Donny yang terbangun segera berjalan memeriksa keluar, di sana terlihat Ibunya datang.

__ADS_1


Ibunya tersenyum setelah melihat wajah putranya. "Ibu kok datang nggak bilang bilang" mereka berjalan masuk berdampingan.


"Sudah lama Ibu nggak lihat kalian, apalagi Ibu dengar kau dan Istrimu sempat pisah rumah, Ibu dan Ayah kawatir, tapi Ayahmu nggak bisa kesini karena sibuk"


"Ohh, aku bilang bukan sengaja ingin kalian kawatir"


"Yasudahlah bagus jika kalian kembali bersama lagi, dimana Anya?"


"Anya masih tidur, aku akan bangunkan dulu"


"Ya ampun.. Perempuan jam segini masih tidur, apa dia nggak mau ngurusin suami dan putranya?" 0ceh wanita bernama Widya itu.


"Biasanya nggak begini, ini karena hari minggu saja Bu"


Setelah beberapa saat akhirnya Anya muncul, di dapur Ibu Mertuanya sudah memasak dan bersih bersih. "Bu.." sapa Anya.


"Huhhh.. Gimana sih wanita jam segini baru bangun tidur, suami sama anak nggak diurusin! Wajar saja kalau suamimu melirik wanita lain!" celotehnya membuat Anya tersentak.


"Apa menurut Ibu suami yang selingkuh itu pasti karena istrinya yang banyak kekurangan?"


"Tentu saja!"


"Aku pikir kedatangan ibu disini mau menghiburku, ternyata aku sudah terlalu banyak berharap"


Rasanya Anya semakin sesak, apa yang ia harapkan dari Mertua yang jelas jelas tak peduli dengan perasaannya dan hanya selalu berada dipihak putranya sendiri meski putranya salah ataupun benar.


.


Siang harinya Polisi berhasil menangkap Arjuna dengan cepat di sebuah rumah judi di gang terpencil yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Berkat laporan dari Adinda di saat yang bersamaan Polisi berhasil menggerebek rumah judi ilegal itu.


Baru saja masuk di dalam sel tahanan Arjuna sudah di pukuli habis habisan oleh rekan dan pemilik rumah judi yang berjumlah 7 orang yang ikut tertangkap karena dirinya, untunglah petugas segera datang dan melerai mereka namun kondisi Arjuna sudah babak belur.


"Siapa Pak Arjuna? Keluarga anda ingin menemui anda" ucap seorang sipir.


"Saya!" jawab Arjuna.


"Silahkan ikuti saya" ucapnya setelah membuka gembok sel tahanan.


Diruangan pengunjung sudah ada Adinda dan Arash menunggunya, mata Adinda terpaku melihat Kakak kandungnya dengan wajah babak belur juga tangannya yang di borgol, dadanya sangat sakit namun ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di bawah meja menahan perasaan ibanya.


Arjuna mendekati mereka, "Adinda..tolong kakak Din" Dia bersimpuh di bawah kaki Adinda, "Tolong maafkan kakak sekali ini saja, jika kakak kembali ke dalam sel mereka akan memukuliku lagi, tolonglah Din"

__ADS_1


"Bangun Kak! Ini semua terjadi karena ulah Kakak sendiri kan?"


"Kakak minta maaf Din, kakak menyesalinya sungguh! Tolong bujuk suamimu untuk menarik gugatan kepada kakak!"


"Perbuatan Kakak kali ini, aku tak bisa memaafkannya begitu saja sebelum Kakak benar benar bertobat, kakak sudah sangat keterlaluan!"


"Tolong lah Din, aku akan lakukan apapun asal kau mau mengeluarkan Kakak dari tempat ini, yaah??" bujuknya.


"Bagaimanapun kakak membujukku aku berencana nggak akan berubah pikiran!"


"Pikirkan..pikirkan orang tua kita Din, mereka pasti sedih melihatku masuk penjara"


"Kakak salah! Aku yakin Ayah dan Ibu mengerti kenapa aku harus menempuh jalan ini, sadarlah Kak, Cobalah bertanggung jawab atas hidup kakak sendiri! Aku datang hanya ingin mengatakan ini! Selanjutnya aku nggak akan datang kesini lagi, jadi jangan menungguku!" Adinda bangun dari duduknya.


"Din.. Tunggu Din! Kamu tega sama kakak Din!!" teriak Arjuna, Adinda tetap pergi dan tak sekalipun membalikkan pandangannya, sementara Arash menggenggam tangannya dengan erat. "Tunggu disini, aku akan minta agar kakakmu dipisahkan dari orang orang yang memukulinya" ucap Arash setelah sampai di depan kantor polisi.


Di dalam mobil Arash hanya bisa diam melihat Adinda yang terdiam dengan pandangannya terus ke arah luar. Tiba tiba Adinda sadar ketika mobil berhenti, di depannya terlihat pantai dengan hamparan pasir putih yang luas.


"Kenapa kesini?" tanya Adinda bingung.


"Ingin saja! Ini hari minggu itu sebabnya pantai ramai pengunjung, mau turun?"


"Oke"


Mereka berdua turun dari mobil dan melewati pintu masuk pantai, Arash menggandeng tangannya membawanya berjalan di pinggir pantai. "Aku nggak bisa jalan dengan hils kan?" ucap Adinda yang terhenti.


"Lepas saja, aku juga akan lepas sepatu" jawabnya seraya melipat celana panjangnya.


"Oke!"


"Sini, biar aku bawa" Arash mengambil sepatunya dan hils Adinda, sementara satu tangannya menggandengnya lagi.


Suasana sore hari yang sejuk, angin bertiup berirama dan deburan ombak yang halus sampai menyentuh telapak kaki, disana banyak sekali anak anak yang berlarian ke sana dan kemari dengan tawa yang riang gembira, Arash menatap wajah Adinda yang tersenyum menatap mereka menikmati momen kebersamaan itu, akhirnya sekarang ia bisa bernafas dengan lega.


Drrrtttt drrttt.. Tiba tiba panggilan masuk dari ponsel Arash, Arash menghentikan langkahnya memeriksa hp di saku celananya "Sebentar sayang, Denis menelfon" Adinda mengangguk.


"Apa kau bilang? Mujin kecelakaan?" Mendengarnya membuat Adinda tersentak kaget.


"Iya, baiklah.. Aku akan kesana kau bisa pergi" panggilan pun berakhir.


"Apa katanya? Mujin kecelakaan?" tanya Adinda memastikan, Arash mengangguk. "Kita harus cepat kesana" ucapnya panik.

__ADS_1


"Iya iya, jangan panik" ucap Arash tenang, namun matanya menunjukkan kebalikannya.


Bersambung.


__ADS_2