
Panas terik sinar matahari terasa sangat panas siang hari di langit kota
Jakarta.
Sudah berhari hari lamanya Jean terus merengek ingin bertemu dengan Henry
namun Adinda terus menerus mengulur waktu memberi alasan kepadanya karena kini
dia tak bisa seenaknya menemui Henry. Pada akhirnya Adinda menyerah, ia
menghubungi Arash agar dia membantunya mengurus Jean yang rewel dan terus
bersikeras ingin menemui Henry. Itu karena Henry lah yang selama ini mengisi
kekosongan sosok seorang Ayah bagi Jean sejak anak itu mulai mengingat.
Arash merasa optimis bisa segera menggantikan posisi Henry di hati putrinya,
itu sebelum Adinda menyerahkan Jean sepenuhnya padanya hari ini, setelah itu
Adinda pergi sendiri karena memiliki urusan.
“Huwaaaa....!!” Jean terus menangis mencari cari Henry meski ada dirinya,
padahal ia sudah mengajaknya jalan jalan ke taman hiburan yang ia kira akan
disukai oleh anak anak, siapa sangka disana malah sangat panas dan membuat Jean
merasa tak nyaman.
Aras benar benar kewalahan, “Jangan menangis sayang.. Jean mau jalan jalan
kemana? Papa akan mengabulkanya” ucap Arash panik begitu mereka kembali ke
dalam mobil.
“Aku mau Papi! Papi Henly.. aku lindu Papi Huwaaaa...!!”
“Baiklah baiklah.. berhenti menangis anak pintar,ayo ke tempat Papimu itu
berada, Papa akan minta izin Mamimu terlebih dahulu, oke?” Jean mengangguk,
akhirnya ia berhenti menangis setelah suaranya serak.
Berkali kali Arash mencoba menghubungi Adinda namun Adinda tak kunjung
menjawabnya, Akhirnya Arash pun menyerah, ia menjalankan mobilnya lalu setelah
beberapa saat berlalu mobilnya berhenti di Sweet Coffee. Begitu turun dari
mobil Jean langsung berlari masuk menghampiri Henry. Seorang pegawai kafe
__ADS_1
memberitahu Henry yang sedang sibuk di meja barnya terkait kedatangan Jean,
Henry pun segera menghampiri anak itu.
Jean memeluk Henry dengan sangat erat, “Aku lindu Papi.. Papi kemana saja
kenapa tidak datang beltemu Jeje, Mami celalu belbohong dan menyuluh Jeje
jangan mencari Papi lagi. Hiks hiks..” ucapnya dengan suara terisak, Henry pun
membelai belai kepalanya, ia merasa sedih, karena mementingkan perasaannya
sendiri ia sudah menyakiti seorang anak yang sudah tulus menyayanginya.
“Maafkan Papi.. Jeje bisa menemui Papi kapanpun kok..”
“Benelannnn??” Henry mengangguk.
Tiba tiba mata Henry tertegun melihat Arash yang berdiri di depan pintu, lalu arash berjalan ke arah mereka. "Aku minta maaf karena tak bisa mencegahnya yang selalu ingin menemuimu" ucap Arash.
Henry kembali tertegun dengan sikap Arash, itu adalah pertama kalinya orang itu bicara dengan nada baik baik padanya bahkan sampai meminta maaf, situasi yang benar benar canggung. "Tidak apa apa, Jeje bisa menemuiku kapanpun" mata Henry mulai melirik ke sekitar mencari cari keberadaan seseorang.
"Dia nggak ikut kesini karena ada urusan" ucap Arash yang peka.
"Aku nggak tanya!"
"Oke!"
"Duduklah, aku akan membuatkan kalian minuman"
"Nggak! Melihat dari wajahmu kupikir kau cocok dengan yang pahit pahit!" jawabnya sinis.
"Maksudnya apa itu? Tolong jangan memulai perkelahian karena sekarang sedang tidak ada yang menengahi!"
"Hemmm..makannya minum saja aku memberikan gratis hari ini saja karena kudengar sekarang kau pengangguran!"
"Itu memang benar tapi aku masih cukup mampu membeli kafemu ini!!"
"Dasar tak mau kalah!"
Ketika dua orang itu sibuk berdebat kecil Jean hanya tersenyum gembira karena keinginannya sudah terpenuhi.
.
Adinda mulai mengetuk pintu sebuah rumah sederhana yang berada di jakarta utara dan disampingnya ada Karina, mereka pergi bersama.
Tok tok tok!! Adinda sudah mengetuk pintu beberapa kali namun tak kunjung ada jawaban.
"Gimana nih tan.. kita udah jauh jauh kesini" ucap Adinda.
"Ayo ketuk lagi, aku yakin orangnya ada di rumah" Adinda mengangguk kemudian kembali mengetuk pintu.
__ADS_1
Tak lama seorang wanita yang masih terlihat cantik berusia 50an membukakan pintu. Wanita itu mengernyit begitu melihat wajah Karina. "Ada perlu apa yaa?" ucapnya dengan raut wajah tak senang.
"Halo Kak Meli.. sudah lama tak bertemu ya..ada yang ingin kubicarakan bisakah Kakak meluangkan waktu sebentar" ucap Karina.
Melisa terdiam sejenak, "Aduh Tante, ternyata rumahnya sangat jauh yaa.. aku haus banget" ucap Adinda memegangi lehernya kepada Karina.
"Masuklah!" Akhirnya Melisa membukakan pintunya meski ekspresinya masih sama.
Adinda dan Karina duduk di ruang tamu, Melisa membawa nampan berisi 2 gelas air putih lalu menaruhnya di atas meja, Adinda segera meneguk bagiannya. "Terimakasih airnya segar ha ha ha"
"Itu air putih biasa" jawab Melisa acuh. "Cepat katakan keperluan kalian"
"Baiklah.. Aku langsung ke intinya saja! Kak.. Kakakku akan menikah dengan wanita yang seumuran dengannya" Karina menunjuk Adinda.
"Lalu? Apa kau ingin aku mengucapkan selamat? Atau kau mengantarkan undangan untukku?"
"Tidak tuh! Aku harap Kakak menemui Kakakku dan rujuk dengannya karena wanita yang akan dinikahinya bukan wanita baik baik!"
"Hahhh... Kamu selalu nggak sopan ya!! Pergi sana!!"
"Kak.. Tolonglah, kakak masih punya perasaan kepada kakakku kan itu sebabnya kau tidak menikah lagi?"
"Kau salah! Pergi sana!!!"
Tiba tiba Adinda bangun, matanya fokus menatap ke satu arah, langkahnya berhenti di depan sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding di ruangan sebelah ruang tamu.
"Hei!! Mau kemana kamu!! Kamu nggak boleh masuk masuk sembarang!!!" teriak Melisa dengan panik, Karina pun ikut menghampirinya.
"Siapa dia?" Adinda menunjuk foto seorang pria muda memakai baju wisuda bersama Melisa.
Melisa segera mengambil bingkai foto itu lalu memeluknya menutupi foto. "A.. Adikku! Sudah cukup, kubilang pergi!!"
"Adik? Sepertinya dia lebih cocok menjadi Putra anda, apa saya salah?"
Mata Melisa membelalak, "Terserah kau saja! Aku mau kalian pergi sekarang juga!!" teriaknya marah. Ia mendorong Adinda ke arah luar "Jangan datang lagi!! Jangan ganggu hidupku!!"
Prangggg!!! Tiba tiba bingkai foto itu jatuh dan kacanya retak, wajah pria di dalam foto kini terlihat jelas, Karina mengambil foto yang jatuh di bawah kakinya. "Ini foto Kakakku sewaktu muda kan??" gummnya.
"Tante.. Mana mungkin Om foto dengan Bu Melisa yang sudah berumur!!" ucap Adinda.
"Benar juga Din.. Jadi ini siapa? Pemuda yang seperti pinang di belah dua ini dengan si Rakka?" kata Karina lagi.
"Putranya!" tegas Adinda membuat Karina melongo, Melisa pun tak bisa lagi berkata kata.
Karina menatap tajam Melisa, "Benarkah dia anak Kakakku?" Melisa hanya diam dengan raut wajah gelisah. "Ternyata benar yaa.. Kenapa kau menyembunyikannya kak? Berapa usianya sekarang?"
"Untuk apa aku mengatakannya kepada orang yang keras kepala sepertinya yang mengira aku mandul? Aku membencinya dan ingin segera berpisah darinya meski aku saat itu sedang dalam keadaan mengandung setelah 10 tahun menikah dengannya, namanya Zayn, tahun ini dia berusia 25 tahun"
"Kakak benar benar tega ya! Aku akan mengatakannya kepada Rakka jadi tunggu saja!! Jangan coba coba kabur!!"
"Sudah terlambat, meski sekarang dia tahu keberadaan Putranya tak akan ada yang berubah! Sudah 25 tahun kami berpisah"
__ADS_1
"Tante Meli.. Tolong jangan bersikap egois, beritahulah Pamanku, dia akan senang, Putra anda berhak mengetahui keberadaan Ayahnya, tolong pikirkan ini atau anda akan menyesal seumur hidup karena melewatkan kesempatan ini, wanita yang akan dinikahinya bukan wanita baik baik, datanglah ke rumah kami setelah anda membuat keputusan" ucapan Adinda membuat Melisa terdiam seribu bahasa.
Bersambung.