Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Malam yang panjang


__ADS_3

Mariana berjalan keluar kamar, "Mirna!!!" teriaknya memanggil.


"Iyaa" dari dapur Mirna segera berlari menghampirinya. "Ada apa Bu?" tanyanya begitu sampai di hadapan Mariana.


"Bereskan pakaian dan barang barang Adinda sekarang juga!"


Mirna pun kaget "Apah?"


"Jangan menyuruhku mengatakan dua kali!!"


"Baik Bu, baik" Mirna segera berlari ke arah kamar Adinda dan Arash.


"Maa, apa apaan ini?" Arash yang panik sekaligus bingung.


Mendengar suara ribut Adinda pun menghampirinya, "Sebenarnya ada apa Maa?"


"Jangan panggil aku Mama! Aku bukan Ibumu! Kamu hanyalah anak dari seorang pembunuh!!"


Adinda sangat terkejut tiba tiba ia mendengar ucapan yang tak terduga dari Mertuanya yang biasanya memperlkukannya seperti putrinya sendiri "Apa maksudnya?"


"Maa, cukup!!" teriak Arash.


"Nggak, tolong biarkan Mama bicara sekali lagi, ini ada apa kenapa Mama bilang aku anak seorang pembunuh? Apa yang sudah orang tuaku yang sudah meninggal lakukan?"


"Kau bilang orang tuamu meninggal karena kecelakaan mobil kan? Hari itu juga aku kehilangan suamiku dan Ayahku kritis sampai pada akhirnya tak tertolong! Dan kau tahu siapa penyebab kecelakaan? Benar! Supir taxi bernama Ammar Yadityan sudah menyebabkan kecelakaan itu!!!!!" teriak Mariana yang semakin histeris. "Harrrgggghhhh..gara gara ingin melindungi kau dan keluargamu putraku membohongiku selama ini !!!" Mariana mulai memegangi jantungnya, nafasnya mulai tak stabil, perlahan tubuhnya terhuyung.


"Maaa..!!" Arash menangkap tubuh Ibunya tepat sebelum terjatuh.


"Maaa!!" Adinda mengulurkan tangan ingin membantu Mariana.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku! Pergi!!!!! Argghhh" Mariana terus memegangi jantungnya yang terasa semakin sakit.


"Tidak.. Itu tidak mungkin..Mama pasti salah kan? Ashh.. Itu tidak benar kan??" Adinda ingin memastikan lagi dan lagi.


"Usir dia, aku nggak mau melihat wajahnya lagi" ucap lirih Mariana sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


"Maa, sadarlah!" Arash terlihat sangat panik.


"Jawab aku Ash!! Itu nggak bener kan??" Adinda menegaskan lagi.


"Maaf Adinda, aku harus membawa Mama ke rumah sakit sekarang! Aku akan menemuimu nanti"


"Apah??!" Tanpa sadar air matanya sudah mengalir deras menatap Arash yang menjauh membawa Ibunya.


Bruuukkkk!!! Tiba tiba Mirna melemparkan koper besar di bawah kaki Adinda. "Itu barang barangmu!! Kamu sudah nggak di terima di rumah ini, pergilah dengan tenang!!" ucap Mirna seraya menepuk tangannya yang seolah dipenuhi debu karena memegang barang Adinda.


"Hei!!! Ngapain diam saja begitu!! Cepat pergi!!!" ucap Mirna dengan keras namun Adinda tak merespon dan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Hahhh.. Benar benar wanita ini!!!" Mirna segera menarik tangan dan koper Adinda, disitu barulah Adinda tersadar kembali.


Bruukkk!!! Mirna mendorong Adinda begitu sampai di depan pintu keluar hingga Adinda jatuh terpental.


"Arghhh.." Adinda memegangi bagian bawah perutnya yang nyeri karena jatuh. "Kamu sudah keterlaluan Mirna!"


"Terserah deh, kamu hanya istri pengganti!! Dan sekarang masa kegunaanmu sudah berakhir!! Brakkkk!!!" Mirna menutup pintu dengan keras.


"Hahhh.. Masa kegunaanku sudah berakhir katnya?, memang sejak awal seharusnya seperti ini, apa yang sudah kuharapkan dari pernikahan ini.." gumamnya seraya mengusap air mata.


Adinda bangun lalu mengambil kopernya, ia berjalan ke arah garasi tempat motornya berada. Motornya melaju di tengah malam yang sunyi di jalanan yang lenggang.

__ADS_1


Adinda berhenti di depan butik, "Benar..disinilah tempat seharusnya aku berada"


Sedih bercampur kecewa perasaan Adinda seolah di campakkan setelah selesai dipergunakan layaknya tissu bekas. Adinda mulai teringat memori memori kebahagiaan menjadi bagian dari keluarga Hutama dalam waktu kurang dari satu tahun, hal itu membuat Adinda semakin sedih dan terluka.


Namun ia teringat apa yang paling prnting dari pada meratapi kesedihan, tak ada waktu baginya berlarut larut dalam kesedihan, Adinda mulai menelusuri laman internet di ponselnya mencari tahu dari hal terkecil sekalipun semua informasi tentang berita kecelakaan Darius Hutama dan menantunya.


Setelah membaca puluhan artikel berita, mata Adinda terpaku ketika membaca sebuah artikel berjudul Penyebab kecelakaan CEO Hutama Grup dan menantunya, isinya adalah tentang keterangan seorang saksi mata yang berada di tempat kejadian mengatakan bahwa Taxi yang dikendarai oleh supir dan Istrinya menabrak mobil yang dinaiki Darius dan Menantunya karena rem taxi yang blong tepat di depan persimpangan lampu merah.


Tiba tiba jantung Adinda berdebar hebat, dari sekian banyaknya artikel berita tersebut mengapa ia hanya bisa menemukan satu yang mengatakan tentang itu? Sedangkan setahu Adinda selama ini Orang tuanya mengalami kecelakaan tunggal karena rem blong dan menabrak trotoar jalan.


Adinda merasa semakin bingung, ia melanjutkan pencariannya untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya, sampai pada akhirnya ia menemukan nama petugas kepolisian yang menemuinya di saat setelah pemakaman kedua orang tuanya dulu disebut di salah satu artikel.


Adinda sangat penasaran ingin segera mengetahui kebenarannya namun mustahil untuk menghubungi atau menemui seseorang yang hanya pernah ditemuinya sekali selarut ini.


Adinda pun mencoba menghubungi Arash, Hp Arash berada di atas meja ruangan tempat Mariana dirawat, Mariana yang merasa terganggu dengan suara getaran hp Arash sejak tadi akhirnya mengambil hp tersebut, ia mematikan ponselnya begitu melihat panggilan masuk tersebut dari Adinda, sementara saat ini Arash tak berada di ruangan rawat.


"Tiba tiba nomornya nggak aktif? Apa dia juga sama dengan Mama Mariana yang nggak mau berhubungan denganku lagi?" gumamnya dengan raut wajah kecewanya.


Arash membuka pintu ruang tempat Ibunya di rawat, Mariana yang menyadari langkah pergerakan Arash segera menutup matanya kembali.


Arash kembali duduk di samping Ibunya, ia menatap wajah Mariana yang sangat pucat, disatu sisi ia merasa sangat bersalah kepada Ibunya karena ia telah menyembunyikan kebenaran sampai melakukan hal hal yang tak seharusnya, ingatan tentang hari kecelakaan pada sepuluh tahun yang lalu mulai membayanginya kembali, selama ini ia terus mengelak dan memendam perasaan bersalah yang akhir akhir ini telah ia lupakan karena terlena oleh kebahagiaan bersama cintanya.


Saat itu Arash berusia 20 tahun, sore itu sedang hujan lebat, begitu mendengar berita kecelakaan Ayah dan Kakeknya dari seorang sekretaris pribadi Arash bergegas menuju ke rumah sakit, begitu sampai di rumah sakit ia melihat Ibunya yang sudah terduduk lesu di samping suaminya yang seluruh tubuhnya sudah di tutupi kain putih.


Arash tak kuasa melihat apa yang sedang ia lihat, Ayah yang selama ini ia benci sudah benar benar menghembuskan nafas terakhirnya namun kondisi Ibunya terlihat jauh lebih buruk, keadaannya sangat syok karena musibah itu, disana Ibunya masih menangis meraung raung meminta suaminya kembali membuka mata, berulang kali mengatakan hal yang sama, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan disituasi itu dan ia hanya bisa berdiri diam memperhtikan Ibunya dari kejuhan.


Sampai pada akhirnya beberapa orang petugas Polisi yang menangani kasus itu datang untuk memberikan laporan kecelakaan, karena kondisi Ibunya yang tak memungkinkan untuk bicara, Arash mencoba mewakilinya, betapa terkejutnya ia begitu mengetahui detail penyebab kecelakaan, mempertimbangkan posisi Adinda yang baru saja kehilngan kedua orang tuanya pada akhirnya ia memilih untuk menutupi kasus itu dan membohongi dunia dan Ibunya..


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2