Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Tok tok tok.. tiba tiba terdengar suara ketukan pintu membuat Arash kehilangan fokusnya pada Adinda, Arash pun berjalan menuju pintu lalu membukanya, seorang pegawai hotel berada disana.


"Maaf mengganggu waktu kalian berdua Tuan Arash, Paman dari Istri anda meminta bertemu dengan istri anda, beliau masih menunggu di koridor" ucap staf wanita itu.


"Baik, istri saya akan segera menemuinya, tolong arahkan beliau ke ruangan yang lebih private, ahh tidak perlu, antar saja beliau kesini"


"Baik Tuan"


Setelah staf wanita itu pergi Arash kembali menutup pintunya, ia kembali menghampiri Adinda yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, ia memakai baju yang ia kenakan tadi pagi.


"Pamanmu ingin menemuimu sekarang, sebentar lagi dia akan sampai disini!" ucapnya dengan nada suara yang galak lalu ia berjalan keluar menjauh dari adinda.


Adinda pun kembali menghampiri Arash yang sedang duduk di sofa sembari menyenderkan kepalanya, kejadian hari ini pun sangat melelahkan baginya.


"Biarkan aku pergi dengan Pamanku!" ucapnya begitu sampai dihadapan Arash.


Arash pun kembali menoleh padanya dengan tatapan dingin "Apa aku memaksamu untuk tinggal? Pergilah jika kau ingin pergi" ucapnya dengan acuh.


"Bagaimana dengan pengawal yang berjaga didepan pintu? Mereka tak akan membiarkanku keluar dengan mudah"


"Sudah kusuruh pergi!"


Tanpa berlama lama Adinda segera mengambil tasnya dan keluar dari ruangan itu, ia hanya terus berjalan dengan cepat melalui Arash begitu saja, Arash pun sama sekali tak memperdulikan kepergiannya, di depan pintu ia berpapasan dengan Pamannya.


Adinda menggapai tangan Paman Barata "Paman, ayo kita bicara di tempat lain"


Barata yang masih tampak bingung dengan situasi yang baru saja dialaminya itu hanya mengangguk menuruti keinginan keponakannya yang tampak terburu buru.


Adinda dan Paman Barata pun turun dari taxi di depan Maha Butique, mereka masuk ke dalam butik setelah Adinda membuka gembok dengan kunci cadangan yang selalu dibawanya.


"Din, bukannya kamu harus menjelaskan apa yang baru saja terjadi hari ini? Apa kamu tahu betapa kagetnya Paman dibawa paksa oleh sekelompok pria berbaju hitam tanpa dijelaskan apapun saat paman sedang dalam posisi membawa penumpang sampai Paman dipakaikan setelan jas dan dibawa ke aula pernikahan"


"Hahhhh" Adinda menghela nafas panjang sebelum menjelaskan "Paman, paman harus merahasiakan kejadian hari ini, ini benar benar berbahaya jika pernikahanku dan pewaris keluarga Hutama diketahui oleh keluarga kita"

__ADS_1


"Apa harus sampai seperti itu Din? Apa Paman tidak boleh memberitahu Bibi dan Lina?"


Adinda menggeleng "Maaf Paman"


"Lalu, bagaimana ceritanya sampai kamu mendadak menikah begini? Apalagi dengan keluarga berpengaruh di ibu kota, tapi entah mengapa Paman merasa ini bukan hal yang baik, apa paman salah?"


"Pokoknya Paman tidak perlu khawatir, sebenarnya orang yang menikah denganku adalah mantan pacarku dulu, dan sekarang kita bertemu lagi dan akhirnya menikah"


"Jika ceritanya seperti itu mengapa harus dirahasiakan? Bukankah itu hal yang menggembirakan?"


"Tidak Paman, selain menjadi menantu keluarga Hutama aku ingin tetap menjalani kehidupan biasaku sebagai Adinda si pemilik butik gaun kecil ini, kehidupanku akan berubah jika orang orang tahu bahwa aku adalah orang yang menikah dengan pewaris Hutama's Hotel"


"Jadi begitu, baiklah, Paman akan tetap merahasiakannya, kamu memang anak yang mandiri dan tak ingin menjadi beban keluargamu, sifatmu yang seperti ini sangat mirip dengan kakakku, tapi ingatlah jika kamu masih memiliki keluarga Paman dan Bibi, jika kamu kesulitan maka datanglah pada kami, jangan kesulitan sendirian"


"Baik Paman"


"Paman pamit pulang sekarang, ini sudah malam pasti Bibimu sudah kawatir"


Barata pun keluar dari butik, meskipun jawaban keponakannya terasa mengganjal di htinya namun ia tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan keponakannya, ia rasa hanya ini hal yang bisa ia lakukan untuk membantu anak itu.


Barata adalah adik kandung dari Ayah Adinda, ia bekerja sebagai supir taxi sama dengan pekerjaan Ayah Adinda dulu sebelum meninggal dunia.


🍀🍀🍀🍀


Keesokan harinya.


Arash berjalan masuk ke rumahnya setelah memarkirkan mobil yang dikendarainya, Ketika ia baru saja masuk ke kamarnya seorang asisten rumah tangga berseragam mengetuk pintunya, wanita berusia empat puluhan itu meminta Arash menemani sarapan Ibunya seperti perintah Mariana.


Arash pun segera pergi ke arah meja makan, dimeja panjang itu hanya ada Mariana sendirian duduk di ujung tengah, melihat kedatangan Putranya membuat senyumnya merekah.


"Kau sudah datang Nak, duduklah"


Arash pun menarik kursi dan duduk di samping Ibunya, ia segera menyuapi mulutnya dengan potongan sandwict yang sudah ada di depannya. Saat itu mata Mariana menoleh ke arah pintu masuk ruangan beberapa kali, namun yang ia cari tak kunjung tiba.

__ADS_1


"Dimana menantuku?" celetuknya membuat Arash hampir tersedak.


"Uhuukkk.."


Mariana segera menyodorkan air minum kepada putranya "Minumlah dulu, mengapa kau kaget seperti itu saat aku mencari Istrimu? Dimana dia? Apa jangan jangan kamu meninggalkannya dihotel?"


Arash menyeka mulutnya terlebih dahulu "Aku membiarkannya kembali tadi malam"


"Apah?!" mata Mariana langsung melebar menatap tajam Arash.


"Memangnya apa Ma? Apa aku harus benar benar memperlakukan wanita itu seperti selayaknya istriku yang kucintai?"


"Harus begitu! Khususnya untuk saat ini"


"Ma, sudahlah, kan aku sudah menuruti mama menikahinya, jadi semuanya sudah selesai hanya dengan semua orang menyaksikan pernikahanku, apa lagi?" acuhnya.


"Arash, dengarkan Mama, saat ini adalah saat saat semua orang begitu penasaran dengan sosok wanita yang kau nikahi, apa kata orang nanti kalau ada yang tahu kalian tak menghabiskan malam bersama dan malah berpisah usai resepsi pernikahan, tidak bisa begini, jemput dia dan biarkan dia tinggal dirumah ini"


"Apah? Mama! Apa Mama tahu apa yang sedang Mama lakukan sekarang?" nada suaranya sedikit meninggi.


"Mama tahu lebih darimu, Mama tak mau tahu, kamu harus membawanya kesini, bukankah Mama sudah bilang hanya setahun? Hanya setahun bersikaplah baik padanya, untuk menjaga reputasi keluarga kita, kalian tak perlu menempati tempat tidur yang sama hanya rumah yang sama itu sudah cukup"


"Aku tak ingin membawanya ke sini, aku tak ingin melihatnya setiap hari"


"Arash, mengertilah demi Mama pergilah jemput dia, atau Mama akan membuat kalian pergi berbulan madu"


Arash segera bangun bangkit dari kursinya "Tidak ada bulan madu, aku akan menjemputnya sesuai keinginan Mama" ucapnya lalu pergi dengan terburu buru, ia kawatir Ibunya akan memiliki ide yang lebih aneh lagi. Mariana pun akhirnya tersenyum lega menatap punggung putranya.


Sejak kematian suami dan ayahnya Mariana merasa rumah besar mereka terasa sangat kosong, ia merasa kesepian itulah sebabnya ia lebih senang menghabiskan waktu bekerja di luar meskipun usianya sudah tak muda lagi.


*Alangkah lebih baik jika menantuku adalah Mikayla, dia bisa mengisi kekosongan rumah ini dan kehampaan hati putraku yang kosong semenjak perpisahannya dengan mantan pacarnya dulu, sejak itu dia seperti tak tertarik dengan perempuan, aku kawatir, kupikir Mikayla adalah satu satunya wanita yang bisa mengisi hati Arash seperti keinginan Ayah, tapi ternyata aaku salah, rupanya selama ini aku hidup kesepian seperti ini, putraku hanya mementingkan pekerjaannya diluar sana, hahhh.. Sudahlah.


Bersambung*.

__ADS_1


__ADS_2