
Keesokan harinya Adinda turun dari mobil Arash di depan butik, ia melambaikan tangan kepada Arash sampai mobilnya bergerak kembali. Tiba tiba seseorang menarik lengannya dan membungkam mulut Adinda dari belakang membuat Adinda sangat terkejut dibuatnya, ia merasa ia akan diculik olehnya, pria itu membawa Adinda menaiki sebuah Taxi.
"Hahh.. Melelahkan!" ucap pria itu seraya melepaskan tangannya dari Adinda.
Adinda menatap wajahnya dengan tajam, "Kakak!!! Apa apaan ini!" teriaknya kesal, rupanya pria itu adalah Arjuna.
"Ayo jalan Pak" ucap Arjuna kepada supir.
"Mau kemana? Kakak mau bawa aku kemana?!!" ucap Adinda panik.
"Diam Adinda! Jangan banyak tanya! Benar benar menyebalkan suami kamu itu! Aku harus begini agar bisa bertemu dengan adikku sendiri"
"Apa maksudnya itu?"
"Aku sudah mencoba menemuimu di rumah Mertuamu tapi suamimu itu terus terusan mengirim orang untuk mengawasiku agar aku tak bisa mendekatimu, benar benar menyebalkan!"
"Memangnya kakak mau apa menemuiku? Katakan saja sekarang! Apa itu karena uang?"
Arjuna tersenyum, "Wah..adikku yang hebat sangat pengertian ya"
"Aku nggak punya uang!"
Seketika Arjuna kehilangan senyumannya, "Jangan pelit begitu sama kakak dong!"
"Alaahh.. Padahal kakak sudah janji nggak akan menemuiku lagi waktu itu, dasar pembohong besar! Lagi lagi uang! Memangnya Kakak pikir aku gudang uang apah?!"
"Tentu saja.. sekarang kamu kan menantu salah satu orang terkaya di kota ini, aku minta 200 juta, setelah ini aku benar benar nggak akan datang padamu lagi!"
"Hahhh.. Enteng banget bilang 200 juta! Jangan mimpi! Aku nggak punya uang!"
"Hemmmm.." sejetika Arjuna terdiam, ia tampak berpikir. "Belok ke kanan lalu lurus Pak" Arjuna menunjukkan jalan.
Adinda melihat sekitarnya, "Mau bawa aku kemana sih? Ini udah jauh banget! Turunin aku disini!! Pak, berhenti Pak!" ucap Adinda yang mulai panik.
"Jalan terus pak, nggak usah takut kami adik kakak kandung" ucap Arjuna menimpali membuat Pak supir kebingungan ingin mendengar arahan siapa, tapi pada akhirnya ia menuruti kata kata Arjuna.
Taxi berhenti di depan sebuah gang kecil, Arjuna memegangi tangan Adinda dan membawanya masuk ke sebuah rumah kontrakan kecil yang tak jauh dari gang.
"Kakak ini rumah siapa? Apa ini tempat tinggal Kakak?" tanya Adinda seraya matanya mengelilingi seisi rumah yang berantakan itu.
"Iya, beginilah hidupku.. Kau tinggal di rumah mewah sementara aku tinggal di kontrakan kumuh itu juga terus berpindah pindah, bukankah ini sangat tak adil?"
"Bukan urusanku! Hidup kakak bukan tanggung jawabku! Mau apa kakak membawaku kesin?!" Adinda menatap Arjuna dengan waspada.
__ADS_1
Brakk!! Arjuna menutup pintu dan menguncinya, "Buka! Aku mau keluar!" Adinda mencoba membuka kunci, namun begitu kunci terbuka Arjuna membekapnya dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius dari belakang, dalam sekejap Adinda pun tumbang.
"Maafkan aku adikku, aku nggak punya pilihan lain, ini semua karena suamimu yang sangat congkak itu terus menerus memperlakukanku seperti sampah! Aku harus memberinya sedikit pelajaran kan?" gumamnya seraya menatap Adinda yang tertidur di pangkuannya.
Setelah membereskan Adinda, Arjuna menggeledah isi tas Adinda, ia mencari cari uang di dalam dompet dan barang yang sekiranya bisa dijual, namun ia hanya bisa menemukan uang beberapa lembar juga ponsel yang terlihat mahal. "Dasar orang kaya pelit, masa istrinya nggak dikasih uang!" gumamnya.
Belum puas dengan yang sudah di ambilnya ia melirik kembali tubuh Adinda dari ujung rambut sampai kaki, matanya terhenti, cincin di jari manis Adinda membuatnya tersenyum cerah, ia segera melepasnya.
"Ini pasti sangat mahal" gumamnya menatap cincin itu.
.
Sementara Lina di butik seorang diri terlihat sangat kewalahan karena beberapa pengunjung datang bersamaan, di sela sela waktunya ia mencoba menghubungi Adinda tapi nomornya tak aktif.
Setelah kerepotan yang panjang akhirnya ia berhasil membereskan semuanya dan satu persatu pengunjung menyelesaikan urusannya.
"Hahhh..akhirnya aku bisa bernafas lagi" gumamnya setelah melempar dirinya ke sofa. "Kak Dinda nggak biasanya tanpa kabar" ia kembali menghubungi Adinda namun nomornya masih tak aktif.
Kemudian Lina menghubungi Arash, panggilan pun tersambung dan tak lama Arash mengangkatnya.
"Halo"
"Halo Kak, kenapa Kak Dinda nggak datang yah? Nomornya juga nggak aktif, apa Kakak sakit?"
"Kakak serius? Apa Kak Dinda pergi ke suatu tempat?"
"Aku mengerti, aku akan menghubungi rumah"
"Baik kak"
Arash pun segera mengambil ponselnya mencoba menghubungi Adinda, seperti kata Lina nomornya masih belum aktif, lalu Arash menghubungi rumah dan ternyata Adinda juga tak kembali, Arash mulai panik.
Tok tok tok, "Masuk" ucap Arash, Denis pun masuk.
"Pak, satu jam lagi meeting bersama pihak acara pernikahan putri AMJ Corporation"
"Aku harus pergi ke suatu tempat, bisa kau undur jadwal? Ahh tidak, sepertinya aku nggak bisa mengurus pekerjaan hari ini"
"Apa ada masalah Pak?"
"Istriku tak diketahui keberadaannya, aku harus pergi mencarinya!"
"Baik Pak, saya akan mengurus meeting bersama Pak Mujin, anda silahkan fokus mencari Ibu Adinda, saya akan hubungi para pengawal agar membantu"
__ADS_1
"Ya! Lakukan saja seeperti itu" Arash memegangi pelipisnya, ia hanya fokus pada Adinda saat ini.
Arash segera mengambil kunci mobilnya dan pergi, ia menyusuri setiap jalan dan tempat tempat yang sekiranya akan dikunjungi oleh Adinda termasuk makam kedua orang tuanya, Danau yang pernah dikunjunginya dan tempat tempat lain.
Arash mulai resah karena hari sudah mulai gelap dan ia belum berhasil menemukan jejak Adinda.
Drrttttt... Arash mengambil ponselnya yang bergetar, "Haloo!"
"Tuan, hp Nona Adinda ada di pusat jual beli handphone di Jakarta Barat, kami sedang menuju kesana"
"Bergeraklah lebih cepat dan segera temukan Istriku!"
"Baik"
Beberapa saat berlalu, akhirnya Arash menemukan titik terang tentang keberadaan Adinda, seorang pengawalnya mengirim lokasi yang diduga tempat tinggal si penjual hp setelah berhasil menyelidikinya melalui bantuan profesional Hutama Grup, namun pintu rumah itu terkunci.
Ketika Arash sampai, di sana sudah ada pemilik kontrakan datang membawa kunci cadangan. Arash segera menghampiri mereka.
"Apa Istriku ada di dalam?" tanyanya kepada salah satu pengawal yang berkumpul di sana.
"Belum pasti Tuan, kita akan tahu saat pintunya di buka"
Kleekkk.. Pintu pun berhasil di buka, semua orang masuk untuk memeriksa, tak ada siapapun di dalam sana.
Dug dug dug.. Arash mendengar suara dari dalam kamar, ia segera menghampirinya dan membuka pintu kamar tersebut, tak ada siapun juga, ia pikir ia salah dengar namun ketika ia hendak berjalan keluar terdengar lagi suara Dug dug dug, Arash mendekati sumber suara dari sebuah lemari kayu di kamar tersebut, Arash pun membukanya dengan hati hati.
Betapa terkejutnya ia menemukan Adinda di dalam sana dengan posisi tangan dan kaki diikat juga mulutnya yang di lakban, juga mata yang sayu karena kelelahan.
"Adinda!" Arash segera melepaskan tali dan perban di tubuh Adinda kemudian mengeluarkannya dari sana lali memeluknya dengan erat. "Bagaimana bisa kau jadi seperti ini? Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini? Aku benar benar akan menghabisinya!?" Arash merasa sangat geram.
"Aku baik baik saja, tolong bawa aku pulang terlebih dahulu" ucapnya lirih.
"Baiklah" Arash segera menggendongnya dan membawa ke dalam mobilnya.
"Sepertinya aku kehilangan cincin pernikahan kita Ash.."
"Nggak papa, jangan dipikirkan, haruskah kita ke rumah sakit?"
Adinda menggeleng "Ayo pulang saja, aku lemas karena lapar" lirihnya seraya memegangi perut.
"Baiklah, ayo pulang dan makan!" Arash tersenyum lega, sepertinya Istrinya baik baik saja.
Bersambung.
__ADS_1