Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Perasaan aneh


__ADS_3

Ketika Arash dan Adinda sampai di depan ruang ICU Mariana sudah duduk di depan ruangan tersebut dengan kepala menunduk.


"Ma.." Adinda memanggil dan duduk di sampingnya.


"Kalian sudah datang?" jawab Mariana yang terlihat lesu.


Setelah Adinda perhatikan ternyata tubuh Mariana bergetar, "Mama baik baik saja? Apa Mama sakit?"


"Aku baik baik saja"


"Tapi Mama kelihatan pucat"


"Sebenarnya aku memang tidak baik baik saja Adinda! Aku teringat saat saat Ayah dan suamiku kecelakaan di waktu bersamaan dan pada akhirnya suamiku meninggal lalu Ayahku kritis, itu sudah lama tapi rasanya seluruh tubuhku terus mengingat momen itu meski aku tak ingin setiap kali aku mendengar atau melihat langsung kecelakaan" Mariana memegangi pelipisnya, tubuhnya masih gemetar.


Adinda meraih tangan Mariana, ia menggenggamnya erat, "Maa.. Semua sudah berlalu, hapuslah rasa sakit itu dengan keikhlasan, Suami dan Ayah Mama pasti menginginkan hal yang sama, mereka akan sedih jika melihat Mama masih kesakitan begini" ucap Adinda, Arash hanya menatap keduanya dalam diam.


"Baiklah..Adinda, apa jadinya Mama tanpamu?"


"Aku selalu ada disisi Mama jika Mama mengizinkan"


"Tentu! Kau tak boleh kemana mana"


"Iya Maa"


Saat itu Dokter keluar dari ruangan, mereka bertiga segera bangun dari duduk. "Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Mariana.


"Masa kritisnya sudah lewat, dia akan segera dipindahkan ke ruang rawat, siapa walinya?"


"Saya" Mariana mengajukan diri.


"Saya akan menjelaskan detailnya di ruangan, mari ikut saya Bu.."


"Baik"


Sementara Mariana pergi Adinda menatap Arash yang masih terdiam, "Ada apa? Dokter bilang keadaannya membaik, apa kau masih menghawatirkannya?"


"Aku? Menghawtirkan orang itu? Tidak mungkin Adinda!" tegasnya.


"Yasudah"


Setelah beberapa saat Mujin sudah dipindahkan ke ruangan rawat, Arash dan Adinda menatapnya yang masih belum sadarkan diri, kepalanya yang di penuhi perban serta wajah yang lebam lebam keadaannya terlihat sangat menghawatirkan.

__ADS_1


"Ayo pulang Adinda!" ucap Arash.


"Dia gimana? Bolehkah aku menemaninya disini?"


"Disini banyak Dokter dan perawat yang berjaga 24 jam, kau tak perlu menunggunya"


"Tapi--"


"Kalian berdua pulanglah, aku akan menjaganya" ucap Mariana yang baru saja masuk.


"Mama yakin?" tanya Arash bingung.


"Ya! Mama akan tinggal disini malam ini sampai dia siuman"


"Maa, aku bisa menemani Mama disini" ucap Adinda.


"Mama akan sangat berterimakasih, tapi apa suamimu itu akan mengizinkan?" Mariana melirik Arash.


"Boleh kan? Boleh yah?" Adinda berusaha membujuk Arash.


"Yasudah! Lakukan saja apa yang kau inginkan, aku pulang sekarang"


"Terimakasih, hati hati di jalan Sayang"


Adinda duduk di samping Mujin sementara Mariana terlihat sibuk dengan laptopnya di sofa tunggu ruangan VIP itu.


Adinda menghampiri Mariana, "Maa, sudah malam, Mama nggak tidur?"


"Iya Adinda, sebentar lagi, kalau kau mengantuk tidurlah lebih dulu, Mama yang akan menjaganya"


"Aku belum ngantuk Ma"


"Yasudah, duduk sini" Mariana menutup laptop dan membuka kacamatanya kemudian membereskan lembaran pekerjaannya yang berada di atas meja.


Adinda pun duduk di sampingnya, "Maa, aku sangat mengagumi sosok Mama yang masih semangat bekerja, aku ingin saat seusia Mama nanti aku bisa seperti Mama, he he"


"Kamu berlebihan Adinda, aku tak sehebat itu, adakalanya aku juga ingin melarikan diri dari pekerjaan, aku hanya menahannya demi kesejahteraan perusahaan yang sudah susah payah Ayahku bangun"


"Sepertinya Mama sangat menghormati Ayah Mama ya"


"Tentu saja, dia adalah Ayah terbaik di dunia, apa kau tahu Adinda, Ayahku sampai rela memberikan 30 persen saham perusahaan yang dimilikinya kepada Suamiku dulu hanya demi menuruti keinginanku yang ingin menikahinya dengan dalih pernikahan politik yang saling menguntungkan, dulu aku pun sangat egois dan kekanak kanakan tapi Ayahku mengabulkannya begitu saja"

__ADS_1


"Apa Mama sangat menyukai Ayah Arash?"


"Benar, dulu Mama sangat tergila gila padanya sejak pertemuan pertama di sebuah pesta perusahaan, Dia tampan dan sempurna dimataku dan aku menginginkannya sebagai syarat mau menjadi pewaris Ayahku, jika teringat lagi rasanya lucu" Mariana tersenyum tipis mengingat momen momen indah dalam hidupnya,Adinda pun ikut tersenyum. "Awalnya aku tak tahu demi menikahi pria idamanku Ayahku mengeluarkan uang yang tak sedikit, aku mengetahuinya setelah aku sadar sedang mengandung Arash, kupikir dia dengan mudah menerimaku karena dia mencintaiku, betapa terkejutnya aku saat mengetahui fakta itu secara tidak sengaja, tapi aku tetap menerimanya, dia adalah putra kedua dari pengusaha kaya di korea yang sedang melebarkan bisnisnya di indonesia saat itu. Kupikir lambat laun dia akan mencintaiku tapi nyatanya aku mengetahui tentang orang yang dicintainya setelah kepergiannya untuk selamanya, dan yang lebih parah dia membuat surat wasiat yang berisi tentang pemindahan sahamnya untuk Putranya yang berada di korea selatan"


"Pasti saat itu adalah saat saat terberat dalam hidup Mama kan?"


"Benar, aku hancur karena ditinggal mati dan lebih remuk saat mengetahui tentang keberadaan anak itu" ia menoleh ke arah Mujin.


"Mama sudah melaluinya dengan baik"


"Aku tak sebaik itu, sebenarnya aku tahu anak itu tak bersalah atas apa yang terjadi dengan hidupku, justru dialah yang berhak marah padaku karena sudah mengambil darinya dan Ibunya, tapi tetap saja aku masih merasa tak adil karena akulah istri sahnya, hahhh aku terlalu bnyak bicara kan? Kau pasti bosan"


"Nggak Ma, aku suka mendengarkan cerita Mama"


"Sudah malam Adinda, tidurlah"


"Baiklah"


Rupanya Mujin sudah tersadar, namun ia hanya terdiam mendengarkan suara yang membangunkannya, cerita tentang Ayah kandungnya.


Keesokan harinya, Mujin kembali membuka mata, disampingnya ada seseorang yang tidur dengan posisi duduk, dia adalah Mariana. Saat itu perasaannya menjadi aneh, ia bertanya tanya mengapa wanita yang terlihat paling membencinya itu menjaganya seperti seorang keluarga?


"Hoammmm" Adinda pun bangun, ia berjalan menghampiri Mujin. Adinda tersenyum melihatnya yang sudah membuka mata, "Syukurlah kau sudah bangun, bagaimana keadaanmu?" bisiknya hati hati agar Mariana tak terganggu.


"Sudah jauh lebih baik, terimakasih" jawabnya berbisik.


"Apa ada yang kau butuhkan? Mau minum?"


"Iyaa mau"


Adinda membantunya minum air putih dengan sedotan, saat itu Mariana pun bangun, ia melirik Mujin yang sudah siuman, mata mereka bertemu pandang, kemudian keduanya segera menghindar menoleh ke arah lain, Mariana segera bangun dan berpindah tempat duduk.


"Maa, Mama bisa tidur lagi, ini masih sangat pagi" ucap Dinda.


"Nggak perlu Din, Mama harus pulang duluan karena pagi ini ada meeting penting di luar" ucapnya seraya membereskan barang barangnya.


"Jadi gitu..baiklah"


"Mama pergi yaa.."


"Baik Maa, hati hati di jalan"

__ADS_1


Mujin menatap kepergian Mariana dalam diam, dia pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun kepada orang yang dijaganya semalaman.


Bersambung.


__ADS_2