
"Adinda, lebih baik kita bicara dimana?" tanya Arash seraya matanya masih fokus mengemudi. "Adindaaa.." Pantas saja Arash tak mendapat jawaban, setelah mobil berjalan 10 menit rupanya Adinda tertidur pulas, Arash tersenyum menatapnya.
Rupanya dia benar benar lelah..
Kemudian Arash melirik Jean dari kaca spion. "Benar benar mirip, bagaimna mungkin anak yang manis dan lucu itu aku menganggapnya anak dari si gondrong? Aku benar benar buta rupanya" gumamnya sambil tersenyum.
Adinda mulai membuka matanya, ia menoleh ke sekitarnya, mobil pun dalam keadaan berhenti di depan halaman sebuah villa yang memiliki kolam renang jernih di depannya.
"Dimana ini?" ucapnya dengan menatap Arash yang sejak tadi memainkan ponselnya.
"Oh..sudah bangun?" Adinda mengangguk pelan. "Mau turun?"
"Nggak mau! Aku mau pulang saja!"
"Tapi jauh Adinda.. sebentar lagi hari akan gelap pasti jalanan sangat macet di jam jam ini, kasihan anakmu, biarkan dia beristirahat disini.. Ini villa milikku sendiri"
"Lagian kenapa jalan sejuh ini sih.."
"Siapa suruh kamu tidur terus.." Arash tak mau kalah.
Arash membuka pintu mobil, "Ayo turun dulu.. Kita bicara setelah membaringkan putrimu"
Arash dengan hati hati menggendong Jean memasuki rumahh sederhana yang di kelilingi oleh pepohonan besar yaang terlihat sangat Asri dengan halaman yang dipenuhi rerumputan hijau yang di gunting rapi.
Adinda melihat sekitarnya, "Bagaimana bisa ada rumah seperti ini di jakarta?" gumamnya.
Dari luar memang vila itu terlihat sederhana, namun begitu masuk semua perabotan yang di gunakan di dalam sana terlihat mahal, suasana klasik membuat perasaan Adinda menjadi lebih nyaman, rumah itu benar benar seleranya.
Adinda mengikuti Arash masuk ke dalam kamar, Arash terlihat hati hati membaringkan Jean di atas tempat tidur, setelah perjalanan panjang dari kota Bogor tentu saja anak itu sangat kelelahan.
"Biarkan dia istirahat, ayo bicara diluar" ucap Arash, Adinda pun mengikutinya keluar.
Saat ini mereka berdua sudah duduk berhadapan di ruangan yang berada tepat di depan kamar tempat Jean tidur. Adinda menatap Arash dengan sorot mata tajam sedangkan Arash terus mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Katanya mau bicara.. Cepat katakan!" ucap Adinda yang sudah tak sabar.
"I..iyaa.. Jadi.. Aku mau minta maaf atas perkataanku waktu itu, aku sudah sangat kasar, maafkan aku Adinda"
"Ya, baiklah"
Arash menatap Adinda yang terlihat santai "Ha?? Kamu sudah memaafkanku semudah ini?"
"Tentu..cuma mau bicara itu saja? Harusnya sejak awal kamu langsung bilang jadi kita tak perlu repot repot kesini"
"Apa kamu tak menyukai rumah ini? Padahal aku merenovasi rumah ini dengan memikirkanmu"
"Kenapa? Kamu bilang kamu membenciku dan ingin melanjutkan hidup tanpa diriku!"
"Aku nggak serius mengatakan itu, kan aku sudah minta maaf..aku mengatakan itu karena kukira kamu memiliki anak dengan si gondrong itu!"
"Namanya Henry!! Kan sudah kubilang dengarkan dulu penjelasanku! Kamu menganggapku semurahan itu? Jadi sekarang kamu sudah tahu siapa Jean?"
"Iya..iya.. Aku salah..aku minta maaf kepadamu dan juga Jean karena baru muncul sekarang.. dan aku juga minta maaf karena kamu sudah melalui masa masa sulit sendirian.. pasti sulit mengandung dan melahirkan tanpa seorang suami.."
__ADS_1
Mendengarnya membuat Adinda tiba tiba meneteskan air mata, ia kembali teringat bagaimana perasaannya saat pertama kali dinyatakan hamil tepat setelah kecelakaan kemudian terpaksa menandatangani surat perceraian di tengah tengah situasi itu.
Arash menghampiri Adinda dan memeluknya, "Maafkan aku Adinda.. Maafkan aku.."
"Dasar bodoh!! Apa kamu tahu bagaimana aku hidup selama kau tak ada!! Aku..aku hampir menyerah.. Aku kelelahan sangat lelah..aku tak bisa mencari tahu kabarmu! Bagaimana keadaanmu, kamu masih hidup atau tidak.. aku terus menyalahkan diriku kenapa aku baik baik saja setelah kecelakaan itu sedangkan kamu.." ucapnya dengan suara terisak.
Arash memeluknya semakin erat, Adinda melampiaskan seluruh kesedihannya selama ini.. Setelah merasa lebih tenang Adinda mendorong tubuh Arash, lalu ia bergeser menjauh membuat Arash kebingungan.
"Jaga jarak! Kita bukan lagi suami istri! Itu yang kamu katakan waktu itu"
"Eh?? Itu memang benar sih.. Tapi.. Ayo kita menikah lagi.."
"Apah??!!" Adinda sangat terkejut.
"Kamu nggak mau?"
"Setelah semua ini dengan mudahnya kamu mengajak menikah lagi? Hah.. Yang benar saja! Nggak tahu malu banget"
"Kamu serius menolakku??"
"Kenapa tidak!"
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Apa sekarang kmu benar benar sudah berpaling kepada si gondrong itu?"
"Nggak usah ngomong yang nggak nggak!"
"Jadi apa masalahnya?"
"Bukankah Jeje membutuhkanku Ayahnya?"
"Entahlah.. Kelihatannya nggak gitu"
"Apah??"
"Meski ingin.. Mungkin kali ini juga akan sulit"
"Apa maksudnya itu.."
"Mamiiii..." Jean mencari Maminya begitu bangun.
Adinda segera menghampirinya, tak lama Adinda kembali dengan menggendong Jean yang mengusap usap matanya.
Arash tersenyum menatap Jean, "Haloo Jeje.. Senang berjumpa lagi..apa tidurmu nyenyak?"
"Mami.. Kenapa Paman galak itu ada dicini?"
Adinda dan Arash kaget bersamaan, "Kalian pernah bertemu? Kenapa Jeje.." ucap Adinda.
"Benar.. Kami pernah bertemu--" ucap Arash ragu ragu.
"Sayang.. Orang ini bukanlah Pamaan galak, dia adalah Ayahmu"
"Bukan Mami...dia bukan Papi! Papiku cuma Papi Henly!! Papi Henly yang baik, bukan Paman galak ini!!" tegasnya.
__ADS_1
Seketika wajah Arash menjadi murung, Adinda merasa tak enak. Melihat ekspresi kekecewaan Arash, ia tak menyangka Putrinya akan bereaksi seperti ini.
"Memangnya apa yang kamu katakan sampai Jeje memanggilmu seperti itu?" bisik Adinda di telinga Arash.
"Itu.. Itu memang salahku, aku berkata kasar kepada si gondrong itu di depannya, jadi---"
"Tunggu.. Kamu juga bertemu Henry? Dimana?"
"Di bioskop"
"Kenapa Henry tak mengatakan apapun padaku?"
"Mami.. Dimana Papi Henly? Aku mau beltemu Papi Henly!" rengeknya.
"Jeje.. Om Henry nggak ada disini, besok kita temui dia oke?"
"Aku mau beltemu Papi cekalang Mami!! Papi bukan Om!"
"Iya iya.."
Drrtttt drtttt.. Tiba tiba ponsel Arash bergetar, ia melihat panggilan dari nomor baru.
"Haloo.. Siapa ini? Ada perlu apa?"
"Haloo selamat sore.. Ini dari kantor polisi, mobil anda dilaporkan karena parkir sembarangan di depan kediaman Dewangga Atmaja, apa benar Pak Arash Hutama pemilik mobil tetsebut? Jika iya mohon datang untuk mengurusnya di kantor polisi!"
"Benar itu mobil saya..baik"
Arash terlihat panik, "Ada apa?" tanya Adinda.
"Mobilku!!" raut wajah Arash yang kaku tiba tiba berubah tersenyum setelah ia melirik Jean yang saat itu sedang menatapnya dengan sinis. "Mobilku di derek, hehe"
"Kok reaksinya kelihatan seneng?"
"Iya.. Mana mungkin aku nggak seneng, kan mobilku di derek polisi karena parkir di depan rumah Kakekmu.."
Adinda baru sadar Arash sedang menjaga ekspresinya di depan Jeje yang terkesan menganggapnya galak.
Dia malah terlihat seperti orang bodoh.. Pfftttt..
"Tunggu.. Kakekku tahu kau menemuiku?"
"Aku bahkan mengobrol dengannya sebelum ditinggal pergi setelah beliau mengatakan yang ingin dikatakannya"
"Apa obrolan kalian tidak mengenakan?"
"Menurutmu?"
"Ya iya.. Tentu saja pasti bukan obrolan menyenangkan, itu sebabnya Kakekku berulah.. Kalau begitu kau harus segera mengurus mobilmu dong"
"Iya.. Ayo aku antar kalian pulang terlebih dahulu.."
Bersambung.
__ADS_1